NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Tumbal / Hantu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Runtuhnya Ambisi

Ledakan itu tidak menghancurkan dinding fisik semata, melainkan merobek selubung tipis yang memisahkan dunia nyata dengan dimensi lain yang selama ini terkurung di balik beton RSU Cakra Buana. Gelombang kejut melemparkan tubuh Elara hingga punggungnya menghantam lemari besi penyimpan arsip, menciptakan suara dentuman logam yang menyakitkan telinga.

Debu kapur dan serpihan asbes berjatuhan seperti salju kotor, bercampur dengan uap panas yang mendesis liar dari pipa-pipa pendingin mayat yang pecah. Bau ozon yang tajam bercampur dengan aroma amis darah busuk seketika memenuhi rongga hidung, membuat siapa pun yang menghirupnya ingin memuntahkan isi perut.

Elara terbatuk keras, paru-parunya terasa terbakar saat ia mencoba menghalau asap tebal di depan wajahnya dengan tangan yang gemetar. Telinganya berdengung hebat, seolah ada ribuan lebah yang bersarang di dalam kepalanya, namun di balik dengungan itu, ia bisa mendengar suara lain yang jauh lebih mengerikan.

Suara itu bukan jeritan manusia, melainkan geraman rendah yang bergetar dari lantai, merambat naik melalui sol sepatu botnya hingga ke tulang kering. Itu adalah suara kemarahan murni.

"Sistem... gagal..." sebuah suara parau terdengar dari balik kabut uap.

Elara memicingkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya pada siluet yang terhuyung-huyung di dekat panel kendali yang kini hanya tinggal rongsokan berasap. Dr. Arisandi masih berdiri, namun posturnya tidak lagi tegak dan angkuh seperti sebelumnya.

Tubuh dokter itu tampak memanjang secara tidak wajar, seolah tulang-tulangnya ditarik paksa dari dalam. Jas putih yang ia kenakan kini tercabik-cabik, menampakkan kulit yang berdenyut dengan pembuluh darah hitam yang menonjol, seakan ada sesuatu yang hidup dan bergerak di bawah dermisnya.

"Kau pikir kau bisa menghentikan evolusi?" suara Arisandi terdengar ganda, tumpang tindih dengan suara berat yang serak dan basah.

Elara tidak menjawab. Insting bertahan hidupnya berteriak lebih keras daripada rasa ingin tahunya. Ia segera merangkak mundur, kakinya tersandung pecahan tabung reaksi saat ia berusaha mencari perlindungan di balik meja otopsi yang terguling.

Sesuatu melesat cepat di udara, menghantam dinding tepat di tempat kepala Elara berada sedetik sebelumnya. Beton itu retak, meninggalkan bekas hangus seolah baru saja disiram asam pekat.

"Dia bukan lagi manusia, Neng! Jangan diam saja!" teriak seseorang dari arah pintu masuk.

Pak Darto muncul dari balik reruntuhan pintu, wajah tuanya yang biasanya tenang kini dipenuhi goresan luka dan debu. Ia memegang sebuah tongkat kayu naga yang ujungnya menyala redup, satu-satunya sumber cahaya mistis yang tersisa di ruangan yang kini didominasi lampu darurat berwarna merah darah.

"Lari ke arahku! Sekarang!" perintah Darto, suaranya tidak lagi menyiratkan permusuhan, melainkan kepanikan yang nyata.

Elara tidak butuh diperintah dua kali. Ia bangkit dan memacu kakinya secepat mungkin, melompati genangan cairan pengawet mayat yang licin. Di belakangnya, Arisandi—atau makhluk yang dulunya adalah Arisandi—mengeluarkan raungan yang memecahkan kaca-kaca jendela observasi.

"Kau bersekutu dengan tikus tanah ini, Elara?" Arisandi meraung, tangannya yang kini menyerupai cakar memanjang menyapu udara, menciptakan hempasan angin yang nyaris menjatuhkan Elara.

Elara menjatuhkan dirinya ke samping Pak Darto tepat saat sebuah lemari besi melayang dan menghantam posisi berdirinya tadi. Darto segera membanting pintu besi tebal yang memisahkan ruang kendali dengan koridor utama, lalu memutar roda pengunci dengan tenaga yang tersisa.

"Itu tidak akan menahannya lama-lama," ucap Elara dengan napas tersengal, matanya menatap nanar pada pintu besi yang mulai penyok dari dalam akibat hantaman bertubi-tubi.

"Memang tidak. Itu hanya memberi kita waktu tiga menit sebelum dia merobek baja itu seperti kertas tisu," sahut Darto sambil merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kunci kuno berkarat.

