Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Roti itu telah habis tertelan. Tanpa sisa. Meninggalkan bekas cokelat dari selai di sudut bibir. Jeffrey menjilatnya dengan puas, tanpa rasa bersalah. Wajahnya terlihat bahagia, dengan senyum indah yang menghiasi.
Sementara Lily hanya bisa diam. Tanpa perlawanan. Kejadian tadi terjadi begitu cepat. Bahkan ketika ia sadar, roti itu sudah tak ada. Bibirnya setengah terbuka, masih belum menerima. Sementara pegangan pada kaos kaki ditangannya semakin mengerat. Menyalurkan kekesalan.
Rotinya...
Ada rasa sedih yang menjalar. Juga rasa lapar yang terasa. Lily akan menangis keras jika yang melakukan itu adalah sang kakak, tetapi ini Jeffrey. Orang yang tidak bisa membuat air matanya keluar.
Dan yang tidak ia mengerti adalah, pria itu selalu saja meminta makanannya.
Sebelumnya, ketika Lily sedang makan nasi goreng di depan televisi sambil menonton kartun, Jeffrey juga datang merebutnya. Karena pria itu memakan habis semuanya. Padahal Lily masih sangat lapar saat itu. Perutnya masih keroncongan karena baru makan sedikit. Pada akhirnya, Mbak Nurul lah yang menjadi korban dan harus memasak lagi.
Hal yang sama juga pernah terjadi ketika mereka sedang berada di taman. Sebuah kegiatan yang kini hanya bisa mereka lakukan saat akhir pekan. Saat itu, ia sedang memakan ice cream rasa strawberry dengan nikmat. Sembari memandangi anak-anak lain bermain. Sebelum akhirnya pria itu datang dan menghabiskannya.
Meskipun hari berikutnya Jeffrey akan datang dengan banyak makanan untuk menggantinya, tetap saja itu buruk. Mengambil makanan seseorang itu buruk.
Dan hal itu selalu terjadi. Berulang kali. Dengan pola yang sama.
Tetapi belakangan, Lily baru tahu alasan Jeffrey melakukan itu. Tante Mona bilang selera makanannya sedang menurun. Bahkan ia bisa tidak makan seharian. Jadi kini Lily tidak bisa protes, tidak bisa menolak, juga tidak bisa marah. Ia hanya bisa membiarkan hal itu terjadi.
Saat Lily masih asik dengan pikirannya, terdengar suara yang mengalun rendah, dalam dan dingin. Juga terkesan angkuh, menyapa telinga. Seperti bisikan menakutkan, meskipun yang keluar hanya pertanyaan ringan.
"Andra belum bangun?" Tanya Jeffrey.
"Ah? Oh udah kok,"
Kepala Lily menoleh ke dalam. Berusaha mencari sosok sang kakak, tetapi tak ada. Hanya fotonya lah yang ia lihat tergantung di dinding.
Sepertinya masih di dapur.
"Masih makan kayaknya. Mas Jeffrey masuk aja." Tawarnya kemudian. Karena pria itu berhasil mencuri rotinya, siapa tahu ia juga lapar dan belum sarapan.
"Nggak usah, disini aja." Balas Jeffrey.
Lily mengangguk sebagai balasan.
Setelah itu, keheningan menyapa, menelusup diantara udara.
Matahari perlahan naik. Sinarnya membawa berkas orange ke kuningan yang terasa hangat menyentuh kulit. Lily menatap ke luar. Orang-orang mulai sibuk dengan aktivitas mereka. Ada yang menyiram bunga, ada yang sedang bersiap-siap untuk berkerja, serta ada juga yang akan pergi ke sekolah sepertinya.
Tak lama, Lily melihat seseorang lewat sembari membawa kucing peliharaannya. Kucing itu begitu lucu. Bulunya berwarna putih, bersih. Kakinya pendek, matanya bulat seperti mutiara. Di lehernya, sebuah tali terikat. Bokongnya bergoyang-goyang ketika ia bergerak. Bulat dan penuh.
Perasaan ingin memiliki kucing peliharaan sendiri semakin membuncah, semakin tak terbendung lagi. Tapi mungkin itu hanya akan menjadi angan-angan saja karena sang kakak alergi dengan bulunya.
Karena tak ada lagi yang ingin dibicarakan, Lily berbalik. Berniat memakai sepatu.
"Berangkat sama aku."
Kalimat itu akhirnya berhasil memecah sunyi diantara mereka. Sebuah ajakan yang terasa seperti hukuman. Lily menoleh. Memandang lama pada motor yang Jeffrey tunggangi. Lalu melihat pada dirinya sendiri.
