Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Panji Merah & Pembukaan Gerbang Kegelapan
Sinar mentari pagi yang jernih menembus sisa-sisa kabut di Lembah Tengkorak, memancarkan kehangatan yang telah lama hilang dari tanah utara. Di puncak Altar Tengkorak yang kini bersih dari kutukan sihir hitam, Hiraisin berdiri tegak menatap membentangnya garis Pegunungan Hitam di ujung cakrawala. Puncak-puncak guratan batu cadas berwarna legam itu menjulang tinggi membelah langit, dilingkupi oleh benteng pertahanan terakhir yang menjadi jantung kekuatan Pasukan Abyss.
Di punggungnya, Pedang Kilat Purba bergetar halus dengan irama yang mantap. Empat ukiran Runa—Petir, Es, Api, dan Jiwa—memancarkan pendar ganda yang saling melengkapi. Integrasi Pecahan Jiwa Purba tidak hanya menyempurnakan struktur meridian tubuh Hiraisin, melainkan juga meningkatkan persepsi batinnya ke tingkatan transenden: Ranah Dewa Pedang Mula.
"Gejolak energi di Pegunungan Hitam sangat liar," ujar Liora seraya melangkah ke samping Hiraisin, membetulkan ikatan mantel bulunya. Di tangannya, Mutiara Es Jiwa Samudera kini berpendar tenang, siap menyalurkan tenaga pemurni kapan saja dibutuhkan. "Raja Abyss telah menarik seluruh sisa pasukan divisi dari segala penjuru benua. Mereka memperketat benteng utama demi melindungi pecahan artefak terakhir."
"Mereka tahu kita sedang menuju ke sana," sahut Kapten Roderick yang baru saja selesai memeriksa perlengkapan perang dan tombak besinya. "Tetapi mereka tidak memperhitungkan satu hal: kita tidak lagi bertarung sendirian."
Roderick menunjuk ke arah celah lembah bagian selatan. Dari balik debu jalanan yang membumbung tinggi, derap langkah kaki ribuan prajurit dan dentuman roda karavan perang bergema membelah keheningan pagi.
Panji-panji perang berkibar gagah diterpa angin utara. Di barisan terdepan, tampak bendera bersimbol Kuil Seroja Putih yang dibawa oleh pasukan tabib dan ksatria pelindung daratan, berdampingan erat dengan bendera bersimbol Trisula Kristal milik prajurit Suku Duyung Kelam yang dipimpin langsung oleh Putri Nerida dari jalur sungai utama. Tidak ketinggalan, sisa-sisa prajurit veteran Kerajaan Tianlan yang dipimpin oleh para perwira setia ikut bergabung membentuk barisan aliansi raksasa.
"Hiraisin! Liora!" panggil Putri Nerida anggun seraya memacu kuda air sihirnya mendekati puncak altar. Di belakangnya, ribuan prajurit berzirah perak berbaris rapi dengan tombak dan busur terangkat. "Sesuai sumpah kami di Istana Bawah Air, Suku Duyung Kelam dan seluruh sekutu daratan telah berkumpul untuk mendukung perjuangan Sang Pewaris Petir!"
Hiraisin menyambut kedatangan para sekutu dengan anggukan hormat yang mendalam. "Terima kasih, Putri Nerida, Kapten Roderick, dan seluruh pejuang Benua Tianlan. Kehadiran kalian adalah pelita di tengah kegelapan ini."
Seorang perwira tinggi Kerajaan Tianlan melangkah maju, membentangkan peta taktis Pegunungan Hitam di atas batu altar.
"Pewaris Petir," ujar perwira itu tegas seraya menunjuk garis-garis barikade musuh. "Benteng Utama Abyss dilindungi oleh tiga lapis gerbang pertahanan: Gerbang Lembah Besi, Parit Api Neraka, dan Benteng Tengkorak Abadi di mana Raja Abyss bersemayam. Lebih dari lima puluh ribu pasukan monster dan ksatria bayangan bersiaga di sepanjang celah pegunungan."
Liora mengamati peta tersebut dengan cermat, jemari halusnya menunjuk titik-titik lemah pada formasi musuh. "Jika Hiraisin bertarung sendirian menembus lima puluh ribu pasukan musuh dari garis depan, Tenaga Batinnya akan terkuras habis sebelum sempat bertarung melawan Raja Abyss. Kita harus membagi kekuatan."
"Benar," pangkas Kapten Roderick seraya menancapkan tombaknya ke tanah. "Pasukan Aliansi akan melancarkan serangan terbuka di Gerbang Lembah Besi dan Parit Api Neraka. Kami akan memancing seluruh konsentrasi armada utama musuh dan membendung pasukan bayangan agar tidak bisa mengurung kalian."
"Sementara pasukan utama menggempur gerbang depan," lanjut Putri Nerida dengan mata berbinar penuh strategi, "aku dan para penyihir duyung akan menggunakan Sihir Manipulasi Gelombang untuk membuka jalur rahasia melintasi celah air bawah tanah di samping pegunungan. Jalur itu akan mengantarkan Hiraisin dan Liora langsung ke jantung Benteng Tengkorak Abadi."
Hiraisin menatap wajah-wajah para sekutunya—Liora, Roderick, Nerida, dan ribuan prajurit yang bersedia mempertaruhkan nyawa demi masa depan Benua Tianlan. Rasa tanggung jawab yang besar mengalir hangat di dalam dadanya, menyalakan pendar Runa Jiwa di dalam Dantiannya hingga bersinar semakin jernih.
