Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Sore itu setelah kepulangan Fani, sebuah mobil putih terpakir di depan gerbang rumah Alisa. Alisa yang melihat itu merasa penasaran dan menuju ke gerbang.
Saat membuka gerbang hal yang pertama ia lihat adalah Raka, sang mantan kekasihnya yang sudah ia putuskan.
Raka berdiri disana dengan membawa bunga. "Lis, saya tahu kamu sudah menikah dan saya tahu kamu pasti terpaksa menerima perjodohan ini. Ayo Lis kita kembali merencanakan masa depan kita" ucap Raka.
Alisa sangat kaget mendengar penuturan Raka, "Maaf Raka, saya sudah memiliki suami segera lah kamu pergi dari sini. Urusan kita sudah selesai"
"Tapi Lis-" belum semua Raka ucapkan Alisa menutup Gerbang Kemabli dan meninggalkan Raka di gerbang dengan harapan kosong.
Alisa masuk kerumah dengan menghapus air mata yang sudah berjatuhan. Melepas seorang yang sudah bersama kita selama dua tahun tentu bukan hal yang mudah, apalagi seperti Raka.
"Bahkan orang luar pun sudah tahu alamat rumah ini, sudah menangisnya?" Ucap Vino yang duduk di raung tamu saat melihat Alisa membuka pintu rumah.
Alisa menatap Vino dengan perasaan kesal, " itu bukan urusan mas"
Vino beranjak dari duduknya dan menatap Alisa. " Asal kamu tahu Dokter Alisa, rumah ini sangat tidak boleh di tahu oleh orang luar, dan kemana kamu masih menemui masa lalu? Kamu tidak malu dengan status mu sekarang!!" Ucap Vino dengan suaranya yang sedikit meninggi.
" Mas ingat sendiri! Mas sendiri yang kasi tahu aku kalau kita hidup untuk satu tahun saja! Mas juga bilang urus urusan mu saja jangan urus urusan ku. Terus kenapa sekarang mas mengurus masa lalu ku!!" Ucap Alisa sesaat dengan menangis dan berlari naik kekamar meninggal Vino yang berdiri terpaku disana.
Malam yang panjang itu berlalu tanpa kata-kata. Hujan rintik-rintik yang mengguyur Jakarta sejak dini hari menyisakan aroma tanah yang basah dan udara yang semakin mendingin, namun kebekuan di dalam kamar utama rumah itu jauh lebih menusuk. Alisa terbangun sebelum alarm berbunyi. Ia menatap guling pembatas yang masih kokoh di tempatnya. Sisi kanan kasur sudah kosong. Vino, seperti biasa, sudah terjaga lebih dulu, mungkin sedang melampiaskan amarahnya pada samsak tinju di ruang bawah.
Alisa menghela napas panjang. Hari ini cuti mereka berakhir. Ia harus kembali ke rumah sakit, kembali ke rutinitas medis yang padat. Baginya, itu adalah pelarian yang sempurna.
Saat ia turun ke lantai bawah dengan pakaian kerja yang rapi—blus biru muda dan celana bahan berwarna gelap—ia mendapati Mang Asep sudah berdiri di depan teras. Mang Asep adalah supir kepercayaan di rumah Bundanya yang diminta mengantarkan mobil pribadi Alisa ke rumah ini pagi-pagi sekali.
"Pagi, Non Alisa. Ini mobilnya sudah sampai, kuncinya Mang simpan di meja ya," sapa Mang Asep dengan senyum kebapakan.
"Terima kasih ya, Mang. Maaf merepotkan pagi-pagi sekali," jawab Alisa tulus.
Vino keluar dari arah dapur dengan seragam polisi lengkapnya. Gagah, namun wajahnya masih sekaku batu. Ia menatap Mang Asep, lalu beralih ke Alisa yang sedang memegang kunci mobilnya.
"Mau ke mana?" tanya Vino datar.
"Bekerja," jawab Alisa singkat, tanpa menatap mata suaminya. "Aku bawa mobil sendiri. Mang Asep yang antar."
