NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

BAB 26: Air yang Membasuh Jiwa )

Lapas Kelas IIA di sore hari selalu memiliki aroma yang khas: perpaduan antara tanah basah sisa hujan kiriman, aroma masakan dapur umum yang mulai tercium, dan bau keringat ratusan pria yang terkurung dalam beton. Namun, bagi Alek, sore itu memiliki daya tarik lain. Ia berdiri di selasar Blok B, bersandar pada pilar semen yang kasar, matanya tertuju pada area terbuka di dekat masjid kecil lapas.

Di sana, di bawah deretan keran air yang berjajar rendah, Syekh Mansyur sedang bersiap untuk menunaikan shalat Ashar.

Alek memperhatikan dengan intensitas yang tidak biasa. Baginya, air selama ini hanyalah sarana untuk menghilangkan dahaga atau membasuh luka pasca-tawuran. Ia ingat betul bagaimana dulu, setelah bentrokan hebat di jalanan Bandung Timur, ia akan mencuci kepalan tangannya yang bersimbah darah di wastafel toilet umum dengan terburu-buru. Air baginya adalah penghilang bukti, pembersih noda yang tidak ingin ia lihat.

Namun, apa yang dilakukan Syekh Mansyur sangat berbeda.

Syekh menyingsingkan lengan baju koko putihnya dengan perlahan, menyingkap lengan bawahnya yang kurus namun terlihat kokoh. Ia membuka keran air, membiarkan aliran bening itu jatuh ke telapak tangannya. Suara gemericik air yang menghantam lantai ubin terdengar begitu ritmis di telinga Alek.

Syekh mulai membasuh kedua telapak tangannya, menggosok sela-sela jarinya dengan saksama. Tidak ada ketergesaan. Gerakannya mengalir, seolah-olah setiap tetes air yang menyentuh kulitnya membawa sebuah pesan rahasia. Alek menelan ludah. Ia melihat Syekh berkumur, lalu membasuh hidungnya, dan kemudian—momen yang paling menarik perhatian Alek—Syekh mengambil air dengan kedua tangannya lalu membasuh seluruh wajahnya.

Alek terpaku. Saat air itu membasuh wajah Syekh Mansyur, Alek seolah melihat beban bertahun-tahun yang ada di kerutan wajah pria tua itu luruh seketika. Syekh memejamkan mata sejenak, membiarkan sisa air menetes dari janggut putihnya yang rapi. Ada kilatan ketenangan yang terpancar dari wajah yang baru saja dibasuh itu—sebuah kesegaran yang bukan berasal dari suhu air, melainkan dari sesuatu yang jauh di dalam batin.

Syekh melanjutkan ritual itu. Membasuh tangan hingga siku, mengusap sebagian kepalanya, membersihkan telinga, dan terakhir membasuh kedua kakinya hingga mata kaki. Setiap gerakan dilakukan dengan urutan yang sama, dengan ketelitian yang sama.

"Kenapa harus serumit itu?" bisik Alek pada dirinya sendiri.

Di gereja ayahnya, Pendeta Daniel, ada ritual baptis dengan air, tapi itu hanya dilakukan sekali sebagai simbol kelahiran kembali. Setelah itu, doa dilakukan kapan saja tanpa perlu membasuh diri terlebih dahulu. Ayahnya sering berkata bahwa Tuhan melihat hati, bukan tangan yang kotor. Tapi melihat Syekh Mansyur, Alek mulai merasa bahwa tangan yang kotor mungkin memang perlu dibasuh sebelum berani menyapa Sang Pemilik Semesta.

Alek menunduk, menatap tangannya sendiri. Tangan yang sudah mematahkan tulang orang lain. Tangan yang sudah mencengkeram kerah baju Bagas dengan penuh kebencian. Tangan yang secara tidak langsung telah menghentikan detak jantung seseorang. Ia merasa tangannya selalu terasa panas, seolah-olah sisa-sisa kemarahan masa lalunya masih menempel di sana seperti jelaga hitam yang tak kasat mata.

Ia merasa sangat kering. Bukan kering karena kurang minum, tapi kering jiwanya. Ia merasa berdebu, penuh dengan kotoran penyesalan yang menumpuk selama berbulan-bulan di dalam penjara.

Alek meraba saku celananya, menyentuh sudut buku catatan biru pemberian Khansa. Ia ingin menuliskan apa yang ia lihat, tapi ia merasa kata-kata belum cukup untuk menggambarkan rasa irinya terhadap kesegaran yang dimiliki Syekh.

