NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Lumbung di Belakang Rumah

Mu Qingxue sudah berdiri di tepi kebun cukup lama untuk merasakan embun pagi meresap ke ujung sepatunya. Dua kali dia menarik napas untuk memulai. Dua kali kata-katanya berbalik sebelum sempat keluar.

Adapun cangkul itu naik lagi, membalik sebongkah tanah yang lebih besar dari sebelumnya, lalu turun ke baris berikutnya.

“Kau ingin bilang sesuatu?” tanya Huang Shen, tanpa berhenti mencangkul, tanpa menoleh.

Mu Qingxue menghembuskan napas yang sudah terlalu lama ditahan. “Dia tidak punya tempat tinggal. Pamannya pergi minggu lalu tanpa bilang apa-apa.” Suaranya keluar lebih datar dari yang dia harapkan, tapi setidaknya tidak bergetar. “Sebelum kita mengizinkannya ke sini, dia tidur tiga hari di bawah jembatan dekat Pasar Utara.”

Cangkul itu naik. Turun. Tanah terbelah lagi dan lagi tapi tidak kunjung ada jawaban.

Mu Qingxue menunggu sampai cangkul itu naik untuk kali berikutnya, lalu berkata, “Aku ingin dia tinggal.”

Cangkul itu turun, tapi ritmenya berbeda dari sebelumnya. Satu jeda kecil di antara hantaman dan pengangkatan berikutnya. Tidak bisa dilihat kalau tidak diperhatikan. Namun Mu Qingxue memperhatikan.

“Bukan urusanku,” balas Huang Shen.

“Kau tidak salah.” Mu Qingxue melangkah satu langkah masuk ke kebun, tanah yang sudah dicangkul menekan di bawah sepatunya. “Tapi aku tidak bisa mengusirnya. Dia tidak tahu apa-apa tentang ruh itu. Apapun yang ada di dalam dirinya, itu bukan pilihannya.”

“Itu tidak akan mengubah risikonya.”

“Tidak,” wanita itu mengakui. “Tidak mengubah apapun.”

Cangkul itu naik, berputar di tangan Huang Shen, lalu turun lagi. Tatkala dia tidak menjawab lebih lanjut, Mu Qingxue menganggap itu sebagai izin untuk melanjutkan.

“Seperti yang kau tahu, dia masih empat belas tahun. Tidur di bawah jembatan. Mau kerja tapi tidak ada yang mau karena dianggap terlalu muda.” Suaranya tidak melunak, tapi ada sesuatu yang lebih berat di dalamnya. “Aku pernah jadi orang yang tidak punya apa-apa juga. Bukan sesedih itu, tapi aku tahu rasanya tidak ada tempat untuk pergi. Bukankah kau juga sama?”

Huang Shen tidak menjawab. Tapi cangkulnya berhenti.

Diam yang menyusul adalah diam yang penuh perhitungan, layaknya sesuatu sedang ditimbang di suatu tempat yang tidak terlihat.

Lalu Huang Shen berbalik.

Untuk pertama kalinya pagi ini dia menatap Mu Qingxue langsung. Matanya tidak merah seperti biasanya, tapi ada intensitas di dalamnya yang berbeda dari saat dia memandang sesuatu yang akan dibunuh.

“Kau tahu risikonya,” tandasnya.

“Aku mengerti.”

“Ruh itu tidak tidur. Ruh itu mengamati dan melaporkan. Setiap hari dia tinggal di sini adalah satu hari lagi Sekte Iblis Hitam tahu apa yang terjadi di rumah ini.”

“Aku tahu,” ulang Mu Qingxue. “Tapi kau tidak membunuhnya tadi malam.”

Huang Shen membisu.

“Kau membuka pintu ruangan itu. Kau berdiri di sana. Dan kau tidak melakukannya.” Mu Qingxue tidak menurunkan pandangannya. “Itu berarti ada sesuatu yang masih tersisa di dalam dirimu yang memutuskan untuk tidak membunuhnya. Apapun alasannya.”

Matanya menyala merah yang lebih pekat dan lebih dalam dari biasanya. Lalu meredup kembali.

Cangkul itu ditancapkan ke tanah dan dibiarkan berdiri sendiri.

“Baiklah.”

Mu Qingxue tidak bereaksi berlebihan. Keduanya sudah terlalu lama tinggal bersama untuk membiarkan momen-momen seperti ini meledak menjadi sesuatu yang tidak perlu.

