NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HINAAN

Meja makan panjang berbahan kaca itu tampak berkilau di bawah pendar lampu kristal yang menggantung megah. Di atasnya, selalu tersaji perjamuan lengkap yang telah Mbok Sari buatkan untuk makan mereka malam ini.

​Di tengah meja, sebuah piring perak besar menyajikan steak dengan siraman saus lezat yang mengilap, dikelilingi oleh sayuran dan buah-buahan organik yang dipotong rata sempurna. Di sisinya, terdapat Lobster yang cangkangnya merah merona, dagingnya yang putih lembut menyembul di balik lelehan keju yang dipanggang kecokelatan.

​Tak ketinggalan, semangkuk besar Creamy Truffle Risotto mengeluarkan aroma tanah yang kuat dan mewah. Dan, di dalam gelas-gelas kristal tinggi, air mineral premium serta jus anggur dingin permintaan Tama.

​Namun bagi Yasmin, semua kemewahan itu terasa hambar. Aroma truffle yang mahal justru membuatnya mual, dan kilauan pisau perak di samping piringnya terus mengingatkan pada kilatan pisau yang dipegang Tama di dapur tadi pagi. Makanan di hadapannya bukan lagi hidangan lezat, melainkan saksi bisu dari penghinaan yang sebentar lagi mungkin akan kembali tumpah.

​Denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Yasmin. Hingga, di ujung meja, Maura kemudian meletakkan sendoknya dengan kasar, matanya menatap tajam ke arah Arya yang duduk di seberangnya.

​"Kenapa kamu gak bilang kalau istri kamu ini dulunya pelayan kafe?!" tanya Maura, suaranya melengking memecah keheningan yang tegang.

​Arya menghentikan kunyahannya sejenak, wajahnya tetap tenang meski ia tahu badai sedang datang. "Resto, Mah. Yasmin bekerja di restoran, bukan kafe," ralatnya dengan nada rendah, mencoba membela martabat istrinya.

​"Sama saja!" potong Freya yang duduk di samping Tama, bibirnya mencebik sinis sambil memutar-mutar gelas kristalnya. "Sama-sama pelayan, kan? Intinya dia itu orang suruhan yang kerjanya melayani orang asing. Memalukan sekali kalau teman-teman sosialitaku tahu iparku sendiri bekas pelayan."

​Yasmin tertunduk dalam. Jemarinya mencengkeram kain serbet di pangkuannya hingga buku-bukunya memutih. Di sisi lain meja, ia bisa merasakan tatapan Tama yang intens. Pria itu duduk dengan santai, seolah sedang menikmati pertunjukan komedi yang sangat menghibur. Sementara, luka di leher Yasmin yang sengaja ia tutupi dengan helai rambut panjang tebalnya seolah terasa berdenyut kembali saat melihat seringai tipis di bibir kakak iparnya itu.

​"Sudah, Mah. Masa lalu Yasmin tidak ada hubungannya dengan kualitasnya sebagai istriku," tegas Arya, mencoba mengakhiri perdebatan.

​"Kualitas apa?" Sahut Maura. "Untuk memotong daging saja pun dia harus diajari Tama tadi pagi! Rendah sekali standarmu, Arya."

​Hinaan itu menjadi titik puncak bagi Yasmin. Rasa sesak di dadanya tak lagi terbendung. Tanpa sepatah kata pun, ia mendorong kursinya ke belakang. Suara decit kursi yang beradu dengan lantai marmer terdengar begitu memilukan, sekaligus mengundang semua pasang mata tertuju padanya, termasuk Arya.

​"Maaf... a-aku... aku permisi ke kamar," bisik Yasmin parau. Ia tidak berani menatap siapa pun, terutama Tama yang matanya seolah menelanjangi ketakutannya.

​Ia segera melangkah cepat, hampir berlari menaiki anak tangga menuju lantai atas.

"Yasmin!" Seru Arya ikut beranjak. Namun, istrinya itu tetap melangkah pergi.

​"Lihat itu! Tidak punya sopan santun sama sekali!" teriak Maura emosi.

Arya menatap ibunya dengan tatapan tajam yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Amarah yang sedari tadi ditahannya di balik ketenangan semu kini meluap. "Mama benar-benar keterlaluan! Yasmin itu istriku, Ma. Terlepas dari apa pekerjaannya dulu, dia adalah wanita yang aku pilih untuk mendampingiku. Menghinanya sama saja dengan menghinaku!"

Tanpa sepatah kata lagi, Arya membalikkan badan. Ia melangkah lebar meninggalkan ruang makan yang megah namun terasa beracun itu.

Maura terdiam sejenak, menelan saliva dengan susah payah. Ada kilat keterkejutan di matanya melihat Arya semakin berani menentang dirinya. Namun, gengsinya jauh lebih besar. Ia segera memperbaiki posisi duduknya, mencoba kembali menguasai keadaan dengan keangkuhan yang kaku.

Freya mendengus sinis sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet sutra. "Lihat, Ma. Gara-gara perempuan itu, Arya jadi pembangkang."

Sementara itu, di sudut bibir Tama, sebuah seringai tipis muncul. Ia hanya menyesap jus anggur merahnya dengan perlahan, menikmati kehancuran hubungan Arya dan ibunya. Baginya, semakin Yasmin terpojok dan semakin Arya jauh dari keluarganya, semakin besar celah baginya untuk menarik Yasmin ke dalam genggamannya.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!