Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Malam itu, angin laut bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di dermaga kayu pulau, suasana tegang kembali menyelimuti.
Sebuah speedboat berukuran sedang sudah menyalakan mesinnya, siap membawa mereka ke bandara pribadi di pulau seberang. Rico sedang memasukkan koper-koper hitam berisi senjata dan dokumen ke dalam lambung kapal, dibantu oleh beberapa anak buah tepercaya yang baru saja tiba dari kota.
Anya berdiri di dekat tiang dermaga, mengenakan jaket kulit hitam kebesarannya, celana jeans gelap, dan sepatu boots. Di tangan kanannya, ia memutar-mutar tongkat bisbol aluminiumnya dengan penuh antisipasi. Preman pasar itu sudah sangat siap untuk menghancurkan apa pun yang tersisa dari komplotan Paman Arthur.
Kaelan berdiri tak jauh darinya, sedang memberikan instruksi terakhir kepada Ragas melalui telepon satelit. Kemeja hitamnya digulung hingga siku, wajahnya sekeras batu karang. Ia memancarkan aura seorang raja yang siap menuntut balas.
"Pastikan pengamanan vila ini dilipatgandakan. Jangan biarkan siapa pun mendekat selama kami pergi," perintah Kaelan tajam sebelum mematikan teleponnya.
Ia berbalik, melangkah menghampiri Anya. "Ayo. Pesawat sudah menunggu."
Namun, baru dua langkah Kaelan berjalan, langkahnya mendadak terhenti.
Pria bertubuh raksasa itu tiba-tiba terhuyung ke depan, lututnya nyaris membentur lantai kayu dermaga. Ia mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan, mengerang tertahan. Napasnya memburu tak terkendali.
"Kaelan?!" Anya langsung membuang tongkat bisbolnya dan berlari menghampiri, menahan bahu suaminya agar tidak jatuh. "Ada apa? Kepalamu sakit lagi?"
Ketegangan menjelang perang, bayangan darah yang akan tumpah di kota, dan beban harus melindungi Anya dari peluru musuh ternyata menjadi pemicu stres yang terlalu besar bagi otak Kaelan. Sistem pertahanan mentalnya merespons ancaman itu secara otomatis. Ia tidak sanggup menghadapinya.
Otot-otot Kaelan yang menegang perlahan mengendur. Erangan sakitnya berubah menjadi helaan napas yang panjang dan gemetar.
Saat pria itu mengangkat wajahnya, kilat mematikan di mata hitamnya telah lenyap tak berbekas. Digantikan oleh tatapan panik, kebingungan, dan ketakutan yang luar biasa.
Milo telah mengambil alih.
"T-tidak... aku tidak mau pergi..." gumam Milo, suaranya melengking pelan, sarat akan teror. Ia menepis tangan Anya dengan kasar, mundur beberapa langkah hingga menabrak tumpukan koper. Matanya menatap horor pada tas-tas panjang berisi senjata api yang dibawa Rico. "Darah... di sana banyak darah! Si Kaku jahat! Dia mau membawaku ke tempat orang-orang saling membunuh lagi!"
"Milo, tenanglah. Tarik napas," bujuk Anya, mencoba mendekat dengan hati-hati seperti menenangkan hewan yang sedang ketakutan. "Kita harus kembali ke kota. Kaelan—maksudku, si Kaku—sudah berjanji untuk menyelesaikan semuanya."
"TIDAK MAU!" jerit Milo histeris, menutup kedua telinganya dengan tangan. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Keributan itu menarik perhatian semua orang di sekitar vila. Ragas berlari dari arah dapur, diikuti oleh Lucia dan Keira yang baru saja selesai membantu membereskan meja makan.
Mata Milo yang liar dan panik menyapu sekeliling, mencari tempat berlindung. Dan tatapannya berhenti pada satu sosok yang berdiri di ambang pintu teras.
Keira.
Wanita cantik dengan dress panjangnya itu selalu menjadi simbol ketenangan, kelembutan, dan tempat berlindung bagi Kaelan di masa lalu. Bagi Milo, Keira adalah sosok figur ibu dan cinta pertama yang tidak pernah menyakitinya, tidak pernah memaksanya memegang senjata, dan selalu menyembunyikannya dari kekejaman dunia mafia.
