NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui tirai tipis di kamar Thalia. Udara di ruangan terasa hangat, aroma sabun dari wastafel masih menempel di kulitnya setelah ia mencuci muka. Air dingin tadi membuat kantuknya menghilang, tapi pikirannya tetap penuh rencana.

Ia berdiri di depan cermin besar berbingkai emas. Pantulan dirinya membuatnya terpaku.

Wajah yang kini ia miliki sebenarnya cantik-kulit putih pucat, bentuk wajah proporsional, dan mata yang indah di balik kacamata tebal. Hanya saja... rambutnya gimbal berantakan, kulitnya terlihat kurang terawat, dan kacamata itu memberi kesan kaku.

"Kalau dirawat dengan benar, aku bisa jadi jauh lebih cantik," gumamnya sambil mengusap pipinya. Sudut bibirnya terangkat. "Sekarang aku bahkan lebih muda... dari tiga puluh dua jadi sembilan belas tahun. Terima kasih, takdir."

Perutnya mulai berontak. Ia baru ingat belum makan apa pun sejak bangun ke dunia ini. Bubur yang dibawakan pelayan semalam sudah dingin sebelum habis karena pikirannya sibuk memikirkan rencana dan nasibnya.

Baiklah, saatnya mencari makanan.

Thalia keluar dari kamar. Koridor itu panjang, lantainya marmer putih, dan setiap langkahnya memantulkan suara ringan. Dinding dihiasi lukisan besar dan foto keluarga Maverick, berbingkai kayu mahal.

Matanya menyapu sekeliling. Ia harus mengakui, ini bukan rumah-ini istana modern.

Kolom-kolom tinggi menyangga langit-langit, lampu kristal tergantung di tengah ruang tamu yang luas. Karpet Persia membentang di beberapa area, dan aroma bunga segar dari vas besar memenuhi udara.

Bahkan di kehidupan lamanya yang penuh kesuksesan, ia belum pernah menginjakkan kaki di mansion sebesar ini. Ia sempat tersenyum kecil, merasakan sensasi "memiliki" semua ini. Tapi senyum itu menghilang saat ia melangkah ke ruang makan.

Di ujung meja panjang yang dapat menampung dua puluh orang, duduk seorang bocah kecil. Usianya sekitar tiga atau empat tahun. Rambutnya cokelat gelap, sedikit acak-acakan. Matanya besar, tapi sorotnya murung, seperti anak yang terlalu sering melihat hal-hal buruk. Tubuhnya kurus, pipinya tirus.

Di depannya hanya ada sepiring bubur nasi putih tanpa lauk. Uapnya pun hampir hilang.

Thalia berhenti melangkah. Nalurinya bertanya-tanya. Dan seolah menjawab, memori asing kembali muncul.

Liam. Bocah ini adalah Liam Maverick, keponakan Aiden-anak dari Allan Maverick, kakak Aiden, dan istrinya Selena. Dulu, Aiden baru lulus universitas. Keluarga mereka-orang tua Aiden, Allan, Selena, dan Liam-berangkat bersama menghadiri acara kelulusannya. Namun mereka tak pernah sampai. Mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan.

Liam adalah satu-satunya yang selamat. Usianya saat itu belum genap satu tahun.

Sejak itu, Aiden-sebagai satu-satunya keluarga dekat yang tersisa mengadopsinya sebagai anak. Secara hukum, status Liam adalah anak angkat Aiden. Dan itu berarti... anak angkat Thalia juga.

Tapi, di ingatan yang kini jadi miliknya, Thalia tahu Aiden tidak pernah benar-benar merawat Liam. Kesibukan mengurus Maverick Corporation membuatnya jarang pulang. Ia mengabaikan bukan hanya istrinya, tapi juga Liam.

