NovelToon NovelToon
SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lemari Kertas

Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati Nurani dan Gemulai Seni Tari

Aroma tanah basah dan sisa hujan semalam masih tertinggal di halaman belakang rumah peninggalan ibunya. Di tempat ini, Nara tidak perlu menjadi "kekasih simpanan konglomerat" seperti yang dituduhkan media, tidak perlu menjadi "wanita elegan" seperti yang diinginkan apartemen lantai 45 itu. Di sini, ia hanyalah Nara.

Mengenakan kaos oblong putih yang sudah agak pudar dan celana kain longgar, Nara berjongkok, jemarinya lincah menggali tanah untuk menanam bibit sawi dan cabai.

Keringat tipis membasahi keningnya, namun ia merasa jauh lebih bernapas di sini daripada di dalam kemewahan yang sunyi milik Bagas.

Tiba-tiba, suara riuh rendah dari arah gang depan menembus pagar kayu rumahnya.

Awalnya hanya gumaman, lalu berubah menjadi teriakan panik yang melengking.

"Ya Tuhan! Bapak! Bapak, sadar! Bangun!"

Nara menghentikan gerakannya. Ia mengenal suara itu. Itu suara Bu Ningsih, tetangganya yang rumahnya hanya selisih tiga bangunan. Suara gaduh itu semakin menjadi, diiringi deru langkah kaki orang-orang yang berlari di gang sempit.

Nara meletakkan sekop kecilnya, mengusap tangannya yang kotor ke kain lap, dan berjalan menuju depan rumah. Begitu ia membuka pintu pagar, pemandangan kacau tersaji di hadapannya. Kerumunan warga menutupi jalan.

Di tengah-tengah mereka, Pak Barga terkapar di atas aspal kasar dengan posisi yang janggal. Di sampingnya, sebuah tangga kayu tua patah menjadi dua. Darah segar mengalir dari pelipis pria paruh baya itu, membasahi kerah bajunya yang kusam.

"Bagaimana ini? Pak RT sedang keluar kota! Siapa yang punya mobil? Mobil siapa yang bisa masuk ke sini?" teriak seorang pemuda dengan wajah pucat.

"Panggil tukang urut! Mungkin cuma pingsan!" sahut warga lain yang tampak sama bingungnya.

"Jangan bodoh! Itu kepalanya berdarah, harus ke dokter!"

Bu Ningsih meraung, bersimpuh di samping suaminya yang tak sadarkan diri.

"Bapak... bangun, Pak! Tadi sudah saya bilang jangan naik sendiri, gentengnya licin! Tolong... tolong suami saya!"

Nara memperhatikan sejenak. Ia melihat keraguan di mata warga. Sebagian ingin membantu tapi takut dimintai tanggung jawab, sebagian lagi sibuk berdebat tentang cara mengangkat tubuh Pak Barga tanpa menyadari bahwa waktu terus berjalan.

Nara menarik napas panjang. Ia teringat bagaimana dua minggu lalu, orang-orang yang sama di kerumunan ini menatapnya dengan jijik saat Sinta datang membawa kegaduhan ke gang ini. Ia ingat bagaimana Bu Ningsih pernah membuang ludah saat ia lewat, menyebutnya "perempuan tidak benar".

Namun, melihat tubuh ringkih yang tak berdaya itu, amarah Nara menguap, seolah dia ingat dengan ibunya sendiri yang tak berdaya kala itu. Ia melangkah maju, membelah kerumunan.

"Beri dia ruang untuk bernapas!" suara Nara tenang namun memiliki nada otoriter yang tak terbantahkan.

Warga tersentak, memberikan jalan. Nara berlutut di samping Pak Barga, memeriksa denyut nadi di lehernya. Lemah, tapi masih ada.

"Tidak ada gunanya berdebat," ucap Nara tanpa menoleh. "Suami Ibu harus dibawa ke rumah sakit sekarang juga. Luka di kepalanya cukup dalam, dia butuh penanganan medis segera."

Bu Ningsih menoleh, matanya yang sembab menatap Nara dengan campuran antara harap dan rasa malu yang mendalam. Namun, ketakutan lebih mendominasi dirinya.

"Tapi... tapi Nara..." Suara Bu Ningsih bergetar, ia memegang ujung baju Nara yang terkena noda tanah. "Rumah sakit itu mahal. Kami tidak punya asuransi... uang simpanan kami habis untuk memperbaiki rumah ini. Aku tidak punya cukup uang untuk membawanya ke sana. Kalau dibawa sekarang, nanti kami ditolak di administrasi..."

