Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. Pertemuan yang menyakitkan
Lucas meneguk ludahnya, keringat dingin yang mencuat dari permukaan kulit dahinya tidak ia hiraukan sampai cairan itu mengalir melewati pelipisnya lalu membasahi pipinya. Sepanjang perjalanan menuju kamar rawat adiknya, ia melewati berbagai macam pemandangan yang membuat jantungnya berpacu liar. Di bagian lorong itu, seorang pasien berusia muda sedang ditenangkan oleh petugas keamanan. Teriakan nyaring memekakkan telinga yang didengarnya kemudian sukses membuat pria itu nyaris kehilangan separuh kewarasannya.
"Maaf atas ketidaknyamanan ini, Tuan Muda Moses". Ucap sang perawat tua yang menjadi pemandu jalannya saat ini. Lucas tak mempedulikan ucapan wanita tua itu. Pria itu terlihat sibuk memandangi hiruk-pikuk keramaian manusia dengan gangguan jiwa yang berteriak sesuka hati. Kamar-kamar yang tersedia di rumah sakit itu mungkin lebih kecil dari kamar pelayan di rumahnya. Bagaimana bisa seseorang rela menghabiskan waktunya di tempat sempit seperti itu?
"Di mana kamar adikku?" Tanya Lucas dengan suara bergetar yang tidak bisa ia tutup-tutupi.
"Tunggulah di sini, Tuan. Aku akan memanggil pasien atas nama Ervana". Sang perawat tua menarik pelan sebuah kursi kayu yang memang disediakan untuk tamu.
Sementara itu, sang perawat tua yang kemudian diketahui bernama Mona buru-buru melangkahkan kakinya ke arah kamar bernomor 14.
"Ema, kupikir kau akan terlambat". Ucap Mona dengan nada penuh kekhawatiran.
"Tidak akan! Gadis ini tidak mungkin mengadukan segala perbuatan kita pada Tuan Lucas". Ema berucap tenang, mengabaikan kekhawatiran berlebihan yang ditunjukkan oleh sang perawat tua.
Di sudut kamar bernomor 14 itu, Ervana diam seolah tak peduli dengan pembicaraan dua manusia tak punya hati nurani di depannya ini. 10 menit yang lalu, Ema menemuinya lalu mengancamnya dengan berbagai hal. Mengatakan bahwa ia tidak perlu mengadukan segala perlakuan buruk yang ia dapatkan di tempat ini. Ema memberinya tatapan sinis yang nantinya akan diingat oleh Ervana seumur hidupnya.
"Kau paham maksudku, Ervana?" Nada suara Ema terdengar sangat tenang, namun Ervana yakin sekali wanita angkuh itu berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan ketakutannya.
Sedetik kemudian, Ervana memberikan sebuah anggukan yang membuat Ema mengelus dadanya dengan gerakan dramatis, terlalu dibuat-buat.
Dua manusia itu lalu menyeret pelan tubuh ringkih Ervana yang semakin kurus karena siksaan fisik dan batin yang kerap diterimanya di rumah sakit itu.
"Maaf Tuan Lucas, kami sedikit lama. Nona Ervana sedikit memberontak ketika kami mengajaknya ke sini". Dalam situasi segenting ini, Ema bahkan masih punya kesempatan untuk menjatuhkan nama baik Ervana. Tangan kanan wanita itu merengkuh pelan tubuh Ervana sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk merapikan rambutnya sendiri, berusaha terlihat sempurna di mata Lucas yang sejak tadi menatap adiknya tanpa berkedip.
"Terima kasih". Balas pria itu singkat.
"Sama-sama, Tuan Lucas. Sudah menjadi tug-"..
"Pergilah! Tinggalkan kami sendiri". Ucap Lucas terburu-buru bahkan sebelum Ema menyelesaikan dustanya. Perawat itu hanya tersenyum kecut sebelum meninggalkan dua bersaudara itu. Mona yang menyadari kehadirannya tidak dibutuhkan siapapun juga melakukan hal yang sama, pergi setelah sadar atmosfer di ruang temu itu sedikit berbeda.
"Hai". Ucap Lucas pelan sekali.
"Duduklah". Ucapnya sambil memegang tangan sang adik. Satu hal baru kemudian membuatnya tersadar, tangan adiknya terluka parah.
