NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Banyak orang mengira bahwa pakaian adalah cara kita menunjukkan siapa diri kita kepada dunia, padahal sering kali pakaian hanyalah cara kita menyembunyikan siapa kita sebenarnya. Seorang prajurit memakai zirah agar tidak terlihat ketakutannya. Seorang raja memakai jubah beludru agar tidak terlihat kerapuhannya. Dan hari ini, Arlo Valerius mengenakan pakaian berburu dari kulit rusa terbaik hanya agar dunia tidak melihat bahwa jiwanya sedang memberontak untuk lari sejauh mungkin dari hutan ini.

Arlo berdiri di samping kudanya, seekor jantan berwarna hitam legam bernama Obsidian. Jemari Arlo mengelus leher kuda itu, merasakan otot-otot kuat yang bergetar di bawah kulit tipisnya. Obsidian mendengus, kakinya menghentak-hentak tanah yang masih basah oleh embun. Kuda itu merindukan larian bebas, sama seperti pemiliknya.

Di sekeliling Arlo, para bangsawan Aethelgard dan tamu-tamu dari Vandellia sedang sibuk memamerkan busur dan anjing pemburu mereka. Tawa mereka terdengar seperti suara gelas pecah—nyaring, namun tajam dan tidak memiliki kedalaman.

"Anda terlihat sangat gagah dengan busur itu, Arlo," suara Putri Helena terdengar di belakangnya.

Arlo tidak segera berbalik. Ia menyelesaikan simpul tali kekang Obsidian sebelum akhirnya memutar tubuh. Helena berdiri di sana, mengenakan setelan berburu yang lebih mirip gaun pesta yang dipotong pendek. Topi hijaunya yang kecil dengan bulu merak bergoyang setiap kali dia bergerak. Ia memegang busur kecil yang dilapisi perak, yang Arlo yakin tidak akan pernah digunakan untuk benar-benar membidik apa pun.

"Terima kasih, Helena," jawab Arlo tanpa nada.

"Ayahku bilang, pangeran yang pandai berburu adalah pangeran yang pandai menjaga wilayahnya," Helena melangkah lebih dekat, aroma parfum melatinya yang menyengat menindas aroma pinus dan tanah basah di sekitar mereka. Ia meletakkan tangannya di lengan Arlo, jemarinya yang mengenakan sarung tangan kulit tipis terasa dingin. "Aku ingin kau membawakanku jantung rusa jantan terbesar hari ini. Aku ingin menjadikannya pajangan di aula Vandellia sebagai kenangan pertunangan kita."

Arlo menatap mata biru Helena. Wanita ini bicara tentang membunuh makhluk hidup seolah-olah sedang memesan perhiasan di toko. "Hutan ini bukan toko suvenir, Helena. Dan aku bukan pemburu bayaranmu."

Helena sedikit menarik kepalanya, matanya menyipit sesaat sebelum senyum anggunnya kembali terpasang. "Tentu saja bukan. Kau adalah calon suamiku. Dan calon suami harus menyenangkan istrinya, bukan begitu?"

Suara terompet yang panjang dan melengking memecah percakapan mereka. Raja Valerius, yang sudah berada di atas kudanya, mengangkat pedang upacaranya tinggi-tinggi ke langit. "Demi kejayaan Aethelgard! Biarkan perburuan dimulai!"

Sorakan membahana. Puluhan kuda serentak dipacu masuk ke dalam hutan, menciptakan suara guruh yang menggetarkan bumi. Arlo memacu Obsidian mengikuti rombongan, namun matanya tidak mencari jejak kaki rusa. Ia justru terus menatap ke arah bayangan istana yang semakin menjauh di belakangnya.

Begitu rombongan memasuki area hutan yang lebih lebat, di mana kabut tipis masih merayap di antara batang-batang pohon raksasa, Arlo melihat celahnya. Ia menarik tali kekang Obsidian ke arah kiri, menyusup ke jalur tikus yang tertutup semak belukar. Jenderal Marcus sempat menoleh, namun Arlo memberikan isyarat tangan agar mereka terus maju. Sebagai putra mahkota yang dikenal rebel, menghilang di tengah perburuan bukanlah hal yang baru bagi mereka. Mereka akan mengira Arlo hanya ingin berburu sendirian.

Namun Arlo tidak berburu. Ia memacu Obsidian melingkari batas hutan, menuju ke sisi utara istana.

