NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Aroma nasi hangat dan udang balado yang menggoda selera memenuhi seluruh sudut apartemen mewah itu.

Liana mematikan kompor, lalu berjalan mendekati Adrian yang masih terduduk dengan tangan terikat di kursi bar.

Dengan gerakan lincah, Liana melepaskan ikatan tali celemek di pergelangan tangan Adrian.

"Sudah, Tuan Besar. Hukuman selesai. Ayo kita makan malam dulu, keburu dingin," ajak Liana sambil tersenyum puas melihat hasil karyanya.

Adrian menggerak-gerakkan tangannya yang bebas, merasa sedikit pegal namun hatinya justru merasa riang.

"Akhirnya bebas juga. Baunya benar-benar luar biasa, Liana. Jauh lebih enak daripada katering langgananku."

Saat Liana hendak melangkah menuju meja makan untuk menata piring, tiba-tiba terdengar suara krek kecil di bawah kakinya.

Liana menghentikan langkahnya, merasa ada sesuatu yang keras dan tajam di bawah telapak kakinya yang polos.

Ia membungkuk dan memungut sebuah benda kecil yang berkilau di bawah cahaya lampu dapur. Sebuah anting berlian dengan desain elegan dan mahal—jelas bukan perhiasan sembarangan.

Liana mengangkat anting itu tinggi-tinggi, menatapnya dengan dahi berkerut.

"Pak, ini punya siapa?" tanya Liana dengan nada menyelidik. Ia menatap Adrian lurus-lurus.

"Cincin ini cantik sekali. Punya pacar Bapak, ya?"

Jantung Adrian terasa berhenti berdetak sesaat. Ia mengenali cincin itu—itu adalah salah satu koleksi favorit Arum yang mungkin terjatuh saat mereka berdebat sebelum Arum berangkat ke Paris.

"B-bukan!" sahut Adrian sedikit gugup, suaranya naik satu oktav.

Ia berdeham, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang hampir runtuh.

"Itu, pasti punya petugas kebersihan yang datang ke sini sebelum kamu. Iya, petugas yang kemarin bersih-bersih apartemen ini sebelum kamu masuk."

Liana menyipitkan matanya, menatap anting mewah itu lagi.

"Petugas kebersihan Bapak pakai cincin berlian sebesar ini? Wah, gajinya pasti tinggi sekali ya sampai bisa beli perhiasan merk ternama begini."

Adrian berkeringat dingin. Ia segera merebut anting itu dari tangan Liana dan memasukkannya ke dalam saku celananya.

"Yah, mungkin itu imitasi. Zaman sekarang banyak barang palsu yang terlihat asli. Sudah, jangan dibahas lagi. Perutku sudah sangat lapar, ayo makan!"

Adrian segera menarik kursi makan, mencoba mengalihkan perhatian Liana.

Liana hanya terdiam, namun pikirannya mulai bertanya-tanya.

Ada sesuatu yang tidak beres. Rasa curiganya mulai tumbuh, apakah Adrian benar-benar sendirian di apartemen ini sebelum ia datang?

Suasana di meja makan yang tadinya hangat mendadak berubah.

Denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar lebih nyaring di tengah keheningan yang kaku.

Liana mengunyah udang baladonya pelan, namun pikirannya masih tertuju pada kilauan anting berlian yang kini berpindah ke saku celana Adrian.

Adrian sendiri tampak makan dengan terburu-buru, seolah ingin segera menghabiskan isi piringnya agar tidak perlu bicara.

Ia menghindari kontak mata dengan Liana, sesekali melirik ke arah ponselnya yang diletakkan tertelungkup di atas meja.

Liana meletakkan sendoknya. Ia menopang dagu dengan satu tangan, menatap Adrian yang sedang berusaha keras terlihat sibuk dengan nasi hangatnya.

"Pak," panggil Liana pelan.

Adrian tersedak sedikit, lalu meminum air putihnya dengan cepat.

"Ya? Kenapa? Masakannya enak kok, beneran."

Liana tidak terpancing. Ia justru memberikan tatapan menyelidik yang membuat Adrian merasa seperti sedang diinterogasi oleh polisi.

