“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Setelah pamit kepada Yuda, Anggun mengajak Ning naik ke mobilnya. Mereka melaju menuju arah bukit yang terletak di pinggiran kota, tempat udara jauh lebih segar dan pemandangan hamparan kota bisa terlihat dengan jelas dari atas. Di sudut paling ujung bukit, ada sebuah gazebo kecil yang tertutup dan teduh di bawah pepohonan rindang.
“Sini, kita duduk di sini aja ya, Ning,” ucap Anggun sambil membuka pintu mobil untuk membantu Ning turun dengan hati-hati. Setelah mereka duduk nyaman di kursi kayu gazebo, Anggun menoleh ke arah Ning dengan wajah penuh perhatian.
"Kok kamu pulang cepet tadi?"
"Iya, kata Bu Rumi enggak banyak kerjaan. Jadi Ning disuruh pulang."
"Oohh, gitu..." Anggun manggut-manggut. "Ma... Ibu tuh... Bosan di rumah, berasa enggak ada temannya. Makanya mau ke tempat Rumi, eh, malah lihat kamu lagi keluar. Ya udah, sama kamu aja."
Ning hanya tersenyum. "Anak Ibu kerja semua ya?"
Raut wajah Anggun sedikit berubah. "Enggak juga..." wajah itu berubah sedikit sendu. "O iya... Ini... Kakimu... Apa udah permanen? Maksud ibu, apa udah enggak bisa diobati lagi?"
Ning mengangguk perlahan, ekspresinya tetap tenang tanpa rasa tersinggung. “Kami tidak punya uang untuk perawatan yang cukup baik waktu itu, Bu,” jelas Ning dengan nada pasrah namun tidak penuh dendam. “Lagi pula, ibu bilang, kaki itu sudah tidak bisa diobati lagi bahkan kalau mau cari dokter.”
"Astaga..."
Anggun merasa rasa panas membara di dalam dadanya.
"Jadi, dari pada buang-buang uang buat berobat yang pasti enggak sembuh, lebih baik uangnya buat hal yang lain saja."
"Astaga! Ibumu bilang begitu?" Anggun kaget, ada orang tua yang seperti itu.
Ning hanya tersenyum kecil.
"Tega sekali," gumam Anggun.
"Kalau ayah kamu masih ada kan?" tanyanya lagi.
"Ada."
"Ayahmu enggak nglakuin apa-apa?"
"Ummm, ayah sih, ingin Ning dicek dan dirawat lebih lanjut di rumah sakit, tapi ibu enggak setuju."
"Kenapa ibumu kayak gitu?"
Ning tersenyum lagi, lalu melihat jauh ke arah pemandangan kota di bawah sana. "Sebenarnya, ibu bukan ibu kandungku."
"Astaga..."
"Ayah... Menerima ibu dan Ning waktu. Makanya Ibu Sumi marah. Ning bisa paham."
"Ohh, ya Tuhan... Serumit itu rumah mu. Terus, sebelum kamu nikah sama Yu... Sama suamimu sekarang, kamu... Gimana kesehariannya?"
"Biasa aja, Bu. Masak, nyuci, berberes," jawab Ning santai seolah itu hal yang biasa.
"Oh, ya Tuhan..." Anggun tiba-tiba saja jadi dongkol banget. "Keterlaluan!" gumamnya dengan tangan terkepal.
Ning memang bukanlah anak kandung bu Sumi, tapi dia diperlakukan seperti orang yang tidak berhak mendapatkan apa-apa.
"Kamu ngerjain itu sama ibumu juga kan?"
Ning menggeleng, "Ibu sama Mbak Dewi keluar kamar kalau udah beres semua. Paling Ayah yang kadang bantu Ning."
“Kenapa kamu mau saja melakukan itu sendiri? Kamu punya hak untuk berdiri sendiri!” tegas Anggun.
Ning menghela napas perlahan. “Ayah adalah satu-satunya keluarga yang aku punya sekarang, Bu. Ibuku sudah meninggal saat Ning baru lahir. Ayah yang bawa Ning ke rumah. Ibu... Sampai marah besar. Ning paham perasaan ibu. Karena itu, Ning memilih menebus semua salah di masa lalu.” Ia menghentakkan bibir sebentar, seolah tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang ibunya. “Ning merasa ada hutang budi yang harus Ning bayarkan padanya. Ning kan anak dari orang yang membuat dia terluka.”
Anggun merasa hati nya terjepit melihat ketenangan Ning yang luar biasa. Ia ingin berkata banyak hal, tapi memilih untuk menjentikkan jari-jari nya perlahan sebelum mengambil tangan Ning yang berada di pangkuan. “Kamu terlalu baik, Ning. Sekarang kamu sudah punya keluarga sendiri dengan suamimu. Ibu akan pastikan kamu tidak perlu lagi merasa seperti itu.”
Mereka kemudian beralih membicarakan hal lain—cerita Anggun tentang masa mudanya yang juga pernah merasakan kesulitan, hingga cerita kecil tentang kota yang kini semakin berkembang. Anggun menunjukkan pemandangan hamparan rumah-rumah dari atas bukit, sambil menceritakan bagaimana tempat ini dulu hanya ladang kosong yang sering dia kunjungi bersama suaminya.
Sementara itu, Yuda sudah kembali ke kantor pusat perusahaan keluarga. Ia memasuki ruang kerjanya dengan langkah cepat, masih mengenakan kaos polos dan jaket hijau yang belum sempat dilepas. Bastian mengikutinya dari belakang.
“Gimana tasi? Masih aman kan?” tanya Bastian saat Yuda mulai membuka berbagai berkas di mejanya.
“Aman, Bas,” jawab Yuda dengan suara tegas. Ia menarik kursinya dan duduk, lalu mengambil telepon genggamnya. “Cari tahu dokter dan terapis terbaik untuk masalah tulang dan kaki. Kita harus lakukan sesuatu untuk kaki Ning dulu. Setidaknya, kita tau kaki itu bisa disembuhkan atau tidak.”
Bastian mengangguk, "Kurasa bisa. Kejadian itu baru dua tahunan kan? Ning masih muda, jika ditreatmen dengan benar, dapat terapi, dan mungkin juga operasi. Bisa sembuh."
"Tapi ada satu masalah, Ning pasti akan curiga kalau tiba-tiba kamu ajak dia ke dokter mahal, perawatan dan lainnya."
Yuda menghela napas panjang, wajahnya terpaku pada foto Ning yang diam-diam diambil saat Ning tidur. “Betul sekali. Dia pasti akan berpikir darimana aku dapat uang untuk biaya perawatan yang mahal. Tapi, kalau kondisi begini, aku nggak ingin dia merasa terbebani.”
Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela, melihat gedung-gedung tinggi di luar sana. “Kita harus berpikir cara yang cerdas. Mungkin bisa bilang kalau ada program bantuan kesehatan dari komunitas ojek online? Atau mencari dokter yang bersedia bekerja sama dengan biaya yang bisa kita sesuaikan agar terlihat wajar.”
Bastian mencatat setiap kata yang keluar dari mulut Yuda. “Baik, aku akan segera menghubungi semua kontak yang ada. Terus, sampai kapan kalian akan tinggal di kontrakan?”
Yuda menggeleng perlahan. "Entahlah."
"Kamu enggak akan merahasiakan ini selamanya, kan?"
"Enggaklah. Aku akan atur waktu yang tepat."