“Tapi,” lanjut Huang Shen, “Dia tidak boleh masuk rumah. Tidak boleh mendekatiku saat aku bekerja atau saat ada tamu yang datang.” Suaranya datar seperti orang yang membacakan persyaratan kontrak. “Dan jika ada yang aneh, sekecil apapun, kau beritahu aku langsung. Tanpa menunda.”

“Aku mengerti. Terima ka—”

“Kau bertanggung jawab atas apa yang terjadi kalau kau salah.”

Mu Qingxue menelan kalimat itu. Menerimanya. “Aku tahu.”

Adapun tidak ada jabat tangan apalagi senyuman dari kesepakatan yang baru saja terbentuk. Dua orang yang sudah tiga tahun berbagi atap dan sudah belajar bahwa kata cukup adalah kata yang paling bisa dipercaya di antara mereka.

Setelah itu, di Lumbung belakang yang terakhir kali dipakai untuk menyimpan bahan bakar kayu yang sudah habis dua musim lalu, Mu Qingxue sudah siap dengan sapu, kain lap, dan ember berisi air. Dia menyapu dari sudut ke sudut, mengeluarkan sisa-sisa kayu yang sudah jadi serbuk, membersihkan lantai sampai bersih kalau tidak bisa disebut bersih maka setidaknya bisa diinjak tanpa khawatir.

Manakala dia menggelar tikar di atas lantai yang sudah dibersihkan, ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya seperti keputusan yang sudah diambil dan sekarang harus ditanggung akibatnya, dan dia memilih untuk menanggungnya dengan cara yang layak.

Selimut yang sama yang bocah itu pakai semalam, dilipat dan diletakkan di sudut tikar.

Sementara bocah itu berdiri di pintu lumbung, melihat ke dalam dengan mata yang masih merah di tepinya tapi sudah tidak mengeluarkan air mata. Senyumannya muncul kembali, lebih kecil dari biasanya, lebih hati-hati.

“Ini milikku?” lirihnya.

“Begitulah, untuk sementara,” jawab Mu Qingxue. “Dengan syarat yang sudah aku jelaskan tadi. Kau ingat semuanya, kan?”

“Tidak masuk rumah. Tidak dekati Kak Huang Shen saat dia bekerja. Kalau ada yang aneh, langsung bilang ke Nyonya Mu. Aku ingat.”

“Bagus.”

Bocah itu melangkah masuk ke lumbung, duduk di atas tikar, dan menepuk-nepuknya dengan telapak tangan seperti menguji kasur penginapan mahal. “Lebih enak dari di bawah jembatan,” selorohnya, separuh pada dirinya sendiri.

Kendati demikian, Mu Qingxue tidak bisa memutuskan apakah kalimat itu harus membuatnya lega atau makin khawatir.

Malam datang dengan langit yang bersih dari awan.

Bintang-bintang terlihat dari beranda, lebih banyak dari yang bisa dihitung kalau seseorang mau mencoba. Huang Shen duduk di kursi kayu di beranda depan dengan teh yang sudah dingin di sampingnya dan matanya yang tidak bergerak dari satu titik di kejauhan.

Titik itu adalah lumbung.

Dari dalam, tidak ada suara. Lampu minyak yang Mu Qingxue beri sudah dipadamkan sejak satu jam yang lalu. Bocah itu sudah tidur, atau setidaknya sudah tidak bergerak.

Alhasil Huang Shen hampir berdiri untuk masuk ketika sebuah bisikan membuatnya berhenti.

Masalahnya bisikan itu terlalu datar, tidak punya emosi yang biasanya menempel pada suara manusia yang berbicara dalam tidurnya. Kata-katanya tidak bisa ditangkap dari jarak ini, tapi nadanya terasa seperti laporan yang disampaikan kepada seseorang yang mendengar dari jauh.

Lantas Huang Shen duduk kembali.

Matanya menatap lumbung itu dengan cara yang berbeda dari tadi. Di dalam dadanya, Gerbang menyala redup, mengakui bahwa apa yang baru saja didengarnya adalah persis yang sudah diperkirakan.

Dari dalam rumah, suara napas Mu Qingxue yang sudah tertidur terdengar teratur melalui jendela yang terbuka.

Huang Shen tidak membangunkannya. Dia hanya duduk di beranda, menatap lumbung yang gelap, dan menunggu.

1
black_rose
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
black_rose: makasih Thor
total 2 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!