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh beberapa pelayan. Kepala pelayan bernama Anne-perempuan berusia akhir tiga puluhan dengan senyum manis tapi hati busuk-mulai bertindak semaunya. Ia dan beberapa pelayan muda yang genit sering memperlakukan Thalia dan Liam seperti warga kelas dua di rumah ini.

Makanan yang diberikan tidak layak-kadang terlalu asin, kadang basi. Sementara mereka sendiri diam-diam menikmati masakan terbaik dari dapur.

Anne pandai bersandiwara. Saat Aiden ada di rumah, ia pura-pura menyayangi Liam. Mengelus rambutnya, menyuapi bubur, bahkan bercerita tentang "betapa nakalnya anak ini" sambil tertawa manis. Semua itu bertujuan agar Aiden menganggapnya lebih mumpuni mengurus Liam dibanding Thalia.

Di lubuk hatinya, Anne bermimpi menjadi nyonya Maverick-menggantikan "istri cupu" ini. Ia menganggap Thalia asli hanyalah penghalang sementara.

itu. Darah Thalia berdesir panas mengingat semua

Pembantu murahan macam ini... sepertinya sudah bosan hidup.

Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri. Tidak bijak menyerang tanpa rencana. Tapi satu hal pasti: Anne adalah batu sandungan pertama yang harus disingkirkan.

Thalia melangkah mendekat. Liam menunduk, memegang sendok dengan tangan mungilnya. Tangannya gemetar sedikit, mungkin karena lapar atau takut.

"Hai," sapa Thalia pelan.

Liam mengangkat wajah. Matanya penuh kewaspadaan. "-mama..." katanya lirih, "Mama uda bangun..."

Suara itu membuat dada Thalia terasa hangat dan perih sekaligus. Mama! kata itu terasa aneh dalam hatinya. Ini adalah pertama kalinya ada yang memanggilnya Mama di dua kehidupan. Di kehidupan pertamanya ia bahkan belum menikah di usia kepala tiga. Kesibukan syuting membuatnya tidak memiliki waktu untuk urusan asmara.

"Iya, Mama sudah bangun," jawab Thalia sambil tersenyum lembut. "Kamu sudah makan?"

Liam menoleh pelan dan menjawab dengan ragu. "Uda' cedikit," ucapnya cadel. "Mama... ini ga' ena'."

Thalia melirik bubur itu. Teksturnya terlalu encer, warnanya pucat. Tidak ada sayur, tidak ada lauk. Dengan suara rendah, ia berkata, "Kalau begitu, jangan dipaksa. Kita akan minta yang layak."

Ia duduk di sisi Liam. "Mau sup ayam?"

"Mau," jawab Liam lirih, harapannya muncul.

Langkah sepatu hak mendekat dari arah dapur. Anne masuk, disusul dua pelayan muda, Mira dan Siska. Anne tersenyum manis, tetapi matanya mengawasi tajam. "Nyonya sudah bangun," katanya. "Liam, habiskan buburnya. Kamu tidak boleh pilih-pilih."

Liam mengecil di kursinya. "Nggak mau..."

Mira terkekeh sinis. "Anak ini manja."

Siska menambahkan, "Kalau tidak mau makan, biar saja. Nanti lapar sendiri."

Thalia mengangkat pandang. "Anne, bubur ini hambar dan hampir dingin. Mengapa tidak diberikan makanan hangat dan bergizi?"

Anne tetap tersenyum. "Kami sudah berusaha. Anak ini sulit diatur. Kalau tidak dipaksa, ia tidak makan."

Thalia menatapnya lurus. "Paksa itu berbeda dengan membentak. Dan makanan layak bukan pilihan. Itu kewajiban."

Mira mendesis pelan. "Wah, Nyonya sekarang berani."

Beberapa pelayan lain muncul di ambang dapur, berhenti, mengintip. Rina berdiri paling belakang, gelisah.

Anne melipat tangan. "Nyonya, izinkan saya menangani. Saya sudah lama mengurus anak kecil."

