apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepedulian cavin
Aroma sabun maskulin masih menguar tipis dari tubuh Cavin. Ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, mengenakan pakaian santai yang tampak kontras dengan gurat kecemasan di wajahnya.
Di dalam kamar dengan lampu tidur, yang mulai menyala kedua orang tuanya masih setia menanti Cavin dari kamar mandi.
Pandangan Cavin tertuju pada jam dinding. Detak jarumnya seolah mengejek kesunyian ruangan itu. "Dokter Tom belum datang, Ma?" tanyanya, mencoba memecah keheningan.
Mama Hera menghela napas, menatap putranya dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Bukan belum datang, Cavin. Dia sudah pulang. Kamu di dalam sana sedang apa sampai selama itu?"
Cavin tertegun. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia butuh waktu lama untuk mendinginkan gejolak di dadanya
bayangan tubuh polos Thalia yang tak sengaja ia lihat di balik uap air tadi masih menghantuinya seperti hantu yang manis sekaligus menyakitkan. "Perutku sedikit melilit, Ma," dustanya pelan.
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada Thalia?" tanya Papa Ru dengan suara berat yang menuntut kejujuran.
Cavin menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya sebelum mulai merangkai kata.
Ia menceritakan bagaimana permintaan sederhana untuk menyiapkan air hangat berubah menjadi petaka. Ia menceritakan detik-detik saat ia menerobos pintu kamar mandi yang terkunci, menemukan lantai yang tertutup busa licin akibat botol sabun yang tumpah—entah karena kecerobohan atau keputusasaan Thalia.
Hatinya mencelos saat menceritakan bagian di mana ia terpeleset, menabrak tubuh mungil istrinya hingga wanita itu terbentur keras.
"Bagaimana kata Dokter, Ma?" tanya Cavin, mencoba mengalihkan rasa bersalah yang menghimpit dada.
"Hampir saja terlambat. Sekarang, pergilah ke rumah Mbah Ipah. Sebelum malam benar-benar larut," perintah Mama Hera tegas.
Cavin mengernyit. "Untuk apa? Dokter kan sudah memberi obat."
"Kaki istrimu itu terkilir, Cavin! Obat hanya meredam nyeri, tapi urat yang bergeser butuh tangan Mbah Ipah untuk kembali ke tempatnya," bela Mama Hera.
Meski pernikahan ini dimulai dari kesalahpahaman dan formalitas untuk membungkam lisan dunia, ada secercah kelembutan yang tak biasa di mata Mama Hera malam ini.
Di tengah perdebatan kecil itu, sebuah lenguhan lirih membelah udara. Di atas ranjang, kelopak mata Thalia bergerak perlahan, seolah sedang berjuang melepaskan diri dari rantai mimpi buruk yang membelenggunya.
"Kak..." bisik Thalia, nyaris tak terdengar.
Mama Hera segera menghampiri, membelai kening menantunya dengan kasih sayang yang membuat Cavin terpaku.
Apakah ini akting untuk menjaga citra, ataukah nurani seorang ibu mulai bicara?
"Sayang, bagaimana perasaanmu? Apa ada yang masih sakit?" tanya Mama Hera lembut. Seraya menyala kan kembali lampu kamar agar lebih terang
"Pusing, Ma..." jawab Thalia sayu. Matanya yang jernih tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu yang redup.
"Cavin, ambilkan bubur di dapur. Tadi Mama sudah minta Bibi menyiapkannya. Thalia harus minum obat," perintah Mama Hera tanpa menoleh.
"Ma... Thalia tidak mau bubur," gumam wanita itu takut-takut,
Mama Hera tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang Cavin lihat diberikan pada Thalia. "Lalu mau apa? Nasi? Atau ada yang kamu inginkan? Kamu harus makan, Nak, agar obatnya tidak melukai lambungmu."
Cavin berdiri mematung di ambang pintu. Ia menatap Thalia—istri yang ia nikahi tanpa cinta, hanya demi menutup lubang gosip miring yang mengancam nama baik keluarga.
Namun, melihat Thalia yang rapuh di bawah selimut putih itu, ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya.
"Biarkan aku yang menjaganya, Ma. Mama dan Papa istirahatlah," ucap Cavin akhirnya, suaranya lebih lembut dari biasanya.
"Makan dulu, baru kamu jaga dia. Ingat, setelah dia makan, berikan obatnya. Dosisnya sudah tertulis di balik kemasan," pesan Papa Ru seraya menepuk bahu putranya, mengajak Mama Hera keluar untuk memberikan ruang bagi sepasang suami istri yang asing dalam kedekatan itu.
Kini, hanya ada Cavin dan Thalia. Di bawah naungan malam yang kian pekat, Cavin menyadari bahwa meski pernikahan ini hanyalah panggung sandiwara bagi dunia, luka yang dirasakan Thalia adalah nyata.
Dan malam ini, ia harus belajar menjadi penawar bagi luka yang ia ciptakan sendiri.