Sepuluh menit kemudian, ia sampai di gerbang belakang Sayap Utara. Tempat ini jauh berbeda dengan Sayap Barat yang tersembunyi. Sayap Utara adalah area yang lebih fungsional, dekat dengan barak prajurit dan gudang logistik. Di sini, aktivitas renovasi terlihat lebih kasar. Tumpukan batu bata, tumpukan pasir, dan perancah besi yang menjulang tinggi memenuhi pandangan.

Arlo mengikat Obsidian di bawah pohon ek yang rindang, lalu berjalan masuk. Ia tidak melepaskan pakaian berburunya, namun ia menanggalkan busur dan tabung anak panahnya di pelana kuda. Ia merasa aneh berjalan di tengah para pekerja dengan pakaian kulit rusa yang mahal, namun ia tidak peduli.

Ia menemukan Kalea di sana.

Gadis itu tidak berada di dalam aula kali ini. Ia berada di luar, berdiri di atas perancah besi yang bergoyang setiap kali angin kencang bertiup. Sayap Utara sedang diperbaiki bagian fasad luarnya. Kalea sedang memegang pahat kecil dan palu, tampak sedang membersihkan sisa-sisa semen kering dari ukiran singa di atas gerbang.

Arlo berhenti di bawah perancah, mendongak. Angin bertiup cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Kalea yang keluar dari ikatan kainnya. Arlo bisa melihat betapa tingginya perancah itu, dan betapa tipisnya papan kayu yang menjadi pijakan Kalea.

"Kau bilang kau hanya tukang cat," suara Arlo membelah suara hantaman palu.

Kalea tersentak. Ia hampir menjatuhkan palunya, namun dengan refleks yang luar biasa, ia menangkap gagangnya di udara. Ia menunduk, dan begitu melihat siapa yang berdiri di bawahnya, ia mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti geraman.

"Anda lagi?!" Kalea berteriak dari atas. "Apakah Anda punya alat pelacak yang dipasang di baju saya?"

Kalea tidak turun. Ia justru kembali fokus pada pahatnya, memukul batu dengan gerakan yang lebih keras seolah sedang melampiaskan amarahnya pada ornamen singa itu. "Dan apa itu? Pakaian berburu? Anda kabur dari pesta pembantaian hewan itu hanya untuk mengganggu saya lagi?"

"Aku hanya ingin memastikan kau tidak jatuh," jawab Arlo, ia mendekati kaki perancah dan memegangnya. "Tempat ini jauh lebih berbahaya daripada Sayap Barat. Kenapa pengawas membiarkanmu naik setinggi ini?"

Kalea berhenti memahat. Ia duduk di atas papan kayu, kakinya menjuntai di udara, menatap Arlo dengan pandangan yang penuh dengan keletihan dan sarkasme. "Karena tidak ada orang lain yang mau mengerjakan bagian detail ini. Mereka bilang tangan saya lebih teliti. Lagipula, jika saya jatuh, mereka hanya perlu memanggil tukang cat lain. Tidak ada kerugian bagi kerajaan."

Arlo mengepalkan tangannya di tiang besi perancah. "Jangan bicara seolah nyawamu tidak ada harganya."

"Bagi Anda mungkin ada harganya karena Anda sedang bosan, Arlo," Kalea menyebut nama Arlo tanpa gelar lagi, suaranya terdengar lebih pahit. "Tapi bagi pengawas di sana, saya hanyalah angka di buku laporan mingguan. Sekarang, silakan pergi. Pakaian mahal Anda akan terkena debu batu jika tetap berdiri di sana."

Arlo tidak pergi. Sebaliknya, ia mulai menaiki tangga besi perancah itu.

"He-hei! Apa yang Anda lakukan?!" Kalea berdiri dengan panik saat merasakan perancah itu bergoyang karena beban tambahan. "Turun! Anda akan membuat kita berdua jatuh!"

Arlo terus naik hingga ia sampai di tingkat yang sama dengan Kalea. Papan kayu itu berderit saat Arlo menginjakkan kakinya. Ruang di atas sini sangat sempit. Mereka harus berdiri sangat dekat agar tidak terjatuh.

Kalea merapatkan punggungnya ke dinding batu, memegang pahatnya seperti belati. "Anda benar-benar gila. Apa yang Anda inginkan? Maaf lagi? Saya sudah bilang semalam, maaf Anda tidak berguna bagi saya."

