Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Pelampiasan Emosi.
"Cepat temukan wanita itu! Kalau tidak, aku sendiri yang akan membunuhmu!" ancam Beni, dia langsung berbalik dan pergi dari tempat itu sembari mengumpat kesal atas apa yang sedang terjadi.
Melihat kepergian suaminya, Martha bergegas menghampiri Rangga. Dia mengusap darah yang ada di sudut bibir putranya dengan tatapan sendu.
"Kita harus segera menyelesaikan semuanya sebelum diketahui orang-orang, Rangga," ucap Martha.
Rangga berdecak, lalu tangannya menepis tangan Martha yang masih mengusap sudut bibirnya. "Aku akan fokus mencari Rania, jadi bilang pada papa untuk menemui Vidi dan gagalkan laporan yang dibuat Rania." katanya dengan tajam. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu tanpa menunggu jawaban dari sang mama.
Martha menghela napas kasar, kemudian kedua tangannya mengepal erat penuh kebencian mengingat apa yang Rania lakukan.
"Sari!" teriak Martha—memanggil salah satu pembantunya membuat wanita paruh baya itu berlari dengan tergopoh-gopoh.
"I-iya, Nyonya?" tanya Sari dengan napas tersengal-sengal akibat berlari untuk menghampiri sang majikan.
"Cepat bawa Dafa ke sini!" perintah Martha dengan tajam membuat Sari langsung menganggukkan kepala, wanita paruh baya itu segera naik ke lantai dua menuju kamar Dafa untuk membawanya turun.
Tidak berselang lama, Sari kembali sembari menggendong Dafa yang terlihat lemas karena menahan kantuk. Bocah kecil itu hampir saja terlelap, tetapi Sari datang dan langsung membawanya keluar kamar.
"Bawa dia ke sini!" perintah Martha kembali sambil menatap Dafa dengan tajam, dia sudah menunggu bocah itu seraya duduk di atas sofa.
SarSari mendekat, lalu menurunkan gendongan Dafa dan menyuruh bocah itu untuk berdiri di hadapan majikannya.
"Nenek?" Dafa menatap neneknya dengan bingung, dia mengucek kedua matanya yang terasa berat, bahkan beberapa kali menguap saat digendong oleh pembantu tadi.
Martha menatap Dafa dengan tajam, dia menggertakkan gigi saat kembali mengingat apa yang ibu dari cucunya itu lakukan membuatnya jadi ingin melampiaskan semua itu pada Dafa.
"Kau harus mencari mamamu, Dafa!" ucap Martha dengan penuh penekanan.
Dafa mengerjapkan mata. "Mama?" Kedua matanya langsung terbuka lebar. "Dapa mau sama mama." katanya dengan suara parau, hampir menangis.
Martha mendengus, lalu dia beranjak dari sofa dan menarik lengan Dafa dengan kuat hingga membuat Dafa meringis sakit.
"Makanya cari mamamu!" bentak Martha dengan tajam, tangannya menarik-narik lengan Dafa hingga bocah kecil itu menangis. "Taunya cuma nangis aja, beda sekali kau dari papamu! Dasar anak perempuan s*ialan! " tambahnya kesal, dia lalu mendorong tubuh Dafa hingga terjatuh ke sofa.
"Hiks, mama... Mama... " Dafa menangis dengan kuat sembari mencengkram lengannya yang memerah akibat tarikan sang nenek, sementara Martha tampak tidak peduli dan memilih untuk pergi keluar meninggalkan cucunya seorang diri.
Sari yang sejak tadi memperhatikan dari pintu dapur langsung berlari menghampiri Dafa saat melihat majikannya pergi, dengan cepat dia memeluk bocah itu sembari berusaha untuk menenangkannya.
"Jangan menangis lagi, Dafa," ucapnya sembari mengusap puncak kepala Dafa, merasa kasihan pada bocah menggemaskan itu.
Tangisan Dafa semakin menguat, dia terus menyebut mamanya dan ingin bersama dengan sang mama membuat Sari benar-benar merasa iba.
"Aku harus membawa Dafa pada nyonya Rania, tapi di mana sekarang nyonya Rania berada?" gumam Sari sembari menghela napas berat. Hanya dialah satu-satunya pembantu yang tidak ikut memegangi Rania saat terjadi keributan waktu itu. Bukan karena tidak mau menuruti perintah majikannya, tapi karna merasa kasihan dengan keadaan Rania. Dia tahu jika wanita itu adalah orang yang sangat baik, bahkan pernah membantunya saat dia sedang butuh banyak uang.
Sari lalu membawa Dafa kembali ke kamar, mencoba untuk kembali menidurkannya atau mengajaknya bermain agar tidak terus menangis.
