NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:205.2k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Setelah pamit kepada Yuda, Anggun mengajak Ning naik ke mobilnya. Mereka melaju menuju arah bukit yang terletak di pinggiran kota, tempat udara jauh lebih segar dan pemandangan hamparan kota bisa terlihat dengan jelas dari atas. Di sudut paling ujung bukit, ada sebuah gazebo kecil yang tertutup dan teduh di bawah pepohonan rindang.

“Sini, kita duduk di sini aja ya, Ning,” ucap Anggun sambil membuka pintu mobil untuk membantu Ning turun dengan hati-hati. Setelah mereka duduk nyaman di kursi kayu gazebo, Anggun menoleh ke arah Ning dengan wajah penuh perhatian.

"Kok kamu pulang cepet tadi?"

"Iya, kata Bu Rumi enggak banyak kerjaan. Jadi Ning disuruh pulang."

"Oohh, gitu..." Anggun manggut-manggut. "Ma... Ibu tuh... Bosan di rumah, berasa enggak ada temannya. Makanya mau ke tempat Rumi, eh, malah lihat kamu lagi keluar. Ya udah, sama kamu aja."

Ning hanya tersenyum. "Anak Ibu kerja semua ya?"

Raut wajah Anggun sedikit berubah. "Enggak juga..." wajah itu berubah sedikit sendu. "O iya... Ini... Kakimu... Apa udah permanen? Maksud ibu, apa udah enggak bisa diobati lagi?"

Ning mengangguk perlahan, ekspresinya tetap tenang tanpa rasa tersinggung. “Kami tidak punya uang untuk perawatan yang cukup baik waktu itu, Bu,” jelas Ning dengan nada pasrah namun tidak penuh dendam. “Lagi pula, ibu bilang, kaki itu sudah tidak bisa diobati lagi bahkan kalau mau cari dokter.”

"Astaga..."

Anggun merasa rasa panas membara di dalam dadanya.

"Jadi, dari pada buang-buang uang buat berobat yang pasti enggak sembuh, lebih baik uangnya buat hal yang lain saja."

"Astaga! Ibumu bilang begitu?" Anggun kaget, ada orang tua yang seperti itu.

Ning hanya tersenyum kecil.

"Tega sekali," gumam Anggun.

"Kalau ayah kamu masih ada kan?" tanyanya lagi.

"Ada."

"Ayahmu enggak nglakuin apa-apa?"

"Ummm, ayah sih, ingin Ning dicek dan dirawat lebih lanjut di rumah sakit, tapi ibu enggak setuju."

"Kenapa ibumu kayak gitu?"

Ning tersenyum lagi, lalu melihat jauh ke arah pemandangan kota di bawah sana. "Sebenarnya, ibu bukan ibu kandungku."

"Astaga..."

"Ayah... Menerima ibu dan Ning waktu. Makanya Ibu Sumi marah. Ning bisa paham."

"Ohh, ya Tuhan... Serumit itu rumah mu. Terus, sebelum kamu nikah sama Yu... Sama suamimu sekarang, kamu... Gimana kesehariannya?"

"Biasa aja, Bu. Masak, nyuci, berberes," jawab Ning santai seolah itu hal yang biasa.

"Oh, ya Tuhan..." Anggun tiba-tiba saja jadi dongkol banget. "Keterlaluan!" gumamnya dengan tangan terkepal.

Ning memang bukanlah anak kandung bu Sumi, tapi dia diperlakukan seperti orang yang tidak berhak mendapatkan apa-apa.

"Kamu ngerjain itu sama ibumu juga kan?"

Ning menggeleng, "Ibu sama Mbak Dewi keluar kamar kalau udah beres semua. Paling Ayah yang kadang bantu Ning."

“Kenapa kamu mau saja melakukan itu sendiri? Kamu punya hak untuk berdiri sendiri!” tegas Anggun.

Ning menghela napas perlahan. “Ayah adalah satu-satunya keluarga yang aku punya sekarang, Bu. Ibuku sudah meninggal saat Ning baru lahir. Ayah yang bawa Ning ke rumah. Ibu... Sampai marah besar. Ning paham perasaan ibu. Karena itu, Ning memilih menebus semua salah di masa lalu.” Ia menghentakkan bibir sebentar, seolah tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang ibunya. “Ning merasa ada hutang budi yang harus Ning bayarkan padanya. Ning kan anak dari orang yang membuat dia terluka.”

Anggun merasa hati nya terjepit melihat ketenangan Ning yang luar biasa. Ia ingin berkata banyak hal, tapi memilih untuk menjentikkan jari-jari nya perlahan sebelum mengambil tangan Ning yang berada di pangkuan. “Kamu terlalu baik, Ning. Sekarang kamu sudah punya keluarga sendiri dengan suamimu. Ibu akan pastikan kamu tidak perlu lagi merasa seperti itu.”

Mereka kemudian beralih membicarakan hal lain—cerita Anggun tentang masa mudanya yang juga pernah merasakan kesulitan, hingga cerita kecil tentang kota yang kini semakin berkembang. Anggun menunjukkan pemandangan hamparan rumah-rumah dari atas bukit, sambil menceritakan bagaimana tempat ini dulu hanya ladang kosong yang sering dia kunjungi bersama suaminya.

Sementara itu, Yuda sudah kembali ke kantor pusat perusahaan keluarga. Ia memasuki ruang kerjanya dengan langkah cepat, masih mengenakan kaos polos dan jaket hijau yang belum sempat dilepas. Bastian mengikutinya dari belakang.

“Gimana tasi? Masih aman kan?” tanya Bastian saat Yuda mulai membuka berbagai berkas di mejanya.

