Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Lumpur Hitam dan Air Beku
Cahaya keemasan di dalam gubuk reyot itu meredup secepat ia muncul, tersedot kembali ke dalam pusat Dantian Shen Yuan.
Angin malam yang sedari tadi melolong ganas di luar celah jendela kayu mendadak terasa senyap. Bukan karena badai salju telah reda, melainkan karena indra pendengaran Shen Yuan telah melampaui batas manusia biasa. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri—lambat, berwibawa, dan memompa darah yang kini terasa sepanas lava yang mengalir di bawah kulitnya.
Lapisan Kelima Kondensasi Qi.
Shen Yuan perlahan membuka kelopak matanya. Kegelapan total di dalam gubuk kini tidak lagi menjadi penghalang. Ia bisa melihat guratan serat kayu pada tiang penyangga yang lapuk, bahkan memperhatikan seekor laba-laba kecil yang sedang memintal jaring di sudut atap dengan sangat jelas.
Namun, sebelum ia sempat menikmati sensasi kekuatan yang baru merasukinya, sebuah bau busuk yang sangat menyengat menusuk hidungnya. Bau itu seperti campuran daging busuk dan besi berkarat.
Shen Yuan menunduk. Dari balik pori-pori kulitnya, merembes keluar lapisan lumpur kotor berwarna hitam pekat yang lengket. Pakaian rami abu-abunya menempel ketat pada tubuhnya, basah oleh keringat dan cairan kotor tersebut.
"Pembersihan Sumsum dan Penempaan Tulang," gumam Shen Yuan pelan. Suaranya terdengar sedikit serak, namun jauh lebih jernih dari sebelumnya.
Di dunia kultivasi, setiap kali seseorang menembus lapisan penghalang besar, energi spiritual murni dari alam akan mengalir dan membuang kotoran duniawi dari dalam tubuh. Selama tiga tahun, benih hitam di dalam perutnya menelan semua energi murninya, menyisakan ampas yang menumpuk di kinh meridiannya. Kini, setelah benih itu retak dan membagikan energi purba dari Kitab Penelan Surga, seluruh kotoran yang menyumbat tubuhnya selama belasan tahun dipaksa keluar.
Shen Yuan tidak melompat kegirangan. Ia tahu, kebahagiaan yang gegabah sering kali menjadi undangan bagi dewa kematian.
Ia memejamkan mata sejenak, memusatkan pikirannya ke dalam kepalanya. Deretan aksara emas kuno yang sebelumnya bergema, kini melayang-layang di lautan kesadarannya.
Kitab Penelan Surga - Gulungan Awal.
Langit memiliki batas, bumi memiliki ujung, namun nafsu menelan tidak memiliki dasar. Jangan meminjam dari alam, tapi rampaslah.
Hanya dua baris kalimat pembuka, namun arogansi yang terkandung di dalamnya membuat napas Shen Yuan sedikit tertahan. Teknik kultivasi ortodoks yang diajarkan Sekte Langit Berkabut berfokus pada meditasi, 'meminjam' Qi dari langit dan bumi dengan perlahan. Namun Kitab Penelan Surga ini tidak meminjam. Kitab ini mengajarkan tubuhnya untuk menjadi sebuah lubang hitam yang merampas segala bentuk energi di sekitarnya.
Benih hitam yang kini memiliki retakan kecil di Dantian-nya, adalah mesin inti dari teknik ini.
Shen Yuan membuka mata, mengakhiri meditasinya. Logikanya berputar cepat. "Jika aku keluar besok pagi dengan aura Lapisan Kelima, para tetua sekte pasti akan langsung membedah tubuhku untuk mencari tahu rahasia apa yang kutemukan. Seekor lalat tidak akan memamerkan daging yang ditemukannya di depan kawanan serigala."
Sesuai dengan pemikirannya, ia mencoba memutar sirkulasi Kitab Penelan Surga secara terbalik. Jika teknik ini bisa menelan segalanya, bukankah ia juga bisa menelan auranya sendiri?
Dalam tiga tarikan napas, aura kuat dari Lapisan Kelima yang menguar dari tubuhnya perlahan menyusut, meredup, dan akhirnya berhenti tepat di batas Lapisan Ketiga. Benih hitam di Dantian-nya berputar pelan, menutupi fluktuasi energi aslinya bagaikan jubah malam yang menutupi bintang. Sempurna. Bahkan jika Diakon Ma memeriksanya secara langsung, pria gemuk itu hanya akan melihat seorang murid pelayan sampah yang mandek di Lapisan Ketiga.
Shen Yuan bangkit dari ranjang jeraminya. Tubuhnya terasa seringan kapas, namun setiap ototnya menyimpan tenaga ledakan yang luar biasa. Masalah utamanya sekarang adalah bau busuk ini. Jika ia ketahuan memancarkan bau kotoran sumsum, orang-orang tetap akan curiga.
Ia melangkah keluar dari gubuk. Badai salju masih menderu. Malam di Puncak Pedang Patah selalu sunyi, karena murid pelayan lain lebih memilih menggigil di bawah selimut tipis mereka daripada membeku di luar.
Shen Yuan berjalan menyusuri jalan setapak yang tertutup salju, menuju ke aliran sungai kecil di belakang area pelataran luar. Sungai itu biasanya menjadi tempat para murid mengambil air, namun di tengah musim dingin seperti ini, permukaannya telah membeku menjadi lapisan es setebal dua ibu jari.
