NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:130
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Dribble Maut di Bawah Terik Matahari

Hari Rabu. Pukul 14.00 siang.

Matahari sedang berada di puncak kekejamannya, memanggang aspal lapangan sekolah hingga uap panas terlihat menari-nari di udara. Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, tapi nasibku belum berakhir di sini.

"Ayo, Cal! Jangan lelet!" seru Zea yang sudah berjalan lima langkah di depan. Dia mengenakan topi putih, terlihat bersemangat untuk menyeretku ke sesi "latihan fisik" yang dia janjikan—atau lebih tepatnya, paksakan.

Aku berjalan gontai di belakangnya, menenteng tas dengan malas. "Panas, Ze. Apa nggak bisa besok aja?"

"Nggak ada alasan! Atlet harus tahan panas!" balasnya tanpa menoleh.

Kami berjalan menuju lapangan basket outdoor yang harus dilewati untuk menuju gerbang samping. Di sana, suara bola yang dipantulkan dan decit sepatu terdengar riuh.

Tiba-tiba, langkah Zea terhenti. Tiga orang siswa laki-laki bertubuh tinggi menghadang jalannya.

Itu Kevin. Kapten tim basket sekolah, idola para gadis (kecuali Zea), dan orang yang paling membenciku sejak aku dekat dengan Zea. Keringat membasahi jersey basketnya, otot lengannya menegang saat dia memegang bola berwarna oranye itu.

"Minggir, Vin. Kami mau lewat," ucap Zea dingin.

Kevin tidak minggir. Dia justru menyeringai, matanya melirik ke arahku yang berdiri di belakang Zea.

"Buru-buru banget, Ze. Mau ke mana sih sama si kutu buku ini?" tanya Kevin sinis, menekan kata 'kutu buku' dengan nada mengejek.

"Bukan urusanmu," balas Zea ketus, mencoba melangkah ke samping.

Kevin menggeser tubuhnya, kembali menghalangi. Teman-temannya di belakang tertawa kecil.

"Gue cuma mau ngajak lo nonton latihan, Ze. Daripada lo buang waktu sama cowok lemah kayak dia," Kevin menunjukku dengan dagunya. "Liat tuh. Kena matahari dikit aja kayak mau pingsan. Pengecut. Apa yang lo harepin dari cowok modelan begini?"

Aku hanya menatap Kevin datar. Hinaan seperti "lemah" atau "pengecut" sudah sering kudengar dari Papa dulu saat aku gagal melakukan 100 push-up dalam satu menit. Bagi telingaku, omongan Kevin hanya selevel suara nyamuk. Tidak menyakitkan, cuma berisik.

Aku menghela napas, berniat mengabaikannya. "Ayo lewat jalan lain aja, Ze."

Aku berbalik badan. Tapi kalimat Kevin selanjutnya menghentikan langkahku.

"Cih. Dasar cewek murahan," gumam Kevin cukup keras. "Lo nempel sama dia cuma karena dia pinter presentasi kemarin, kan? Segitunya lo butuh nilai bagus sampe rela ngejar-ngejar sampah kayak dia? Jatuh banget selera lo, Ze."

Hening.

Suasana lapangan basket yang tadinya riuh mendadak senyap. Siswa-siswa lain yang sedang istirahat menoleh.

Darahku mendesir. Bukan karena aku dihina sampah. Tapi karena Zea dihina murahan.

Zea membeku. Bahunya bergetar hebat. Wajahnya memerah padam menahan amarah yang meledak.

"Tarik ucapan lo, Brengsek!" teriak Zea.

Dia maju dengan tangan kanan melayang, siap menampar wajah Kevin sekeras-kerasnya. Kevin tidak menghindar, justru tersenyum remeh, siap menangkap tangan Zea dan mempermalukannya lebih jauh.

Grep.

Sebuah tangan menahan pergelangan tangan Zea di udara, hanya beberapa senti dari pipi Kevin.

Itu tanganku.

"Cukup, Ze," suaraku terdengar rendah, tenang, namun menusuk.

Zea menoleh padaku dengan mata berkaca-kaca karena marah. "Lepasin, Cal! Dia udah kelewatan! Dia ngatain aku—"

"Aku dengar," potongku lembut. Aku menurunkan tangannya perlahan. "Jangan kotori tanganmu buat nampar dia. Nggak sepadan."

Kevin tertawa keras, tawa yang menyebalkan. "Hahaha! Liat tuh! Akhirnya sang pangeran kesiangan mau ngelindungin tuan putrinya. Kenapa? Lo takut cewek lo kalah tenaga lawan gue?"

Aku melepaskan tangan Zea, lalu melangkah maju satu langkah. Kini aku berhadapan langsung dengan Kevin. Tingginya 170 cm, sedikit lebih tinggi dariku. Tapi aku tidak mendongak. Aku menatap lurus ke matanya.

"Baik," kataku datar. "Ayo kita bertanding basket."

Mata Kevin membelalak kaget, lalu berubah menjadi geli. "Hah? Lo? Nantangin gue? Kapten basket?"

"Satu lawan satu," lanjutku, mengabaikan tawanya. "30 menit. Siapa yang paling banyak masukin bola ke ring, dia yang menang. Aturannya bebas."

Sorak-sorai mulai terdengar dari pinggir lapangan. Siswa-siswa mulai berkumpul, mencium aroma pertarungan.

"Ini pertama kalinya aku tampil publik seperti ini," batinku. "Tapi... demi harga diri Zea, ini sepadan."

Kevin melemparkan bola basket di tangannya dengan keras ke dadaku. Aku menangkapnya dengan satu tangan. Buk. Suara tangkapan itu terdengar solid.

