NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:183
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERCUMA

Arya melesat keluar dari kamar mandi dengan langkah yang tidak lagi bimbang. Setiap derap kakinya di atas lantai kayu koridor terdengar seperti vonis mati. Pisau kecil milik Tama tercengkeram erat di tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengepal hingga kuku-kukunya memutih menembus telapak tangan.

​Ia tidak lagi memedulikan teriakan histeris Yasmin di belakangnya. Di kepala Arya, hanya ada satu tujuan: kamar di ujung lorong itu. Kamar sang kakak yang selalu dianggapnya sebagai panutan, namun ternyata tak lebih dari seekor predator yang bersarang di dalam rumahnya sendiri.

​BRAKKK!

​Arya mendobrak pintu kamar Tama dengan satu hantaman bahu yang keras. Pintu itu terbanting ke dinding, menciptakan dentuman yang mengguncang keheningan lantai dua.

​Di dalam sana, Tama sedang duduk santai di sofa kulitnya, masih mengenakan kemeja yang sedikit berantakan. Ia sedang menuangkan cairan keemasan ke dalam gelas kristal, seolah-olah baru saja menyelesaikan tugas mulia, bukan menghancurkan hidup adiknya sendiri.

​Tama tidak terkejut. Ia justru menoleh perlahan dengan senyum miring yang menghina. Matanya melirik ke arah pisau di tangan Arya, lalu kembali menatap mata adiknya yang memerah karena murka.

​"Pulang cepat, Dokter?" tanya Tama santai, suaranya halus namun berbisa. Ia menyesap minumannya seolah tak ada ujung tajam yang mengarah padanya. "Cepat sekali kamu menemukan mainanku yang tertinggal."

​"BAJINGAN!" Arya menggeram, suaranya rendah dan sarat akan dendam. Ia melangkah maju, ujung pisau itu kini hanya berjarak beberapa senti dari leher Tama. "Apa yang kamu lakukan pada istriku, Tama?! Di ranjangku sendiri! Di rumahku sendiri!"

​Tama terkekeh, suara tawa yang membuat darah Arya mendidih hingga ke ubun-ubun. Ia meletakkan gelasnya di meja, lalu berdiri perlahan, menantang maut yang ada di depan matanya.

​"Istrimu?" Tama memajukan wajahnya, membisikkan kata-kata yang paling ingin Arya hindari. "Kamu yakin dia masih istrimu setelah apa yang kami lalui tadi? Jangan salahkan aku, Arya. Salahkan istrimu yang ternyata... jauh lebih hangat daripada kelihatannya."

​"BRENGSEEEEK!" Arya berteriak, tangannya gemetar hebat. Antara keinginan untuk menghujamkan pisau itu atau menangisi kenyataan yang begitu pahit.

​"Lihat mataku, Adik kecil," Tama menekan suaranya, memprovokasi dengan keji. "Tanya padanya, apakah dia berteriak minta tolong? Tidak. Dia hanya menangis... tapi dia tidak menolak. Dia tahu siapa pria yang sebenarnya di rumah ini."

​Di ambang pintu, Yasmin muncul dengan tubuh basah kuyup dan lemas, tubuhnya yang bersandar pada kusen pintu dengan wajah hancur, kini mendekati suaminya yang sudah kehilangan kendali dan kakaknya yang terus menyiram bensin ke dalam api.

​"Mas Arya, sudah...Mas!" jerit Yasmin parau.

​Namun Arya sudah tertutup kabut gelap. Ia mengangkat pisau itu tinggi-tinggi, siap menghancurkan segalanya—kariernya, masa depannya, dan nyawa kakaknya—dalam satu serangan buta.

Napasnya pun menderu layaknya hewan buru yang terpojok. Di tangannya, pisau kecil itu berkilat dingin di bawah lampu kristal kamar Tama yang mewah. Ujung logam tajam itu bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang sudah mencapai titik didih di ubun-ubunnya.

"Kenapa? Kamu mau menusuk kakakmu sendiri demi wanita yang sudah bekas itu?" Tama tertawa sinis, suara tawa yang terdengar seperti suara iblis di telinga Arya. "Lihat dirimu, Arya. Dokter teladan, kebanggaan keluarga, sekarang mau jadi pembunuh hanya karena seorang wanita yang bahkan tidak berani jujur padamu sejak awal?"

Tama menggelengkan kepala seolah merasa iba, namun matanya berkilat penuh kemenangan. "Pikirkan kariermu, pikirkan tangan yang biasa menyelamatkan nyawa itu. Apa kamu mau menukarnya dengan darahku hanya demi dia? Dia yang membiarkan aku masuk ke kamar kalian?"

Kalimat terakhir Tama menghantam telinga Arya layaknya palu godam yang menghancurkan seluruh benteng pertahanannya. Kata "membiarkan" seolah menjadi racun yang paling mematikan bagi kewarasan Arya. Logikanya sebagai dokter, kehormatannya sebagai suami, dan harga dirinya sebagai pria kini hancur berkeping-keping.

Ting!

​Suara logam yang menghantam lantai marmer terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian kamar yang mencekam itu. Pisau milik Tama terjatuh, tergeletak tak berdaya di dekat ujung sepatu Arya.

Ya. Tangan Arya yang tadinya mencengkeram gagang pisau dengan kuat, seketika kehilangan tenaganya. Otot-otot lengannya lemas, seolah seluruh aliran darahnya berhenti mengalir.

Arya pun mundur selangkah, napasnya tersengal seolah oksigen di ruangan itu baru saja dirampas habis. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang bergetar hebat—tangan yang dididik bertahun-tahun untuk memegang pisau bedah dengan kompeten demi menyambung nyawa orang, beberapa detik lalu hampir saja ia gunakan untuk mencabut nyawa kakak kandungnya sendiri.

Tanpa sepatah kata pun, Arya kemudian memutar tubuhnya. Ia berbalik, melangkah pergi meninggalkan kamar itu dengan bahu yang merosot. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia sedang menyeret beban ribuan ton harga diri yang telah terkoyak.

​"Mas... Mas Arya..." Yasmin memanggil lirih dari ambang pintu, suaranya parau, tangannya terjulur lemah mencoba meraih ujung kemeja suaminya yang basah.

​Namun, Arya terus berjalan. Ia melewati Yasmin tanpa menoleh sedikit pun. Tak ada pelukan menenangkan, tak ada tatapan simpati. Di mata Arya saat ini, Yasmin adalah pengingat akan noda yang ditinggalkan Tama di ranjang mereka, dan ia belum sanggup menghadapi kenyataan itu. ​"Jangan ikuti aku," desisnya dingin saat merasakan langkah kaki Yasmin mencoba mengejarnya di koridor.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!