Tanpa ragu, Shen Yuan mengangkat kaki kanannya dan menginjak permukaan sungai yang membeku.
KRAK! PRYAR!
Lapisan es itu hancur berantakan. Udara dingin yang sanggup membekukan darah menyembur keluar dari air sungai yang gelap. Namun bagi Shen Yuan yang kini memiliki fondasi Lapisan Kelima dan perlindungan awal dari Kitab Penelan Surga, dinginnya air itu hanya terasa seperti embusan angin sejuk.
Ia melepaskan pakaian raminya yang kotor, melompat ke dalam air es, dan mulai menggosok tubuhnya. Lumpur hitam itu perlahan luruh, terbawa arus air sungai yang mematikan. Di bawah cahaya bulan yang pucat, otot-otot di tubuh Shen Yuan yang dulunya kurus kering kini terlihat lebih padat, terdefinisi, dan memancarkan kilau sehat bagaikan batu giok yang baru dipoles.
Setelah memastikan tidak ada sedikit pun bau dan kotoran yang tersisa, ia mencuci pakaian raminya secara asal, memerasnya hingga kering dengan tenaga Qi, lalu kembali mengenakannya. Pakaian basah di tengah salju adalah cara tercepat menuju kematian bagi manusia biasa, tapi panas tubuh Shen Yuan membuat pakaian itu mengering perlahan, menguapkan kabut tipis dari bahunya.
Fajar menyingsing dengan lambat di ufuk timur. Sinar matahari pagi memantul dari lautan salju, menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya.
Srak... srak...
Shen Yuan sudah kembali berdiri di pelataran luar, mengayunkan sapu lidinya seperti biasa. Wajahnya tenang, gerakannya lambat tapi pasti. Tidak ada yang berubah dari rutinitasnya. Pura-pura lemah adalah seni yang telah ia pelajari selama tiga tahun terakhir. Bedanya, hari ini gagang sapu kayu di tangannya terasa serapuh ranting kering. Ia harus sangat berhati-hati mengontrol tenaga barunya agar sapu itu tidak hancur berkeping-keping di tangannya.
"Hei, Kayu Mati!"
Sebuah tepukan keras mendarat di bahu kiri Shen Yuan.
Shen Yuan tidak terkejut, indranya sudah menangkap langkah kaki orang itu dari jarak tiga puluh tombak. Ia menoleh perlahan. Di belakangnya berdiri Li Mu, sesama murid pelayan. Pemuda itu memiliki wajah panjang seperti kuda, hidung memerah karena kedinginan, dan tangan yang digosok-gosokkan ke mulutnya untuk mencari kehangatan.
"Kau tidak kedinginan, Yuan?" Li Mu mengoceh sambil menjejalkan tangannya ke dalam ketiaknya. "Gila, salju hari ini tebal sekali. Kudengar dari pelayan dapur, aliran sungai di belakang sampai beku total. Ada orang idiot yang memecahkan esnya semalam. Untung kita tidak disuruh mengambil air hari ini."
"Begitukah?" Shen Yuan menjawab pendek, nada suaranya datar. Tentu saja ia tahu siapa 'orang idiot' yang memecahkan es itu.
Li Mu mendesah panjang, menendang tumpukan salju di dekatnya. "Nasib kita memang sial. Kau tahu? Kemarin Tuan Muda Lin dari keluarga cabang berhasil menembus Lapisan Kelima. Pagi ini sekte mengirimkan hadiah dua botol Pil Kondensasi tingkat menengah untuknya. Dan Diakon Ma—si babi gendut itu—sedang sibuk menjilat sepatu Tuan Muda Lin sejak subuh. Bahkan jatah kayu bakar kita dikurangi untuk memanaskan paviliun Tuan Muda Lin!"
Shen Yuan menghentikan ayunan sapunya. Matanya menyipit sedikit saat mendengar nama itu. Tuan Muda Lin. Lin Feng. Dialah alasan mengapa jatah batu roh Shen Yuan dipotong kemarin.
Lin Feng berada di Lapisan Kelima, didukung sumber daya keluarga dan jilatan para diakon. Sementara Shen Yuan? Ia kini juga berada di Lapisan Kelima, menembusnya hanya dalam satu malam, tanpa pil, tanpa sumber daya, murni mengandalkan ketahanan fisiknya selama tiga tahun dan sebuah teknik kuno misterius.
"Biarkan saja," ucap Shen Yuan akhirnya, kembali mengayunkan sapunya dengan ritme yang konstan. "Langit itu adil. Orang yang makan terlalu banyak pil suatu saat akan tersedak."
Li Mu tertawa hambar. "Puitis sekali, Kayu Mati. Tapi puisi tidak bisa mengisi perut atau menaikkan kultivasimu. Ujian Evaluasi Sekte Luar tinggal enam bulan lagi. Kalau kau belum menembus Lapisan Keempat... yah, bersiap-siaplah mengemasi barangmu."
Li Mu menepuk bahu Shen Yuan sekali lagi sebelum berjalan pergi menuju area dapur dengan bahu bergetar kedinginan.
Shen Yuan menatap punggung Li Mu yang menjauh, lalu mengalihkan pandangannya ke puncak gunung, menembus lapisan kabut tempat para murid dalam dan tetua bernaung. Tangannya menggenggam sapu erat-erat.
Enam bulan.
Waktu yang sangat cukup bagi seekor ular berbisa untuk merayap dari tanah yang kotor, memanjat pohon, dan menelan sang elang yang angkuh di sarangnya.