Vino mengerutkan kening. "Aku sudah bilang, aku yang antar jemput. Keamanan—"
"Aku sudah bilang kemarin, Mas," potong Alisa, suaranya tenang namun ada ketegasan yang tak bisa dibantah. Alisa adalah tipikal wanita yang benci nada tinggi, dan ia konsisten menggunakan nada rendah untuk menunjukkan perlawanannya. "Urus saja urusan Mas. Keamanan rumah sakit sangat ketat, aku akan baik-baik saja. Aku tidak mau bergantung pada jadwal Mas yang tidak menentu."
Vino hendak membalas, namun ia teringat bagaimana Alisa meledak kemarin sore. Ia hanya bisa terdiam, rahangnya mengeras, membiarkan Alisa berjalan melewatinya menuju garasi. Mang Asep yang melihat ketegangan itu hanya bisa menunduk, tidak berani mencampuri urusan "pengantin baru" tersebut.
Di Mapolda Metro Jaya, suasana kerja sudah riuh sejak pagi. Vino duduk di meja kerjanya, menatap tumpukan berkas kasus penyelundupan, namun pikirannya melayang pada kalimat-kalimat pedas Alisa.
"Wajahmu itu, Vin... kalau ada penjahat lewat, mereka pasti langsung menyerahkan diri tanpa diinterogasi," suara tawa renyah memecah lamunan Vino.
Itu Alvin, sahabat karib sekaligus rekan setim Vino. Alvin adalah kebalikan dari Vino; ia santai, banyak bicara, namun sangat jenius dalam hal taktik lapangan.
"Diamlah, Al," gumam Vino tanpa menoleh.
Alvin menarik kursi dan duduk di depan meja Vino. "Masalah rumah tangga? Baru tiga hari menikah, jangan bilang kamu sudah membuat istrimu yang cantik itu menangis."
Vino meletakkan pulpennya dengan sentakan. "Dia keras kepala. Dia tidak mengerti soal protokol keamanan. Kemarin mantan kekasihnya datang ke rumah, dan dia malah membela pria itu dengan alasan privasi."
Alvin terdiam sejenak, lalu terkekeh pelan. "Membela si mantan, atau membela harga dirinya sendiri? Vin, aku kenal kamu sejak di akademi. Kamu itu kalau bicara seperti sedang membacakan pasal KUHP. Kaku dan memerintah."
"Aku melindunginya, Al!"
"Ada bedanya antara melindungi dan mengurung, sobat," Alvin menepuk bahu Vino. "Istrimu itu dokter, kan? Orang yang terbiasa mandiri, terbiasa mengambil keputusan hidup dan mati di meja operasi. Lalu kamu datang, membentaknya, dan memperlakukannya seperti saksi kunci yang harus dilindungi 24 jam. Tentu saja dia berontak. Wanita seperti Alisa itu tidak suka nada tinggi. Semakin kamu tekan, semakin dia akan lari."
Vino terdiam. Kata-kata Alvin terasa seperti tamparan pelan.
"Coba turunkan sedikit egomu. Dia istrimu, bukan tersangka yang sedang kamu awasi. Beri dia ruang, atau kamu akan benar-benar kehilangan dia sebelum satu tahun itu selesai," lanjut Alvin serius.
Sementara itu, di kafetaria rumah sakit, Alisa duduk bersama Fani di sela-sela jam istirahat. Di hadapan Alisa, semangkuk bakso yang biasanya menggugah selera kini dibiarkan mendingin.
"Jadi, dia benar-benar membentakmu?" tanya Fani dengan mata membelalak.
Alisa mengangguk lesu. "Suaranya keras sekali, Fan. Kamu tahu aku paling tidak suka dibentak. Rasanya jantungku mau copot, tapi harga diriku jauh lebih sakit. Dia memperlakukanku seolah-olah aku ini pembawa petaka bagi kariernya."
"Terus kamu balas?"
"Aku balas dengan kata-katanya sendiri," Alisa tersenyum tipis, ada rasa puas sekaligus sedih dalam senyum itu. "Aku bilang padanya untuk mengurus urusannya sendiri dan jangan campuri urusanku. Aku ingin dia tahu bahwa aku bukan bawahannya."
Fani menghela napas, menggenggam tangan Alisa. "Al, aku mengerti kamu terluka. Tapi dari ceritamu, sepertinya suamimu itu hanya tidak tahu cara berkomunikasi. Dia terbiasa hidup di lingkungan yang keras. Polisi, lapangan, senjata... mungkin itu cara dia menunjukkan rasa takut kehilangan."
