NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: SANG PENYINTAS DI TANAH ASING

Sasmita berdiri di pinggiran jalan raya Bogor yang mulai berdenyut oleh arus kendaraan komuter pagi. Pakaiannya yang kotor karena lumpur dan jelaga membuatnya tampak seperti gelandangan yang baru saja keluar dari pusat bencana. Namun, matanya tidak mencerminkan kekalahan. Di balik saku mantelnya, ia meraba potongan foto ibunya—satu-satunya benda fisik yang tersisa dari identitas lamanya.

Sirene polisi di belakangnya mulai menjauh, membawa Hendra Waskita menuju sel isolasi yang akan menjadi rumah barunya. Namun, Sasmita tahu ini bukan akhir. Hendra hanyalah satu kepala dari naga bernama Keluarga Waskita. Masih ada aset-aset gelap, jaringan politik, dan yang paling berbahaya: Aris, sang hantu digital yang menghilang di kegelapan sungai.

Sasmita tidak menunggu ambulans atau tawaran tumpangan dari petugas kepolisian yang sedang sibuk mengolah tempat kejadian perkara. Ia berjalan kaki menyusuri jalan setapak, masuk ke pemukiman penduduk yang padat, lalu menaiki angkutan umum yang menuju ke arah Jakarta. Di dalam angkot yang pengap, ia menatap pantulan wajahnya di kaca yang retak.

Ia bukan lagi Sasmita Janardana yang manja, yang menuntut hak waris dengan cara menggaris lantai marmer. Ia adalah wanita yang baru saja membakar sejarahnya sendiri.

"Neng, turun di mana?" tanya sopir angkot, membuyarkan lamunannya.

"Terminal," jawab Sasmita singkat. Suaranya serak, hampir habis.

Sesampainya di terminal, Sasmita menggunakan sisa uang tunai yang ia simpan di dalam ikat pinggang rahasianya—kebiasaan yang ia pelajari selama hidup di London. Ia membeli sebuah ponsel bekas murah dan kartu prabayar baru. Ia butuh tempat persembunyian yang tidak bisa dilacak oleh GPS atau satelit mana pun yang dikendalikan Aris.

Ia mengingat sebuah alamat di kawasan padat penduduk di Tambora, Jakarta Barat. Itu adalah alamat milik seorang wanita tua bernama Mak Inah, mantan asisten rumah tangga ibunya yang dipecat oleh Rena sesaat setelah kematian ibunya sepuluh tahun lalu. Mak Inah adalah satu-satunya orang yang memegang kunci rahasia tentang sisi lain ibunya yang tidak pernah diketahui Wirya Janardana.

Setelah menempuh perjalanan dua jam dengan bus dan ojek, Sasmita sampai di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilewati satu orang dewasa. Bau sampah dan air selokan yang mampet menusuk hidung, namun bagi Sasmita, ini adalah tempat teraman di dunia. Di sini, ia tidak terlihat. Di sini, ia hanya satu di antara ribuan jiwa yang berjuang untuk makan esok hari.

"Mak Inah?" bisik Sasmita saat sampai di depan sebuah pintu kayu yang sudah lapuk.

Seorang wanita tua dengan rambut memutih sempurna membuka pintu. Matanya yang rabun menyipit, menatap Sasmita dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Cari siapa, Neng?"

"Ini Sasmita, Mak... Anak Nyonya Ratna."

Gelas plastik di tangan Mak Inah jatuh. Wanita tua itu gemetar, air mata langsung menggenang di matanya yang keruh. Ia segera menarik Sasmita masuk dan mengunci pintu dengan tiga gerendel besi.

"Ya Tuhan... Non Sasmita? Mak dengar di berita tadi pagi... Non meninggal di kecelakaan mobil polisi," isak Mak Inah sambil memeluk Sasmita erat. Tubuhnya bau minyak kayu putih dan bumbu dapur, aroma yang mendadak membuat Sasmita ingin menangis karena merasa pulang.

"Itu rencana saya, Mak. Sasmita harus mati agar saya bisa hidup," ujar Sasmita setelah mereka duduk di atas tikar pandan yang tipis.

