"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Perjamuan Terakhir bagi Luka
BAB 14: Perjamuan Terakhir bagi Luka
Sore itu, langit Jakarta seakan ikut berduka. Awan hitam berarak rendah, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di sebuah gudang logistik yang pengap di pinggiran kota, Rangga menyeka keringat yang bercampur debu di dahinya. Tangannya lecet karena harus memindahkan puluhan kardus cairan infus yang berat, namun ia tidak mengeluh. Di saku celananya, ada amplop lusuh berisi gaji mingguan pertamanya. Uang itu terasa lebih berat dan lebih berharga daripada cek miliaran rupiah yang dulu biasa ia tanda tangani.
"Sedikit lagi, Rin. Aku akan membawamu ke pengobatan yang lebih baik," gumam Rangga pada dirinya sendiri, mencoba menguatkan kakinya yang gemetar karena kelelahan setelah berdiri sepuluh jam tanpa henti.
Baru saja ia hendak meneguk air mineralnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk: “Cepat ke rumah sakit. Arini sedang bersama seseorang. Dia sudah memilih jalannya sendiri. Jangan jadi pria bodoh selamanya.”
Jantung Rangga seolah berhenti berdetak. Ia mengabaikan rasa pusing yang mulai menghantam kepalanya—sebuah gejala stres dan kurang tidur yang kini menjadi teman setianya. Tanpa pamit pada Hendry, ia berlari keluar gudang, menyetop taksi dengan napas tersengal, dan memacu sang sopir untuk menembus kemacetan Jakarta yang gila. Pikirannya kalut. Siapa yang menemui Arini? Apakah Ibunya berulah lagi?
Sesampainya di lantai tujuh rumah sakit, Rangga tidak langsung masuk. Ia berhenti di depan pintu kamar 702 yang sedikit terbuka. Ia mendengar suara tawa dari dalam. Suara tawa Arini. Suara yang selama berbulan-bulan ini hanya terdengar lirih dan menyakitkan, kini terdengar begitu renyah, seolah-olah beban penyakitnya telah diangkat.
Namun, ada nada yang salah. Tawa itu terdengar begitu dipaksakan, begitu tajam, dan sama sekali bukan ditujukan untuknya.
Rangga mendorong pintu itu perlahan, dan dunianya hancur seketika.
Di dalam sana, Arini tidak lagi terbaring lemah. Ia duduk bersandar di bantalnya, mengenakan syal sutra merah jambu yang mewah—pemberian yang Rangga tahu bukan hasil dari uang gajinya. Di samping tempat tidur, duduk seorang pria muda tampan bersetelan jas mahal yang tampak sangat akrab dengannya. Namanya Andre, pria "aktor" yang disiapkan Ibu Sarah untuk menghancurkan sisa-sisa kewarasan Rangga.
"Kamu lucu sekali, Andre. Kenapa baru sekarang kamu datang menjemputku? Aku bosan setengah mati di sini," suara Arini terdengar jernih, seolah-olah masker oksigen yang dulu ia butuhkan kini hanyalah pajangan.
"Maafkan aku, Sayang. Aku harus mengurus bisnisku di luar negeri dulu sebelum bisa membawamu ke pengobatan terbaik di Singapura. Kamu tidak perlu lagi menderita di kamar ini bersama pria yang bahkan tidak bisa membelikanmu obat tanpa harus menjadi buruh kasar," sahut Andre sambil menggenggam tangan Arini dengan mesra.
Rangga merasa seolah ada belati yang ditancapkan tepat di tengah dadanya, lalu diputar perlahan. Ia melangkah masuk ke tengah ruangan, membuat kedua orang itu menoleh.
"Arini?" suara Rangga serak, penuh dengan ketidakpercayaan yang menyayat hati.
Arini menatap Rangga. Namun, tidak ada sinar cinta di matanya. Yang ada hanyalah tatapan dingin, datar, dan penuh penghinaan yang belum pernah Rangga lihat sebelumnya. "Oh, kamu sudah pulang, Rangga? Kenapa bajumu kotor sekali? Baumu seperti debu gudang yang menjijikkan."
Rangga terpaku di tempatnya. Ia melihat amplop gaji di tangannya yang sudah kusut. Uang yang ia dapatkan dengan membuang harga dirinya di bawah kaki Hendry. "Rin... siapa pria ini? Apa maksudnya semua ini? Aku bekerja seharian untukmu..."
Arini tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat asing dan menusuk telinga Rangga. "Bekerja untukku? Rangga, lihat dirimu. Kamu sudah jatuh miskin. Kamu tidak punya apa-apa lagi sekarang. Kamu pikir aku akan bertahan bersamamu hanya untuk hidup di bangsal umum kelas tiga? Aku butuh kesembuhan, bukan drama kemiskinanmu."
"Rin, aku melakukan semuanya untukmu! Aku menjual mobilku, aku membuang jabatanku, aku membuang Ibuku hanya karena aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri!" teriak Rangga, air matanya mulai mengalir membasahi wajahnya yang kusam.
