Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percaya diri
"Ya ampun ya ampun... Ini beneran gak ada wajah Asia di sini? Kampus se international ini masa gak ada yang dari Indo kayak gue, dari China, Jepang, Thailand, Korengan, atau apalah. Ngerasa asing banget jadinya sama semua yang wajahnya bule. Mana yang cewek pada tinggi-tinggi banget lagi. Berasa tuyul gue di antara mereka semua."
Alea berbicara sendiri sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam kampus. Matanya melirik kanan-kiri mencari mahasiswa atau mahasiswi yang satu spesies dengannya, minimal sesama Asia-lah. Karena menurutnya mungkin lebih se frekuensi dan mereka sama-sama pendatang.
Rata-rata yang terlihat oleh matanya sekarang adalah orang-orang tinggi besar. Baik cowok maupun cewek. Kalau dibandingkan dengan tinggi badannya yang 163 cm sih, dia mungil banget.
"Daddy, putri daddy jadi insecure inii... Mereka tinggi-tinggi bangeett... Ya Tuhan, bisa nggak hamba-Mu ini di pertemukan sama orang yang tinggi badannya sama kayak hamba atau minimal lebih pendek tiga senti ajalah. Biar bukan hamba yang paling pendek di kampus ini."
Ia menatap langit dengan wajah yang dramatis. Ia bahkan tidak sadar ada beberapa mahasiswa yang melirik aneh karena sikapnya yang memang aneh. Bicara sendiri dengan bahasa yang tidak mereka mengerti.
"Stop Alea!"
Lihat. Sekarang ia menegakkan badannya.
"Jangan insecure. Kamu itu cantik. Anak mommy and daddy. Mereka selalu ngajarin kalo kamu harus percaya diri, karena insecure itu gak baik. Lebih gak baik dari gak tahu malu. Hidup itu pilihan, kalo kamu milih insecure, kamu bakal terus ngerasa kecil di mana pun kamu berdiri. Padahal belum tentu orang lain mikir kamu sekecil itu. Daddy kamu siapa Alea? Mantan mafia, mantan mafia. Inget itu."
Alea menunjuk dirinya sendiri dengan penuh keyakinan.
"Exactly. Jadi? Kita pilih apa?"
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi.
"Percaya diri dong, bos."
Langkahnya kembali mantap. Ia tidak ingin terlihat seperti orang yang tersesat di negeri orang.
"Sekarang cari jurusanAnimasi khusus S2."
Alea makin mantap melangkah.
Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba,
"Excuse me."
Seseorang menyapanya. Alea refleks menoleh. Seorang mahasiswi bule dengan rambut pirang tersenyum ramah padanya. Alea balas tersenyum ramah.
"Kamu baru di sini?" tanya wanita itu. Alea langsung menganggukkan kepala. Untung dia lancar sekali berbahasa Belanda maupun Inggris.
"Ya, baru hari ini," jawab Alea dengan senyum lebar, sikapnya santai sekali. Mungkin karena dia bukan tipe cewek pemalu. Perempuan itu tersenyum makin ramah.
"Aku bisa bantu. Kamu cari apa?"
"Program S2 Animasi," jawab Alea cepat.
"Gedungnya di mana ya?"
"Oh, Animation Master? Itu di gedung Arts and Media. Kamu lurus saja, nanti belok kiri di taman besar, lalu ada gedung kaca tinggi. Di situ."
Alea mengangguk-angguk cepat.
"Ahh, iya iya… gedung kaca, belok kiri, taman… got it!'
“l"Kalau masih bingung, kamu bisa lihat maps kampus di sana," lanjut perempuan itu sambil menunjuk ke arah papan besar tidak jauh dari mereka. Alea mengikuti arah tunjukannya. Matanya langsung berbinar.
"Ah! Kenapa gue nggak kepikiran dari tadi sih!"
Perempuan itu tertawa kecil melihat reaksinya.
"Aku Emma, by the way."
"Alea! Nice to meet you, Emma!"
Setelah berbasa-basi sebentar, Emma pamit pergi. Alea melambaikan tangan dengan semangat, lalu langsung berjalan cepat ke arah papan peta kampus.
Dengan cepat dia menemukan letak jurusan Animasi. Begitu Alea sampai di ruang kelas pertamanya, matanya terbuka lebar. Dia pikir hanya sedikit orang yang mengambil kelas animasi khusus S2 itu, ternyata ada banyak. Mungkin lebih dari enam puluh orang sedang duduk di sana? Menurut Alea sih begitu.