Mak Inah menyajikan segelas teh hangat dan singkong rebus. "Nyonya Ratna dulu selalu bilang, kalau suatu saat dunia ini menjadi terlalu berisik untuk Non, datanglah ke sini. Beliau meninggalkan sebuah kotak kecil di bawah lantai ubin dapur Mak. Katanya, kotak ini jangan pernah dibuka kecuali Non datang sendiri dan dalam keadaan 'mati'."

Sasmita tertegun. Ibunya benar-benar telah menyiapkan segalanya. Ratna Pratiwi tahu bahwa darah Waskita yang mengalir di tubuh putrinya akan membawa petaka, dan ia telah membangun jaring pengaman sepuluh tahun sebelum badai itu datang.

Sasmita membantu Mak Inah menggeser lemari piring yang berat. Di bawah ubin yang retak, terdapat sebuah kotak baja tahan karat berukuran kecil. Sasmita membukanya dengan gemetar.

Di dalamnya bukan berisi perhiasan atau uang tunai. Isinya adalah:

Satu set dokumen identitas palsu atas nama Saga Anindita.

Paspor luar negeri dengan kewarganegaraan Malta.

Sebuah buku catatan kecil berisi daftar nama-nama pengacara dan detektif swasta di luar negeri yang sudah dibayar di muka untuk melindunginya.

Sebuah kunci deposit box di sebuah bank swasta di Singapura.

"Ibu..." Sasmita mendekap kotak itu ke dadanya. "Ibu ingin aku pergi sejauh mungkin."

Namun, di antara tumpukan dokumen itu, Sasmita menemukan sebuah surat terakhir yang ditulis tangan oleh ibunya. Tulisannya rapi namun tampak terburu-buru.

"Sasmita, putriku tercinta. Jika kamu membaca ini, artinya kamu sudah tahu kebenaran tentang Hendra. Maafkan Ibu karena telah memberimu beban ini. Jangan mencari balas dendam, pergilah ke Malta, mulailah hidup baru. Tapi, jika kamu memilih untuk tetap tinggal dan melawan, ketahuilah satu hal: Hendra Waskita memiliki seorang kakak perempuan bernama Agatha Waskita. Dialah otak sebenarnya di balik kehancuran keluarga kita. Hendra hanyalah pion yang tamak, tapi Agatha adalah arsitek yang haus darah. Hati-hati, Sasmita. Darah Waskita tidak pernah mengenal kata 'cukup'."

Sasmita membeku. Agatha Waskita. Nama itu tidak pernah muncul di media. Sepanjang hidupnya, Sasmita hanya tahu Hendra adalah penguasa tunggal. Ternyata ada kekuatan yang lebih besar, kekuatan yang bergerak di balik bayang-bayang.

Tiba-tiba, ponsel bekas yang baru saja dibeli Sasmita bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor anonim. Hanya satu baris kalimat:

"Pilihan yang bagus, Sasmita. Tambora adalah tempat yang cukup kumuh untuk menyembunyikan mayat. Tapi kamu lupa, aku tidak butuh GPS untuk menemukanmu. Aku hanya butuh telinga di setiap dinding."

Sasmita berdiri dengan panik. "Mak, kita harus pergi! Sekarang!"

"Ada apa, Non?"

"Dia menemukan kita!"

Sasmita menyambar kotak itu dan tas kecilnya. Namun, saat ia hendak membuka pintu depan, ia mendengar suara langkah kaki berat di luar gang. Bukan satu orang, tapi banyak. Suara sepatu boot yang beradu dengan lantai gang yang becek.

"Mak, lewat pintu belakang!"

Mereka keluar melalui pintu kecil yang menuju ke area jemuran bersama. Sasmita membantu Mak Inah memanjat pagar bambu yang rapuh. Di tengah kegelapan gang-gang Tambora yang seperti labirin, Sasmita merasa seperti tikus yang sedang diburu oleh kucing pemangsa.

Ia melihat sebuah bayangan di ujung gang. Seseorang dengan hoodie hitam dan lampu merah kecil yang berkedip di telinganya. Aris.

"Sasmita, berikan kotak itu dan aku akan membiarkan wanita tua itu hidup," suara Aris menggema di antara dinding-dinding gang yang sempit.

