Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Malam semakin larut ketika para tamu satu per satu berpamitan. Halaman yang tadi ramai kini menyisakan beberapa lentera yang masih menyala, menerangi rombongan terakhir yang belum beranjak, mereka adalah keluarga Shen.
Nyonya Shen berjalan anggun di samping putranya, kain sutra tebalnya berkilau lembut ditimpa cahaya lentera. Nyonya Su, Lin Boqing, dan seluruh anggota keluarga mengantar mereka sampai ke gerbang depan, sesuai adat sopan santun bagi tamu terhormat.
"Terima kasih sudah datang malam ini, Nyonya Shen," ucap Nyonya Su, tersenyum ramah. "Kehadiran Anda sungguh menambah kemeriahan pesta putriku."
Nyonya Shen membalas senyum itu, tapi ada sesuatu di balik matanya yang tidak sepenuhnya santai. Dia melirik sekilas ke arah Yuxin yang berjalan agak di belakang, lalu kembali menatap Nyonya Su.
"Nyonya Su," ucapnya pelan, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "boleh aku bicara sesuatu yang mungkin agak sensitif?"
Langkah rombongan itu melambat. Lin Boqing menoleh, alisnya sedikit terangkat.
"Tentu, Nyonya Shen. Katakan saja."
Nyonya Shen menghela napas, matanya berpindah dari Nyonya Su ke arah Ruoxi yang berjalan di sisi lain, lalu kembali. "Aku baru mendengar kabar soal identitas asli kedua putrimu. Sungguh, aku turut prihatin dengan apa yang terjadi selama bertahun-tahun ini."
Ruoxi menegang mendengar kalimat itu, langkahnya terhenti sejenak.
"Karena itu," lanjut Nyonya Shen, suaranya semakin pelan namun tetap tegas, "aku merasa perlu mempertimbangkan kembali soal pertunangan Yifan."
Seluruh rombongan berhenti berjalan.
"Nyonya Shen," Nyonya Su mencoba tersenyum, meski nada suaranya sedikit gelisah, "apa maksud Anda?"
"Pertunangan itu awalnya disepakati untuk putri sulung keluarga Lin," Nyonya Shen menjawab, menatap langsung ke arah Yuxin kali ini. "Tapi ternyata, selama ini, yang bertunangan dengan anakku bukanlah putri sulung yang sesungguhnya."
Kalimat itu jatuh seperti batu ke permukaan air tenang, menciptakan riak yang tidak bisa ditahan siapapun.
"Aku tidak bermaksud menyinggung siapapun," Nyonya Shen melanjutkan cepat, seolah ingin meluruskan sebelum disalahpahami. "Tapi sebagai ibu, aku ingin yang terbaik untuk anakku. Kalau pertunangan itu memang seharusnya untuk Nona Yuxin sejak awal, aku rasa sudah sepantasnya kita memperbaiki kesalahan ini."
Ruoxi berdiri kaku, wajahnya pucat. Rasa hina yang menjalar di dadanya begitu tajam, diperlakukan seolah dia barang cacat yang harus dikembalikan setelah kebenarannya terbongkar.
Shen Yifan, yang sejak tadi diam, menatap ibunya dengan raut wajah sulit diartikan. Dia melirik Ruoxi sekilas, lalu Yuxin, seolah baru menyadari betapa rumitnya situasi yang sedang terjadi di depan matanya sendiri.
"Ibu," ucapnya pelan, "apa ini keputusan yang bijak? Ruoxi dan aku sudah bertunangan cukup lama."
"Justru karena sudah cukup lama," balas Nyonya Shen tegas, "aku ingin memastikan kau menikahi orang yang tepat, Yifan. Bukan orang yang posisinya didapat lewat penipuan bertahun-tahun."
Kata "penipuan" itu menghantam telak. Ruoxi menggigit bibirnya, menahan diri agar air matanya tidak jatuh di depan begitu banyak orang.
Lin Boqing berdeham, mencoba menengahi. "Nyonya Shen, ini keputusan besar. Mungkin sebaiknya kita bicarakan ini secara pribadi, tidak di sini."
"Aku mengerti kekhawatiran Tuan Lin," Nyonya Shen mengangguk sopan, "tapi aku sudah cukup yakin dengan keputusanku. Aku ingin Yuxin yang menikah dengan Yifan."
Semua mata beralih pada Yuxin. Yuxin berdiri diam, pikirannya berputar cepat. Ini bukan sesuatu yang pernah dia duga akan terjadi, bukan di kehidupan sebelumnya, bukan pula sesuatu yang dia rencanakan di kehidupan ini. Tapi sebelum dia sempat membuka mulut untuk menjawab, suara lain terdengar lebih dulu.
"Nyonya Shen benar."
Semua orang menoleh ke arah Ruoxi, yang tadi berdiri kaku dengan wajah pucat, kini justru tersenyum, senyum aneh yang tidak sesuai dengan situasi yang seharusnya menghina dirinya.
"Kalau memang Yuxin yang seharusnya menikah dengan Yifan," lanjut Ruoxi, suaranya perlahan mengeras dengan keyakinan yang tumbuh cepat, "maka aku rela melepaskan pertunangan ini."