Tidak, rasanya menakutkan.
Saat itu Lily pikir akan sangat menyenangkan bisa mengelilingi kota menggunakan sepeda motor. Mungkin rasanya akan seperti burung yang terbang bersama angin dengan kecepatan tertentu. Bahkan rasa bebas itu masih bisa ia rasakan hingga kini. Tapi tidak menggunakan motor Jeffrey. Kendaraan itu terlalu tinggi untuknya yang kecil. Sementara untuk naik pun ia kesusahan. Yang lebih parah dari itu, punggungnya sakit selama berhari-hari, seperti mau patah.
Dan Lily mau itu menjadi pengalaman pertama dan terakhir ia dibonceng menggunakan motor itu.
'Maaf mas, aku masih sayang punggung ku'
"Nggak bisa. Hari ini aku berangkat sama mama." Tolaknya halus.
Derap langkah kaki terdengar keras. Semakin lama semakin dekat. Dari sepatu yang beradu dengan lantai. Suaranya sangat menganggu dan berantakan. Juga terdengar menjengkelkan.
Lily berbalik untuk melihat, kemudian menemukan sang kakak sedang berjalan sembari menari. Gerakannya aneh seperti gurita. Pria itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, seolah akan terbang, kemudian dibuat bergelombang layaknya ombak. Sungguh tak ada bagus-bagusnya.
Satu alis Lily terangkat, sementara matanya menyipit. Ia kembali menghadap ke depan. Pada Jeffrey yang juga tengah menatap sang kakak sama anehnya.
"Jangan di lihat." Ucapnya.
Kemudian fokus pria itu beralih padanya. Menatap tepat di mata.
"Aneh."
Lily mengerutkan kening. Apa maksudnya? Apa ia terlihat aneh? Kenapa Jeffrey bicara seperti itu sambil menatapnya?
"Heh bocah. Di cari mama tuh di dalem."
Lily merasakan beban di kepalanya. Sangat berat, seperti tertimpa gajah. Ia mendongak untuk melihat. Tangan Andra bertengger disana. Menekan dan menghimpitnya di ketiak.
"Mas Andra tuh yang bocah. Aku udah kelas 5 SD, bentar lagi mau SMP tahu," Kesalnya. "Awas ah, berat."
Tubuh Lily bergerak-gerak, mencoba melepaskan diri. Tapi tak berhasil. Sang kakak seperti anaconda yang membelit mangsa-nya. Sangat kuat, tanpa belas kasih. Sementara senyum puas tersungging di bibirnya.
"Aku udah kelas 6 SD, bentar lagi mau SMP tahu." Andra meniru apa yang Lily ucapkan dengan nada menyebalkan.
Lily cemberut. Bibirnya maju beberapa senti. Apa yang salah dengan itu? Setahun lagi ia memang sudah SMP. Jelas sudah besar. Ia sudah bisa mengikat tali sepatunya sendiri sekarang. Sebutan bocah itu cocoknya untuk anak TK. Bukan untuk dirinya.
Tangan Lily terangkat ke udara, kemudian menepis kasar tangan sang kakak. Dan berhasil. Tubuh besar itu terhuyung, lalu mundur perlahan tanpa perlawanan.
Kali ini giliran satu kaki Lily yang terayun, bersiap untuk membalas dendam. Di sekolah, tendangannya terkenal cukup kuat dan gesit. Guru bahkan memujinya. Kemampuannya tak kalah dengan anak laki-laki. Mungkin bisa digunakan untuk melumpuhkan lawan saat ini.
Wajahnya penuh kesungguhan. Berharap tak meleset. Ini adalah salah satu cara agar sang kakak merasakan akibatnya. Selama ini ia selalu kalah, selalu tertindas. Tapi kali ini, ia pastikan kemenangan ada di tangannya.
1
2
Dan...
Hap
Mata Lily membulat sempurna. Kakinya berhasil di tangkap dengan tepat, dengan begitu erat, bahkan nyaris mencengkram.
"Mau apa kamu?! Mau nendang hah?!"
Tubuh Lily menjadi tak stabil karena berdiri hanya dengan satu kaki. Ia terus bergerak-gerak, mencoba menjaga keseimbangan. "Lepas Mas!"
"Nggak! Ini kalau dilepas, kamu pasti bakal nendang lagi." Kata Andra.
"Enggak... Aaaa...!!!!"
Karena tak bisa menahannya, tubuh Lily akhirnya limbung. Pantatnya hampir menyentuh lantai dengan keras jika saja tak di tahan seseorang.
"NDRA!! Lepas!!"