Mereka berdua kini berada di koridor Basement Level 4 yang remang-remang. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip tak beraturan, menciptakan efek stroboskopik yang membuat bayangan-bayangan di dinding tampak bergerak sendiri. Suara sirene darurat meraung di kejauhan, namun di lantai ini, suara tetesan air dan desis uap terdengar lebih dominan.

"Kenapa Bapak menolong saya? Bukankah Bapak yang menyeret saya ke dalam kekacauan ini?" tanya Elara tajam, meski ia tetap mengikuti langkah cepat Darto menyusuri lorong.

Pak Darto menoleh sekilas, tatapannya tajam namun lelah. "Saya penjaga keseimbangan, Nona Senja, bukan pembunuh gila seperti dia. Arisandi melanggar perjanjian tanah ini. Dia mencoba menggabungkan teknologi pembersihan dengan ritual pembangkitan kuno. Hasilnya? Dia menjadi wadah bagi mereka yang lapar."

"Wadah? Maksud Bapak, dia kerasukan?" Elara mendesak, sambil terus waspada menengok ke belakang.

"Lebih buruk. Dia mengundang mereka masuk, tapi gagal mengendalikannya karena ledakan tadi merusak segel penahannya. Sekarang, dia adalah pintu gerbang berjalan. Jika dia naik ke lantai atas, RSU Cakra Buana akan menjadi kuburan massal sebelum matahari terbit."

Darto berhenti di depan sebuah dinding bata yang tampak biasa saja di ujung lorong buntu. Ia menempelkan telapak tangannya ke permukaan dinding yang lembap, menggumamkan sesuatu dalam bahasa Jawa Kuno yang tidak dimengerti Elara.

"Apa yang kita lakukan di sini? Jalan buntu?" protes Elara, kepanikan mulai merayap naik ke tenggorokannya saat mendengar suara logam pintu besi di belakang mereka akhirnya jebol dengan suara dentuman keras.

"Diam dan percayalah pada sejarah gedung ini," bentak Darto.

Batu bata di hadapan mereka bergeser perlahan, menampakkan sebuah lorong sempit yang gelap gulita. Bau tanah basah dan akar-akaran menyeruak keluar. Ini adalah jalur pelayan lama dari era kolonial yang sudah lama ditutup dan dilupakan dalam denah modern.

"Masuk. Jalur ini akan membawa kita ke instalasi pengolahan limbah di sisi utara. Dari sana, kita bisa naik ke permukaan," jelas Darto sambil mendorong bahu Elara pelan.

Mereka masuk ke dalam kegelapan tepat saat sosok Arisandi muncul di ujung koridor. Makhluk itu kini tampak mengerikan; tubuhnya membesar dua kali lipat, dikelilingi aura hitam pekat yang menyerap cahaya di sekitarnya. Matanya menyala merah, tanpa pupil, hanya ada kebencian yang murni.

"DARTO!" teriak makhluk itu, suaranya membuat dinding lorong bergetar.

Darto segera menarik tuas tersembunyi di balik dinding, dan pintu rahasia itu menutup kembali dengan cepat, meninggalkan kegelapan total yang hanya diterangi oleh ujung tongkat Darto dan senter ponsel Elara.

"Kita belum aman," bisik Darto, napasnya terdengar berat. "Jalur ini melewati tepat di bawah kamar mayat lama. Energinya... tidak stabil."

Elara menyalakan senter ponselnya, menyorot lorong sempit yang dindingnya terbuat dari tanah liat yang diperkuat balok kayu lapuk. Akar-akar pohon beringin tua menembus atap lorong, menggantung seperti tirai alami yang menyeramkan.

"Saya tidak peduli dengan hantu sekarang, Pak. Saya lebih takut pada monster di belakang kita," ujar Elara, mencoba menekan rasa takutnya.

"Kau seharusnya takut pada keduanya," gumam Darto sambil mulai berjalan tertatih-tatih. "Arisandi mungkin monster fisik, tapi di sini... di kedalaman ini, pikiranmu adalah musuh utamamu."

Mereka berjalan dalam diam selama beberapa menit, hanya ditemani suara langkah kaki mereka yang becek menginjak lumpur. Elara merasakan suhu udara turun drastis. Napasnya kini mengeluarkan uap putih, padahal mereka berada jauh di bawah tanah yang seharusnya pengap.

Tiba-tiba, Elara merasakan sesuatu menyentuh bahunya. Dingin dan basah. Ia tersentak dan menyorotkan senternya ke samping, namun tidak ada apa-apa selain dinding tanah yang basah.

