NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Sore itu, Kota Bimantara tampak lebih bersahabat dari biasanya. Langit cerah tanpa awan mendung, memantulkan bias jingga di sela-sela gedung tinggi saat matahari mulai merayap turun ke ufuk barat. Di depan gang kos Jalan Melati, sebuah motor matic hitam berhenti tepat di dekat pos ronda.

Keira berdiri di ambang pintu kamarnya dengan perasaan berdebar kecil yang sudah lama tidak ia rasakan bukan debar cemas, melainkan antisipasi yang manis. Ia mengenakan gamis berwarna sage green muda yang dipadu dengan pashmina abu-abu netral, pakaian terbaik yang ia miliki saat ini. Rambutnya sudah dirapikan sebaik mungkin di balik kerudung, dan wajahnya tampak segar setelah berhari-hari hanya terpaku di dalam ruangan sempit.

Davin melepas helmnya, tersenyum lebar begitu melihat Keira keluar dari lorong gang. Lelaki itu mengenakan kemeja kasual bermotif garis vertikal tipis yang membuatnya terlihat rapi dan segar.

"Udah siap?" sapa Davin begitu Keira mendekat. Matanya menatap dari atas ke bawah, menilai penampilan Keira dengan tatapan kagum.

"Wah, pacar siapa sih ini? Cantik banget. Kayak bukan anak kos yang kerjanya meringkuk di kamar terus."

Pipi Keira seketika merona hangat. Pujian sederhana itu berhasil merontokkan sisa-sisa kegelisahan yang sempat singgah di kepalanya tadi pagi. Ia tersenyum malu-malu, menunduk sejenak.

"Bisa aja kamu, Vin. Aku kan cuma pakai baju biasa."

"Biasa tapi kalau yang pakai kamu ya beda," balas Davin lembut, lalu mengambil tangan Keira dan menggenggamnya erat sebelum membantunya naik ke boncengan motor.

"Udah lama kan kita gak jalan berdua santai kayak gini? Hayo, pegangan yang bener."

Motor matic itu melaju lembut meninggalkan kawasan kos-kosan menuju salah satu kafe rooftop baru di kawasan pusat Kota Bimantara. Selama perjalanan, angin sore berhembus menerpa wajah mereka, membawa bau debu jalanan yang bercampur aroma khas kota sore hari. Di atas motor, tangan Keira melingkar di pinggang Davin. Ada rasa aman yang kembali merayap memenuhi rongga dadanya.

Lihat kan? batin Keira, menepis jauh-jauh bayangan dompet hitam dan kartu nama galeri seni yang sempat membuatnya gamang pagi tadi. Davin cuma sayang sama aku. Dia cuma ingin kita punya waktu berdua.

Setibanya di kafe rooftop berkonsep industrial minimalis itu, suasana terasa begitu nyaman. Lampu-lampu gantung kecil berbentuk bola pijar mulai dinyalakan, menyebarkan temaram kuning hangat di antara tanaman hias gantung yang menghiasi dinding semen ekspos. Dari tempat duduk mereka di sudut balkon terbuka, hamparan lampu kota Bimantara mulai berkelap-kelip indah di bawah langit senja.

Davin memesankan makanan kesukaan Keira sebuah porsi pasta carbonara dan segelas es leci yakult sementara ia sendiri memilih kopi hitam.

"Makan yang banyak ya, Kei," ucap Davin sambil menggeser piring pasta itu ke hadapan Keira dengan penuh perhatian.

"Akhir-akhir ini kamu kelihatan kurusan terus di kos. Nanti kalau kamu sakit, aku juga yang pusing."

"Iya, Vin. Makasih ya udah ajak aku ke sini," kata Keira tulus, menikmati suapan pertama pasta yang terasa lezat di lidahnya. Suasana tempat itu, pemandangan kota dari ketinggian, dan kehadiran Davin di hadapannya membuat Keira merasa seperti kembali menjadi dirinya yang dulu, bukan perempuan yang hampir setiap hari hanya melihat dunia dari balik jendela kamar kos.

Selama makan malam, obrolan mereka mengalir ringan. Davin menceritakan beberapa kejadian konyol di kantornya tentang rekan kerjanya yang salah mengirim dokumen ke klien penting hingga membuat satu kantor panik. Keira tertawa renyah mendengarnya, menikmati setiap detik kebersamaan itu tanpa ada ketegangan yang mengusik.