Sasmita menarik Mak Inah bersembunyi di balik tumpukan drum air. "Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa, Aris! Aku sudah membakar bukunya!"

"Kamu membakar kertasnya, tapi kuncinya ada di tanganmu sekarang, kan? Kotak dari ibumu... itu berisi akses ke server cadangan Agatha Waskita. Berikan padaku, dan kita bisa berbagi kekuasaan," Aris melangkah maju, senjatanya diturunkan, namun tatapannya sangat tajam.

"Kekuasaan? Kamu membunuh keluargaku untuk kekuasaan?" Sasmita keluar dari persembunyiannya, berdiri tegak di depan Aris. "Kamu bahkan mengkhianati kakakmu sendiri, Bramasta!"

Aris tertawa sinis. "Bramasta adalah masa lalu yang gagal. Dia terlalu banyak menggunakan hati. Di dunia ini, Sasmita, hanya ada angka dan algoritma. Dan angka-angka di kotak itu adalah milikku."

Sasmita melirik ke arah Mak Inah, memberi isyarat agar wanita tua itu terus berlari menuju jalan raya. Sasmita kemudian mengambil sebuah botol kaca kosong dari tanah, memecahkannya di pinggiran drum besi, dan menodongkannya ke arah Aris.

"Kemarilah, Aris. Mari kita lihat apakah algoritma bisa memprediksi ke mana pecahan kaca ini akan mendarat di tenggorokanmu."

Aris menyipitkan mata. Ia mengangkat senjatanya kembali. "Jangan sombong, Sasmita. Kamu bukan lagi seorang Janardana."

"Memang bukan," ujar Sasmita dengan senyum yang mengerikan. "Aku adalah seorang Waskita. Dan seperti kata ibuku, darah kita tidak pernah mengenal kata 'cukup'."

Tiba-tiba, sebuah ledakan kecil terjadi di ujung gang lain, menciptakan kepulan asap putih yang tebal. Seseorang memparkan granat asap. Dalam kekacauan dan kebutaan sesaat itu, sebuah tangan kuat menarik Sasmita menjauh dari hadapan Aris.

"Ikut aku!" suara itu berat dan berwibawa.

Bukan Bramasta. Bukan Sakti. Pria itu memakai seragam taktis tanpa lambang. Sasmita tidak punya pilihan selain mengikutinya. Mereka berlari menembus asap, keluar menuju jalan raya di mana sebuah van hitam sudah menunggu dengan mesin yang menderu.

Sasmita didorong masuk ke dalam van. Di dalamnya, ia melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian formal yang sangat rapi, duduk dengan tenang sambil menyesap teh dari cangkir porselen. Wanita itu memiliki aura yang sangat mirip dengan Hendra, namun jauh lebih tenang dan mematikan.

"Selamat malam, Sasmita. Atau haruskah aku memanggilmu Saga?" wanita itu tersenyum tipis.

Sasmita menggenggam kotak ibunya erat-erat. "Siapa kamu?"

Wanita itu meletakkan cangkirnya. "Aku adalah orang yang seharusnya membunuhmu sepuluh tahun lalu. Tapi ibumu... Ratna... dia melakukan kesepakatan yang sangat menarik denganku. Namaku Agatha Waskita. Dan sekarang, Sasmita, kita perlu bicara tentang bagaimana cara menghancurkan sisa-sisa pria bodoh bernama Hendra itu."

Sasmita terpaku. Ia baru saja melarikan diri dari mulut serigala, hanya untuk masuk ke dalam sarang naga yang sebenarnya. Garis merah itu kini bukan lagi sekadar pemisah wilayah; garis itu kini melilit lehernya, menariknya masuk ke dalam inti permainan kekuasaan yang sesungguhnya.

"Bab sepuluh baru saja dimulai, Sasmita," ujar Agatha dengan suara lembut yang dingin. "Dan kita punya lima puluh bab lagi untuk memastikan tidak ada satu pun Janardana yang tersisa di muka bumi ini."

Sasmita menatap mata wanita itu. Di sana, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Dingin. Haus darah. Dan tak kenal ampun. Perang yang sesungguhnya... baru saja dimulai dari dalam lingkaran keluarga yang paling ia benci.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!