Tanpa memedulikan Anya yang berdiri tepat di depannya, Milo berlari kencang melewati gadis tomboy itu.
"Keira!" panggil Milo dengan suara parau bercampur isak tangis anak kecil.
Milo menabrakkan tubuh besarnya ke arah Keira. Wanita anggun itu terkejut, namun insting masa lalunya langsung bekerja. Ia merentangkan kedua tangannya, menangkap tubuh kekar yang kini meringkuk ketakutan layaknya balita itu.
Milo memeluk pinggang Keira erat-erat, membenamkan wajahnya di bahu wanita itu. "Keira... tolong aku... suruh si Kaku berhenti. Aku takut suara tembakan... aku tidak mau kembali ke sana..." racau Milo, tubuhnya bergetar hebat.
Keira tersenyum sendu, matanya memancarkan kasih sayang yang dalam. Tangannya perlahan mengelus rambut hitam tebal itu, persis seperti yang sering ia lakukan belasan tahun yang lalu.
"Sstt... tidak apa-apa, Milo. Aku di sini," bisik Keira lembut, menepuk-nepuk punggung pria raksasa itu. "Kau tidak perlu pergi ke mana-mana malam ini. Kau aman di sini bersamaku."
Mendengar suara lembut Keira, napas Milo perlahan mulai teratur. Ia semakin menenggelamkan dirinya dalam pelukan wanita itu, mencari kenyamanan dari sisa-sisa kenangan masa lalunya yang damai.
Di tengah dermaga yang diterangi cahaya bulan, Anya berdiri mematung. Angin malam menampar wajahnya, namun ia tidak merasakan dinginnya. Hatinya jauh lebih dingin.
Preman pasar itu menatap pemandangan di depannya dengan dada yang terasa seperti dihantam balok beton. Suaminya—pria yang beberapa jam lalu memeluknya di atas ranjang dan mengklaimnya sebagai satu-satunya Nyonya Obsidian—kini sedang mencari perlindungan di pelukan wanita lain.
Anya tahu itu Milo. Ia tahu Milo sedang ketakutan. Namun, fakta bahwa sisi paling rapuh dari Kaelan tidak mencari dirinya untuk berlindung, melainkan mencari Keira, benar-benar menghancurkan kepercayaan diri Anya.
Ia tiba-tiba merasa sangat kotor, kasar, dan tidak pantas. Jaket kulit dan tongkat bisbol yang ia banggakan mendadak terasa seperti simbol kekerasan yang ditakuti Milo. Keira adalah tempat yang aman dan lembut; sedangkan Anya hanyalah perpanjangan dari dunia mafia yang ingin dihindari pria itu.
Rico dan Ragas menatap Anya dengan raut wajah penuh simpati, tidak tahu harus berkata apa.
Anya merasakan matanya memanas. Rasa cemburu, kecewa, dan tidak berdaya bercampur menjadi racun yang menyumbat tenggorokannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, preman pasar yang selalu meledak-ledak dan tengil ini... kehilangan kata-katanya.
Ia tidak berteriak. Ia tidak marah-marah. Ia tidak menarik Milo dari pelukan Keira.
Dengan gerakan kaku, Anya menunduk. Ia memungut tongkat bisbolnya yang tergeletak di lantai dermaga. Genggamannya pada gagang tongkat itu begitu erat hingga tangannya gemetar.
"Anya..." panggil Lucia pelan dari kejauhan, menatap gadis tomboy itu dengan sedih.
Anya tidak menoleh. Ia menelan ludah dengan susah payah, memaksa sebuah senyum miring yang sangat menyedihkan terukir di bibirnya.
"Tunda penerbangannya, Rico," ucap Anya dengan suara serak yang dipaksakan terdengar datar. Ia berbalik membelakangi mereka semua, menatap lautan yang gelap gulita. "Biarkan bayi raksasa itu bermanja-manja malam ini. Aku... aku mau tidur."
Tanpa menunggu jawaban, Anya melangkah gontai meninggalkan dermaga, mengambil jalan memutar menuju pintu samping vila agar tidak harus melewati Milo dan Keira. Malam itu, di balik ketangguhan jaket kulitnya, sang Putri Preman menyadari bahwa memenangkan hati seorang bos mafia yang utuh... mungkin adalah pertarungan yang tidak akan pernah bisa ia menangkan.