NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebiasaan Lama

Angin kencang khas Jeju yang menusuk tulang menyambut kedatangan mereka di bandara. Perjalanan dinas kali ini terasa berbeda; bukan hanya karena lokasinya yang jauh dari hiruk-pikuk Seoul, tapi karena subjek pembicaraan bisnis mereka adalah brand pakaian dalam wanita eksklusif yang sedang naik daun di Eropa.

Sesampainya di hotel mewah yang menghadap langsung ke tebing pantai, Nathaniel memberikan instruksi yang tak biasa.

"Kenakan pakaian yang paling tertutup yang kau bawa. Jangan ada celah," ucap Nathaniel dingin saat mereka berpisah di depan lift menuju kamar masing-masing.

Alessia hanya mengangguk patuh. Ia memilih turtleneck kasmir berwarna krem yang dipadukan dengan long coat tebal dan celana bahan yang elegan. Ia pikir Nathaniel hanya mengkhawatirkan kesehatannya karena suhu Jeju sedang turun drastis.

Begitu Alessia melangkah masuk ke lounge hotel yang remang dan beraroma cerutu, ia menyadari ada sesuatu yang salah.

Utusan brand tersebut, seorang pria paruh baya dengan setelan jas mengilap dan senyum yang tidak sampai ke mata, berdiri menyambut mereka. Namanya Tuan Choi. Begitu melihat Alessia, tatapan pria itu berubah, bukan tatapan profesional seorang rekan bisnis, melainkan tatapan predator yang seolah sedang membedah setiap lekuk tubuh di balik pakaian tebal Alessia.

Nathaniel, yang berdiri selangkah di depan Alessia, seketika menegang. Ia menangkap arah pandang Tuan Choi yang menjijikkan itu.

"Selamat malam, Tuan Luca. Dan ini... ah, perhiasan tercantik dari Sinclair yang kabarnya sedang belajar bisnis?" suara Tuan Choi terdengar serak, tangannya terulur hendak menyentuh jemari Alessia saat bersalaman.

Sebelum tangan itu sampai, Nathaniel dengan sigap menggeser tubuhnya, memblokir akses Tuan Choi ke arah Alessia. Ia menyambut jabat tangan pria itu dengan cengkeraman yang sangat kuat, cukup kuat untuk membuat buku jari Tuan Choi memutih.

"Ms. Sinclair di sini sebagai perwakilan resmi direksi, Tuan Choi. Bukan untuk menjadi pajangan," sahut Nathaniel dengan suara yang rendah namun sarat akan ancaman.

Tatapan Nathaniel kini benar-benar tajam, seolah siap menerjang siapa pun yang berani merendahkan martabat putri tunggal Sinclair tersebut. Ia melirik Alessia sebentar lewat bahunya, memastikan gadis itu tetap berada di zona amannya.

"Mari kita mulai pembicaraannya. Saya tidak punya waktu banyak untuk basa-basi yang tidak relevan dengan kontrak," tambah Nathaniel sembari menarik kursi untuk Alessia, memastikan posisi duduknya terlindungi oleh tubuh tegapnya sendiri.

Alessia bisa merasakan aura protektif yang begitu pekat dari Nathaniel. Ia baru menyadari sekarang kenapa Nathaniel memintanya berpakaian sangat tertutup. Pria di depannya ini adalah tipe orang yang menganggap wanita hanya sebagai objek dari komoditas bisnisnya.

"Jadi, Tuan Choi," Alessia membuka suara, mencoba tetap tenang meski merasa risih.

"Saya dengar brand Anda ingin membuka gerai flagship di sayap selatan Sinclair Mall. Tapi setelah melihat bagaimana Anda memandang calon mitra bisnis Anda... saya jadi ragu apakah nilai brand Anda cocok dengan citra berkelas yang kami jaga."

Mendengar itu, Nathaniel hampir saja tersenyum tipis. Ternyata, Alessia tidak butuh waktu lama untuk menyadari situasi dan langsung melakukan serangan balik yang elegan.

Tuan Choi tertawa hambar, mencoba mencairkan ketegangan yang ia ciptakan sendiri. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menyesap cerutunya dengan santai.

"Wow... anak muda. Tenang saja. Sudah menjadi kebiasaanku karena terlalu sering melihat model pakaian dewasa, jadi mataku punya standar otomatis," jawab Tuan Choi dengan nada meremehkan yang dibalut candaan hambar.

Rahang Nathaniel mengeras. Ia tidak membalas candaan itu dengan senyum sedikit pun. "Langsung saja pada kontrak kerjanya," potong Nathaniel dingin. Suaranya datar namun tegas, memotong semua basa-basi yang menurutnya sudah melewati batas.

Di sampingnya, Alessia mulai merasakan AC pusat lounge hotel yang berembus langsung ke arah kakinya. Meskipun ia mengenakan celana panjang, bahan kainnya yang elegan ternyata tidak cukup tebal untuk menahan suhu musim dingin Jeju yang ekstrem. Tanpa sadar, Alessia merapatkan kakinya dan sedikit menggigil, sebuah gestur kecil yang luput dari pandangan Tuan Choi, namun tertangkap jelas oleh radar Nathaniel.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen kontrak di atas meja, Nathaniel melepaskan jaket coat wol hitamnya. Dengan gerakan yang sangat natural, seolah sudah sering ia lakukan ribuan kali, ia menyampirkan jaket besar yang masih terasa hangat oleh suhu tubuhnya itu ke atas pangkuan Alessia.

Alessia tersentak kecil saat merasakan beban jaket itu menutupi kakinya, namun ia tidak menolak. Aroma maskulin khas Nathaniel, campuran kayu cendana dan dinginnya musim dingin, seketika menyelimutinya, memberikan rasa hangat yang bukan hanya berasal dari kain, tapi juga dari rasa aman.

Bagi Alessia, perhatian ini tidak terasa aneh atau berlebihan. Sejak ia kecil, Nathaniel memang selalu seperti itu. Pria itu adalah perisai bagi keluarganya; sosok yang akan memastikan pintu terkunci rapat, sosok yang akan berjalan di sisi luar trotoar untuk melindunginya dari kendaraan, dan sosok yang selalu tahu kapan ia butuh perlindungan tanpa harus diminta.

"Terima kasih," bisik Alessia tanpa menoleh, tetap fokus pada Tuan Choi agar tidak kehilangan wibawanya.

"Fokus pada poin 4.2, Nona Sinclair," sahut Nathaniel pelan, matanya kembali menatap Tuan Choi dengan tatapan yang seolah berkata: 'Jangan berani-berani menatapnya lagi.'

Tuan Choi tampak sedikit tertegun melihat interaksi itu. Ia bisa merasakan bahwa hubungan di antara kedua orang di depannya ini bukan sekadar atasan dan bawahan, atau mentor dan murid. Ada loyalitas yang sangat dalam dan mungkin sesuatu yang lebih protektif dari itu.

"Jadi," lanjut Nathaniel, suaranya kini terdengar lebih tajam, "mengenai biaya sewa area atrium selatan... kami meminta jaminan bahwa setiap kampanye iklan di Sinclair Mall harus melalui kurasi ketat dari tim Ms. Alessia. Kami tidak menerima visual yang hanya menjual kevulgaran tanpa nilai seni."

Alessia mengangguk mantap, menarik jaket Nathaniel sedikit lebih rapat di pangkuannya. Di bawah meja, ia merasa jauh lebih berani sekarang.

———

Restoran hotel yang menghadap langsung ke hamparan laut Jeju yang gelap memberikan suasana yang jauh lebih tenang setelah ketegangan rapat tadi. Suara deburan ombak di kejauhan menjadi latar belakang yang pas untuk mengistirahatkan saraf-saraf yang tegang.

Pelayan datang membawa dua piring hidangan utama. Begitu piring diletakkan di depan mereka, tanpa diminta dan tanpa mengalihkan pandangan, Nathaniel menarik piring Alessia sebentar ke arahnya. Dengan gerakan yang sangat telaten dan efisien, ia menyisihkan potongan-potongan wortel ke pinggir piringnya sendiri.

Ia ingat betul, sejak Alessia masih kecil, gadis itu akan melakukan segala cara untuk menyembunyikan wortel di bawah tumpukan nasi atau daging.

"Makanlah. Tidak ada lagi sayuran yang kau benci di sana," ucap Nathaniel datar, mengembalikan piring itu ke depan Alessia.

Alessia tersenyum lebar, merasa diperlakukan seperti tuan putri yang sangat dipahami. Ia meraih daftar minuman, lalu menatap Nathaniel dengan tatapan memohon yang paling andalannya.

"Kak... boleh wine segelas saja? Untuk merayakan kontrak tadi," pinta Alessia dengan nada manis.

Nathaniel menghentikan gerakan memotong dagingnya, ia menghela napas panjang seolah sudah menduga permintaan ini akan muncul.

"Kamu gampang mabuk, Alessia. Terakhir kali di acara ulang tahun Sinclair Mall, kamu hampir mencoba berdansa dengan patung di lobi."

Alessia merona merah, teringat kejadian memalukan itu. "Itu kan dulu! Lagipula, kan ada mentorku di sini. Harusnya aman, dan besok jadwal kita libur sebelum kembali ke Seoul."

Nathaniel menatap mata cokelat Alessia yang berbinar di bawah cahaya lilin meja makan. Ada keraguan di wajahnya, namun perlahan tembok pertahanannya runtuh lagi.

"Oke... segelas saja? Sedikit saja," katanya memberi izin dengan nada yang lebih mirip instruksi daripada persetujuan.

Alessia bersorak pelan dan segera memesan segelas red wine kualitas terbaik. Ketika gelas itu datang, ia menyesapnya perlahan, merasakan sensasi hangat yang menjalar ke tenggorokannya.

"Terima kasih, Nathan," bisik Alessia, menggunakan nama panggilannya yang lebih pribadi. "Terima kasih sudah menjagaku tadi. Tuan Choi itu benar-benar menyebalkan."

Nathaniel terdiam, memutar gelas air mineralnya. "Itulah duniaku, Alessia. Dunia yang akan segera menjadi duniamu sepenuhnya. Orang-orang seperti Tuan Choi akan selalu ada, mencoba mencari celah untuk merendahkanmu hanya karena mereka merasa lebih senior atau lebih berkuasa."

Ia menatap Alessia dengan intensitas yang membuat gadis itu terpaku. "Aku tidak akan selalu ada di sampingmu untuk menepis tangan orang-orang seperti dia. Jadi, nikmatilah winemu malam ini, tapi jangan pernah lupakan kewaspadaanmu."

Alessia menaruh gelasnya, rasa hangat dari alkohol mulai membuatnya merasa sedikit lebih berani. "Kenapa kau selalu bicara seolah-olah kau akan pergi suatu saat nanti? Apa Sinclair Mall tidak cukup besar untuk menampung kita berdua selamanya?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan di antara mereka. Nathaniel tidak menjawab, ia hanya menatap jauh ke arah cakrawala laut, menyembunyikan gejolak di hatinya yang mengatakan bahwa ia ingin sekali menjawab 'ya', namun logikanya tetap berteriak tentang batasan status di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!