Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.
Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.
Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Masalah Baru
Kemarin, setelah mengahadapi tiga orang asing, mereka berdua langsung mencari goa untuk beristirahat.
Di pagi hari yang ketiga datang dengan udara dingin dan kabut tipis.
Yuda terbangun dengan tubuh yang masih terasa nyeri, tetapi kondisinya sedikit lebih baik dibanding malam sebelumnya.
Luka di lengannya tidak lagi terasa perih berlebihan, meski setiap tarikan napas dalam masih membuat dadanya terasa ditekan.
Tara terlihat sudah bangun lebih dulu.
Kucing putih kecil itu duduk di atas batu, menatap keluar gua dengan sikap waspada, ekornya bergerak perlahan ke kiri dan kanan.
“Kau ternyata tidak mati,” kata Tara tanpa menoleh.
“Berarti ramuan daruratku itu bekerja.” lanjutnya masih tanpa menoleh.
“Terima kasih kucing jelek, walau rasanya seperti dipukul kayu semalaman.” jawab Yuda sambil bangkit perlahan dengan mengejek Tara.
“Itu hanyalah efek samping samping saja bodoh,” balas Tara dengan kesal.
Yuda pun hanya terdiam dan tidak membalasnya lagi, ia memilih untuk mengalah saja.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan sebelum matahari naik terlalu tinggi.
Tujuan mereka adalah Wilayah Netral Sungai Tiga, sebuah kawasan yang tidak sepenuhnya dikuasai klan mana pun.
Di tempat itu, aturan klan melemah, dan hukum ditentukan oleh kekuatan, kesepakatan, atau uang.
“Kalau kita bisa sampai sana, pencarian klan akan melambat,” jelas Tara.
“Mereka tidak suka membuat masalah terbuka di wilayah netral.” lanjutnya menjelaskan lagi
“Dan bagaimana kalau tetap membuat masalah?” tanya Yuda penasaran.
“Kita cari masalah yang lebih besar saja, supaya mereka lupa padamu,” jawab Tara santai.
Mendengar itu, Yuda langsung memijat pelipisnya.
“Kedengarannya ini tidak meyakinkan.” jawabnya dengan kepala pusing.
Menjelang siang, mereka tiba di tepi Sungai Tiga.
Sungai itu lebar, airnya keruh, dan arusnya cukup deras.
Di sepanjang tepi sungai berdiri tenda-tenda, warung darurat, dan bangunan kayu sementara.
Pedagang, pengelana, tentara bayaran, dan murid-murid klan bercampur menjadi satu disana, tanpa identitas yang jelas.
Dan saat ini terlihat di wajah Yuda yang langsung merasakan sebuah tekanan, karena ada banyak mata yang mengamati.
“Jangan menatap siapa pun terlalu lama, dasar bodoh.” kata Tara pelan.
“Di tempat seperti ini, tatapan bisa jadi tantangan, dan membuat kita dalam masalah lagi.” lanjut bisiknya.
Yuda pun hanya mengangguk mengerti.
Tanpa di duga, ternyata benar, masalah datang menghampiri mereka.
Masalah pertama datang lebih cepat dari dugaan.
Sebuah papan kayu besar berdiri di tengah area perkemahan, dan di atasnya tertempel banyak kertas pengumuman.
Salah satunya menarik perhatian Yuda.
Turnamen 'Sungai Tiga, Seleksi Murid dan Petarung Muda.'
Hadiah : uang perak, akses pelatihan, dan rekomendasi masuk ke akademi silat wilayah tengah.
Yuda membaca pelan papan pengumuman itu, dan membuat tatapan matanya terlihat sangat tertarik.
“Jangan ikut itu,” kata Tara cepat.
“Hei kucing jelek, aku bahkan belum bilang apa-apa,” jawab Yuda lemas.
"Tapi wajahmu itu sudah menunjukkannya dengan jelas,” balas Tara.
Turnamen itu berlangsung tiga hari lagi.
Pesertanya bebas, tidak perlu asal klan, tidak perlu rekomendasi resmi.
“Kau saat ini sedang terluka,” kata Tara perhatian.
“Dan tubuhmu juga masih belum stabil.” lanjutnya
“Kalau aku mengikutinya bagaimana,” jawab Yuda terang-terangan.
“Aku bisa saja menang, mendapat uang, dan mungkin perlindungan.” lanjutnya dengan wajah sedang berpikir.
“Atau bisa juga di perhatikan banyak musuh,” balas Tara dengan kesal, karena manusia muda ini sangat bodoh menurutnya.
Yuda pun terdiam lama.
Malam hari, mereka menyewa tempat tidur murah di bangunan kayu sempit.