Thalia berdiri. Kursinya bergeser halus, bunyinya membuat ruangan hening. "Mulai hari ini, aku yang mengatur makan Liam."

Anne menyipitkan mata. "Nyonya-"

PLAK!

Pipi kiri Anne langsung memerah. Tamparan Thalia mendarat bersih, cepat, dan tegas. Seluruh ruangan terkejut. Liam membelalakkan mata.

Anne memegang pipi, tersentak. "Kamu-"

PLAK!

Pipi kanannya menyusul. Suara tamparan memantul di dinding. Anne terhuyung satu langkah. Napasnya memburu, matanya berkaca-kaca oleh kaget dan malu.

Thalia mencondongkan tubuh sedikit.

"Pertama, jangan membentak anak. Kedua, jangan mengabaikan perintah Nyonya rumah. Ketiga, berhenti bersandiwara."

Mira melangkah maju. "Kamu keterlaluan!"

PLAK!

Tamparan cepat menghentikan Mira. Siska refleks hendak menarik tangan Thalia, tetapi pergelangannya diputar ringan, lalu-PLAK! PLAK! -pipi kanan dan kirinya kena dua kali. Gerakan Thalia ringkas; tubuhnya tegap, kuda-kudanya mantap. Latihan karate bertahun-tahun di kehidupan pertamanya kembali begitu saja, seperti reflek otomatis.

"Cukup," ujar Thalia datar. "Sebelum kalian lupa tempat kalian berada."

Anne menahan air mata. "Kamu berani seka-"

"Diam!" Thalia mengangkat telapak tangan. "Kamu tahu apa yang kau lakukan selama ini. Memberi makanan basi. Teriak pada anak kecil. Mengurungnya di kamar. Kamu kira aku tidak akan menemukan semuanya?"

Rina memberanikan diri melangkah mendekat. "Nyonya..."

"Rina," kata Thalia tanpa menoleh, suaranya tenang. "Panggil tim keamanan sekarang. Minta mereka salin rekaman CCTV beberapa bulan terakhir. Fokus pada dapur, koridor kamar Liam, dan ruang makan. Simpan semua bukti. Setelah itu, hubungi kepolisian. Ajukan laporan kekerasan terhadap anak dan penganiayaan."

Anne membelalak. "Apa?!"

Thalia menatapnya dingin. "Kamu pikir ini hanya tampar-tampar lalu selesai? Tidak. Kamu harus bertanggung jawab di mata hukum."

Mira bergetar. "Tapi kami... khilaf, Nyonya."

"Khilaf berhari-hari, berminggu-minggu?" Thalia balik bertanya.

Siska menangis kecil. "Kami takut kehilangan pekerjaan..."

"Ketakutan itu seharusnya muncul sebelum kalian memperlakukan anak dengan buruk."

Dua petugas keamanan mansion, Bima dan Ryo, bergegas masuk. "Izin, Nyonya."

"Ambil rekaman. Simpan aman. Setelah itu antar tiga orang ini ke kantor polisi," perintah Thalia.

"Siap."

Anne mundur selangkah. "Saya tidak akan pergi! Saya akan mengadu kepada Tuan Aiden!"

"Silakan mengadu," kata Thalia santai. "Tapi sekarang kau tetap ikut. Di hadapan polisi, mulut manismu tidak berlaku. Yang berbicara adalah bukti."

Bima dan Ryo mendekat. Anne berusaha menepis, tetapi Thalia hanya menyenggol maju setengah langkah: cukup untuk membuat Anne ingat dua tamparan tadi dan mengurungkan niat melawan. Mira dan Siska patuh, wajah mereka menunduk.

Liam menatap Thalia lama, lalu tersenyum kecil. "Mama... kelen pintel pukul," katanya polos, cadel terdengar lucu.

Thalia mengusap kepalanya lembut. "Mama tidak suka memukul. Tapi kalau ada yang jahat, kita harus berani."

Liam mengangguk kuat-kuat.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!