"Rencana yang sempurna," ucap Hiraisin mantap. "Kita bergerak saat fajar menyingsing besok."
Malam harinya, perkemahan Pasukan Aliansi berdiri megah di kaki Pegunungan Hitam. Ratusan obor menyala terang, menciptakan lautan cahaya yang menantang kegelapan malam yang pekat di wilayah terlarang tersebut.
Di sebuah bukit karang yang terpisah dari keramaian perkemahan, Hiraisin duduk bersila di atas batu datar. Pedang Kilat Purba terbaring melintang di atas pangkuannya. Pemuda itu memejamkan mata, membiarkan kesadarannya masuk ke dalam dimensi Dantian untuk memuluskan integrasi empat elemen purba.
Czzz... Bzzzt...
Percikan kilat ungu-keemasan, jilatan api emas membara, pendar kristal es dingin, dan pendar putih murni dari Runa Jiwa menari-nari melingkupi tubuhnya. Keempat energi elemen itu tidak lagi bertabrakan, melainkan mengalir secara siklis bagaikan roda kehidupan yang berputar sempurna.
Liora melangkah pelan mendekati bukit karang, membawa selimut tebal dan meletakkannya di samping Hiraisin. Gadis itu duduk diam, memandangi wajah tenang pemuda di sampingnya yang telah melalui begitu banyak penderitaan sejak kejatuhan Sekte Awan Putih.
"Kau melamun, Hiraisin," bisik Liora lembut.
Hiraisin membuka matanya secara perlahan. Pendar ganda di pupil matanya perlahan menyurut kembali menjadi warna hitam jernih yang tenang.
"Aku hanya mengingat masa lalu," ujar Hiraisin seraya menatap langit malam yang ditutupi gumpalan awan hitam musuh. "Saat guruku gugur dan sekteku hancur, aku berpikir bahwa jalan pedangku hanya diisi oleh dendam dan darah. Aku tidak pernah membayangkan akan berdiri di sini, dipimpin oleh takdir untuk melindungi begitu banyak jiwa."
Liora tersenyum anggun, mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Hiraisin dengan erat. Kehangatan halus dari Qi Seroja Kehidupan mengalir menenangkan meridian Hiraisin.
"Dendam mungkin menjadi percikan awal yang membakar semangatmu, Hiraisin," tutur Liora penuh kelembutan. "Tetapi keteguhan hatimu untuk melindungi orang lainlah yang membuat pedangmu memancarkan cahaya murni ini. Gurumu dan para leluhur Ordo Penjaga pasti sangat bangga melihat dirimu yang sekarang."
Hiraisin menggenggam balik jemari Liora, merasakan betapa berharganya kehadiran gadis tabib itu di sepanjang pelariannya dari Lembah Badai hingga ke dasar samudera.
"Apapun yang terjadi di dalam Benteng Utama besok," tegas Hiraisin seraya menatap lurus mata Liora, "aku janji akan membawamu kembali dengan selamat."
"Aku memegang janjimu," balas Liora dengan senyuman yang merekah penuh rasa percaya.
Ketika gumpalan awan fajar menyingsing di ufuk timur, raungan terompet perang Pasukan Aliansi meledak membelah keheningan Pegunungan Hitam.
TETTTTTT! TETTTTTT!
"Pasukan Aliansi! Serang!" jerit Kapten Roderick dan Putri Nerida seraya memimpin puluhan ribu prajurit meluncur menerjang gerbang pertahanan luar Pasukan Abyss.
BOOOOOOM!
Gemuruh pertempuran terdengar membahana. Meriam-meriam batu, sabetan tombak, dan gumpalan sihir meluncur memenuhi udara malam, mengalihkan seluruh perhatian belasan ribu ksatria bayangan dan monster Abyss ke garis depan pertempuran.
Di bawah naungan kekacauan pertarungan utama tersebut, dua bayangan meluncur kencang bagaikan kilat menyusuri lorong celah air rahasia di samping pegunungan.
Hiraisin dan Liora bergerak cepat tanpa suara. Menggunakan Sinergi Kilat Es, Hiraisin membekukan setiap gesekan langkah kaki mereka di atas air, membiarkan mereka menembus barikade dalam benteng musuh tanpa memicu alarm Runa kegelapan.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, keduanya telah tiba di dasar lorong batu raksasa yang menembus langsung ke lantai tertinggi benteng.
Di hadapan mereka, berdiri sebuah gerbang besi raksasa berukirkan tengkorak iblis bercabang delapan—Gerbang Takhta Abadi. Di balik gerbang tersebut, terhembus gelombang aura kejahatan yang begitu pekat, begitu membahayakan, dan begitu raksasa hingga membuat udara di sekeliling gerbang terasa membeku dan berat.
Raja Abyss telah menanti di dalam ruang takhta bersama Pecahan Kelima: Pecahan Takhta Purba.
Hiraisin menyentuh hulu Pedang Kilat Purba di punggungnya, menoleh menatap Liora yang mengangguk tegas di sisinya.
"Pertempuran terakhir... dimulai sekarang," pangkas Hiraisin dingin seraya mendobrak Gerbang Takhta Abadi hingga terbuka lebar.