Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Harga Keselamatan
Tiga hari telah berlalu sejak duel di hutan belakang.
Seol terbaring di gubuk reyotnya, tubuhnya terbungkus perban dari leher hingga pergelangan kaki. Setiap napas terasa seperti menarik duri ke dalam paru-paru. Tulang rusuknya yang retak masih menyembuh perlahan, dan meridiannya—menurut tabib klan—masih dalam kondisi kacau.
Tapi itu bukan yang paling menyakitkan.
Yang paling menyakitkan adalah keheningan di dalam kepalanya.
Sejak ia sadar dua hari lalu, Gu tidak pernah berbicara. Tidak ada suara sinis yang menyapanya di pagi hari. Tidak ada ejekan saat ia melakukan kesalahan. Tidak ada bisikan bimbingan di saat ia bingung.
Hanya keheningan yang pekat, dingin, dan menusuk.
Seol berbaring di tempat tidur, matanya terbuka lebar menatap langit-langit gubuk yang berlubang. Cahaya matahari sore menembus celah-celah kayu, membentuk pilar-pilar debu yang menari di udara.
“Gu…” pikirnya, untuk kesekian kalinya. “Di mana kau?”
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba merasakan kehadiran Gu seperti biasanya—kehangatan samar di dadanya yang selalu ada sejak malam pertama di gua. Tapi yang ia rasakan hanya qi-nya sendiri, berputar pelan, kesepian.
Air mata mengalir di pelipisnya, membasahi rambut yang kusut. Ia tidak menyadarinya sampai tetesan itu masuk ke telinganya, terasa hangat dan asin.
“Maafkan aku…” bisiknya.
Pintu gubuk terbuka.
Seol tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Hanya satu orang yang mengetuk sebelum masuk—sisanya masuk begitu saja.
“Seol?” suara Yeon lembut, diikuti langkah kaki ringan mendekati tempat tidurnya. “Kau bangun? Aku membawakan bubur. Tabib bilang kau harus makan sesuatu yang hangat.”
Seol tidak menjawab. Yeon duduk di samping tempat tidurnya, meletakkan mangkuk tanah liat di atas peti kayu di sampingnya.
“Seol…” Yeon menyentuh dahinya. “Kau demam. Aku panggil tabib—”
“Tidak usah.” Suara Seol keluar parau, seperti orang yang baru belajar berbicara. “Aku baik-baik saja.”
Yeon terdiam. Tangannya masih di dahi Seol, hangat dan lembut.
“Seol, apa yang terjadi di hutan itu? Semua orang bilang kau mengeluarkan kekuatan aneh. Cahaya ungu. Dan Cheonmyeong… tetua bilang ada kekuatan gelap di dalam tubuhnya. Mereka mengurungnya di ruang penyembuhan khusus.”
Seol tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada langit-langit.
“Seol, aku takut,” bisik Yeon. “Aku belum pernah melihatmu seperti ini. Bahkan saat kau diremehkan, saat kau dipukuli, kau tidak pernah terlihat sekosong ini.”
Seol menutup matanya. Ia ingin menjelaskan. Ingin bercerita tentang Gu, tentang pengorbanan yang telah dilakukan, tentang suara di kepalanya yang kini diam. Tapi ia tidak bisa. Janji kepada Gu masih terpatri di benaknya: Jangan beri tahu siapa pun tentang aku.
“Aku hanya lelah, Yeon,” katanya akhirnya. “Sangat lelah.”
Yeon tidak memaksa. Ia hanya duduk di samping Seol, menggenggam tangannya, dan diam.
Itu sudah cukup.
---
Malam Hari – Suara yang Kembali
Seol terbangun dari tidurnya karena sesuatu yang hangat di dadanya.
Bukan panas karena demam. Ini berbeda. Ini adalah kehangatan yang familiar, kehangatan yang telah ia rasakan setiap malam sejak pertama kali menyentuh Batu Giwa.
“Gu?”
Diam.
Tapi kehangatan itu masih ada. Dan kemudian, seperti gelembung udara yang naik ke permukaan air, sebuah suara muncul. Lemah. Samar. Hampir tidak terdengar.
“Kau… menangis?”
Seol membuka matanya. Di kegelapan gubuk, tidak ada yang bisa ia lihat. Tapi suara itu—suara itu ada. Melemah, seperti orang yang baru bangun dari sakit panjang, tetapi ada.
“Gu!” Seol mencoba duduk, tetapi rasa sakit di tulang rusuknya membuatnya jatuh kembali. Ia tidak peduli. “Kau… kau hidup!”
“Tentu saja aku hidup,” suara Gu masih lemah, tetapi nada sinis khasnya mulai kembali. “Kau pikir makhluk sepertiku bisa mati semudah itu?”
