Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. SECERCAH KEHIDUPAN
Malam di mansion tua itu tidak lagi terasa mencekam. Kegelapan yang biasanya menyelimuti setiap sudut bangunan klasik tersebut seolah terusir oleh cahaya lampu taman yang temaram dan suara tawa tipis yang terbawa angin. Di taman depan yang dipenuhi bunga sedap malam, dua sosok wanita duduk di sebuah bangku besi tempa.
Keyla, dengan jaket rajutnya yang hangat, menggenggam jemari Sofia yang kurus. Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, Sofia tidak lagi mendekap boneka porselennya. Tangan yang biasanya kaku memeluk benda mati itu kini bebas, sesekali bergerak mengikuti gestur ceritanya yang mulai hidup.
"Ayo, Ma. Kita jalan-jalan sedikit ke arah kolam ikan. Udara malam ini sangat segar," ajak Keyla dengan nada suara yang begitu lembut, hampir menyerupai bisikan seorang putri pada ibunya.
Sofia mengangguk pelan. Ada binar yang berbeda di matanya—secercah kehidupan yang selama ini terkubur di bawah lapisan depresi yang tebal. "Dipta dulu suka sekali main di sana, Keyla. Dia akan melepas sepatunya, lalu mencoba menangkap ikan mas dengan tangan kosong sampai bajunya basah kuyup."
Keyla tertawa, membayangkan Dipta yang kaku dan otoriter itu pernah menjadi bocah yang belepotan lumpur. "Benarkah, Ma? Sulit dipercaya. Dipta yang sekarang bahkan tidak mau ada debu sedikit pun di jasnya."
Mereka mulai berjalan perlahan, menyusuri setapak batu yang membelah rumput hijau. Sofia berjalan dengan langkah yang lebih tegak. Kehadiran Keyla seolah menjadi jembatannya kembali ke dunia nyata, menariknya keluar dari kapsul waktu yang menyakitkan.
"Dia itu anak yang sangat serius sejak kecil," Sofia bercerita, senyumnya mengembang saat ingatan-ingatan manis mulai bermunculan. "Suatu kali, saat usianya tujuh tahun, dia mencoba membuatkan Mama sarapan. Dia ingin membuat pancake, tapi dia malah memasukkan garam, bukan gula. Wajahnya begitu bangga saat menyajikannya, jadi Mama terpaksa memakannya sampai habis sambil menahan haus."
"Lalu apa yang dia lakukan saat tahu itu asin?" tanya Keyla sambil menahan tawa.
"Dia menangis diam-diam di pojok dapur karena merasa gagal jadi pahlawan Mama," Sofia terkekeh, suara tawa yang terdengar sangat murni. "Dipta selalu ingin menjadi pelindung. Dia tidak suka melihat orang yang disayanginya sedih."
Keyla terdiam sejenak. Ia merenungkan kata-kata itu. Pelindung. Mungkin itulah alasan Dipta menjadi begitu posesif. Cara mencintainya memang cacat, terdistorsi oleh trauma, namun akarnya tetap sama: ketakutan luar biasa akan kegagalan melindungi orang yang ia miliki.
"Dia sangat mencintai Mama," ujar Keyla tulus. "Dia membangun tempat ini, menyiapkan semua orang terbaik, hanya agar Mama aman."
Sofia berhenti melangkah, menatap Keyla dengan tatapan yang sangat jernih. "Dan sekarang dia memiliki kamu, Keyla. Mama bisa merasakannya. Saat dia menatapmu, dia tidak sedang menatap seorang istri sebagai pajangan. Dia menatapmu seolah kau adalah satu-satunya daratan tempat dia bisa berlabuh setelah bertahun-tahun terjebak di tengah badai."
**
Sementara itu, di atas balkon lantai dua yang gelap, Dipta berdiri mematung. Tangannya menggenggam pagar besi, matanya tak lepas dari dua wanita yang sedang berjalan di bawah sana. Ia telah menanggalkan jasnya, hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku.
Selama bertahun-tahun, pemandangan yang ia lihat dari balkon ini selalu sama: ibunya yang duduk terpaku di kursi goyang, mendekap boneka porselen, dan berbicara pada hantu masa lalu. Tapi malam ini, segalanya berubah.
Dipta melihat ibunya tertawa. Ia melihat ibunya berjalan tanpa beban, tanpa boneka terkutuk yang selalu mengingatkannya pada kematian Dinda. Dan semua itu karena Keyla.
Ada perasaan hangat yang menyesakkan dadanya—sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya. Kebahagiaan. Sebuah perasaan sederhana yang selama ini ia coba beli dengan kekuasaan dan uang, namun tak pernah ia dapatkan. Melihat Keyla memperlakukan ibunya dengan rasa hormat dan kasih sayang yang tulus membuat benteng pertahanan di hati Dipta runtuh sedikit demi sedikit.
Kenapa kau begitu baik, Keyla? batin Dipta. Padahal aku telah merenggut kebebasanmu, memaksamu masuk ke duniaku yang gelap... tapi kau justru membawa cahaya ke sini.