Beberapa warga terdiam, menunduk. Isu biaya selalu menjadi tembok raksasa di lingkungan ini, persis seperti yang dialaminya beberapa bulan yang lalu saat harus bolak-balik mengurus ibunya di rumah sakit.

Nara menatap Bu Ningsih lekat-lekat, lalu berdiri tegak.

"Jangan pikirkan biayanya. Itu urusan belakangan. Nyawa Pak Barga lebih penting dari apa pun."

Nara berpaling kepada dua pemuda yang berdiri paling dekat.

"Kalian berdua, cari tandu darurat atau gunakan papan kayu yang kuat. Gotong Pak Barga sekarang juga ke depan gang, ke jalan besar. Aku akan memanggil bantuan. Ambulans akan segera datang."

"Tapi Nara, ambulans rumah sakit swasta biayanya ... " salah satu warga mencoba memotong.

"Saya yang tanggung semuanya," potong Nara tegas. "Cepat bergerak! Setiap detik sangat berharga!"

Melihat ketegasan Nara, warga seolah terhipnotis. Mereka segera bahu-membahu mengangkat Pak Barga. Sementara itu, Nara merogoh saku celananya, mengambil ponsel. Ia tidak menelpon nomor darurat biasa, melainkan nomor layanan kesehatan privat yang kontaknya pernah diberikan oleh asisten pribadi Bagas.

"Halo, saya butuh bantuan medis segera. Kirimkan satu unit ambulans ICU ke Jalan Sudirman Gang Kamboja sekarang, tolong cepat karena pasien mengalami pendarahan di kepala."

Setelah menutup telepon, Nara melihat ke arah warga yang mulai menggotong Pak Barga. Suasana yang tadinya ricuh penuh perdebatan kini menjadi hening. Mereka menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan, kekaguman yang bercampur dengan rasa bersalah yang amat sangat.

Rumah sakit itu beraroma antiseptik dan ketegangan. Pak Barga sudah dibawa ke ruang observasi unit gawat darurat, sementara Bu Ningsih duduk di kursi tunggu dengan tangan gemetar. Ia tampak sangat kecil di tengah kemegahan lobi rumah sakit swasta tersebut.

Nara muncul dari arah loket administrasi setelah menyelesaikan semua deposit awal. Ia berjalan mendekat dan duduk di samping Bu Ningsih.

"Dokter bilang luka di kepalanya sudah dijahit. Ada sedikit gegar otak ringan, tapi tidak ada pendarahan internal yang fatal. Dia hanya butuh istirahat beberapa hari di sini," ujar Nara lembut.

Bu Ningsih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat.

"Nara... kenapa? Kenapa kau melakukan ini?"

Nara terdiam, menatap lantai marmer yang mengkilap. "Karena Pak Barga butuh bantuan, Bu."

"Bukan itu maksudku..." Bu Ningsih mendongak, air mata membasahi pipinya yang keriput. "Kemarin... saat wanita kota itu datang dan memaki-makimu di depan rumah... aku ikut menghujatmu. Aku menyebutmu perempuan simpanan perusak hubungan orang, aku menyumpahimu karena menganggapmu memberi contoh buruk bagi anak-anak di gang. Aku... aku bahkan menyuruh tetangga lain tidak membantu menggotong ibumu saat serangan jantung waktu itu. Aku begitu jahat padamu, Nara."

Nara menatap wanita itu dengan tatapan datar namun tidak dingin.

"Hal itu tidak perlu dipikirkan lagi, Bu Ningsih. Apa yang Ibu katakan kemarin adalah apa yang Ibu percayai saat itu. Saya tidak membantu Ibu untuk membeli maaf."

Nara merogoh tasnya, mengeluarkan amplop cokelat kecil yang berisi uang tunai secukupnya. Ia menyelipkannya ke tangan Bu Ningsih.

"Ini untuk biaya makan Ibu selama menunggu di sini, atau untuk membeli obat tambahan yang mungkin tidak ditanggung deposit saya. Jangan menolak. Gunakan untuk Pak Barga."

"Nara, ini terlalu banyak..."