"Bapak beneran belum punya pacar?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tajam dan tepat sasaran.

Adrian terdiam dengan mulut yang masih menyisakan sedikit nasi.

Ia bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di tengkuknya.

Citra "buaya darat" yang ia pasang tadi sore kini terasa seperti bumerang.

"Kenapa tanya begitu lagi?" jawab Adrian, mencoba tertawa kecil namun terdengar hambar.

"Bukankah aku sudah kubilang di swalayan. Kalau aku punya pacar, mana mungkin aku berani membawamu tinggal di sini?"

"Habisnya, cincin itu terlalu mewah untuk seorang petugas kebersihan," sahut Liana sambil menyipitkan mata.

"Dan Bapak kelihatan gugup sekali waktu saya tanya tadi. Seperti orang yang sedang menyembunyikan bangkai."

Adrian meletakkan gelasnya dengan bunyi klak yang cukup keras.

Ia memajukan tubuhnya, mencoba mengintimidasi Liana dengan pesonanya agar gadis itu berhenti bertanya.

"Dengarkan aku, Liana. Di dunia hiburan, banyak orang yang datang dan pergi ke apartemen produser untuk urusan pekerjaan. Mungkin itu milik salah satu klien atau penata busana yang tertinggal," ucap Adrian dengan nada yang dibuat semantap mungkin.

"Fokuslah pada proyek kita. Jangan biarkan benda kecil seperti itu mengganggu konsentrasimu."

Liana mendengus, kembali mengambil sendoknya.

"Ya sudah kalau Bapak bilang begitu. Tapi kalau nanti tiba-tiba ada wanita cantik yang datang melabrak saya sambil membawa pasangan cincin itu, saya tidak akan segan-segan menyiramnya dengan air cucian piring ya, Pak."

Adrian tertawa kering, meski dalam hatinya ia merasa ngeri membayangkan Arum dan Liana berada dalam satu ruangan.

"Itu tidak akan terjadi, Liana. Percayalah padaku."

Makan malam berlanjut dengan kecanggungan yang masih menggantung.

Liana merasa ada rahasia besar di balik pintu-pintu apartemen ini, sementara Adrian mulai menyadari bahwa menyembunyikan identitas Arum dari gadis pasar yang cerdas ini akan jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan.

Suasana meja makan yang kaku itu tiba-tiba dipecah oleh getaran keras dari ponsel Adrian yang tertelungkup.

Layarnya menyala, menampilkan nama "Arum " dengan foto seorang wanita cantik bergaun couture yang sedang tersenyum manja.

Mata Adrian membelalak. Ia hampir tersedak air putihnya saat melihat nama itu muncul di waktu yang paling tidak tepat. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar ponselnya sebelum Liana sempat melirik layarnya.

"Eh, Liana. Aharus angkat telepon ini. Urusan kantor, sangat mendesak!" ujar Adrian dengan suara yang sedikit pecah.

Ia langsung bangkit dari kursi beludrunya tanpa menunggu jawaban.

Liana hanya mengangkat bahu, mulutnya masih sibuk mengunyah udang balado buatannya sendiri.

"Iya, Pak. Silakan. Urusan produser kaya memang tidak ada habisnya," sahut Liana santai.

Ia sama sekali tidak menghiraukan kegugupan Adrian, baginya pria itu memang sibuk dengan dunianya yang penuh dengan orang-orang penting.

Adrian setengah berlari masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu dengan rapat.

Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan suaranya sebelum menekan tombol hijau.

"Halo, sayang?" sapa Adrian, suaranya mendadak berubah menjadi lembut dan penuh kasih, sangat berbeda dengan nada bicaranya kepada Liana tadi.

"Adrian! Aku merindukanmu!" suara Arum terdengar manja dari seberang sana, latar belakangnya terdengar suara hiruk pikuk jalanan Paris yang romantis.

"Di sini sedang dingin sekali. Aku baru saja selesai fashion show, dan kepalaku rasanya mau pecah karena merindukan pelukanmu."