Arlo menatap Kalea. Di ketinggian ini, wajah gadis itu terpapar sinar matahari langsung. Ada noda debu putih di bulu matanya, dan keringat mengalir di pelipisnya. "Aku tidak datang untuk meminta maaf. Aku datang untuk melihat apa yang sedang kau kerjakan."

"Saya sedang membersihkan ukiran ini supaya tunangan Anda yang cantik itu tidak komplain saat lewat sini besok," Kalea menunjuk ukiran singa yang kini sudah terlihat lebih detail. "Puas? Sekarang turunlah sebelum para pengawal Anda datang dan mengira saya sedang menculik pangeran mereka."

Arlo mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan batu yang baru saja dibersihkan Kalea. Rasanya kasar dan dingin. "Ini indah. Kau punya bakat yang lebih besar daripada sekadar menutup retakan."

Kalea terdiam. Pujian itu terdengar sangat tulus, tanpa ada nada merendahkan. Ia perlahan menurunkan tangannya yang memegang pahat. "Ayah saya yang mengajari saya. Dia bilang, batu punya ingatan. Jika kita memperlakukannya dengan kasar, dia akan pecah. Jika kita memperlakukannya dengan lembut, dia akan bercerita."

"Apa yang dikatakan singa ini padamu?" tanya Arlo, suaranya melembut, mengikuti aliran angin yang berembus di antara mereka.

Kalea menatap ukiran singa itu. "Dia bilang dia lelah. Dia lelah harus terlihat kuat dan ganas sementara dia sebenarnya hanya sebuah batu yang diam diam rapuh karena cuaca."

Arlo tertegun. Ia merasa singa itu adalah metafora dari dirinya sendiri. "Mungkin dia butuh seseorang untuk membersihkan debunya, sama seperti yang kau lakukan sekarang."

Mata mereka bertemu. Dalam jarak sedekat ini, Arlo bisa melihat bintik-bintik cokelat di iris mata Kalea. Ada keheningan yang ganjil di antara mereka, meskipun di bawah sana suara pekerja lain masih terdengar riuh. Dunia seolah berhenti di atas papan kayu yang bergoyang ini.

"Kenapa Anda melakukan ini, Arlo?" tanya Kalea lirih. "Kenapa Anda terus kembali? Anda tahu ini tidak akan berakhir baik. Jika Raja tahu, hidup saya akan hancur."

"Aku tahu," Arlo berbisik. "Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa tidak ingin mengikuti aturan. Selama ini aku melakukan segalanya karena harus, bukan karena ingin. Tapi datang ke sini... ini adalah keinginanku sendiri."

Kalea menggeleng pelan, senyum sedih tersungging di bibirnya. "Keinginan adalah barang mewah, Pangeran. Dan Anda sedang memainkannya dengan nyawa orang lain."

Kalea hendak berbalik untuk kembali bekerja, namun kakinya yang mengenakan sepatu kain kusam terpeleset di tepi papan yang licin karena sisa semen. Tubuhnya limbung ke belakang, menuju kekosongan di ketinggian sepuluh meter.

"Kalea!" Arlo berteriak.

Dengan gerakan refleks yang dilatih dari bertahun-tahun latihan bela diri, Arlo menyambar pinggang Kalea dan menariknya kuat-kuat ke arahnya. Tubuh Kalea menabrak dada Arlo dengan keras. Arlo merangkulnya erat, sementara tangan satunya mencengkeram tiang perancah besi untuk menahan beban mereka berdua.

Kalea memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya mencengkeram kemeja kulit Arlo hingga buku jarinya memutih. Napasnya memburu, jantungnya berdegup begitu kencang hingga Arlo bisa merasakannya di dadanya sendiri.

"Jangan dilepas..." bisik Kalea ketakutan.

"Aku tidak akan melepaskanmu," Arlo berbisik di dekat telinga Kalea. Bau debu dan cat dari rambut Kalea terasa begitu nyata, begitu jujur. Arlo bisa merasakan tubuh Kalea yang kecil namun kuat itu gemetar dalam pelukannya.

Selama beberapa saat, mereka tetap dalam posisi itu. Arlo tidak ingin melepaskannya. Ia merasa pelukan ini adalah hal paling benar yang pernah ia lakukan dalam hidupnya yang penuh dengan kepalsuan. Di sini, di atas perancah yang bergoyang, ia bukan seorang pangeran, dan Kalea bukan seorang tukang cat. Mereka hanyalah dua manusia yang sedang saling berpegangan agar tidak jatuh.