"Itu kebodohanmu sendiri, Rangga!" potong Arini dengan nada tinggi, meski di dalam dadanya ia merasa jantungnya seakan mau pecah karena harus mengucapkan kata-kata itu. "Aku tidak pernah memintamu untuk menjadi miskin. Aku hanya memanfaatkanmu karena saat itu hanya kamu yang punya uang. Tapi sekarang? Ibumu sudah menawarkan kesepakatan yang jauh lebih baik. Andre akan membawaku pergi, dan aku tidak perlu lagi menatap wajahmu yang menyedihkan setiap hari."
Rangga menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Nggak mungkin... kamu pasti dipaksa, kan? Katakan padaku kamu bohong, Arini! Lihat mataku!"
Rangga mendekat, hendak meraih tangan Arini, namun Andre segera berdiri dan menghalangi langkah Rangga. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu itu, Rangga. Kamu sekarang hanya sampah di mata keluarga Adiguna. Arini layak mendapatkan perlindungan yang nyata, bukan janji-janji kosong dari seorang pria yang bahkan harus naik bus umum untuk bekerja."
Rangga tidak memedulikan Andre. Ia menatap Arini dengan tatapan yang hancur berkeping-keping. "Rin, demi Tuhan... katakan padaku semua ini bohong. Katakan padaku kamu masih mencintaiku."
Arini membuang muka. Ia mencengkeram sprei rumah sakit kuat-kuat di bawah selimut agar Rangga tidak melihat tangannya yang gemetar hebat karena menahan sakit dan tangis. "Pergi, Rangga. Aku tidak mencintaimu. Aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya mencintai fasilitas yang bisa kamu berikan. Dan sekarang setelah fasilitas itu hilang, kamu juga tidak ada artinya lagi bagiku. Pulanglah ke Ibumu, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku."
Keheningan di kamar itu terasa seperti lonceng kematian. Rangga menatap amplop gajinya, lalu menatap Arini yang kini tampak begitu asing, begitu kejam. Perlahan, Rangga mengeluarkan tumpukan uang tunai dari dalam amplop itu. Ia melempar uang yang masih berbau debu gudang itu ke atas ranjang Arini, tepat di depan wajah wanita itu.
"Ini," bisik Rangga, suaranya terdengar sangat dalam dan penuh luka. "Ini hasil kerjaku selama seminggu. Aku menyeka lantai dan dihina seperti anjing untuk mendapatkan ini. Ambil. Ini hadiah terakhir dariku untuk wanita yang ternyata tidak punya hati seperti kamu. Nikmatilah kesembuhanmu dengan uang Ibuku dan pria ini."
Rangga berbalik. Langkah kakinya terasa sangat berat, seolah-olah ia sedang menyeret seluruh masa lalunya yang sia-sia. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Satu hal, Arini. Aku berharap kamu sembuh. Tapi aku bersumpah... mulai detik ini, aku tidak akan pernah membiarkan namamu menyentuh ingatanku lagi. Kamu sudah membunuh pria yang dulu rela mati untukmu."
Rangga keluar dari kamar 702. Di koridor, ia berpapasan dengan Ibu Sarah yang berdiri dengan wajah tenang, seolah sedang menonton pertunjukan teater.
"Sekarang kamu sudah sadar, Nak? Dia hanya parasit yang mencari inang baru saat inang lamanya kering," ujar Ibu Sarah dingin. "Masuklah ke mobil. Semua asetmu sudah kukembalikan. Kamu adalah Rangga Adiguna kembali."
Rangga tidak menjawab. Ia terus berjalan menembus lorong rumah sakit yang panjang dengan pandangan kosong. Hatinya telah mati.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, sandiwara Arini runtuh seketika.
"Uhukk! Uhukk!" Arini terbatuk hebat hingga darah segar membasahi syal sutra yang ia kenakan.
"Nona Arini! Dokter!" teriak Andre yang sebenarnya adalah asisten kepercayaan Ibu Sarah yang mulai merasa iba melihat kondisi wanita itu.
Arini merosot dari bantalnya, ia mencoba menggapai pintu dengan tangan yang gemetar, merayap di atas ranjang dengan sisa tenaganya yang terakhir. "Rangga... maafkan aku... Rangga..." rintihnya dengan suara yang sudah hampir hilang terbawa angin.
Rasa pusing yang luar biasa hebat menghantam kepalanya, kali ini lebih gelap dan lebih menyakitkan dari biasanya. Pandangannya mengabur. Arini melihat uang-uang yang dilemparkan Rangga berserakan di ranjangnya. Ia memeluk uang-uang itu—uang yang berbau debu gudang, uang yang menjadi bukti cinta tulus Rangga—dan menciumnya sambil menangis tersedu-sedu sampai sesak napas.
"Maafkan aku, Rangga... aku lebih baik kamu benci daripada melihatmu hancur karenaku... hiduplah dengan baik... hiduplah untukku..."
Monitor jantung di samping ranjang mulai mengeluarkan bunyi peringatan yang nyaring. Beep... Beep... Beep...
Malam itu, Rangga Adiguna kembali ke takhtanya. Ia mandi dengan air hangat di apartemen mewahnya, mengenakan kembali jam tangan Rolex-nya, dan menatap cermin dengan mata yang sekeras baja. Ia telah bertransformasi menjadi monster yang dingin.
Sementara di rumah sakit, Arini dilarikan ke ruang ICU dalam kondisi kritis. Ia berjuang sendirian di antara hidup dan mati, memegang rahasia pengorbanannya yang mungkin akan ia bawa sampai ke liang lahat.