Sedang di luar, terdengar banyak suara tawa, bentakan, dan adu senjata terdengar hingga larut.
“Kau bisa saja tetap ikut bocah?” ucap Tara tiba-tiba.
Mendengar itu, Yuda pun menoleh.
“Apa kau berubah pikiran kucing jelek?” jawab Yuda mengejek.
“Tidak, tapi kau itu terlalu keras kepala, dan pasti tetap akan ikut dengan menyelinap pergi diam-diam, agar aku tidak tahu, jadi lebih baik aku memastikan kau tidak mati saja saat mengikutinya,” jawab Tara datar sembari menjilati kaki depannya.
Yuda akhirnya tersenyum tipis.
“Baiklah, terimakasih kucing jelek, Hahaha...” ucap Yuda dengan tawa.
“Hei bocah, jangan salah paham dulu,” lanjut Tara.
“Ini semua kulakuan dengan penuh perhitungan, tapi kalau kau mati, aku akan rugi.” ucap Tara namun di abaikan oleh Yuda.
Hari-hari berikutnya diisi dengan latihan singkat dan kasar.
Tara memaksa Yuda menyesuaikan pernapasan dengan kondisi yang masih terluka.
Ia melarang penggunaan tenaga dalam berlebihan, tapi memaksa Yuda memahami aliran di tubuhnya secara sadar.
“Tenagamu tidaklah lemah Yuda,” kata Tara yang akhirnya memanggi Yuda dengan namanya, yang mana itu menandakkan bahwa kucing itu sudah serius dengan Yuda.
“Kau hanya tidak tahu cara memakainya.” lanjutnya.
Saat ini yang terlihat yaitu Yuda jatuh, bangun, jatuh lagi.
Setiap kesalahan langsung dikomentari oleh Tara.
“Bodoh.”
“Lambat.”
“Kalau ini pertempuran sungguhan, kepalamu sudah putus sedari tadi, dasar manusia bebal.” ucap Tara sedikit kesal melihat pelatihan Yuda
Yuda pun hanya mengangguk dan memperbaiki setiap gerakannya.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan terlihat beberapa pasang mata memperhatikan latihan itu.
Seorang pria muda berambut panjang dengan jubah biru tua mempersempit pandangan.
“Anak itu terlihat menarik,” katanya pelan pada rekannya.
“Bagaimana dengan kucingnya ?” tanya rekannya.
Pria itu tersenyum tipis.
“Lebih menarik lagi, Hahaha.." jawab pira berjubah biru tua.
Pada malam sebelum turnamen, kini terlihat tubuh kecil Tara duduk di samping Yuda.
“Jika tidak yakin, kau boleh mundur besok,” katanya datar.
Yuda menggeleng. “Tidak, aku tidak akan mundur, ini kesempatan yang baik untukku.” jawab Yuda tegas.
“Kalau kau mati bagaimana bodoh?” tanya Tara dengan nada sedikit tinggi.
“Kalau aku mati, berarti aku memang tidak sejauh itu,” jawab Yuda tenang.
Tara pun mendengus kesal.
"Manusia selalu merepotkan.” gumam Tara.
"Jika kau mati dalam pertarungan kecil seperti itu, bagaimana dengan orang tuamu, dasar manusia bebal" lanjut Tara dengan kesal.
Meskipun begitu, ia diam-diam tetap akan mendukung Yuda.
Ia tidak akan membiarkan si bodoh Yuda ini mati begitu saja, karena jika ia kehilang Yuda, maka kesempatannya untuk kembali ke dunianya akan hilang.
Yuda yang mendengar perkataan terakhir Tara, akhirnya merenung sebentar.
Setelah itu, tatapan matanya seketika berubah menjadi tajam.
"Aku tidak akan mati, aku tidak akan membuat orang tuaku sedih, aku akan membuat mereka bangga karena memiliki anak sepertiku." ucap Yuda dengan tatapan yang membara.
Sedangkan Tara yang sudah mulai beranjak pergi, setelah mendengar perkataan Yuda akhirnya menghentikan langkahnya lalu melihat sebentar ke arah Yuda dan bergumam pelan.
"Meoww, meow—" ucap Tara dengan bahasa kucingnya yang artinya, "Kau memang manusia bebal, tapi aku suka semangatmu itu bocah." ucap Tara kurang lebih seperti itu.
Lalu ia melanjutkan langkahnya kembali, dan meletakkan tubuhnya di dalam kamar kayu murah itu dan tak berselang lama kucing itu tertidur pulas.
Begitupun dengan Yuda, ia akhirnya mengikuti Tara, dan langsung tertidur juga.
......................