Syekh Mansyur selesai berwudhu. Ia berdiri tegak, merapikan lengan bajunya, lalu melangkah menuju masjid dengan langkah yang ringan. Saat melewati selasar tempat Alek berdiri, Syekh sempat melirik ke arahnya. Pria tua itu tidak berkata apa-apa, hanya memberikan sebuah anggukan kecil yang sarat makna. Sorot matanya seolah tahu bahwa Alek sedang membedah setiap gerakannya dengan rasa ingin tahu yang besar.

Alek tetap berdiri di sana lama setelah Syekh menghilang di balik pintu masjid. Ia menatap deretan keran air yang kini sudah sepi. Keinginan itu muncul—keinginan untuk mendekat, memutar keran itu, dan merasakan dinginnya air di wajahnya sendiri. Namun, ia merasa belum pantas. Ia merasa air itu terlalu suci untuk menyentuh kulit seorang pendosa sepertinya.

Ia kembali ke selnya dengan perasaan gundah. Di dalam sel yang sempit, ia duduk di pojok, membuka buku biru itu dan mulai menggoreskan pensilnya.

"Khansa, hari ini aku melihat cara mereka bersiap menemui Tuhan. Mereka mencuci diri. Bukan cuma mandi, tapi seperti membasuh setiap bagian tubuh yang mungkin sudah melakukan kesalahan. Aku melihat Syekh membasuh wajahnya, dan dia terlihat seperti bayi yang baru lahir. Aku menatap tanganku, Khansa... dan aku bertanya-tanya, berapa galon air yang dibutuhkan untuk mencuci darah yang sudah kering di hatiku?"

Alek menutup bukunya dengan helaan napas berat. Ia menyadari satu hal: ia tidak hanya butuh kebebasan dari penjara beton ini. Ia butuh kebebasan dari rasa kotor yang membelenggu batinnya. Dan entah kenapa, air yang mengalir dari keran di depan masjid itu seolah-olah sedang memanggil namanya, menjanjikan sebuah kesegaran yang selama ini ia cari di jalanan namun tak pernah ia temukan

Suara azan ashar baru saja usai berkumandang dari pengeras suara masjid lapas yang sedikit sember, namun gema panggilannya masih menyisa di udara. Syekh Mansyur berjalan tenang kembali ke arah perpustakaan setelah menyelesaikan shalatnya. Ia menemukan Alek masih di sana, berdiri mematung di dekat jendela kecil yang menghadap ke arah deretan keran wudhu.

Alek tidak menyadari kedatangan Syekh sampai pria tua itu meletakkan sajadah kecilnya di atas meja kayu.

"Air itu tidak akan menyakitimu, Alexander," suara Syekh Mansyur memecah lamunan Alek.

Alek tersentak, bahunya sedikit menegang. Ia memutar tubuh, menatap Syekh dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa ingin tahu yang besar dan rasa minder yang mendalam. "Saya hanya... saya hanya merasa cara kalian memperlakukan air itu sangat aneh, Syekh. Seperti sedang memegang sesuatu yang sangat mahal."

Syekh Mansyur duduk, mempersilakan Alek untuk duduk di hadapannya. "Memang mahal. Air adalah saksi. Dia adalah unsur pertama yang diciptakan Tuhan untuk menyokong kehidupan. Tapi bagi kami, wudhu bukan sekadar mandi kecil."

"Lalu apa?" kejar Alek. "Kenapa harus membasuh wajah? Kenapa harus sampai ke siku? Kenapa urutannya tidak boleh tertukar?"

Syekh Mansyur tersenyum, jemarinya yang kurus mengusap janggut putihnya. "Bayangkan kau akan bertemu dengan seorang Raja yang paling besar. Apakah kau akan datang dengan bau keringat dan debu jalanan yang menempel di wajahmu? Tentu tidak. Kau akan bersolek, kau akan mencuci mukamu."

Alek mengangguk perlahan. "Ayah saya selalu bilang Tuhan melihat hati. Dia tidak peduli jika tangan kita kotor atau baju kita lusuh saat berdoa."

"Ayahmu benar, Tuhan memang melihat hati," sahut Syekh Mansyur bijak. "Tapi manusia adalah makhluk yang pelupa, Alexander. Hatimu sering kali mengikuti apa yang dilakukan fisikmu. Saat kau membasuh mulutmu, kau diingatkan untuk tidak lagi mengeluarkan kata-kata yang menyakiti orang lain. Saat kau membasuh wajahmu, kau membuang rasa sombong yang sering kali terpancar dari tatapan matamu. Dan saat kau membasuh tanganmu..."

Syekh Mansyur menggantung kalimatnya, menatap telapak tangan Alek yang besar dan kasar.

"...Kau sedang memohon agar tangan itu tidak lagi digunakan untuk kezaliman. Kau mencuci memori tentang dosa-dosa yang pernah dilakukan tangan itu. Wudhu adalah garis batas. Saat kau selesai membasuh kaki, kau dianggap sudah meninggalkan 'dunia' di belakangmu. Kau masuk ke dalam shalat sebagai manusia yang baru, yang bersih, yang siap menghadap Penciptanya tanpa beban kotoran lahiriah."