Sudah ada dosen di paling depan. Untung ada pintu bagian belakang. Jadi Alea masuk dari sana. Kan gak lucu kalau dia ketahuan terlambat dan di omelin di hari pertamanya.
Alea membuka pintu perlahan, sebisa mungkin tanpa menimbulkan suara. Matanya langsung menyapu ruangan, memastikan tidak ada yang terlalu memperhatikannya.
'Masuk… pelan… pelan…" gumamnya hampir tanpa suara.
Ia melangkah menyusuri bagian belakang kelas, sedikit membungkuk seperti agen rahasia yang sedang menyusup. Beberapa mahasiswa sempat melirik, tapi Alea pura-pura tidak sadar.
Satu kursi kosong terlihat di barisan tengah. Tanpa banyak pikir, ia langsung meluncur ke sana dan duduk dengan cepat.
"Hufft… selamat," bisiknya pada diri sendiri.
Baru saja ia ingin menghela napas lega.
"Mahasiswi yang baru masuk dari belakang."
Deg. Tubuh Alea langsung kaku.
Perlahan, sangat perlahan… ia mendongak ke depan. Dan saat matanya bertemu dengan sosok dosen yang berdiri di sana, matanya terpaku.
Gila. Tampan sekali dosennya.
Lelaki itu berusia mungkin sama dengan om Damon. Auranya tegas dan penuh wibawa. Tatapannya tajam, seperti bisa membaca isi kepala siapa pun yang ia lihat. Rahangnya tegas, bahunya lebar, dan cara berdirinya, terlalu sempurna untuk ukuran dosen biasa. Alea sampai lupa kalau dia lagi disuruh berdiri.
"Perkenalkan diri anda," ulang lelaki itu, nadanya tetap datar, tapi kali ini lebih menekan. Alea langsung tersadar.
"Oh, iya! Iya, siap!" Ia buru-buru berdiri, hampir menjatuhkan kursinya sendiri karena terlalu panik.
Beberapa mahasiswa mulai memperhatikannya. Ada yang menahan tawa, ada yang sekadar penasaran. Alea menelan ludah, lalu mencoba tersenyum.
"Nama saya Alea Winslow… dari Indonesia," ucapnya, sedikit gugup tapi masih berusaha santai.
Matanya sempat melirik ke arah dosennya lagi.
"Lanjutkan," ucap dosen itu singkat.
"Saya mahasiswa baru di program S2 Animasi. Senang bisa belajar di sini…" ucapnya lagi melanjutkan.
Lelaki itu menatapnya beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan.
"Lain kali jangan terlambat lagi, duduklah."
Alea langsung duduk secepat kilat. Tidak malu sih, tapi karena beberapa mahasiswa memperhatikannya, dia jadi merasa canggung.
"Hei, kamu beneran dari Indonesia?"
Alea langsung melirik ke perempuan di sebelahnya karena perempuan itu bicara dengan bahasa Indonesia. Mata Alea berbinar-binar.
"Kau juga dari Indo?!" Serunya. Tapi tentu saja suaranya dikecilin.
"Mamaku Indo. Papaku Belanda. Tapi kami pernah tinggal hampir 10 tahun di sana, jadi aku bisa bicara bahasa Indonesia. Oh ya, namaku Elora."
"Aku Alea." balas Alea ceria.
"Aku tahu. Kamu udah bilang tadi. Oh ya, nama dosen di depan sana Anthony. Dia agak killer, tapi tampan kan?"
"Ehem. Tolong jangan bicara saat aku sedang mengajar.
Alea dan Elora langsung menutup rapat mulut mereka. Keduanya langsung menegakkan punggung, pura-pura fokus ke depan seperti murid paling disiplin di dunia.
Kelas kembali hening. Dosen itu, Anthony melanjutkan penjelasannya dengan suara tenang namun tegas. Cara bicaranya jelas dan terstruktur, membuat semua orang langsung fokus.
Termasuk Alea.
dasar alea membuat pak anthony jadi darting dan stress, menghadapi kerandoman dan sifat bar-bar alea🤭
Elora hanya diam aja takut ancaman pak anthony, alea kocak banget mengatakan pak anthony jodohnya elora🤣🤭
Elora hanya diam aja takut dikasih hukuman lagi😃dasar alea banyak akalnya berani melawan dosen terkenal killer🤭
hanya om damon pawangnya alea nantinya, lama-lama tubuh benih-benih cinta dihati alea dan om damon🤣🤭