Untuk sejenak, dunia terasa sempurna.

Namun, di sela-sela gelak tawa dan kehangatan itu, ada beberapa detail kecil yang melintas tanpa sengaja. Ketika pelayan kafe datang mengantar makanan dan sempat melontarkan senyuman ramah sambil menanyakan apakah menu mereka sudah pas, Keira melihat rahang Davin mengeras selama beberapa detik. Tatapan lelaki itu berubah tajam, mengamati pelayan muda tersebut sampai pergi menjauh.

"Kenapa, Vin?" tanya Keira bingung melihat perubahan ekspresi Davin yang begitu cepat.

Davin menggeleng pelan, senyumnya kembali terukir di bibir, meski agak kaku. "Enggak apa-apa. Cuma agak risi aja, pelayan cowok tadi senyum-senyum gak jelas ke arah meja kita. Kayak gak sopan."

Keira mengerjap, merasa heran karena ia sama sekali tidak menangkap gelagat tidak sopan dari pelayan tersebut.

"Ah... perasaan kamu aja kali, Vin. Dia kan cuma ramah sama pengunjung."

"Ramah itu ada batasnya, Kei," jawab Davin dengan nada suara yang mulai menurun, dingin namun dihaluskan.

"Aku gak suka cowok lain ngeliatin kamu dengan tatapan sok akrab begitu. Kamu itu pacar aku. Wajar kan kalau aku risi?"

Keira terdiam sejenak. Suasana hangat di meja itu mendadak terasa sedikit bergeser, menyisakan hawa tipis yang tidak nyaman. Namun, alih-alih mendebat, Keira buru-buru mengangguk, memilih untuk mengalah dan menelan rasa tidak nyamannya sendiri demi menjaga agar malam yang indah ini tidak rusak oleh pertengkaran kecil.

"Iya, maaf, Vin. Aku gak perhatiin tadi," cicit Keira pelan, mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan kota di luar balkon.

Davin mengulurkan tangan, merengkuh jemari Keira di atas meja, mengusapnya lembut seolah menghapus ketegangan barusan dalam sekejap.

"Udah, jangan cemberut gitu. Aku cuma terlalu 'miliki' kamu, Kei. Kamu tahu sendiri kan seberapa berharganya kamu buat aku?"

Keira hanya tersenyum kecil. Entah kenapa, setelah mendengar kalimat itu, rasa tidak nyaman yang sempat muncul kembali mereda.

Malam semakin larut ketika mereka akhirnya memutuskan pulang. Di sepanjang perjalanan menuju kos, kepala Keira bersandar nyaman di punggung Davin.

Angin malam yang dingin berhembus kencang, tetapi jaket tebal yang dipinjamkan Davin membuat tubuhnya terasa hangat.

Sesampainya di depan gerbang gang kos Jalan Melati, motor Davin menepi. Lelaki itu ikut turun, membukakan standar motor, lalu merapikan pashmina Keira yang sedikit berantakan kena angin.

"Masuk ya, langsung kunci pintu yang rapat," pesan Davin sambil mencium kening Keira penuh kasih sayang.

"Besok sore aku usahain ke sini lagi bawain makanan kesukaanmu."

"Iya, Vin. Hati-hati ya di jalan pulangnya. Jangan ngebut," jawab Keira tersenyum tulus.

Ia melambaikan tangan saat Davin memutar balik arah motornya dan melaju pergi menembus gelapnya malam.

Keira berjalan masuk ke dalam gang dengan hati yang berbunga-bunga. Malam ini, Davin telah membuktikan betapa besar perhatiannya.

Namun, saat ia membuka pintu kamar kosnya yang gelap dan sunyi, menyalakan lampu kuning kecil di sudut ruangan, dan menutup kembali pintu kayu tersebut rapat-rapat dengan dua lapis kunci suara bising kendaraan dari luar perlahan meredup, menyisakan keheningan yang pekat.

Keira berdiri sendirian di tengah ruangan sempit itu.

Ia melepaskan jaket Davin dari tubuhnya, menggantungkannya dengan hati-hati di balik pintu.

Senyuman di bibirnya perlahan memudar, menyisakan bayangan samar tentang tatapan tajam Davin kepada pelayan kafe tadi sore.

Sebuah ingatan kecil yang bersembunyi di balik manisnya malam penutup kencan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!