Sementara itu, di tempat lain Rania yang sedang fokus pada ponsel tiba-tiba merasa dadanya sangat sesak. Dia meletakkan ponsel itu lalu menekan dadanya yang terasa berdenyut sakit.
"Ya Tuhan, kenapa dadaku sakit sekali?" ucapnya dengan suara tertahan. Lalu, tiba-tiba Rania teringat dengan Dafa. Sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan putranya itu, dia jadi merasa sangat khawatir dan juga cemas.
Rania memilih untuk menghubungi Andre, bertanya bagaimana kelanjutan proses kasusnya karena sudah tidak tahan lagi berjauhan dengan putranya.
"Halo, Andre," ucap Rania dengan pelan saat panggilannya sudah dijawab. Sebelumnya dia memanggil Andre dengan sebutan tuan, tetapi laki-laki itu menolak dan memaksanya untuk memanggil nama saja, begitu juga dengan Damian.
Hening.
Tidak ada sedikit pun balasan dari seberang telepon membuat Rania mengernyitkan kening, lalu kembali melihat ponselnya—memastikan jika panggilan itu benar-benar sudah tersambung.
"Halo, And-"
Gubrak!
Rania terlonjak kaget saat mendengar suara benturan yang cukup keras dari seberang telepon. "A-apa kau baik-baik saja, Andre?" tanyanya dengan panik, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada laki-laki itu?
"Ini aku," jawab seseorang di seberang telepon.
"A-andre?"
"Bukan!"
Rania tersentak. Dia benar-benar menelepon Andre, kok. Lalu kenapa yang menjawab bukan laki-laki itu? Apa terjadi sesuatu padanya?
"Aku Kenzo."
Rania kembali mengernyitkan kening. "Ke-kenzo?" katanya sedikit ragu. "Kenapa kau yang menjawabnya?" tanyanya heran.
"Kenapa kau meneleponnya?" tanya Kenzo tanpa menjawab pertanyaan Rania.
"Aku ingin bertanya tentang perkembangan kasus itu, aku sangat rindu sekali dengan Dafa," jawab Rania dengan jujur.
"Tunggu aku."
"H-hah? Tunggu ap-" Rania tidak dapat melanjutkan ucapannya karena panggilan itu tiba-tiba terputus. "Loh, kenapa mati?" Katanya kesal. "Apa memang sengaja dimatikan?" Dia segera mencari kontak Kenzo dan mengirim pesan beruntun tentang panggilannya yang terputus. "Tapi, kenapa dia menyuruhku untuk menunggunya?" Dia merasa bingung dan tidak mengerti.
Pada saat yang sama, Kenzo langsung bersiap-siap untuk menemui Rania setelah mematikan panggilan telepon wanita itu. Dia melirik tajam ke arah Andre yang berdiri tidak jauh darinya, sementara Andre tampak memalingkan wajah karena menghindari tatapannya.
"Cih!" Kenzo berdecih, merasa tidak suka karena Rania menghubungi Andre.
"Ya ampun, kenapa tuan muda malah marah padaku sih? Kan bukan salahku kalau nona Rania menelepon ke nomorku." Andre menggigit bibir, merasa kesal sekaligus takut.
Damian hampir saja tertawa saat melihat raut wajah Andre yang tampak sangat lucu dimatanya, dia lalu bergegas mendekati Kenzo yang sedang bersiap-siap.
"Bagaimana dengan mereka, Tuan?" tanya Damian seraya melirik ke arah beberapa orang lelaki yang tengah terkapar di atas lantai. Wajah mereka semua babak belur dengan darah berceceran di mana-mana.
Kenzo terdiam, tangannya sibuk melepas sarung tangan hitam yang sejak tadi dia pakai. "Biarkan saja, aku ingin membuat kejutan untuk pimpinan mereka." katanya datar. Dia lalu melempar sarung tangan hitam penuh darah itu pada Andre yang langsung ditangkap dengan gelagapan oleh laki-laki itu.
Damian mengangguk paham. "Baik, Tuan. Hati-hati di jalan." ucapnya seraya menundukkan kepala.
Kenzo melangkah pergi dari tempat itu, tempat di mana orang-orang yang kemarin mengikutinya dan Rania berada.
"Astaga, hampir aja aku tewas," seru Andre sembari menghela napas lega saat melihat Kenzo sudah pergi dari tempat itu.
Damian langsung tertawa, tentu saja hal itu langsung membuat Andre mengumpat kasar. "Cepat bereskan tempat ini, jangan sampai ada sedikit saja jejak tuan muda yang tertinggal."
"Cih!" Andre mendengus sebal, tetapi dengan cepat melaksakan perintah dari Damian.
Setelah selesai, Damian dan Andre beranjak pergi dari tempat itu meninggal beberapa orang lelaki yang tengah terkapar tidak berdaya di atas lantai.
"Julian pasti akan sangat murka saat melihat markasnya hancur."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda