Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Penggusuran
Ia mencoba mengenyahkan pikiran itu. Tidak, Siman harus fokus. Gorengan harus habis. Tangannya sigap menata tempe, tahu, dan ubi yang baru saja diangkat dari penggorengan, ke dalam wadah bambu yang sudah ia panggul setiap hari. Asap tipis masih mengepul, aromanya menyusup ke hidungnya, mengingatkannya pada realitas yang tak terhindarkan: perjuangan untuk bertahan hidup. Tapi aroma itu kini terasa lebih pahit. Lebih berat dari beban wadah di pundaknya. Bagaimana ia bisa menjual dagangan dengan hati sekacau ini? Ancaman itu seolah menimpali setiap langkahnya, membuat kakinya terasa berat.
"Man, kamu kok lesu begitu? Tidak boleh lemes. Rezeki sudah nunggu ini!" suara Bapaknya melengking, berusaha menghalau awan murung di wajah Siman. Sang bapak tampak sibuk mengecek sebuah gembok rusak di roda angkot tuanya, tak menyadari kepanikan dalam diri Siman. Atau mungkin bapaknya hanya tidak mau tahu.
"Iya, Pak. Aku cuma... memikirkan jualan." Siman berbohong. Ia menatap wajah bapaknya, lelah, tua, namun masih mencoba bertahan. Siman tidak ingin menambah beban orang tuanya dengan menceritakan apa yang baru saja ia dengar, walau mereka sendiri pasti tahu ancaman ini takkan pernah sirna dari pinggiran rel.
Tanpa banyak kata lagi, Siman pun melangkah, memasuki keramaian pasar tumpah di sudut jalan yang sering ia lalui. Suara klakson, teriakan pedagang, tawar-menawar yang riuh, semua menjadi latar belakang hiruk pikuk hidupnya. Ia menjejakkan kaki di antara kerumunan pembeli yang berebut, berusaha menawarkan dagangannya dengan senyum yang dipaksakan. Aroma ikan asin bercampur buah-buahan busuk. Seperti hidupnya. Sebuah kegetiran kembali terasa.
Ketika tengah menjajakan dagangannya, pandangannya tertumbuk pada segerombolan remaja tanggung yang melintas. Rambut mereka tergerai bebas, pakaian seragam sekolah putih abu-abu itu tampak bersih dan rapi, tidak ada noda debu, apalagi lumuran lumpur bekas jalanan basah seperti di lingkungannya. Tawa mereka renyah, membahas soal sekolah, guru, dan pacar. Siman melihat keceriaan yang dulu juga seharusnya menjadi miliknya.
Namun keceriaan itu tidak pernah hadir di hidupnya, seulas senyum pun tidak pernah menghampiri Siman remaja saat berada di sekolah dulu. Hatinya seperti dicubit. Sekelebat bayangan pahit melintas di benaknya, tiba-tiba menyeretnya mundur, masuk ke lorong ingatan yang selalu berusaha ia kubur dalam-dalam. Masa-masa SMA yang seharusnya ceria, malah berubah menjadi neraka baginya.
Kala itu, koridor sekolah selalu menjadi arena penyiksaan yang Siman rindukan sekaligus hindari. Siman, si anak pinggir rel yang hanya mengandalkan bantuan beasiswa, selalu jadi sasaran empuk untuk olok-olok. Bukan hanya dari teman-teman laki-lakinya, tapi juga dari kelompok gadis populer. Dan dari semua gadis itu, satu nama yang paling berbekas di hatinya. Dina.
Ia mengingat hari itu dengan jelas. Hari di mana mimpi-mimpinya seperti digilas buldoser, hancur berkeping-keping. Pakaian seragamnya memang tak semulus milik teman-teman lainnya. Ada noda minyak bekas menggoreng di sana-sini, kainnya kusam karena dicuci manual. Bahkan tasnya pun sudah bolong, sisa hadiah dari bapaknya saat ia masuk SMP dulu.
Ketika itu, ia tak sengaja menabrak Dina di kantin yang ramai. Buku-buku Dina terjatuh, dan yang lebih fatal, bekal makanan Dina—nasi goreng seafood mahal—ikut terlepas dari tangannya, mendarat di lantai keramik yang baru saja dipel. Sesaat, suasana kantin hening. Siman membeku.
"SIMAN! Ya ampun! Bekal gue!" Dina menjerit, tatapannya menyala marah, disusul bisikan-bisikan riuh dari teman-temannya yang melihat insiden itu.
