Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Urus Dirga
Amira kemudian melangkah keluar dari rumah sakit. Dia berjalan ke arah selatan rumah sakit, melewati trotoar yang dipenuhi orang berlalu-lalang. Sekitar seratus meter dari gerbang utama, ada sebuah cafe yang langsung mencuri perhatian.
Cafe itu tampak seperti potongan kecil dari negeri dongeng. Lampu-lampu kecil bergelantungan seperti kunang-kunang, pintu kayunya melengkung, dan dindingnya dihiasi ornamen bunga kering serta rak-rak kecil berisi buku. Bahkan dari luar, tempat itu terlihat hangat dan tenang, kontras sekali dengan suasana rumah sakit.
Amira masuk. Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan. Di dalam, aroma kopi dan roti panggang menyambutnya. Musiknya lembut. Banyak sudut dengan dekorasi unik, kursi berbentuk jamur kecil, tanaman merambat di langit-langit, serta lukisan-lukisan bergaya fantasi.
Amira melangkah pelan, matanya menyapu ruangan. Lalu dia melihat sebuah tempat yang cocok.
Meja dekat jendela kaca. Posisinya agak ke sudut, cukup private. Di sana ada sofa dengan bentuk unik, seperti kursi panjang melengkung dengan sandaran empuk, seolah dibuat khusus untuk orang yang ingin duduk lama.
Amira duduk. Dia menaruh ponselnya di atas meja, menatap layar kosong beberapa detik.
***
Di sisi lain, setelah menelepon Amira, Celine keluar dari gedung kampus tempat dia mengajar menuju ke area parkir.
Begitu sampai di samping mobilnya, dia membuka pintu, masuk, lalu menutupnya dengan bunyi duk yang terdengar lebih keras dari biasanya.
Celine duduk beberapa detik tanpa menyalakan mesin. Tangannya menggenggam setir. Matanya menatap lurus ke depan. Lalu menyalakan mobil.
Celine melaju menuju cafe yang tadi dia sebutkan pada Amira. Sepanjang perjalanan, pikirannya melayang tak terkendali. Tentang pekerjaannya, tentang riset dengan Cambridge yang seperti tiket emas, tapi juga berarti dia harus mengorbankan banyak hal, termasuk waktu, energi, dan rumah tangganya.
Pikiran Celine kini kian rumit. Pertengkaran rasanya tidak pernah habis. Setiap hari selalu ada saja. Bagi Celine, Dirga terlalu menuntut, dan mengganggu kebebasannya. Padahal, masih banyak hal yang ingin dia capai.
Celine mengencangkan rahangnya. Selain itu, bagi Celine, Dirga juga sangat manja. Dirga seperti anak kecil yang butuh dipegang tangannya setiap menit, butuh ditemani, dan dilayani.
Padahal Celine bukan tipe perempuan yang hidupnya berputar di satu orang. Celine terbiasa berdiri sendiri.
Membangun karier, mengejar target, dan, Dirga tidak pernah benar-benar mengerti itu.
Celine menatap lampu merah di depan. Tangannya mengetuk setir pelan. Ponselnya tergeletak di kursi sebelah.
"Sayangnya, aku lebih tertarik dengan karir dibanding mengurus semua kebutuhan Dirga."
Celine menghembuskan napas panjang. Dia tidak benci Dirga, tidak juga sepenuhnya tidak ada perasaan. Namun, ambisi untuk dirinya sendiri lebih tinggi.
Mobil terus melaju. Cafe itu sudah terlihat dari kejauhan. Celine mengurangi kecepatan, dan saat dia memarkir mobilnya Celine menghela napas panjang sekali lagi.
Karena dia tahu, begitu Celine melangkah masuk, dia akan mengatakan sesuatu yang mungkin akan mengubah hidup banyak orang. Termasuk hidupnya sendiri.
Setelah menenangkan diri, Celine masuk ke dalam cafe itu dengan langkah tenang. Namun, siapa pun yang memperhatikan dengan jeli akan tahu di balik wajah datarnya, ada badai yang sedang dia tahan mati-matian.
Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan. Celine langsung menemukan Amira. Gadis itu duduk di sudut dekat jendela kaca, di sofa unik yang terlihat nyaman dan private. Amira menoleh begitu melihat Celine, lalu berdiri sedikit gugup.
“Bu Celine!”
Celine mengangkat tangan kecil, isyarat agar Amira tidak perlu terlalu formal. Celine duduk berhadapan dengannya, lalu melirik meja yang masih kosong.
“Kamu belum pesan?” tanya Celine.
Amira tersenyum kecil, senyum yang lembut tapi terlihat lelah.
“Aku nunggu Ibu,” jawabnya pelan.
Celine menatap Amira beberapa detik. Ada sesuatu di wajah Amira yang membuat Celine terdiam, campuran syukur, lega, tapi juga ketegangan yang tidak hilang sepenuhnya. Tanpa banyak bicara, Celine memanggil pelayan.
“Mas!" panggilnya singkat.
Pelayan datang dengan ramah. Celine membuka menu, lalu berkata tanpa ragu, seolah dia sudah tahu apa yang harus dipilih.
“Saya mau yang paling istimewa di sini.”
Pelayan tersenyum. “Signature platter kami, Bu? Sama minumnya?”
Celine mengangguk. “Iya, dua. Minumnya juga yang terbaik.”
Amira terkejut kecil. “Bu ... aku ....”
“Nurut aja, kamu pasti cape kan? Kamu butuh energi ekstra."
