NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Tujuan Yang Sama

Sesampainya di stasiun, Meng Lin langsung melihat kerumunan orang. Peron dipenuhi para pemuda dan pemudi yang membawa koper, tas kain, selimut, serta berbagai barang bawaan.

Sebagian datang bersama keluarga. Ada yang sedang memberi nasihat untuk terakhir kalinya, ada yang menangis, dan ada pula yang terlihat bersemangat seolah hendak memulai kehidupan baru.

Meng Lin tidak terlalu memperhatikan mereka.

Dia hanya membawa barang-barangnya dan mencari tempat yang agak kosong untuk berdiri.

Baru beberapa langkah, sebuah suara yang cukup dikenalnya terdengar dari belakang.

"Meng Lin....!"

Meng Lin menoleh, "Yan Rao..Kau juga baru datang?"

Yan Rao juga membawa sebuah koper sederhana. Dia datang bersama dengan Ibunya.

"Ya. Aku sudah bangun lebih pagi, takut ditinggalkan kereta...."

"Kalian bisa saling menjaga selama perjalanan. Yan Rao ini biasanya ceroboh. Kalau tidak ada yang mengingatkan, dia bisa saja lupa barangnya sendiri."

"Ibu!" Yan Rao langsung protes. "Aku tidak seceroboh itu."

Ibunya tertawa kecil.

Meng Lin hanya tersenyum tipis. Setidaknya, dia tidak akan benar-benar sendirian selama perjalanan.

Selama sekolah, Yan Rao memang teman sebangkunya. Mereka tidak bisa dikatakan sahabat dekat, tetapi cukup sering berbicara mengenai pelajaran dan tugas sekolah.

Yan Rao juga termasuk orang yang mudah bergaul. Berbeda dengan Meng Lin yang lebih suka diam.

"Barangmu banyak sekali," kata Yan Rao sambil melihat koper Meng Lin.

"Persiapan untuk beberapa waktu." Meng Lin menjawab singkat.

Yan Rao mengangguk-angguk. "Ibuku juga memasukkan banyak barang. Katanya di desa belum tentu mudah membeli apa pun."

"Itu benar." Meng Lin tidak menjelaskan lebih jauh. Dia tahu persediaan yang dibawanya jauh lebih banyak daripada yang terlihat.

Beberapa saat kemudian terdengar pengumuman dari pengeras suara. Para penumpang diminta bersiap karena kereta yang akan membawa mereka menuju wilayah penempatan akan segera tiba.

Suasana di stasiun menjadi semakin ramai.

Ibu Yan Rao menggenggam tangan putrinya lebih erat. "Rao'er, setelah sampai jangan lupa kirim surat."

"Aku tahu, Bu."

"Jaga kesehatan. Jangan bertengkar dengan orang lain. Kalau ada masalah, jangan bertindak sembarangan."

"Iya, iya." Yan Rao menjawab sambil tersenyum, meskipun matanya mulai memerah.

Ibunya kemudian memeluknya. "Kalau sudah sampai, segera beri kabar."

Yan Rao mengangguk dalam pelukan ibunya.

"Bu, jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja."

Meng Lin berdiri tidak jauh dari mereka dan menunggu dengan tenang.

Tak lama kemudian, peluit kereta terdengar.

Yan Rao mengusap matanya, lalu menarik napas panjang. "Aku pergi, Bu."

Ibunya mengangguk berkali-kali. "Pergilah. Jaga dirimu baik-baik."

Setelah berpamitan, Yan Rao kembali menghampiri Meng Lin. "Ayo."

Meng Lin mengangguk. Keduanya membawa barang masing-masing dan berjalan menuju kereta bersama para pemuda lain yang akan berangkat ke wilayah penempatan mereka.

Saat menaiki kereta, Yan Rao menoleh sekali lagi ke arah ibunya. Wanita itu masih berdiri di peron sambil melambaikan tangan.

Yan Rao membalas lambaian tersebut.