Seol tertawa. Tertawa kecil, parau, tetapi tulus. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh.
“Aku pikir… aku pikir kau…”
“Hilang? Lenyap? Mati?” Gu menghela napas—suara yang tidak perlu dilakukan oleh jiwa yang terperangkap, tetapi tetap ia lakukan. “Hampir saja. Tapi tidak. Aku masih di sini. Meski… tidak seperti dulu.”
Kehangatan di dada Seol berdenyut pelan. Ia merasakan sesuatu—kehadiran Gu yang kini terasa berbeda. Lebih kecil. Lebih rapuh. Seperti api yang tadinya menyala terang, kini hanya bara yang tersisa.
“Gu… apa yang terjadi padamu?”
Gu diam sejenak. Seol bisa merasakannya berpikir, merangkai kata-kata yang tepat.
“Kau ingat aku bilang aku punya sembilan ekor?”
“Ya.”
“Setiap ekorku menyimpan sebagian besar kekuatanku. Tanpa ekor, aku hanya jiwa biasa—tidak lebih kuat dari manusia biasa. Dengan satu ekor, aku sudah cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri. Dengan dua… aku bisa mempengaruhi dunia fisik.”
Ia berhenti. Kehangatan di dada Seol berdenyut lebih lemah.
“Untuk menyelamatkanmu dari serangan terakhir Cheonmyeong, aku mengeluarkan kekuatan yang setara dengan… satu ekor. Seluruhnya. Sekaligus.”
Seol merasakan jantungnya berhenti sejenak.
“Kau… kau mengorbankan satu ekormu?”
“Sekarang aku hanya memiliki delapan,” kata Gu datar. “Dan karena aku sudah menggunakan terlalu banyak kekuatan sebelumnya untuk membuka meridianmu… aku akan butuh waktu lama untuk pulih. Mungkin bertahun-tahun.”
Diam.
Seol menggigit bibirnya. Darah menetes di sudut mulutnya, tetapi ia tidak merasakannya.
“Jangan menangis lagi,” kata Gu tiba-tiba. Nadanya berubah—tidak sinis, tetapi lembut. Lembut yang jarang sekali keluar dari makhluk rubah itu. “Ini adalah pilihanku. Aku tahu risikonya. Dan aku tetap melakukannya.”
“Tapi kenapa?” suara Seol pecah. “Aku hanya… aku tidak sepadan dengan pengorbanan itu. Aku bahkan belum bisa mengalahkan Cheonmyeong. Aku masih lemah. Aku masih—”
“Diam.”
Perintah itu tegas, meski lemah. Seol membeku.
“Kau bertahan, bocah. Kau berdiri di hadapan pendekar yang jauh lebih kuat darimu, dengan tubuh yang hancur, dan kau tidak jatuh. Itu bukan kelemahan. Itu adalah kekuatan yang tidak bisa diajarkan oleh teknik mana pun.”
Seol tidak bisa menjawab. Kata-kata Gu terasa seperti pisau yang menusuk, tetapi juga seperti salep yang menyembuhkan.
“Dan kau lupa satu hal,” lanjut Gu. “Kau belum membebaskanku. Janji itu masih mengikat. Jadi kau tidak boleh mati. Kau tidak boleh menyerah. Kau harus menjadi lebih kuat. Cukup kuat untuk membuka kurungan ini. Apakah kau mengerti?”
Seol mengusap air matanya dengan punggung tangan. Napasnya masih tersengal, tetapi ada sesuatu yang berubah di dalam dadanya. Api kecil yang hampir padam itu—kini menyala kembali.
“Aku mengerti,” katanya. “Aku berjanji. Aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan diri lagi. Aku akan menjadi cukup kuat sehingga kau tidak perlu melakukannya.”
Gu tertawa kecil. Tawanya lemah, tetapi ada kehangatan di dalamnya.
“Janji yang sombong. Tapi aku suka.”
Kehangatan di dada Seol mulai meredup. Suara Gu terdengar semakin jauh, seperti orang yang berjalan menjauh di lorong panjang.
“Aku harus istirahat sekarang. Jangan bangunkan aku kecuali dalam keadaan darurat. Dan Seol…”
“Ya?”
“Jangan tinggal di sini terlalu lama. Klan ini tidak akan pernah menerimamu. Mereka takut padamu sekarang—dan orang yang takut adalah orang yang paling berbahaya. Kau harus pergi. Cari Sekte Pedang Surgawi. Cari Ramuan Pemulih Nadi. Itu satu-satunya cara kau bisa menyembuhkan meridianmu sepenuhnya… dan membebaskanku.”