**
"Ma, apakah Mama mau aku menceritakan sesuatu tentang Dipta?" tanya Keyla saat mereka duduk kembali di tepi air mancur.
Sofia mengangguk antusias. "Tentu! Bagaimana dia di luar sana? Apakah dia masih suka memerintah?"
Keyla tersenyum nakal. "Oh, jangan ditanya. Dia seperti seorang raja. Semua orang gemetar melihatnya, tapi mereka juga terpesona. Mereka tidak tahu kalau pria hebat itu sebenarnya bisa sangat manja kalau sedang lelah."
"Manja?" Sofia tertawa riang. "Ah, dia memang seperti ayahnya dalam hal itu. Ingin selalu diperhatikan."
Mendengar kata 'Ayah', suasana sempat menghening sejenak. Namun, Sofia tidak lagi histeris. Ia hanya menghela napas panjang. "Keyla, kau tahu... Dipta sangat membenci Haris. Dan dia punya alasan untuk itu. Tapi aku hanya berharap, kebencian itu tidak meracuni hatinya selamanya. Aku ingin dia bahagia denganmu, tanpa bayang-bayang masa lalu kami."
Keyla menggenggam tangan Sofia lebih erat. "Aku akan berusaha, Ma. Aku tidak janji bisa mengubah segalanya dalam semalam, tapi aku tidak akan membiarkan dia sendirian."
*
Langkah kaki yang mantap terdengar di atas kerikil. Dipta turun dari balkon dan menghampiri mereka. Cahaya bulan menyinari wajahnya yang kini tampak lebih rileks, meski sisa-sisa kelelahan masih ada.
"Sudah terlalu malam, Ma. Udara mulai dingin. Mama harus masuk sekarang," ujar Dipta. Nada suaranya lembut, namun tetap mengandung otoritas seorang putra.
Sofia berdiri, ia mengelus lengan Dipta dengan sayang. "Kau punya istri yang luar biasa, Dipta. Jangan pernah sakiti dia. Jika kau menyakitinya, kau berurusan dengan Mama."
Dipta sedikit terkejut mendengar ancaman ibunya, namun ia tersenyum tipis—sebuah senyuman yang benar-benar sampai ke matanya. "Iya, Ma. Dipta tahu."
Setelah Sofia diantar masuk oleh perawat, Dipta dan Keyla tertinggal berdua di taman. Keheningan malam kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa nyaman, tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan.
Dipta berbalik menghadap Keyla. Ia menatap gadis itu lama, seolah-olah sedang menghafal setiap lekuk wajahnya di bawah sinar rembulan.
"Terima kasih," ujar Dipta singkat.
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya. Untuk ibuku. Untuk tidak membenciku saat aku membawamu ke sini tanpa penjelasan," Dipta melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangannya, menyelipkan sehelai rambut Keyla ke belakang telinganya. "Aku melihat kalian dari atas tadi. Aku tidak pernah melihat Mama sebahagia itu sejak... sejak kecelakaan Dinda."
Keyla menatap mata Dipta yang gelap. Di sana, ia tidak lagi melihat predator yang haus kontrol. Ia melihat seorang pria yang sedang mencoba untuk sembuh.
"Ibumu butuh teman, Dipta. Bukan hanya penjaga dan dokter. Dia butuh seseorang untuk berbagi cerita," ujar Keyla. "Dan kau... kau juga butuh itu. Kau tidak harus memikul semua beban ini sendirian."
Dipta menarik Keyla ke dalam pelukannya. Kali ini, Keyla tidak melawan. Ia menyandarkan kepalanya di dada Dipta, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang. Di bawah naungan mansion tua yang penuh rahasia ini, untuk pertama kalinya, Keyla merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ada jalan keluar dari kegelapan ini—bukan dengan melarikan diri, tapi dengan saling menyembuhkan.
"Malam ini kita menginap di sini," bisik Dipta di rambut Keyla. "Aku ingin menikmati ketenangan ini sebentar lagi sebelum kembali ke dunia nyata."
Keyla mengangguk pelan. Di balik jendela lantai dua, ia melihat bayangan Sofia yang sedang melambaikan tangan sebelum lampu kamarnya dimatikan. Di sana, di mansion yang sunyi itu, sebuah babak baru dalam hidup mereka baru saja dimulai—sebuah babak di mana cinta mulai tumbuh di sela-sela duri obsesi.
***
Bersambung..
mahasiswa normal, apakah kau pernah jadi mahasiswa normal, Dipta ? melihat sikapmu yakin kau tak pernah jadi mahasiswa normal atau bahkan lbh parah, tak pernah kuliah
Dipta, gunakan hati & otakmu, bisa kan ? kalau kau ingin Keyla menurut, perlakukan dia dg baik, dg pendekatan hati pasti timbal baliknya juga baik
ayo Dipta buktikan, dirimu manusia baik" atau kakek moyangnya iblis dg perilakumu