"Jangan menoleh," peringatan Darto terdengar tegas dari depan. "Mereka suka perhatian. Abaikan saja."

"Pak, saya rasa kita tidak sendirian di sini," bisik Elara, tangannya meraba pistol taser yang masih terselip di pinggangnya, meski ia tahu senjata itu mungkin tidak berguna melawan apa pun yang ada di sini.

"Kita memang tidak pernah sendirian di Cakra Buana, Nona. Fokus pada jalan. Lihat, ada cahaya di depan."

Di ujung lorong, tampak cahaya remang-remang yang berasal dari jeruji besi di atas kepala. Itu adalah saluran ventilasi yang menuju ke ruang genset di lantai dasar. Namun, untuk mencapainya, mereka harus melewati genangan air hitam yang cukup luas yang menghalangi jalan.

Air itu tenang, terlalu tenang. Permukaannya seperti kaca hitam yang memantulkan cahaya senter mereka dengan distorsi yang aneh.

"Limbah medis bocor sampai ke sini," Darto menganalisis, menutup hidungnya dengan sapu tangan. "Hati-hati, cairannya mungkin korosif atau beracun."

Elara melangkah hati-hati, meniti pinggiran lorong yang sedikit lebih tinggi. Namun, saat ia berada di tengah-tengah genangan, air itu mulai beriak. Bukan karena tetesan dari atas, melainkan dari sesuatu yang bergerak di bawah permukaannya.

"Pak Darto..." panggil Elara dengan suara bergetar.

Sebelum Darto sempat menjawab, sebuah tangan pucat kurus menyembul dari dalam air hitam, mencengkeram pergelangan kaki Elara dengan kekuatan yang luar biasa. Elara menjerit, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembap ke dalam air yang berbau bahan kimia busuk itu.

Dingin yang menusuk tulang langsung menyergapnya. Rasanya seperti ribuan jarum es menusuk kulitnya. Ia berusaha menendang, tetapi cengkeraman itu semakin kuat, menariknya ke bawah, ke dalam kegelapan air yang tampaknya jauh lebih dalam dari yang terlihat.

"Pegang ini!" Darto mengulurkan tongkat kayu naganya.

Elara menggapai-gapai dengan panik, jari-jarinya yang licin nyaris tergelincir dari permukaan kayu yang kasar itu. Dengan sisa tenaga terakhir, ia berhasil mencengkeram ujung tongkat. Darto menariknya dengan sekuat tenaga, mengerang menahan sakit di punggung tuanya.

Sosok di dalam air itu tidak melepaskan cengkeramannya. Wajah mayat yang bengkak dan membiru perlahan muncul ke permukaan, matanya yang putih menatap kosong ke arah Elara. Mulutnya terbuka, mengeluarkan suara gemericik air yang terdengar seperti kata "Tolong..."

"Lepaskan dia, makhluk terkutuk!" Darto menghantamkan sebuah jimat logam ke air. Percikan cahaya biru meletup, membuat sosok itu menjerit tanpa suara dan melepaskan cengkeramannya.

Elara merangkak naik ke tanah kering, batuk-batuk memuntahkan air hitam yang sempat tertelan. Seluruh tubuhnya menggigil hebat, bukan hanya karena dingin, tapi karena sentuhan kematian yang baru saja ia rasakan.

"Cepat, naik ke tangga itu! Arisandi sudah dekat, aku bisa merasakan getarannya!" Darto menunjuk ke tangga besi berkarat yang menuju ke ventilasi di atas.

Dari arah mereka datang, suara dentuman keras terdengar lagi. Pintu rahasia yang mereka lewati tadi telah dihancurkan. Raungan Arisandi bergema di sepanjang lorong sempit itu, kali ini terdengar lebih dekat dan lebih lapar.

Elara memaksakan kakinya yang terasa berat untuk menaiki anak tangga. Di bawahnya, Darto menyusul dengan napas yang semakin berat. Mereka berlomba dengan waktu, berlomba dengan monster yang tercipta dari ambisi sains dan kegelapan mistis.

Saat Elara mendorong jeruji besi di atas dan merasakan udara malam yang segar menerpa wajahnya, ia sadar satu hal: mimpi buruk ini belum berakhir. Mereka hanya berpindah dari satu neraka ke neraka yang lain.

1
deepey
syukurlah satu pasak sudah tercabut
chitra
seru kak
deepey
ya ampun udah seminggu elara berjuang bertahan hidup... pasti fisik dan mentalnya udah lelah bgt
deepey
ayo elara cepat kabur, sebelum arisandi datang.
deepey
elara cepat cari jalan keluar💪
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!