Setelah kereta mulai bergerak, Yan Rao duduk di samping Meng Lin dan mengembuskan napas panjang.

"Untung kita pergi ke tempat yang sama."

Dia menatap Meng Lin. "Setidaknya aku tidak sendirian."

Meng Lin meliriknya sebentar. "Mm."

Jawabannya singkat, tetapi Yan Rao justru tersenyum. Baginya, itu sudah cukup.

Perjalanan menuju desa yang belum mereka kenal pun akhirnya dimulai.

...----------------...

Kereta perlahan meninggalkan stasiun. Di dalam gerbong, suasana masih cukup ramai. Hampir semua kursi terisi oleh para pemuda terpelajar yang akan dikirim ke berbagai daerah.

Meng Lin duduk di samping jendela.

Yan Rao berada di sebelahnya. Di kursi tepat di depan mereka, duduk tiga orang gadis yang juga akan dikirim ke pedesaan. Seorang pemuda duduk di sisi lorong, tidak jauh dari mereka.

Keempat orang itu tampaknya sudah saling mengenal sebelum keberangkatan.

Sementara Meng Lin dan Yan Rao baru saja duduk, salah satu dari mereka bertanya. "Kalian juga pergi ke wilayah selatan?"

Yan Rao mengangguk. "Ya."

"Desa mana?"

Yan Rao menyebutkan nama desa tujuan mereka.

Gadis itu terlihat sedikit terkejut. "Kebetulan sekali. Kami juga ke wilayah yang sama."

Yan Rao langsung tersenyum. "Benarkah?"

"Ya. Sepertinya kita akan menjadi teman seperjalanan cukup lama." Gadis itu kemudian tersenyum ramah. "Namaku Liu Fang."

Dua gadis lainnya ikut memperkenalkan diri.

"Zhao Mei."

"Sun Qiao."

Yan Rao juga memperkenalkan dirinya. "Aku Yan Rao." Kemudian dia menunjuk Meng Lin.

"Ini temanku, Meng Lin."

Meng Lin mengangguk singkat. "Halo."

Ketiganya membalas sapaan. Namun setelah itu perhatian mereka segera kembali pada percakapan masing-masing.

Bagi mereka, Meng Lin hanyalah gadis yang baru mereka kenal di kereta.

 ---

Beberapa waktu kemudian, Yan Rao mulai membuka bekalnya. "Aku lapar."

Dia membuka bungkusan kain yang dibawanya dari rumah. Di dalamnya ada beberapa bakpao dan telur rebus.

Ibunya memang sudah mempersiapkan makanan untuk perjalanan. "Kamu mau?" tawarnya kepada Meng Lin.

"Aku membawa sendiri." Meng Lin mengambil tas kainnya. Dia baru ingat, dia juga belum sarapan.

Dia mengeluarkan bekal yang telah disiapkannya. Begitu bungkusan dibuka, terlihat beberapa bakpao, telur rebus, daging kering, kacang-kacangan, dan makanan kering lainnya.

Yan Rao langsung membelalakkan mata.

"Kamu membawa sebanyak ini?"

"Perjalanannya jauh." Meng Lin mengambil satu bakpao.

Dari kursi depan, Zhao Mei diam-diam melirik Meng Lin. Matanya berhenti pada makanan Meng Lin. "Bekalmu banyak sekali."

Meng Lin mengangguk. "Mm."

"Siapa yang menyiapkan?"

"Aku." Jawaban singkat itu membuat Zhao Mei tidak melanjutkan pertanyaan.

Sun Qiao yang duduk di sebelahnya justru tersenyum. "Bagus juga. Kalau begitu kalian tidak perlu khawatir kelaparan."

Liu Fang ikut melihat sekilas. "Kalian benar-benar sudah mempersiapkan semuanya."

Nada suaranya terdengar ramah.