Amira langsung menutup mulutnya, hanya tersenyum. Celine menyandarkan punggung, lalu menatap Amira, dan memulai perbincangan ringan. Terutama, tentang keadaan Ibu Almira.
Beberapa saat kemudian, setelah makanan datang. Celine berkata, “Kamu makan dulu. Kamu kelihatan kayak belum makan dengan tenang dari kemarin. Makanan kamu pasti asal kan?"
Amira menunduk, lalu mengangguk kecil, dan melihat makanan yang ada di meja. Aromanya hangat dan menggoda. Celine mendorong piring itu sedikit ke arah Amira.
“Habiskan ya,” katanya. Amira menatap Celine sebentar, lalu mulai makan.
Awalnya pelan, ragu. Namun setelah suapan kedua, Amira seperti baru sadar betapa lapar tubuhnya. Dia makan lebih cepat, lebih lahap, tanpa banyak bicara.
Celine memperhatikannya diam-diam, dan di dalam kepalanya, satu pikiran muncul dengan jelas, cara menyampaikan keinginannya pada Amira.
Celine meraih gelasnya, meminum sedikit, lalu menatap keluar jendela. Dia membiarkan Amira makan dulu. Karena Celine tahu, percakapan setelah ini tidak akan ringan.
Amira menghabiskan suapan terakhir dengan pelan. Dia kemudian mengusap bibirnya dengan tisu, lalu menatap Celine dengan wajah canggung.
“Bu maaf, tadi aku lapar banget,” ucapnya lirih.
Celine hanya mengangguk kecil. “Nggak apa-apa.”
Beberapa detik hening. Lalu Amira menguatkan diri, menatap Celine dengan serius.
“Ibu tadi bilang mau bicara. Sebenarnya apa yang Ibu mau bicarakan? Apa mau nagih biaya rumah sakit?”
Celine menghela napas. Lalu berkata, "Bukan itu."
Dia menatap gelas minumnya, memutar-mutar sedotan pelan, seperti sedang mencari kalimat yang paling aman untuk diucapkan.
“Aku capek, Mir.”
Amira membeku. Celine melanjutkan, suaranya datar, tapi di dalamnya ada rasa getir yang tertahan.
“Aku punya banyak keinginan. Banyak mimpi. Banyak hal yang aku mau capai. Tapi, setiap kali aku melangkah, selalu ada yang narik aku balik.”
Amira menelan ludah. Celine menatap keluar jendela kaca, seolah sedang melihat hidupnya sendiri.
“Suamiku, Dirga. Dia nggak pernah benar-benar merestui pekerjaanku, dan apa yang aku lakukan. Aku tahu, dengan apa yang dia miliki, kehidupan financial kami ngga akan kekurangan, tapi aku juga punya keinginan yang ingin kuwujudkan.”
Amira diam. Dia mendengarkan, tanpa menyela.
“Dia bilang dia dukung aku. Tapi kenyataannya, setiap kali aku sibuk, dia marah. Setiap kali aku pulang telat, dia merasa aku ninggalin dia. Setiap kali aku fokus kerja, dia bilang aku nggak sayang, dan ngga mau mengerti dia.”
Amira menatap Celine dengan mata berkaca-kaca, seolah ikut merasakan sesaknya. Celine menghela napas lagi, lebih panjang.
“Sekarang aku dapat tawaran,” ucapnya.
Amira mencondongkan tubuh. “Tawaran apa, Bu?”
Celine menatapnya.
“Cambridge.”
Amira langsung terbelalak.
“Cambridge yang di Inggris itu?”
Celine mengangguk.
“Penelitian kolaborasi. Itu, hal yang aku idamkan dari dulu.”
Celine berhenti sebentar, lalu suaranya turun.
“Tapi kendalanya ya itu, Dirga.”
Amira terdiam. Dia memegang gelasnya dengan dua tangan, seolah takut gelas itu jatuh.
“Suami Ibu nggak ngizinin?” tanya Amira pelan.
Celine tersenyum miring.
“Aku belum bilang, tapi aku tahu, dia pasti ngga cuma nggak ngizinin. Dia bakal bikin hidupku kaya di neraka kalau aku ambil kesempatan itu.”
Amira menatap Celine lama. Lalu dia berkata dengan polos, jujur, tanpa ada maksud lain selain ingin membantu.
“Kalau begitu, apa yang bisa saya bantu, Bu?”
Celine tidak langsung menjawab. Amira buru-buru menambahkan, wajahnya sungguh-sungguh.
“Tapi saya cuma lulusan SMA. Saya nggak ngerti apa-apa soal Cambridge. Saya nggak bisa bantu Ibu di urusan akademik.”
Kalimat itu keluar begitu polos sampai Celine nyaris tertawa, karena yang dia butuhkan memang bukan bantuan akademik.
Celine meletakkan gelasnya pelan di meja.
“Mir,” panggilnya.
“Iya, Bu?”
Celine menatapnya tanpa berkedip.
“Aku butuh kamu untuk bantu aku urus Dirga.”
Amira membeku.
“A-apa? Urus?”
Celine mengangguk pelan.
“Aku butuh kamu jadi orang yang bisa nemenin dia.”
Amira menatap Celine, tidak paham.
Celine melanjutkan, kalimatnya semakin tegas, semakin tidak masuk akal.
“Kalau dia punya seseorang yang bisa mengerti kebutuhannya, dia nggak bakal ganggu kegiatanku lagi.”
Amira menelan ludah, di saat itulah, dia sadar, kebaikan Celine ternyata harus ditebus dengan sesuatu yang sangat tinggi. Bukan lagi tentang nominal, tapi juga harga diri, dan hidupnya.
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..