“Tapi bagaimana dengan Cheonmyeong? Dia—”
“Cheonmyeong bukan masalahmu sekarang. Biarkan tetua klan mengurusnya. Teknik terlarang yang ia gunakan akan meninggalkan bekas yang tidak bisa disembunyikan. Reputasinya hancur. Setidaknya untuk sementara. Tapi cepat atau lambat, ia akan bangkit kembali. Dan saat itu, kau harus sudah pergi.”
Seol menggenggam erat selimutnya.
“Kapan aku harus pergi?”
“Segera. Sebelum mereka memutuskan bahwa kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup.”
Suara Gu menghilang. Kehangatan di dada Seol meredup menjadi titik kecil—masih ada, tetapi tidur.
Seol terbaring di kegelapan, matanya terbuka lebar.
Pergi. Meninggalkan satu-satunya tempat yang ia kenal. Meninggalkan Yeon. Meninggalkan makam ayahnya. Meninggalkan segalanya.
Tapi di dalam dadanya, pusaran qi itu berputar lebih cepat. Bukan karena ia memaksanya, tetapi karena tekad yang baru lahir.
Ia tidak akan membiarkan Gu mengorbankan diri lagi. Tidak akan pernah.
Dan untuk itu, ia harus menjadi lebih kuat. Jauh lebih kuat.
---
Pagi Hari – Keputusan
Matahari baru saja terbit saat Seol sudah berdiri di depan gubuknya.
Tubuhnya masih sakit. Perban masih membalut sebagian besar tubuhnya. Tapi ia sudah bisa berjalan—meski lambat, meski setiap langkah terasa seperti menusuk tulang rusuknya.
Ia menatap desa Cheonho yang masih tertidur. Rumah-rumah kayu dengan atap jerami. Sumur tua di tengah desa. Pelataran batu di mana ia sering dihina. Dan di kejauhan, kediaman utama dengan gerbang hijaunya yang menjulang.
Semua ini adalah satu-satunya dunia yang ia kenal selama tujuh belas tahun.
Dan ia harus meninggalkannya.
“Seol?”
Ia menoleh. Yeon berdiri di belakangnya dengan keranjang anyaman di tangan, mungkin baru saja mengambil air dari sumur. Wajahnya pucat ketika melihat Seol sudah berdiri.
“Kau… kau sudah bisa bangun? Tabib bilang kau harus istirahat seminggu lagi!”
“Aku tidak punya waktu seminggu lagi,” kata Seol.
Yeon mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran. “Apa maksudmu?”
Seol menatap matanya—mata yang selalu memberinya kehangatan di saat dingin, selalu berada di sisinya meski semua orang menjauh.
“Aku akan pergi, Yeon.”
Yeon terpaku. Keranjang di tangannya hampir jatuh.
“Pergi? Pergi ke mana?”
“Sekte Pedang Surgawi.” Seol mengambil napas dalam-dalam. “Aku harus mencari ramuan yang bisa menyembuhkan meridianku sepenuhnya. Di sini, aku tidak akan pernah bisa menjadi lebih kuat. Dan jika aku tidak menjadi lebih kuat…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi Yeon mengerti.
“Kau akan mati,” bisik Yeon. “Cheonmyeong tidak akan berhenti. Begitu ia pulih, ia akan mencari balas dendam.”
Seol mengangguk pelan.
Yeon menunduk. Bahunya bergetar. Seol melihat tetesan air jatuh ke tanah di antara mereka.
“Kau… kau tidak bisa pergi,” katanya, suaranya tercekik. “Kau satu-satunya… satu-satunya yang…”
Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Seol merasakan dadanya sesak. Ia ingin meraih tangan Yeon, ingin berkata bahwa ia akan kembali, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tidak bisa menjanjikan hal yang tidak ia ketahui.
“Yeon,” katanya pelan. “Aku akan kembali. Suatu hari. Saat aku sudah cukup kuat. Aku berjanji.”
Yeon mengangkat wajahnya. Matanya merah, pipinya basah, tetapi ada sesuatu di matanya yang tidak Seol duga.
Bukan kemarahan. Bukan kesedihan.
Harapan.
“Kau harus berjanji,” katanya. “Janji yang sungguh-sungguh. Bukan hanya omong kosong.”
Seol mengangkat tangan kanannya. Dengan gerakan yang ia pelajari dari Gu, ia mengalirkan qi kecil ke telapak tangannya. Untuk sesaat, cahaya redup muncul—tidak sekuat dulu, tetapi cukup untuk dilihat.
“Aku bersumpah demi qi-ku,” katanya. “Aku akan kembali. Dan saat aku kembali, aku tidak akan lagi menjadi sampah yang harus kau lindungi.”