"Simpanlah, barangkali kelak akan berguna untuk keperluan anak-anak ibu sisanya." Nara berdiri, merapikan kaus yang ia kenakan. "Saya harus pulang. Masih banyak tanaman yang ingin ditanam. Pak Barga orang baik, dia sering membantu memperbaiki pagar kayu rumah ibu saya dulu tanpa meminta bayaran. Anggap ini cara saya berterima kasih padanya melalui Ibu."

Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Nara berbalik. Ia berjalan dengan punggung tegak, meninggalkan Bu Ningsih yang masih terisak sambil mendekap amplop itu di dadanya. Bagi Nara, dendam adalah beban yang terlalu berat untuk dibawa pulang.

Saat taksi yang ditumpanginya berhenti di depan gang rumahnya, matahari sudah mulai tergelincir ke ufuk barat. Di depan pagar rumahnya yang sederhana, seorang wanita lanjut usia berdiri dengan anggun. Ia mengenakan kebaya kutubaru motif bunga yang rapi dengan sanggul kecil yang bersahaja.

Nara terpaku. Ingatannya melesat ke sepuluh tahun yang lalu, ke sebuah studio tari yang berlantai kayu jati, tempat ia menghabiskan ribuan jam untuk melenturkan tubuhnya.

"Ibu Widowati?" panggil Nara ragu.

Wanita itu berbalik. Sebuah senyum hangat mengembang di wajahnya yang dihiasi garis-garis usia yang bijaksana.

"Nara. Akhirnya kau pulang."

Nara mempercepat langkahnya, lalu mencium tangan sang guru dengan takzim.

"Sudah lama sekali, Bu. Maafkan saya tidak pernah berkunjung setelah ibu sering masuk rumah sakit dan setelah ... setelah ibu saya meninggal."

"Aku tahu, Nak. Hidup membawamu ke badai yang cukup besar belakangan ini, bukan?"

Widowati menatap Nara dengan tatapan seorang ibu yang tahu segalanya tanpa perlu dijelaskan.

Nara mempersilakan gurunya masuk ke teras rumah yang asri. Ia menyuguhkan teh hangat yang aromanya menenangkan.

"Apa yang membawa Ibu ke sini? Gang ini sedang tidak ramah bagi tamu belakangan ini," ujar Nara sedikit getir.

Widowati menyesap tehnya perlahan. "Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan media yang haus berita dan gosip di luar sana. Aku mengenalmu sejak kau masih setinggi meja ini, Nara. Aku tahu bagaimana otot-ototmu bicara saat kau menari. Orang yang bisa menari dengan hati yang jujur sepertimu tidak akan pernah bisa menjadi apa yang mereka tuduhkan."

Nara menunduk, matanya sedikit memanas. Validasi dari gurunya terasa jauh lebih berharga daripada pembelaan hukum mana pun.

"Nara, aku sudah tua," lanjut Widowati, suaranya merendah namun tetap tegas. "Kakiku tidak lagi sekuat dulu untuk memperagakan gerakan ngigel atau seledet. Sanggar tari 'Widya Budaya' butuh napas baru. Aku ingin kau kembali."

Nara tersentak.

"Kembali? Maksud Ibu... menjadi penari lagi?"

"Lebih dari itu. Aku ingin kau menjadi pengajar utama. Aku ingin kau yang memegang kendali sanggar. Kau punya teknik yang sempurna, tapi yang lebih penting, kau punya ketegaran yang dibutuhkan untuk mengajarkan seni pada generasi muda sekarang."

"Bu... saya sedang dalam posisi yang sulit. Nama saya sedang tercemar. Jika saya bergabung ke sanggar Ibu, orang-orang mungkin akan menyerang sanggar itu juga."

Widowati terkekeh, suara tawanya terdengar seperti denting lonceng kecil.

"Biarkan mereka menyerang. Seni itu seperti air, Nara. Ia tidak bisa dikotori oleh lumpur kata-kata. Begitu mereka melihatmu menari di depan anak-anak itu, mereka akan tahu siapa kau sebenarnya. Kau bukan hanya kekasih pria kaya itu, Nara. Kau adalah seorang seniman."

Nara menatap taman belakangnya yang mulai terlihat hijau. Tawaran itu seolah menjadi jembatan yang membawanya kembali ke jati dirinya yang sempat hilang di balik bayang-bayang Bagas.

"Beri saya waktu untuk berpikir, Bu," ucap Nara lembut.