"Ya," jawab Yan Rao. Dia kemudian melihat makanan Meng Lin. "Kalau aku tahu kamu membawa sebanyak itu, tadi aku tidak perlu membawa begitu banyak."

Liu Fang tertawa kecil. "Kamu bisa makan bersama Meng Lin."

Yan Rao langsung mengangguk. "Benar juga." Dia tidak pernah sungkan dengan Meng Lin. karena selama sekolah keduanya sering saling berbagi.

Meng Lin tidak keberatan. Dia menggeser sebagian makanan ke arah Yan Rao. "Makan saja."

"Terima kasih Lin Lin...!"

Percakapan mereka terdengar biasa. Namun Zhao Mei masih terus melirik Meng Lin. Tatapannya berpindah dari makanan ke pakaian yang dikenakannya.

Terlihat jelas jika dia sangat iri dengan Meng Lin. Mulai dari atas sampai bawah terutama dengan wajah cantiknya.

"Kamu membawa banyak barang juga, ya?"

Pertanyaan itu terdengar seperti basa-basi.

Meng Lin tidak terlalu memikirkannya. "Persiapan untuk tinggal lama."

"Oh." Zhao Mei mengangguk. "Sepertinya keluargamu cukup mendukungmu."

Yan Rao yang mendengar kalimat itu langsung menjawab, "Semua orang pasti menyiapkan barang sebanyak mungkin. Kami akan tinggal jauh dari kota."

"Benar." Liu Fang mengangguk setuju.

Sun Qiao juga ikut berkata, "Ibuku bahkan memasukkan jarum, benang, dan obat luka. Katanya nanti kalau sakit belum tentu mudah mencari dokter."

Percakapan mereka kemudian beralih membicarakan barang-barang yang dibawa masing-masing.

Meng Lin tidak ikut banyak bicara. Dia hanya mendengarkan sambil makan.

 ---

Menjelang siang, beberapa orang mulai berjalan-jalan di lorong gerbong.

Pemuda yang duduk di samping mereka sesekali ikut berbicara dengan Liu Fang dan dua gadis lainnya.

Sementara Yan Rao semakin banyak bertanya tentang desa tujuan. "Menurut kalian, seperti apa kehidupan di sana?"

Sun Qiao mengangkat bahu. "Aku tidak tahu."

"Aku mendengar dari kakakku bahwa pekerjaan di desa sangat melelahkan."

Zhao Mei langsung berkata, "Kalau sudah memilih pergi, mau tidak mau harus menjalaninya."

Yan Rao mengangguk.

Meng Lin tetap tenang. Dia sudah tahu bahwa kehidupan di pedesaan tidak akan mudah. Karena itu, tidak ada gunanya terlalu banyak mengkhawatirkannya sekarang.

Beberapa saat kemudian, Yan Rao menoleh kepada Meng Lin. "Kamu tidak takut?"

"Takut apa?"

"Hidup di desa."

Meng Lin memandangnya. "Belum sampai sana. Untuk apa takut sekarang?"

Yan Rao terdiam. Kemudian dia tertawa kecil.

"Benar juga."

Liu Fang yang mendengar percakapan mereka ikut tersenyum. "Kamu cukup tenang."

Meng Lin hanya mengangkat bahu. Dia kembali melihat ke luar jendela. Pemandangan kota perlahan menghilang.

Gedung-gedung berubah menjadi rumah-rumah sederhana, kemudian ladang luas mulai terlihat.

"Aku sudah memutus sumber keuangan Meng Wan. Entah bagaimana mereka sukses di masa depan tidak ada hubungannya denganku. Aku sudah menjauh dari kalian semua, maka hiduplah sesuai dengan alur yang ada!"

.

.

.

.

.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat
yang banyak update nya Thor 👍😀
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Didi Wahyudi
niubi
nengnong
meng Lin ke kota cuma mau beli kemoceng 🤔🤦
nengnong
💪💪
Musdalifa Ifa
klo boleh request Thor tolong upnya dibanyakin🙏🤭🤭🤭
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!