Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Sudah Menikah
**
Ini sudah seminggu setelah Reyhan dirawat, dia juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Untungnya, tidak ada operasi kecil yang dikatakan dokter waktu itu. Reyhan baru siuman hari ini karena memang lukanya cukup fatal.
Saat ini, Ayana tengah menunggu giliran di luar untuk masuk ke dalam kamar rawat rawat. Di dalam, masih ada keluarga Reyhan yang memang mendapatkan giliran pertama. Sedang dirinya masih harus menunggu giliran bersama kedua teman Reyhan tentunya.
Dokter memang tidak melarang mereka untuk menjenguk bersamaan, selama tidak membuat pasien tidak merasa terganggu. Di dalam juga tidak hanya ada Reyhan, ada dua pasien lain yang hanya tersekat gorden, jadi demi kenyamanan tidak datang bersamaan.
Ayana memilih giliran kedua karena dia juga sadar diri untuk memberikan Reyhan waktu bersama keluarganya karena saat ini mereka tahu jika dia hanyalah pacar Reyhan.
Soal biaya rawat Reyhan, keluarganya baru memproses membuat kartu KIS untuk yang tidak mampu dan baru bisa dipakai dua hari ini. Sedangkan untuk biaya perawatan dan pengobatan sebelumnya tentu saja menggunakan uang Reyhan dan akhirnya tabungan Ayana juga terpakai. Sayangnya, uang rumah sakit yang kemarin tetap tidak bisa kembali.
Sekarang, uang itu hanya tersisa beberapa ratus ribu, itu saja juga karena sempat ditambah oleh Bima.
"Kenapa deg-degan mau ketemu Reyhan, yah?" goda Dion sembari menyenggol lengannya.
Ayana mendengus. "Apaan, sih? Gak jelas."
"Ayana, udah percaya kan sekarang gimana stresnya kita temenan sama dia?" tanya Bima yang langsung diangguki setuju olehnya. "Waktu itu gue peringatin lo, malah gak percaya."
"Aku pikir dia gak kaya gini." Ayana tertawa.
Seminggu lebih di rumah sakit, tanpa sadar membuat Ayana mulai akrab dengan dua teman Reyhan ini. Mereka setiap hari selalu datang untuk menjenguk Reyhan, jadi Ayana tidak merasa sendiri. Apalagi respon keluarganya Reyhan seperti kurang menyukai dia, seolah menjaga jarak dan tidak percaya. Ayana juga melihat betapa tidak sukanya ibu lelaki itu kepadanya.
"Kalian ngomongin gue di belakang?" tanya Dion yang langsung diangguki oleh mereka berdua. "Jahat banget."
"Bodo!"
"Emang pantes, kok."
"Ka--"
"Hallo ... Bim, Dion. Reyhan beneran kan, dirawat di sini?" tanya seorang gadis yang sudah berdiri di depan mereka bertiga.
Ayana memperhatikan gadis cantik itu dengan pakaian modisnya berambut sebahu. Wajahnya cina dengan struktur mirip boneka. Sungguh, sangat cantik sekali.
"Bella," sahut Bima terdengar panik. "Ngapain lo ke sini?"
Entah mengapa, Ayana bisa melihat raut wajah tegang Bima dan Dion yang sesekali melirik ke arah dirinya dengan was-was.
"Aku denger, Reyhan kecelakaan dan dirawat di sini. Aku mau jenguk, lah. Kamarnya ini, kan?"
Bima menahan Bella yang akan masuk. "Di dalam masih ada pihak keluarganya. Jangan banyak-banyak, nanti berisik sehingga bisa mengganggu pasien lain. Di sana ada dua orang pasien lain juga."
"Reyhan, sekamar sama banyak orang?" tanya gadis bernama Bella itu seolah tidak percaya. "Serius, Bim! Kenapa Reyhan gak pesan kamar VIP?"
Ada gila-gilanya VIP. Untuk makan saja mereka pas-pasan. Kamar kaya gini saja, mereka sudah habis puluhan juta. Jika kamar VIP, apakah harus menjual ginjal, paru dan sebangsanya? Ayana buru-buru menggeleng.
"Kenapa coba?" tanya Dion terlihat serius. "Karena dia itu sobat miskin."
Ayana dan Bima spontan tertawa, bisa-bisanya Dion mengatakan itu semua dengan wajah serius seperti itu. Tapi sepertinya jokes Dion tidak bisa diterima oleh Bella karena wajahnya terlihat kesal. Mereka berdua buru-buru menahan tawanya.
"Kenapa kalian gak hubungin aku? Biar aku bisa pesankan kamar VIP untuk Reyhan!" kata Bella masih terlihat kesal.
"Anda siapa? Sorry ...." Dion terlihat mengibaskan tangan dengan gaya gemulai. "Anda bukan siapa-siapa Reyhan."