"Pikirkanlah. Tapi aku tahu jawabannya ada di matamu," Widowati berdiri, mengusap bahu Nara. "Jangan biarkan dunia mematikan api di dalam dirimu. Kau diciptakan untuk bergerak, bukan untuk bersembunyi di balik terpaan badai yang sekarang menerjangmu, taklukan badai itu, Nara."

Setelah gurunya pulang, Nara berdiri di tengah ruang tamu. Ia perlahan merentangkan kedua tangannya, melakukan gerakan dasar ngarayung dengan jemarinya. Gerakannya masih sehalus sutra, sekuat baja. Tubuhnya lentur meliuk sempurna dalam bias cahaya senja yang masuk dari sela jendela.

Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah panggilan video dari Bagas. Nara menarik napas, lalu mengangkatnya. Layar menampilkan wajah Bagas yang tampak lelah namun langsung cerah saat melihat Nara.

"Hai, Sayang. Kau tampak... berbeda sore ini. Apa yang terjadi?" tanya Bagas dari seberang sana, latar belakangnya menunjukkan kemewahan kamar hotel di Tokyo.

Nara tersenyum, sebuah senyum yang tulus dan lebar, senyum yang sudah lama tidak dilihat Bagas.

"Aku baru saja menyelamatkan satu nyawa dan menemukan kembali nyawaku sendiri, Sayang," jawab Nara tenang.

"Apa maksudmu?" Bagas mengerutkan kening, bingung.

"Aku akan kembali ke sanggar tari. Aku akan mengajar," ujar Nara mantap. "Dan aku tidak ingin kau menggunakan pengaruhmu untuk membantuku kali ini. Biarkan aku membangun panggungku sendiri."

Bagas terdiam sejenak, menatap Nara melalui layar ponsel. Ia menyadari sesuatu, mawar yang ia cintai tidak hanya punya duri, tapi kini ia mulai berakar kuat di tanahnya sendiri.

"Baiklah, Sayang," gumam Bagas dengan nada penuh hormat. "Jika itu yang membuatmu bahagia, aku tidak akan menghalangimu. Tapi ingat, aku tetap akan menjadi penonton paling depan di setiap pertunjukanmu."

Nara tertawa kecil.

"Tentu. Tapi kau harus beli tiketnya sendiri, Tuan Bagaskara."

Malam itu, Jakarta tidak lagi terasa mencekam bagi Nara. Di dalam rumah kecilnya, ia mulai menyusun jadwal latihan. Baginya, kemewahan mungkin bisa memberikan kenyamanan, tapi hanya kerja keras dan ketulusan yang bisa memberikan kedamaian. Di gang sempit itu, sang "jalang kelas teri" menurut Sinta, baru saja membuktikan bahwa ia adalah ratu di wilayahnya sendiri.

1
Mak e Tongblung
kapan up
Afternoon Honey
menunggu kelanjutan dari cerita bersambung ini....
Aluz Nana
kenapa lama bgt up nya thor😭😭😭
deeRa
Nara👀
Hosniyah Niyah
❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Siti Ngaisah
makin penasaran untuk mengetahui ceritanya
Lia Kiftia Usman
Nara... kamu sudah punya isi... tambah terus isi akan terlihat kualitas ... acuhkan mereka yg jadi bungkus ..😊
Ariany Sudjana
bagus Nara, tetaplah jadi diri kamu sendiri
Ariany Sudjana
bagus Nara, kamu tunjukkan kamu perempuan yang kuat dan mandiri, bukan pelacur murahan seperti Sinta itu 😂😂🤣🤣
Aluz Nana
keren bangetttt/Angry//Angry//Heart//Heart/
Aluz Nana
kereeennnnn bgt si thor ini cerita sumpah darderdor banget setiap episodenya😍😍😍😍jangan lama2 up nya ya thor
Ida Rina
sehat2 thor..ditunggu up selanjutnya..
Ida Rina
luar biasa..
deeRa
Othor, mau kopi? buat melek👀
Fauziaa Raisyaa
uuhh mantap thor
Fauziaa Raisyaa
uuhh mantap thor
Aluz Nana
astgaaa bolak balik buka noveltonn blm update juga thor😭😭😭😭
Fauziaa Raisyaa
kapan up thor
Indah P
sediiiih bangeeet, semangat author 💪
deeRa
attention seluruh warga Noveltoon, ini bacaan daging banget lho (aseli no fake) kok kurang pembaca ya apa ga ke promoin gitu? 👀
deeRa: Baca chapter awal pasti langsung minat sih (aku) ya😊
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!