"Oke. Gue terima tantangan lo, Loser," Kevin menyeringai sadis. "Karena bola di tangan lo, lo mulai duluan. Awas jangan sampe nangis kalau—"

Aku tidak menunggu dia selesai bicara.

BAM!

Aku memantulkan bola sekali ke aspal dengan keras, lalu tubuhku melesat ke depan seperti peluru.

Kevin yang belum siap kuda-kuda pertahanan terkejut. Dia mencoba menggapai, tapi aku sudah melakukan crossover rendah—memindah bola dari tangan kanan ke kiri dengan kecepatan kilat—melewati sisi tubuhnya.

Dia terlambat bereaksi.

Aku melompat ringan, melakukan layup sederhana. Bola masuk mulus ke dalam ring.

Satu poin.

Hening sejenak, lalu... gemuruh sorakan siswa meledak. Zea menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak tak percaya.

"Satu sama nol," ucapku tenang, memungut bola dan melemparkannya ke Kevin. "Sekarang giliranmu menyerang."

Wajah Kevin memerah karena malu. Egonya terusik parah. "Hoki doang lo!"

Pertandingan 30 menit itu pun dimulai. Dan itu menjadi 30 menit terpanjang dalam hidup Kevin.

Kevin mencoba mendribble bola, menggunakan tubuh besarnya untuk melakukan post-up (mendorong mundur). Dia pikir aku akan kalah tenaga. Salah besar.

Saat dia mencoba mendorongku dengan punggungnya, aku menahan posisiku dengan kuda-kuda rendah. Kakiku mencengkram aspal seperti akar pohon tua. Dia tidak bisa menggeserku satu inci pun.

"Kenapa... berat banget..." desis Kevin bingung.

Saat dia lengah sedikit karena frustrasi, tanganku bergerak secepat kilat. Slap! Aku menepis bola dari tangannya saat pantulan naik.

Steal bersih.

Aku membawa bola itu lari ke luar garis three point, berbalik badan, dan langsung menembak tanpa ancang-ancang lama.

Swish. Masuk.

"Dua sama nol," hitungku.

Menit ke-10. Kevin mulai ngos-ngosan. Napasnya memburu. Keringat bercucuran deras. Sementara aku? Napasku masih teratur. Ritme jantungku masih di bawah ambang batas lelah. Latihan fisik gila-gilaan Papa membuat stamina Kevin terlihat seperti stamina anak TK bagiku.

Kevin mencoba segala cara. Dia bermain kasar, menyikut, mendorong. Tapi tubuhku terlatih menerima benturan karate. Saat dia menabrakku, justru dia yang terpental mundur karena keseimbanganku yang sempurna.

Menit ke-20. Skor 8 - 2.

Aku melakukan gerakan yang membuat penonton histeris. Kevin menjagaku ketat di depan. Aku memantulkan bola di antara kedua kakinya (nutmeg), lalu berputar melewati badannya, menangkap bola itu lagi di belakang punggungnya, dan melompat untuk shoot.

Gerakan itu begitu cepat, begitu halus, seolah bola itu adalah bagian dari tubuhku.

"Gila! Itu Callen?!" "Anjir, ankle breaker!" "Dia atlet mana woy?!"

Zea di pinggir lapangan sudah tidak bisa berkata-kata. Dia meremas ujung bajunya, matanya tidak berkedip menatap sosokku yang bergerak lincah di lapangan. Sosok Callen yang "lemah" lenyap, digantikan oleh predator yang bermain-main dengan mangsanya.

Menit ke-29.

Kevin sudah tidak sanggup lari. Dia bertumpu pada lututnya, napasnya habis.

"Bangun," kataku datar, mendribble bola di depannya. "Masih ada satu menit."

Kevin menatapku dengan tatapan ngeri. "Lo... lo monster apa..."

Aku tidak menjawab. Aku melangkah mundur ke garis tiga angka. Membidik santai, lalu melepaskan tembakan terakhir tepat saat timer di jam tangan Kevin berbunyi.

Bola melambung tinggi, membentuk kurva parabola yang indah di bawah sinar matahari sore, lalu mendarat mulus membelah jaring.

Swish.

Skor Akhir: 11 - 4.

Aku berdiri tegak di tengah lapangan. Keringat membasahi pelipisku, membuat beberapa helai rambut menempel di dahi, tapi aku tidak terengah-engah. Kacamataku sedikit melorot, jadi aku mendorongnya naik dengan satu jari—sebuah gestur penutup yang entah kenapa membuat beberapa siswi di pinggir lapangan menjerit histeris.

Aku berjalan mendekati Kevin yang masih mengatur napas.

"Pertandingan selesai," ucapku dingin.

Aku menoleh ke arah Zea yang masih mematung. Aku berjalan menghampirinya, mengabaikan tatapan kagum dan takut dari siswa lain.

"Ayo pulang, Ze," ajakku, meraih tas yang tadi kuletakkan di bangku. "Panas. Aku butuh mandi."

Zea menatapku, lalu menatap Kevin yang kalah telak, lalu kembali menatapku. Perlahan, senyum bangga merekah di wajahnya.

Dia tidak berkata apa-apa, tapi dia langsung menggandeng lenganku erat-erat, berjalan di sampingku dengan dagu terangkat tinggi seolah ingin memamerkan pada dunia: 'Liat? Ini cowok yang kalian hina tadi.'

Sore itu, satu lagi reputasi palsuku runtuh. Dan di mata Zea, sosok "Jenius Rendahan" itu kini terlihat semakin tinggi tak tergapai.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!