Kalea perlahan membuka matanya. Ia mendongak, menatap wajah Arlo yang hanya berjarak beberapa inci darinya. Ia melihat ketakutan yang nyata di mata Arlo—bukan takut jatuh, tapi takut kehilangannya.

"Anda menyelamatkan saya," ucap Kalea lirih.

"Aku tidak akan membiarkanmu jatuh, Kalea. Tidak di sini, tidak di mana pun," jawab Arlo tegas.

Kalea perlahan melepaskan cengkeramannya dari kemeja Arlo, namun Arlo masih belum melepaskan rangkulannya di pinggang Kalea. "Anda harus pergi. Sekarang. Jika seseorang melihat kita seperti ini..."

"Biarkan mereka melihat," Arlo memotong pembicaraan itu.

"Tidak!" Kalea mendorong dada Arlo dengan sisa tenaganya, membuat mereka berdua sedikit menjauh meski Arlo tetap waspada menjaga keseimbangan Kalea. "Jangan egois! Bagi Anda ini adalah aksi heroik, bagi saya ini adalah hukuman mati! Pergilah!"

Arlo melihat kilatan air mata di sudut mata Kalea. Bukan karena sedih, tapi karena rasa frustrasi yang luar biasa. Arlo menyadari bahwa setiap tindakannya, sekecil apa pun, memiliki dampak yang sangat besar bagi hidup Kalea.

"Baiklah," Arlo melangkah mundur menuju tangga besi. "Aku akan pergi. Tapi berjanjilah padaku, kau akan turun sekarang. Kau terlalu lelah untuk bekerja di atas sini."

Kalea hanya menatapnya tanpa menjawab. Ia mengambil kembali pahatnya, namun tangannya masih sedikit gemetar.

Arlo menuruni perancah dengan cepat. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia menatap ke atas sekali lagi. Kalea sudah kembali ke posisinya, membelakanginya, seolah-olah kejadian tadi tidak pernah terjadi. Namun Arlo tahu, sesuatu telah berubah.

Ia berjalan menuju Obsidian, memacu kuda itu kembali ke hutan sebelum rombongan berburu selesai. Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi oleh rasa hangat dari tubuh Kalea yang tadi bersandar di dadanya.

Sesampainya di perkemahan berburu, Arlo menemukan semua orang sudah berkumpul. Jenderal Marcus mendekatinya dengan wajah lega. "Yang Mulia! Kami mengira Anda tersesat."

Arlo turun dari kuda, wajahnya datar kembali, topeng pangerannya terpasang sempurna. "Aku hanya butuh kesunyian untuk berpikir, Marcus."

Helena mendekatinya, matanya menatap tajam ke arah kemeja kulit Arlo yang kini sedikit kotor karena debu batu dan... setitik noda semen putih di bagian pinggang. "Di mana jantung rusaku, Arlo?"

Arlo menatap Helena, lalu melirik noda semen di bajunya. Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah Helena lihat sebelumnya. "Aku tidak menemukannya, Helena. Ternyata di hutan ini, ada hal-hal yang jauh lebih sulit ditaklukkan daripada seekor rusa."

Helena mengernyitkan dahi, tidak mengerti maksud suaminya. Arlo berjalan melewati Helena menuju tenda raja, merasa kemeja kulitnya yang kotor itu jauh lebih berharga daripada jubah kebesaran yang paling bersih sekalipun.

Retakan itu kini sudah menjadi celah yang lebar. Dan Arlo Valerius tahu, ia tidak ingin kembali ke balik dinding yang sempurna itu lagi. Ia lebih suka berdiri di atas perancah yang bergoyang bersama seseorang yang berani mengatakan kejujuran padanya.

Malam itu, di kamar tidurnya, Arlo tidak bisa tidur. Ia terus melihat tangannya sendiri. Tangan yang tadi memeluk Kalea. Ia menyadari satu hal: Mahkota Aethelgard mungkin memberinya kekuasaan, tapi Kalea memberinya alasan untuk tetap hidup.

Dan bagi seorang pangeran yang sedang memberontak, alasan itu sudah lebih dari cukup untuk memulai sebuah peperangan yang tidak akan pernah tercatat di buku sejarah kerajaan mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!