“Aman, Bas,” jawab Yuda dengan suara tegas. Ia menarik kursinya dan duduk, lalu mengambil telepon genggamnya. “Cari tahu dokter dan terapis terbaik untuk masalah tulang dan kaki. Kita harus lakukan sesuatu untuk kaki Ning dulu. Setidaknya, kita tau kaki itu bisa disembuhkan atau tidak.”

Bastian mengangguk, "Kurasa bisa. Kejadian itu baru dua tahunan kan? Ning masih muda, jika ditreatmen dengan benar, dapat terapi, dan mungkin juga operasi. Bisa sembuh."

"Tapi ada satu masalah, Ning pasti akan curiga kalau tiba-tiba kamu ajak dia ke dokter mahal, perawatan dan lainnya."

Yuda menghela napas panjang, wajahnya terpaku pada foto Ning yang diam-diam diambil saat Ning tidur. “Betul sekali. Dia pasti akan berpikir darimana aku dapat uang untuk biaya perawatan yang mahal. Tapi, kalau kondisi begini, aku nggak ingin dia merasa terbebani.”

Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela, melihat gedung-gedung tinggi di luar sana. “Kita harus berpikir cara yang cerdas. Mungkin bisa bilang kalau ada program bantuan kesehatan dari komunitas ojek online? Atau mencari dokter yang bersedia bekerja sama dengan biaya yang bisa kita sesuaikan agar terlihat wajar.”

Bastian mencatat setiap kata yang keluar dari mulut Yuda. “Baik, aku akan segera menghubungi semua kontak yang ada. Terus, sampai kapan kalian akan tinggal di kontrakan?”

Yuda menggeleng perlahan. "Entahlah."

"Kamu enggak akan merahasiakan ini selamanya, kan?"

"Enggaklah. Aku akan atur waktu yang tepat."

1
bibuk Hannan & Afnan
hayuh loh, kalian semuanya knp tdk jujur sedari awal saat Ranu sadar siuman dr koma mengenalkan Ning sebagai anggota keluarga baru status nya istri Yudha biar tdk ada kesalah pahaman
Agunk Setyawan
Ning dimanfaatin Bu anggun orangvtua egois Yuda juga aneh knp g jujur
sutiasih kasih
knapa g jujur aj bu anggun... demi kbaikan smua org....
krn klo diam & mnyembunyikan fakta.... yg ada semakin mnmbah masalah...🙄🙄
Ariany Sudjana
muak lama-lama dengan keluarga Yuda, apalagi Bu anggun, uang ada, tapi menyodorkan Ning untuk menemani Ranu terapi, dan ga mau jujur kaalu Ning itu istrinya Yuda
Sapna Anah
kenapa ga jujur aja sebelum terlambat makin d tutupi justru makinmenyskitkan bagi Ranu dan ning
muthia
bu Anggun egois, kasian ning😭
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
smakin ngeselin in novel, banyak ahli terapys knp nyusahin ning, udh gt si anggun jg gak bil kl ning istri yuda, bodohnya lg ning juga gak bilang kl sdh nikah, ah
Bunda Juna
ibunya goblok greget bnget knpa gak jujur dari awal .....
Sri Rahayu
knp sih ngga terus terang ma Ranu...kl Ning itu istri nya Yuda...ya resiko lah apa yg akan Ranu rasakan, drpd.bohong trs nanti terlalu dlm perasaan Ranu pd Ning... lanjut Thorr😘😘😘
mama
bu anggun soplak.. greget bgt.. tak skip aja lah nunggu semuanya kebongkar aj baru tau rasa.. buat ning ny pergi jauh thor setelah tau semuanya.. biar Yuda sama anggun kalang kabut nyari🤣.. enk aj ning mau di manfaatin cuma buat kesembuhan ranu.. gk mikir ati ny ning blas km yud sm bu anggun😭
Arin
Mending jujur sekarang sebelum terlalu jauh. Daripada nunggu nanti-nanti Bu Anggun
Arieee
sembunyikan terus biar anak u saling benci😡😡😡😡😡😡
Nurmaulida Zahra
satu kata egois untuk keluarga yuda
Sri rahayu
demi anaknya hidup dia menghancurkan anaknya yg lain .sungguh kejam Bu anggun .seharusnya setelah Ranu bangun jujur sebenarnya Ning udah menikah dengan Yuda .jadi Ranu tidak mengharap Ning terlalu dalam
Sri rahayu
kasihan Ning tidak tau sekenario orang tua Yuda dan Yuda sendiri .dia seperti pion yg diumpankan kepada Ranu supaya Ranu mau berusaha tetap hidup dan berjalan seperti sedia kala .mungkin nanti Ning di suruh menikah dengan Ranu .dan Ning tidak tau sekenario yg mereka ciptakan
sutiasih kasih
mna ktegasanmu dbg suami yud....
jgnlah krna ibumu km tega mmbuat ning dlm posisi sulit... pdhl km pun jga merasakn ancaman dlm rmh tanghamu...
boleh bakti trhdp org tua yud.... tpi mnolak hal yg akn mmbuat rmh tanggamu hncur jga suatu keharusan yuda........
krna prmintaan ibumu itu konyol... & mrmaksakn khendaknya...🙄🙄
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Arieee
demi anak yang sakit anak yang sehat ditekan sampai sakit hati🤧🤧🤧🤧
Ariany Sudjana
Yuda bodoh, ga mau bicara sama Ning, apa yang dirasakan. Ning juga bodoh, suami pulang kerja, kok tetap urus Ranu, suaminya dulu yang diprioritaskan. Bu anggun juga bodoh, kan orang kaya, kenapa Ning yang disuruh jadi terapisnya Ranu? ini yang akan menghancurkan rumah tangga Yuda dan Ning
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!