Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana dalam Bayangan
Di salah satu ruangan tertutup di dalam istana, suasana terasa sunyi. Tirai jendela tertutup rapat. Cahaya hanya masuk sedikit dari celah kecil.
Di dalamnya, Seyron duduk dengan tenang. Tangannya bertumpu pada kursi. Tatapannya mengarah ke pintu. Seolah menunggu seseorang.
Beberapa saat berlalu…
Klik.
Pintu terbuka perlahan. Seseorang masuk.
Langkahnya ringan. Namun terasa dingin.
Seorang wanita dengan penampilan anggun berjalan masuk. Rambutnya tertata rapi. Tatapannya tajam dan penuh kendali.
Dia Iselle Fyrowrogla. Kandidat ratu utama dari Kerajaan Bervala. Salah satu kerajaan kecil di bawah naungan Risvela, namun dikenal memiliki ketegangan yang tidak pernah benar-benar padam.
Iselle berhenti beberapa langkah dari Seyron.
“Pangeran Pertama Seyron.”
Suaranya tenang. Namun tanpa kehangatan.
Seyron tersenyum tipis.
“Terima kasih sudah datang.”
Iselle tidak membalas senyuman itu.
“Aku datang karena penasaran.”
Jawabnya singkat.
“Seorang putra mahkota memanggilku diam-diam. Tentu bukan hal biasa.”
Seyron berdiri perlahan. Langkahnya santai mendekati.
“Kita tidak perlu berbasa-basi.”
Iselle menatapnya lurus.
“Langsung saja.”
Seyron berhenti di depannya. Tatapannya sedikit berubah.
“Kau membenci Risvela.”
Iselle tidak tersinggung.
“Dan kalian menyebutnya ‘melindungi’.”
Balasnya dingin.
“Padahal hanya cara halus untuk menguasai.”
Seyron tersenyum kecil.
“Bagus. Itu mempermudah.”
Iselle mengangkat alis sedikit.
“Mempermudah apa?”
Seyron menatapnya tajam.
“Aku ingin bekerja sama.”
Suasana langsung terasa lebih berat.
Iselle tidak langsung menjawab.
“Kerja sama?”
Seyron mengangguk.
“Aku tidak membutuhkan pasukan Bervala.”
Ia melanjutkan.
“Aku hanya butuh satu langkah kecil.”
Iselle menyilangkan tangan.
“Jelaskan.”
Seyron sedikit mendekat.
“Adikku, Reyd.”
Nama itu membuat Iselle memperhatikan lebih serius.
Seyron melanjutkan.
“Dekati dia.”
Iselle terdiam sejenak.
“Apa maksudmu?”
Seyron tersenyum tipis.
“Buat hubungan dengannya. Biarkan orang-orang melihat.”
Tatapannya semakin tajam.
“Seorang pangeran Risvela dekat dengan kandidat ratu dari kerajaan yang tidak setia.”
Iselle mulai memahami arah pembicaraan itu.
“Dengan begitu…”
Seyron melanjutkan pelan.
“Raja akan meragukannya. Para bangsawan akan menolaknya. Lalu rakyat akan membencinya.”
Ruangan itu menjadi sunyi. Hanya suara napas yang terdengar pelan.
Iselle menatap Seyron tanpa ekspresi.
“Dan kau akan tetap menjadi pewaris.”
Seyron tidak menyangkal.
“Ini hanya mempercepat hal yang seharusnya.”
Iselle berpikir sejenak. Ia tahu—ini permainan berbahaya. Namun juga menguntungkan. Jika berhasil… nama Bervala bisa mengguncang Risvela dari dalam.
“Ini menguntungkan.”
Akhirnya ia berkata. Namun suaranya tetap dingin.
“Tapi aku tidak bekerja tanpa alasan yang jelas.”
Seyron tersenyum.
“Tentu saja. Kau akan mendapatkan keuntungan.”
Iselle menatapnya tajam.
“Pastikan itu.”
Seyron mengangguk.
“Selama tujuan kita sama, maka kita tidak akan saling mengkhianati.”
Iselle berbalik. Langkahnya menuju pintu.
“Jangan terlalu percaya diri, Pangeran Pertama.”
Ia berhenti sejenak.
“Rencana seperti ini tidak pernah berjalan sempurna.”
Seyron tersenyum tipis di belakangnya.
“Rencana tidak harus sempurna.”
Jawabnya pelan.
“Cukup membuatnya jatuh.”
Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi.
---
Angin siang berhembus di area latihan kerajaan. Barisan prajurit terlihat sibuk. Melatih formasi. Mengasah sihir. Dan memperkuat kemampuan mereka.
Dari kejauhan, Reyd, Lein, Vaks, Felixa, dan Kegiant berdiri mengamati.
Kegiant menyilangkan tangan.
“Latihan mereka lumayan juga.”
Vaks tersenyum santai.
“Sepertinya mereka masih kurang rapi.”
Felixa mengangguk kecil.
“Koordinasinya belum stabil.”
Lein hanya memperhatikan dengan tenang.
Namun… di antara mereka semua, hanya satu orang yang tiba-tiba diam.
Tatapannya berubah. Terfokus ke satu arah.
Langkah kaki halus terdengar mendekat.
Saat sosok itu terlihat jelas… mata Reyd sedikit melebar.
“Iselle…”
Nama itu keluar pelan.
Wanita itu berjalan dengan anggun. Ia berhenti beberapa langkah dari mereka. Tatapannya langsung bertemu dengan Reyd.
Beberapa detik sunyi. Seolah waktu berhenti.
Lein memperhatikan perubahan Reyd.
“Reyd…?”
Namun Reyd tidak langsung menjawab.
Pikirannya melayang ke masa lalu. Saat ia dan Iselle sering bersama. Berbicara. Tertawa. Hingga akhirnya… semuanya berakhir dengan satu kejadian.
Keputusan yang ia ambil. Demi Kerajaan Risvela.
Ia membunuh Raja Bervala. Ayah dari Iselle.
Tatapan Reyd sedikit mengeras. Ia melangkah maju satu langkah. Tubuhnya bersiap tanpa sadar.
“Apa tujuanmu datang ke sini?”
Nada suaranya tenang. Namun jelas waspada.
Ia sudah menduga: balas dendam.
Namun Iselle justru tersenyum. Seolah tidak ada kebencian.
“Kamu masih sama, Reyd.”
Suaranya halus.
Hal itu justru membuat Reyd sedikit terkejut.
Kegiant mengangkat alis.
“Dia siapa, woi?”
Vaks berbisik pelan.
“Sepertinya wanita ini bukan orang biasa.”
Lein menatap Iselle dengan waspada. Ia bisa merasakan… ada sesuatu yang tidak sederhana.
Reyd tetap menatap Iselle.
“Kau tidak berubah rupanya.”
Iselle tersenyum tipis.
“Begitu juga kamu.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
“Aku hanya datang untuk melihatmu.”
Kalimat itu sederhana. Namun terasa aneh.
Reyd mengernyit.
“Hanya itu?”
Iselle mengangguk pelan.
“Ya.”
Di dalam pikirannya, satu hal terlintas: ini tidak wajar.
Namun di luar, ia tetap tenang.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?