Aksi Dion barusan kembali bisa membuat Ayana dan Bimo kembali akan tertawa, jika mereka tidak bisa melihat situasi saat melihat Bella makin terlihat kesal.
Sebenarnya siapa wanita ini? Wanita yang terlihat sempurna dari berbagai sisi. Kenapa dia mau memesankan Reyhan kamar VIP?
"Pokoknya, aku mau masuk!" Bella mendorong Bima yang kebetulan sedang lengah, sampai akhirnya bisa disingkirkan.
"Jangan masuk!"
"Aku mau masuk. Mau jenguk Reyhan!"
Baru saja Bella akan membuka pintu, tiba-tiba pintu sudah terbuka dari dalam.
"Tante!" pekik Bella terlihat senang.
"Bella!" sahut ibu Reyhan tak kalah senang. "Apa kabar kamu? Lama sekali yah, sudah tidak pernah main ke rumah lagi."
Mereka berdua terlihat berpelukan erat, seolah sedang saling melepas rindu. Sejenak, entah kenapa Ayana merasa iri melihat keakraban itu. Pada saat dia dikenalkan oleh Bima ke orangtua Reyhan sebagai pacar, awalnya mereka masih terlihat Wellcome. Tapi setalah diceritakan bahwa dia seorang yatim piatu terus tinggal desa, sikap ibu Reyhan mulai berubah dingin, bahkan seolah menganggapnya tidak ada. Apalagi saat tahu, jika dia sedang menganggur dan sedang mencari pekerjaan di kota, sikap ibu Reyhan semakin sinis. Walaupun sikap ayahnya Reyhan dari awal terlihat pendiam tidak berubah.
Mereka begitulah hanya baru tahu jika Ayana pacar Reyhan, apalagi jika tahu kalau Ayana itu istri Reyhan. Entahlah, dia tidak mau memikirkan sampai sejauh ini.
"Aku sibuk kuliah Tante. Lagipula, aku sama Reyhan kan, sudah putus." Wajah Bella terlihat murung. "Padahal aku masih sayang loh, Tante. Sampai sekarang juga masih sayang, Tan."
"Iya, anak itu emang bodo, bisa-bisanya membuang berlian kaya kamu dengan krikil batu kali yang gak ada gunanya," ujar Ibu Reyhan sembari melihat Ayana.
Dia memang merasa tersindir, tapi dia bukannya merasa sakit hati tapi malah ingin tertawa. Ayana tidak pernah menyangka akan mengalami drama tidak direstui oleh mertua seperti ini karena dia miskin.
Jika posisinya dia dan Reyhan menikah karena saling jatuh cinta, mungkin dia akan merasa sakit hati. Tapi sekarang, hubungannya dengan Reyhan tidak ada dalam tahap itu. Dia tidak merasakan sakit hati sedikitpun, diperlakukan dingin dan disindir seperti ini.
"Lo, gak papa?" bisik Bima. "Gak usah dipikirin omongan ibu Reyhan, istri sahnya kan tetap lo."
Ayana ingin sekali tertawa, tapi dia berpura-pura memasang wajah sedih. "Katanya, mereka itu welcome, tapi ini apa? Mereka gak suka gadis kampung miskin kaya aku," bisik Ayana.
"Duh ... bukan gitu. Mereka sama kita emang welcome kok, gak tahu jadi gini," balas Bima masih berbisik dengan raut wajah tak enak.
"Tapi ini li--"
"Kalian mau masuk tidak?" tanya ibu Reyhan yang berhasil menghentikan obrolan Ayana dan Bima.
"Iy--a Tante," jawab mereka berdua, sedang Dion memang sedari tadi sedang makan gorengan.
Saat Reyhan sadar tadi, Ayana memang sedang pulang ke kosan. Mau ganti baju dan mencuci baju kotor. Dia memang pulang 3 hari sekali, tidak ada drama dia menjadi orang pertama yang Reyhan lihat setelah sadar. Jadi, ini memang akan menjadi pertemuan pertama mereka.
Mereka bertiga ikut ke dalam kamar rawat dengan Bima yang sudah menyeret Dion. Bersamaan dengan mereka masuk, ayah beserta adik-adik Rayhan berbalik pergi ke luar.
"Reyhan!" teriak Bella yang membuat mereka yang ada di sana langsung melihat ke arah dia, termasuk Reyhan dan dua pasien di sana.
"Jangan teriak-teriak, ini rumah sakit bukan tempat sirkus!" tegur Reyhan yang masih meringis memegangi kepalanya yang sedang diperban.
"Maaf, soalnya aku kangen banget,"ujar Bella terdengar merajuk. Tangannya sudah meraih tangan Reyhan yang malah ditepis oleh lelaki itu.