"Tanganmu kenapa?" Tanya pria itu dengan penuh kekhawatiran dan rasa jijik. Lucas bahkan menghempaskan tangan Ervana sampai membentur sudut meja. Ervana diam, bahkan tak berteriak ketika darah segar mencuat dari luka basahnya. Gadis itu menggigit bibirnya dengan sekuat tenaga, menahan rasa sakit yang membuatnya nyaris kehilangan kesadaran.
"Maafkan aku! Aku tidak sengaja melakukannya". Pria itu hendak menyentuh tangan adiknya yang lain, yang sekiranya tak membuatnya jijik namun Ervana memundurkan tubuhnya dengan gelisah.
"Jangan menyentuhku? Itu hanya membuat Tuan Lucas merasa jijik". Ucap Ervana tanpa menatap wajah kakaknya. Tuan Lucas? Panggilan itu membuat sang pemilik nama merasakan sakit yang tak bisa ia jabarkan.
"Aku kakakmu, Vana bukan tuanmu!" Ucap pria itu dengan sedikit berteriak, nyaris tak bisa menyembunyikan amarahnya yang mengebu-gebu.
"Aku terlalu menjijikkan untuk menjadi adikmu, Tuan Lucas. Pergilah! Apakah Tuan tidak malu jika seluruh penjuru kota kalau Tuan Lucas yang tersohor baru saja menjenguk diriku yang begitu menjijikkan dan murahan?"
"Jangan menguji kesabaranku, Vana! Aku kakakmu, sudah sepatutnya kau menunjukkan sikap hormatmu!"
"Seingatku, aku tidak punya kakak". PLAK, beberapa saat kemudian suara tamparan terdengar bergema di ruangan itu, sebelum lenyap terbawa angin. Ervana mundur selangkah lalu menyeka sudut bibirnya yang terluka karena tamparan keras itu.
"Beginikah balasanmu? Aku mengabaikan pekerjaanku hanya karena ingin bertemu denganmu dan tau kondisimu. Namun, sedikitpun kau tidak pernah mau menghargai pengorbananku. Aku paham jika kau gila, namun tak seharusnya kau berlaku kurang ajar seperti ini.Kupikir, memberimu pelajaran selama enam bulan sudah cukup memperbaiki tabiat burukmu nyatanya kau tak lebih dari wanita murahan!" Lucas menatap adiknya dengan tatapan benci. Tangannya terkepal sempurna, tanda jika amarahnya sedang membumbung tinggi.
"Aku memang murahan dan menjijikkan. Pergilah". Ervana berucap datar, tanpa air mata dan rasa takut yang dulu sering ia tunjukkan.
"Kau benar-benar gila?" Lucas Moses berucap pelan, nyaris berbisik. Bisikan itu terdengar seperti sebuah kalimat penghinaan yang mengguncang sisa-sisa harga diri Ervana.
"PERGI KUBILANG PERGI". Bugh, bugh, bugh. Setelah teriakan nyaring itu, Ervana membenturkan tangannya yang terluka ke pinggiran meja. Darah segar kemudian mengalir deras dari permukaan kulitnya. Tak ada air mata atau ekspresi ketakutan. Hanya tatapan kosong yang membuat dada Lucas semakin sesak.
"Tenanglah! Berhenti menyakiti diri sendiri. Aku tidak suka". Lucas mencengkeram erat kedua lengan adiknya lalu menatap intens wajah lusuh itu. Deg, apa ini? Tatapan itu terlihat kosong, namun Lucas bisa melihat kepingan rasa sakit yang susah payah disembunyikan adiknya. Tidak ada lagi Ervana yang menghubunginya hanya karena merindukan suaranya. Tidak ada lagi Ervana yang mau melakukan apapun asalkan kakaknya memberinya sedikit perhatian. Tatapan itu kosong dan...mati. Lucas merasakan tenggorokannya sesak. Pria itu bahkan kesulitan meneguk ludahnya sendiri.
"Pergilah! Tempat ini hanya pantas untuk orang gila sepertiku". Ervana berucap pelan. Sementara Lucas sibuk menatap penampilan sang adik. Rambut panjangnya terlihat kusut dan berminyak. Matanya cekung dan tulang pipinya menonjol. Di bagian dada pakaian sang adik terdapat semacam tanda pengenal berupa angka bernomor 14. Ya Tuhan ini menyakitkan.
"Kau memilih angka 14? Kenapa? Bukankah itu tanggal lahirmu?" Tanya Lucas dengan hati-hati.
"Aku tidak pernah memilihnya". Ervana menjawab pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam seolah tak ingin bertatapan dengan wajah tampan kakaknya.