Suara itu sangat dekat ditelinga. Begitu tegas, dingin dan kasar. Ada kemarahan juga di dalamnya. Membuat Lily merinding seketika. Lebih dari itu, ia takut tubuhnya akan meluncur ke bawah. Dengan pantat sebagai tumpuan. Ia tak bisa membayangkan betapa sakitnya itu.
Nafasnya masih memburu, jantungnya kian berpacu. Yang tidak orang-orang tahu, tangannya telah berkeringat banyak. Bahkan kaos kakinya sudah tak lagi dalam genggaman. Terlihat tergeletak di lantai dengan mengenaskan.
Melihat kemarahan dalam diri temannya, nyali Andra menciut. Ia menurunkan kaki Lily perlahan. Lalu membuang pandangan. Nafasnya terhela berkali-kali. Penuh antisipasi. Ia sangat takut di amuk oleh Jeffrey.
"Nggak papa?" Raut khawatir tergambar jelas di wajah. Jeffrey meneliti tubuh Lily. Memastikan gadis kecil itu tak terluka. Ia baru bisa bernafas lega ketika tak menemukan apapun kecuali raut terkejutnya.
"Ayo berangkat. Mana tas kamu?"
"Tapi aku mau berangkat sama mama." Jawab Lily lirih.
Andra bergerak maju, berdiri di tengah-tengah mereka. "Mama lagi nggak bisa nganter. Dia lagi buru-buru mau ke resto. Jadi kamu berangkat sama kita. Ini tas kamu."
Tas pink bergambar hello Kitty terulur di depan wajah. Tas milik Lily yang tertinggal. Ia segera memakainya di punggung. Terasa berat. Seperti menekan paksa. Tapi itulah yang harus ia bawa.
Kaos kaki yang terjatuh sebelumnya, ia ambil. Kemudian memakainya dengan tergesa-gesa. Lengkap dengan sepatunya.
"Sini naik." Kata Jeffrey yang kini telah berada diatas motor.
Namun Lily justru mundur, kemudian menggeleng. "Nggak mau Mas, takut jatuh. Aku ikut Mas Andra aja."
Alasan itu cukup masuk akal. Cukup bisa diterima oleh logika. Tubuh kecilnya adalah pendukungnya. Setidaknya lebih baik dari pada ia berkata punggungnya sakit kalau menaiki itu.
Anak sebelas tahun dengan masalah punggung itu sangat menggelikan terdengar. Dan Lily malu mengatakannya.
"Nggak bisa, aku bawa tanaman. Susah nanti."
Sebuah pot yang dilapisi kardus dinaikkan ke atas motor. Tepat di belakang dimana harusnya Lily duduk. Lalu di ikat dengan kuat menggunakan tali.
Setelah memastikan tak akan jatuh, Andra berbalik. Menatap sang adik. "Kamu bukan anak TK lagi yang bisa duduk di depan. Jadi kamu ikut Jeffrey aja."
Karena tak ada pilihan lain, Lily mengangguk dengan wajah tak bersemangat. Di bantu oleh Andra, ia akhirnya bisa naik ke atas motor.
Kedua tangannya terulur ke depan, mencari pegangan. Seragam Jeffrey ia pegang erat ujungnya. Kini ia telah siap untuk berangkat ke sekolah.
"Kamu mau jatuh dari motor?" Jeffrey menoleh, menatap Lily dengan alis menukik.
"Hah?"
"Sini tangan kamu." Pintanya.
Lily menurut, melepaskan pegangan. Lantas kembali menjulurkan tangannya.
Jeffrey menarik tangan itu, lalu melingkarkan nya di pinggang. "Kalau kaya gini kamu nggak akan jatuh." Ucapnya.
Tapi Lily hanya menatap dalam diam. Jelas tidak suka.
Dulu, mereka begitu dekat. Hampir tak terpisahkan. Lily selalu mencari Jeffrey ketika pria itu tak ada. Begitu juga sebaliknya. Mereka selalu bermain bersama. Atau lebih tepatnya, Jeffrey lah yang selalu menjaganya. Sementara Andra kakaknya, akan bermain sepuasnya disamping mereka.
Kini setelah bertambahnya usia, juga bertambahnya kesibukan. Waktu untuk mereka berdua semakin berkurang. Waktu yang dihabiskan Jeffrey lebih banyak untuk kegiatan sekolah. Sementara Lily sendiri memilih bermain bersama Kenzy untuk membunuh bosan.
Ada rasa malu yang Lily rasakan. Selebihnya, hanya tersisa rasa kesal yang menggunung. Karena posisi seperti ini lah yang membuat punggungnya sakit selama berhari-hari waktu itu.