Nyonya Su menatap putrinya dengan bingung. "Ruoxi, kau yakin?"
Ruoxi mengangguk, matanya berkilat dengan sesuatu yang tidak bisa dibaca siapapun kecuali dirinya sendiri.
Karena dia baru saja menyadari sesuatu, kalau posisi sebagai calon istri Yifan di kembalikan pada Yuxin, maka posisi lain yang sebelumnya sudah pasti milik Yuxin, posisi yang jauh lebih tinggi dan lebih berharga, akan menjadi kosong. Dan dia tahu persis siapa yang akan mengisinya.
"Maafkan aku, Nyonya Shen," Yuxin akhirnya bersuara, membungkuk sopan sebelum melanjutkan, "aku sangat menghargai niat baik Anda. Tapi izinkan aku menolaknya dengan segala hormat."
Semua mata kembali beralih padanya, termasuk Ruoxi yang tadi sudah menyunggingkan senyum penuh perhitungan.
"Meskipun benar aku putri asli keluarga Lin," lanjut Yuxin, suaranya tenang namun tegas, "aku tidak bisa dibandingkan dengan Kak Ruoxi. Dia sudah dua puluh tiga tahun menjadi putri keluarga ini, dibesarkan dengan pendidikan terbaik, dan memiliki jiwa serta tata krama seorang bangsawan sejati. Sedangkan aku, baru beberapa hari kembali, masih banyak yang perlu dipelajari."
Nyonya Shen mengerutkan kening, tidak menyangka penolakan itu datang secepat dan sehalus ini.
"Lebih dari itu," Yuxin melanjutkan, menatap Shen Yifan sekilas sebelum kembali pada Nyonya Shen, "Kak Ruoxi dan Tuan Muda Yifan sudah saling mencintai selama bertunangan. Aku tidak ingin menjadi sebab yang memisahkan dua hati yang sudah terikat begitu lama, hanya karena garis darah."
Kalimat itu terdengar begitu mulia, begitu penuh pengorbanan, sampai beberapa pelayan yang berdiri di sekitar gerbang saling berbisik kagum.
Ruoxi, yang tadinya sudah bersiap merayakan kemenangan kecilnya, kini justru terdiam. Dia menatap Yuxin dengan tatapan yang penuh kekesalan, dan curiga karena tidak menyangka Yuxin akan menolak semudah itu.
Shen Yifan menghela napas, ada sesuatu yang mirip kelegaan di wajahnya, meski dia berusaha menyembunyikannya di balik ekspresi tenang. "Yuxin benar, Ibu. Ruoxi dan aku sudah menjalani banyak hal bersama. Tidak elok rasanya memutuskan semua itu hanya karena masalah identitas yang sebenarnya bukan salah siapapun."
Nyonya Shen menatap putranya lama, lalu beralih pada Yuxin, mencoba membaca apakah kata-kata gadis di depannya ini tulus atau sekadar basa-basi yang sopan.
"Kau yakin, Nona Yuxin?" tanyanya akhirnya. "Ini kesempatan yang tidak semua orang mau lepaskan begitu saja."
"Aku yakin, Nyonya," jawab Yuxin, membungkuk lebih dalam. "Kebahagiaan Kak Ruoxi dan Tuan Muda Yifan jauh lebih berarti daripada sekadar status yang bisa kudapatkan dengan mengorbankan perasaan orang lain."
Nyonya Shen terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk pelan, meski raut wajahnya masih menyimpan sedikit keraguan. "Baiklah. Kalau begitu keputusanmu, aku menghormatinya."
Dia menoleh pada Nyonya Su. "Maafkan aku sudah membuat suasana canggung malam ini, Nyonya Su. Aku hanya ingin memastikan yang terbaik untuk anakku."
"Tidak apa-apa, Nyonya Shen," Nyonya Su tersenyum, meski masih terlihat sedikit lega situasi itu berakhir tanpa keributan lebih jauh. "Kami mengerti kekhawatiran seorang ibu."
Rombongan keluarga Shen akhirnya melangkah menuju kereta kuda mereka, diiringi ucapan selamat malam dari Lin Boqing dan Nyonya Su. Ruoxi berdiri diam, matanya mengikuti kepergian Yifan dengan perasaan campur aduk yang sulit dia pahami sendiri.
Begitu kereta kuda keluarga Shen menghilang di ujung jalan, Nyonya Su menoleh pada Yuxin, senyumnya kembali muncul, kali ini lebih hangat dari biasanya.
"Terima kasih, Yuxin," ucapnya, suaranya terdengar tulus untuk pertama kalinya malam itu. "Aku tidak menyangka kau akan membela pertunangan Ruoxi seperti itu."
Yuxin membalas senyum itu dengan tenang. "Aku dan Ruoxi sudah seperti saudara. Sudah sepantasnya aku mendukungnya."
Tapi di balik senyum itu, pikiran Yuxin sudah jauh melayang pada satu hal yang tidak dia ucapkan pada siapapun malam itu bahwa penolakannya bukan sepenuhnya soal pengorbanan mulia seperti yang terlihat di permukaan, melainkan perhitungan matang yang sudah dia susun sejak Nyonya Shen pertama kali membuka mulut.