"Ngapain ke sini?" tanya Reyhan terdengar ketus. Tiba-tiba, dia tersenyum saat melihat Ayana yang berdiri di belakang ibu dan Bella. "Ay, kamu kemana aja?"
"Aku pulang dulu sebentar," jawab Ayana entah kenapa dia merasakan hawa tak enak.
"Bapak bilang kamu emang di sini terus. Kamu gak papa?"
Sejak kapan menggunakan aku-kamu? Ayana mendengarnya aneh. Tapi mungkin, tidak enak di depan orangtua lelaki itu jika panggilannya masih gue-lo.
"Aku gak papa, yang sakit kan kamu bukan aku."
"Tapi aku ...." Reyhan melihat sekitar, kemudian memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya. "Kamu makan dengan baik, kan? Gak kelaparan? Aku kan, ini seminggu katanya koma."
Ayana terkekeh. "Aku makan dengan baik, kok. Makan bareng mereka di warteg langganan kalian. Nyatet biasa."
"Aman, dia sama kita," kata Bima sembari memberikan dua jempolnya.
"Lo, udah gak papa kan, Reyhan?" tanya Dion terlihat khawatir. "Gue boleh gak sih, habiskan gorengan dulu di luar? Sayang, soalnya masih banyak terus dilarang makan di dalam kamar rawat."
"Kampret!" Bima rasanya ingin mencekik lelaki tidak waras itu.
"Bim, tendang keluar aja, bisa?" tanya Reyhan yang langsung diangguki setuju oleh Bima.
Sayang, sebelum Bima akan menendangnya, Dion sudah buru-buru berlari keluar.
"Gue makan gorengan dulu, nanti masuk lagi! Gak baik kan, kalau buang-buang makanan."
"Kelakuan temen lo tuh!" adu Bima sambil terkekeh.
"Temen lo!" Reyhan terkekeh juga sambil tak habis pikir.
Ayana juga yang melihat interaksi mereka, diam-diam ikut terkekeh.
"Rey, dia siapa?" tanya Bella tiba-tiba sambil menunjuk Ayana.
Reyhan melihat Ayana, gadis itu menggeleng kecil seolah melarang mengatakan yang sebenarnya."Dia pacar aku."
"Dia?" tunjuk Bella seolah merendahkan Ayana. "Pacar kamu? Kelihatan banget gak berkelasnya, Rey. Jauh banget sama aku."
"Emang anak sekolah ada kelas-kelasan," cibir Bima yang membuat Bella semakin kesal.
"Gue sama lo emang beda kelas. Dari awal, gue emang gak cocok sama lo," balas Reyhan yang membuat Bella semakin sangat kesal.
"Reyhan, jaga ucapan kamu!" tegur Ibu tiba-tiba. "Pacar kamu emang gak ada apa-apanya, jika dibandingkan Bella. Dia cuman anak yatim piatu dari desa. Sedang Bella, dia anak orang kaya dengan berpendidikan tinggi! Bella lebih pantas buat kamu, daripada dia!"
Bella terlihat senang, saat ibu Reyhan membelanya. Sedang Ayana, jujur sekarang dia merasa sakit hati saat kata 'yatim piatu' dibawa-bawa. Di dunia ini, tidak ada yang mau memilih ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Ayana jika bisa memilih, dia juga mau orangtuanya masih ada, tidak pergi saat dia masih kecil dalam kecelakaan. Meninggalkannya sendiri di dunia yang kejam ini tanpa tahu apa-apa.
"Yang pantas enggaknya buat aku, itu aku sendiri yang nentuin, bukan ibu!" Reyhan ikut terbawa emosi. "Bim, bawa Ayana ke sini!"
"Hah? Iya." Bima langsung menarik tangan Ayana yang masih bingung dengan kondisi ini, jadi dia pasrah-pasrah saja saat ditarik.
Saat Ayana sudah berada di samping tempat tidur Reyhan, lelaki itu berusaha untuk duduk. Sebelah tangan dia yang tidak ter-infus meraih tangan Ayana untuk lebih mendekat, kemudian dia meraih belakang kepala gadis itu dan tanpa aba-aba menyatukan bibir mereka.
Bukan hanya mereka yang ada di sana yang terkejut atas ulah Reyhan, tapi Ayana juga merasa syok. Sedang Reyhan malah melumat bibir Alana, tidak memperdulikan tatapan orang-orang di sana termasuk pasien lain yang ada di sana. Dia sudah muak atas ulah ibunya yang kembali lagi terulang.
Reyhan menjauhkan bibir mereka, kemudian meraih pinggang Ayana. "Kita memang tidak pacaran," jawaban Reyhan membuat Bella tersenyum. "Kita sudah menikah."
"Apa?" teriak Bapak Reyhan yang baru saja masuk. "Kamu bilang apa?"
"Kita sudah menikah dengan sah secara agama dan negara," jawab Reyhan kembali dengan serius.
##