Yeon menatap cahaya itu, lalu menatap mata Seol. Ia tersenyum. Senyum yang pahit, tetapi tulus.
“Kau bukan sampah, Seol. Kau tidak pernah menjadi sampah.”
Ia meraih tangan Seol, menggenggamnya erat.
“Pergilah. Tapi janjikan satu hal lagi.”
“Apa?”
“Jangan mati.”
Seol tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak duel, senyum itu tulus.
“Aku janji.”
---
Saat Seol Pergi
Ia tidak membawa banyak. Pakaian seadanya, bekal makanan yang Yeon siapkan dalam diam, dan Batu Giwa yang ia selipkan di saku dalam bajunya. Batu itu dingin di kulitnya, tetapi ada kehangatan samar di dalamnya—kehangatan yang mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian.
Ia berjalan keluar desa saat matahari mulai naik. Tidak ada yang menghentikannya. Penjaga gerbang desa hanya menatapnya dengan mata curiga, tetapi tidak berkata apa pun. Kabar tentang duel sudah menyebar. Tidak ada yang berani mengganggu pemuda yang pernah mengeluarkan cahaya ungu misterius itu.
Di gerbang desa, Seol berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang.
Desa Cheonho tampak kecil dari sini. Rumah-rumah kayu, sumur tua, pelataran batu. Di kejauhan, di lereng bukit, ia bisa melihat gubuk reyotnya. Dan di sampingnya, sesosok gadis dengan gaun hijau pucat berdiri, melambai pelan.
Seol mengangkat tangannya. Satu lambaian.
Lalu ia berbalik dan melangkah ke jalan setapak yang menembus hutan.
Di dalam sakunya, Batu Giwa berdenyut pelan. Tidak ada suara, tetapi Seol merasakan kehangatan itu—seperti ada yang berkata, “Aku di sini.”
Ia tersenyum.
“Aku akan menjadi kuat, Gu,” bisiknya. “Cukup kuat untuk membebaskanmu. Cukup kuat untuk kembali. Aku janji.”
Hutan menyambutnya dengan kegelapan dan kabut. Di depannya, jalan menuju Sekte Pedang Surgawi terbentang—panjang, berbahaya, dan penuh ketidakpastian.
Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ryu Seol tidak takut.
Karena ia tidak lagi sendirian.
---
Di Kediaman Utama – Ruang Penyembuhan
Ryu Cheonmyeong terbaring di tempat tidur yang dikelilingi oleh simbol-simbol perlindungan. Empat tetua bergantian menjaganya siang dan malam. Tubuhnya tidak terluka secara fisik—luka-lukanya telah sembuh. Tapi ada sesuatu yang menggerogoti dirinya dari dalam.
Qi gelap yang ia gunakan dalam duel itu tidak hilang. Ia meresap ke dalam meridiannya, bercampur dengan qi-nya sendiri, menciptakan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.
Di sudut ruangan, tetua Ryu Dohwan duduk dengan wajah muram. Di tangannya, sebuah kitab tua terbuka—Kitab Pedang Iblis yang ditemukan di kamar Cheonmyeong.
“Bodoh,” gumamnya. “Sangat bodoh.”
Ia menatap Cheonmyeong yang terbaring tak sadar. Wajah pemuda itu tenang, tetapi di bawah kelopak matanya, bola matanya bergerak cepat—seperti orang yang sedang bermimpi buruk.
“Teknik ini tidak hanya merusak tubuh,” bisik tetua Ryu Jong di sampingnya. “Ia juga merusak jiwa. Jika kita tidak bisa mengeluarkannya…”
“Aku tahu,” potong Ryu Dohwan. “Tapi untuk saat ini, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita tidak memiliki pengetahuan untuk menyembuhkan ini.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
Ryu Dohwan menghela napas panjang. Matanya beralih ke jendela, ke arah gerbang desa—di mana sesosok pemuda kurus baru saja meninggalkan desa.
“Biarkan dia pergi,” katanya akhirnya. “Mungkin itu yang terbaik untuk semua orang.”
“Dan Cheonmyeong?”
“Kita tunggu. Sampai dia sadar. Lalu kita putuskan.” Ia menutup kitab itu. “Tapi satu hal yang pasti: Klan Ryu tidak akan pernah sama lagi.”
Di tempat tidur, Cheonmyeong mengerang pelan. Dalam mimpinya, ia melihat sesosok pemuda dengan mata bercahaya ungu berdiri di hadapannya. Pemuda itu tidak berkata apa pun. Hanya menatap. Dengan tatapan yang tidak lagi penuh ketakutan.
Tatapan yang membuat Cheonmyeong, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, merasa kecil.
---