Adrian memijat pangkal hidungnya, melirik ke arah pintu kamarnya seolah takut Liana bisa menembus dinding kayu itu.

"Aku juga merindukanmu, Arum. Bagaimana Paris? Semuanya lancar?"

"Lancar, tapi membosankan tanpa kamu," keluh Arum.

"Tapi tenang saja, kontrakku di sini masih tiga bulan lagi. Aku harus bertahan demi karierku, meskipun rasanya ingin sekali terbang pulang sekarang juga. Kamu baik-baik saja kan di sana? Tidak ada wanita lain yang menggoda produserku yang tampan ini, kan?"

Jantung Adrian berdegup kencang. Ia teringat Liana yang sedang asyik makan di ruang tengahnya.

"Tentu saja tidak, Sayang. Aku hanya sibuk dengan proyek film baru yang kuceritakan itu. Fokusku hanya kerja, kerja, dan kerja."

"Baguslah. Jaga dirimu ya. Aku tutup dulu, agenku sudah memanggil. Je t'aime!"

"Je t'aime," balas Adrian pelan.

Setelah sambungan terputus, Adrian menyandarkan punggungnya di pintu.

Tiga bulan. Arum akan berada di Paris selama tiga bulan—waktu yang persis sama dengan durasi proyeknya bersama Liana.

Ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis yang siap putus kapan saja.

Sementara itu di ruang makan, Liana baru saja menghabiskan suapan terakhirnya. Ia menatap ke arah kamar Adrian dengan tatapan datar.

"Tukang gombal itu, kalau bicara di telepon kok suaranya bisa selembut sutra begitu ya? Pasti kliennya wanita cantik," gumam Liana sambil membereskan piring-piring kotor.

Liana mencuci piring dengan cepat, lalu mengelap tangannya yang basah ke celemek krem yang masih ia kenakan.

Ia melirik ke arah pintu kamar Adrian yang masih tertutup rapat.

Suara gumaman pelan Adrian dari balik pintu terdengar seperti alunan nada yang asing bagi telinganya.

"Urusan bisnis atau urusan hati, Pak?" gumam Liana pelan sambil menggelengkan kepalanya.

Ia memutuskan untuk tidak ambil pusing. Baginya, Adrian hanyalah tiket untuk mengubah nasib keluarganya, meski getaran di dadanya saat dipeluk tadi sore masih menyisakan sedikit rasa hangat yang mengganggu.

Liana melangkah masuk ke kamarnya yang luas dan wangi.

Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang terasa seperti awan. Di samping bantal, naskah "Gema di Lorong Sunyi" sudah menantinya.

Ia membuka halaman selanjutnya. Di sana tertulis: Lokasi Syuting - Hutan Pinus, Puncak. Suasana: Kabut pagi, sunyi, dan dingin.

Liana mulai membaca baris demi baris dialog yang harus ia hafalkan. Matanya terpaku pada instruksi adegan untuk besok pagi:

Adegan 18: Liana berlari di antara pepohonan, mencoba melarikan diri dari bayang-bayang masa lalunya.

Di tengah kabut, ia bertemu dengan sosok pria (Adrian) yang menawarkan kehangatan di tengah kedinginan yang menusuk.

"Hutan Puncak, pasti dingin sekali di sana," bisik Liana. Ia membayangkan dirinya mengenakan gaun tipis yang disiapkan penata busana, menari di atas tanah yang lembap.

Liana mencoba mempraktikkan dialognya sambil menatap langit-langit kamar

"Jangan mendekat, aku tidak butuh belas kasihanmu," ucapnya dengan nada yang ia usahakan sedalam mungkin.

Namun, bayangan wajah Adrian yang menatapnya intens saat di studio tadi kembali muncul.

Liana menutup wajahnya dengan naskah tebal itu, mencoba mengusir rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.

Di kamar sebelah, ia tahu Adrian juga sedang bergelut dengan rahasianya sendiri—rahasia tentang cincin berlian dan telepon dari Paris yang tidak ia ketahui.

Tanpa sadar, Liana tertidur dengan naskah masih di atas dadanya.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!