Kalimat itu menghantam Alek tepat di ulu hati. Mencuci memori tentang dosa.

"Bisakah air itu benar-benar melakukan itu, Syekh?" suara Alek mendadak serak. "Maksud saya... bisakah air itu mencuci noda yang sudah meresap sampai ke dalam tulang? Ada noda di tangan saya yang tidak bisa hilang meski saya menggosoknya dengan sabun paling keras sekalipun."

Syekh Mansyur menatap Alek dengan kedalaman kasih sayang yang luar biasa. Ia tahu Alek sedang bicara tentang nyawa Bagas. Ia tahu Alek sedang bicara tentang rasa bersalah yang membusuk di dalam dadanya.

"Air itu sendiri hanyalah benda mati, Alexander. Tapi niatmu saat menyentuh air itulah yang menjadi obatnya. Jika kau membasuh tanganmu dengan niat memohon ampunan, maka Tuhan-lah yang mencuci jiwamu. Air itu hanya perantara. Dia mendinginkan amarahmu, dia menenangkan kegelisahanmu. Pernahkah kau merasa begitu marah, lalu saat kau menyiram kepalamu dengan air, amarah itu sedikit mereda?"

Alek terdiam. Ia ingat berkali-kali ia melakukan itu setelah tawuran atau saat berselisih dengan ayahnya.

"Itu karena air memiliki sifat memadamkan api," lanjut Syekh. "Setan diciptakan dari api, dan amarah adalah percikan apinya. Maka air adalah penawarnya. Manusia yang berwudhu adalah manusia yang sedang memadamkan api egonya sendiri."

Alek menundukkan kepala. Ia melihat lantai perpustakaan yang berdebu. Di dalam pikirannya, ia membayangkan dirinya berdiri di depan keran itu. Ia membayangkan air dingin mengalir di wajahnya, membasuh rasa panas yang selalu membakar matanya setiap kali teringat Khansa atau ayahnya.

"Saya ingin merasakannya, Syekh," bisik Alek. "Bukan untuk shalat... saya belum bisa. Saya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi 'bersih' sejenak saja."

Syekh Mansyur mengangguk pelan, memberikan izin tanpa kata. "Cobalah nanti malam, saat semua orang sudah terlelap. Temuilah keran air itu sendirian. Bicara pada air itu, bicara pada Tuhanmu. Katakan bahwa kau ingin dibasuh."

Malam itu, Alek melakukan apa yang dikatakan Syekh. Saat jam menunjukkan pukul satu dini hari, ia menyelinap keluar dari selnya menuju kamar mandi blok yang sunyi. Suara tetesan air dari keran yang bocor terdengar seperti detak jantung yang menunggu.

Alek memutar keran. Air dingin mengucur deras. Ia ragu sejenak, lalu memberanikan diri menyentuhkan telapak tangannya. Dingin. Sangat dingin. Ia membasuh wajahnya sekali, dua kali, tiga kali. Ia membiarkan air itu masuk ke celah rambutnya, membasahi lehernya.

Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, Alek merasa napasnya sedikit lebih ringan. Ia tidak tahu doa apa yang harus diucapkan, ia tidak tahu mantra apa yang harus dirapal. Ia hanya berdiri di sana, di bawah lampu neon yang remang, dengan wajah yang basah kuyup.

Ia mengambil buku catatan biru dari balik bajunya—buku yang selalu ia jaga agar tidak basah. Dengan jari yang masih lembap, ia menulis di halaman baru:

"Khansa, malam ini aku belajar mencuci muka. Syekh bilang, air bisa memadamkan api amarah. Dan saat air ini menyentuh kulitku, aku merasa seolah-olah beban di pundakku sedikit hanyut terbawa aliran air ke lubang pembuangan. Aku belum suci, Khansa... jauh dari itu. Tapi setidaknya malam ini, aku tidak merasa sehaus biasanya."

Alek menutup keran itu. Ia kembali ke selnya dengan sisa-sisa air yang mengering di wajahnya. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak memimpikan Bagas. Ia memimpikan sebuah sungai yang jernih, dan di seberang sungai itu, ia melihat sosok Khansa yang sedang tersenyum, melambaikan tangan ke arahnya.

Jangan lupa like dan komen

1
Hana Agustina
saranny.. apapum kondisi like n komentar nya.. tlg teteo bwrkarua thor.. krn banyak sekali pelajaran dlm kisah ini, utk sy yg msh tertatih belajar utk perbaiki diri ini.. tetep semangat y thor.. cerita ini indah sekali
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!