"Hih, kasihan deh Dina. Padahal itu nasi goreng spesial lho, buat kencan sama pacarnya nanti."
"Ya, gitu deh kalau orang dari kaum tak berpunya, joroknya nular sampai ke sini."
Wajah Siman memerah. Ia ingin meminta maaf, namun kata-kata tertahan di tenggorokannya. Tangannya gemetar saat hendak meraih buku-buku Dina, tetapi sebuah tendangan ringan mengenai tangannya.
"Jangan pegang-pegang! Kotor tahu nggak?" Dina menarik tasnya menjauh, seolah Siman adalah wabah penyakit. Ia beringsut mundur, ekspresi jijik jelas terpancar di wajah cantiknya. "Heh, kamu kira aku mau apa? Kamu nggak level sama aku. Lihat nih, rokmu sudah kotor begitu, dekil! Cocoknya jadi pengamen jalanan daripada sekolah di sini, tahu nggak? Cuma buang-buang kursi dan bau apek!"
Tawa membahana di seluruh penjuru kantin. Siman menunduk, kepalanya terasa dihantam batu. Hinaan Dina menghunjam lebih dalam dari sekadar ucapan. Itu adalah penolakan mutlak atas keberadaannya, status sosialnya, mimpinya. Air mata Siman menggenang di pelupuk mata. Sejak saat itu, setiap sapaan Dina terasa seperti belati yang mengiris. Dina berhasil menguasai dirinya. Membuat dirinya rendah dan semakin tidak berarti.
Bahkan sampai setamat SMA, bayang-bayang Dina masih terus mengikutinya. Siman tak pernah berani mendekati perempuan lain. Bahkan untuk sekadar menaruh hati pun rasanya terlalu muluk. Siapa yang akan mau dengannya? Cowok pinggir rel yang kotor, dekil, bau apek, tidak tahu malu, tidak tahu diri dan miskin pula. Bahkan mimpi untuk menikah pun terasa haram baginya. Cinta adalah kemewahan yang hanya diperuntukkan bagi kaum elit yang seragamnya bersih dan rambutnya harum seperti Dina.
Pikirannya tiba-tiba melayang pada sosok lain, yang menjadi penyeimbang setiap kali dunia meruntuhkan mentalnya. Murni.
Seorang gadis dengan senyum yang selalu hangat, tetangga setia yang tumbuh bersamanya di pinggir rel yang sama. Dia selalu ada, diam-diam memberinya sepotong tahu atau nasihat kecil. Pernah suatu ketika, saat Dina menjahilinya lagi, menumpahkan seember air comberan ke bajunya, Murni lah yang memeluknya erat di tengah cemoohan, tak peduli dengan bau amis dan kotoran. Siman ingin membencinya saat itu, kenapa dia berpihak padaku? Kenapa dia baik padaku? Apa jangan-jangan dia mengejek aku lagi? Tapi senyumnya jujur dan tulus.
Siman tersentak kembali ke dunia nyata saat suara panggilan nyaring membuyarkan lamunannya.
"SIMAN! Ya ampun, aku cariin ke mana-mana, tahunya di sini!"
Murni berdiri di depannya, rambut hitamnya terkepang rapi, terpaan cahaya matahari pagi menyinari wajahnya. Ia tampak sedikit terengah-engah, dengan tangan memegang sebuah plastik berisi bahan makanan. Tatapannya hangat, seperti mentari pagi yang mengusir embun. Murni satu-satunya yang masih melihat "Siman" sebagai seorang manusia yang bermartabat.
"Oh, Murni." Siman tersenyum samar. Jantungnya berdebar, bukan karena suka, tapi karena merasa bersalah ia tak mendengar panggilannya.
"Ngapain senyum-senyum begitu? Kebanyakan mikir uang, ya? Jualannya laris nggak?" Murni memperhatikan bakul gorengan Siman yang mulai menyusut isinya.
"Lumayan. Masih ada sisa sedikit lagi. Ini baru mau muter ke komplek sebelah." Siman menunjuk jalanan kecil di sisi lain pasar. Siman memutar akalnya, kenapa dia sampai mencariku?
"Syukurlah kalau gitu." Murni menarik napas lega. Ia melirik jam tangan lamanya yang ia kenakan. "Eh, kamu jadi 'kan ikut gotong royong di kampung hari ini? Kata Ibu ada banyak acara seru di pos RW. Biar nggak mumet terus di rumah."
***