"Takut kehilangan? Dia bahkan tidak mencintaiku, Fan. Dia menikahiku karena bakti pada ayahnya," sanggah Alisa.
"Mungkin belum cinta, tapi rasa tanggung jawab seorang pria itu kadang lebih besar dari cinta," ujar Fani bijak. "Tapi tetap saja, dia tidak boleh membentakmu. Kamu harus tetap tegas dengan batasannmu, Al. Jangan biarkan dia merasa bisa mengendalikan seluruh hidupmu hanya karena dia suamimu."
Alisa menatap cincin di jarinya. "Aku hanya ingin dihargai, Fan. Aku ingin dia bicara padaku seperti manusia, bukan seperti mesin."
Sore harinya, Alisa pulang lebih awal. Ia mengendarai mobilnya sendiri, merasa sedikit bebas namun tetap waspada. Saat memasuki pekarangan rumah, ia melihat mobil jip hitam Vino sudah terparkir.
Alisa masuk ke rumah dan mendapati suasana yang berbeda. Ada aroma masakan yang sangat harum—bukan masakan Bi Ijah.
Ia berjalan ke dapur dan tertegun. Vino sedang berdiri di sana, masih dengan kemeja dinas yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Ia sedang mengaduk sesuatu di atas wajan, sementara Bi Ijah hanya berdiri di sudut sambil tersenyum-senyum.
Vino menoleh, melihat Alisa yang baru datang. Ia berdehem canggung. "Sudah pulang?"
"Sudah," jawab Alisa pendek.
"Mandi dan bersiaplah. Aku masak nasi goreng... resep dari Bunda. Kata Bunda kamu suka yang tidak terlalu pedas," kata Vino, suaranya jauh lebih rendah dan tidak ada nada perintah di sana.
Alisa terpaku. Ini adalah pertama kalinya Vino melakukan sesuatu yang terasa... "normal". Namun, luka di hati Alisa karena bentakan kemarin belum sepenuhnya sembuh.
"Terima kasih, Mas. Tapi aku masih kenyang. Aku mau istirahat dulu," jawab Alisa dingin, lalu berbalik menuju tangga.
Langkah Alisa terhenti saat ia mendengar suara Vino yang berat namun terdengar sedikit bergetar.
"Alisa."
Alisa berhenti tanpa berbalik.
"Soal kemarin... aku minta maaf jika suaraku terlalu keras. Aku tidak bermaksud mengintimidasi. Aku hanya... aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Itu saja."
Alisa terdiam di anak tangga ketiga. Permintaan maaf itu sangat kaku, sangat "Vino sekali", tapi itu adalah kemajuan besar. Alisa tidak langsung menjawab. Ia tetap menaiki tangga, masuk ke kamarnya, dan menutup pintu.
Di dapur, Vino mendesah kasar. Ia meletakkan spatula dengan kecewa.
"Den... sabar ya. Non Alisa itu hatinya lembut. Orang lembut kalau sudah marah, butuh waktu untuk luluh," hibur Bi Ijah pelan.
Malam itu, mereka kembali tidur di balik pembatas guling. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda di udara. Bukan lagi kemarahan yang meluap, melainkan sebuah kecanggungan yang penuh dengan hal-hal yang tidak terucapkan.
Vino menatap punggung Alisa yang membelakanginya. Ia ingin bicara lebih banyak, ingin menjelaskan tentang foto-foto pengintaian itu agar Alisa waspada, tapi ia takut akan merusak suasana lagi. Sedangkan Alisa, meskipun ia mendengar permintaan maaf itu, ia masih merasa perlu menjaga jarak. Ia tidak ingin luluh terlalu cepat hanya karena sepiring nasi goreng, sementara ancaman nada tinggi itu masih membekas di ingatannya.
Takdir masih bermain-main dengan mereka. Di luar sana, di bawah guyuran hujan malam, sedan perak yang dikendarai Raka kembali lewat perlahan di depan gerbang rumah, sementara di sudut jalan yang lain, sosok dengan jaket hitam terus memperhatikan lantai dua rumah tersebut dengan teropong di tangannya.
Jarak di antara mereka mungkin mulai sedikit terkikis, namun bahaya yang mengintai justru semakin mendekat, siap meledak kapan saja.
Bersambung