NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 2

Sang ibu sudah tak tahan lagi melihat putrinya. Hatinya perih, setiap kali menatap Karin yang seperti tubuhnya ada, tapi jiwanya seakan hilang. Seolah putrinya hanya bernapas, tanpa hidup.

Setiap momen sederhana menjadi luka bagi sang ibu. Saat makan, ia menyiapkan makanan kesukaan Karin. Karin memandanginya dengan senyum tipis, lalu makan sedikit demi menghargai ibunya—tapi lidah dan hatinya tak lagi merasakan rasa makanan itu.

Kadang sang ibu mengajaknya menonton bioskop. Popcorn di tangan, layar yang berwarna-warni, tapi tatapan Karin tetap kosong, menatap tanpa melihat. Ibu hanya bisa duduk di sampingnya, hati semakin sakit.

Ketika Karin jatuh sakit, sang ibu rela menjaga putrinya sampai lelah, menahan kantuk, menahan rasa frustrasi yang menumpuk. Ia memikirkan membawa Karin ke psikiater, tapi hati kecilnya menahan—takut menyinggung putrinya, takut Karin semakin menutup diri.

Di kamar, sang ibu sering duduk diam, menatap kosong ke dinding, memutar-mutar rencana di kepala untuk mengembalikan putrinya seperti dulu. Kadang ia mengutuk pria yang telah menghancurkan hati Karin.

“Semoga Arka tidak pernah bahagia dengan wanita lain,” doanya selalu begitu, lirih tapi penuh amarah dan kasih.

Hingga akhirnya kesabarannya habis. Suatu sore, ketika melihat Karin lagi-lagi tenggelam dalam tangis dan lamunan, ia meledak.

“Hei! Sampai kapan kamu seperti ini, ah!? Karin!”

Bunyi bentakan itu keras, tapi di balik kemarahan itu tersimpan cinta.

“Kamu bodoh kalau terus-terusan begini cuma karena pria itu!”

“Mama udah muak lihat kamu seperti ini! Lupakan pria itu! Mama tidak melahirkan kamu untuk jadi seperti ini! Kamu mengerti?!”

Karin menunduk, tak bisa menjawab. Air mata tetap mengalir, tapi kali ini tangisnya berbeda—bukan lagi hanya rindu pada Arka, tapi juga penyesalan.

Ia sadar, selama berbulan-bulan ia telah membebani ibunya. Tanpa sadar, setiap tangisan, setiap lamunan, telah menimbulkan kesedihan dan kecemasan pada orang yang paling mencintainya.

Karin menangis di pelukan ibunya, untuk pertama kali menangis bukan hanya karena Arka, tapi karena ia menyadari: ia tak sendirian di dunia ini, dan cintanya pada ibunya tetap ada, meski hatinya hancur.

Karin tak ingin lagi menjadi sumber kesedihan bagi ibunya. Setiap mata lelah, setiap napas panjang sang ibu, membuat dadanya semakin sesak oleh rasa bersalah. Ia sadar, luka yang ia rawat terlalu lama telah ikut melukai orang yang paling mencintainya.

Karena itu, Karin mengambil sebuah keputusan.

Ia memutuskan pergi ke Korea.

Bukan untuk melarikan diri sepenuhnya, tapi untuk memberi jarak—pada kenangan, pada rasa sakit, dan pada dirinya sendiri. Ia berharap, dengan berlibur selama satu bulan, pikirannya bisa lebih tenang. Mungkin udara yang berbeda, bahasa yang asing, dan langkah kaki di tempat yang tak menyimpan jejak Arka bisa membantunya bernapas kembali.

Ia tak berharap bisa melupakan Arka seketika. Karin tahu, delapan tahun tidak bisa dihapus hanya dengan satu perjalanan. Tapi setidaknya, ia ingin bangun pagi tanpa langsung menangis. Ia ingin tidur tanpa mimpi tentang Arka. Ia ingin kembali merasakan hidup, walau sedikit.

Di bandara, sebelum berangkat, Karin memeluk ibunya erat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berjanji—bukan dengan kata-kata, tapi dengan tekad di dalam hatinya—bahwa ia akan mencoba bertahan.

Mungkin Korea tak akan menyembuhkan segalanya.

Tapi Karin berharap, di sana, ia bisa menemukan versi dirinya yang perlahan bangkit—

versi yang tak lagi sepenuhnya hancur karena satu nama.

Sebelum melangkah masuk ke dalam pesawat, Karin berhenti.

Langkahnya tertahan.

Ia menoleh ke belakang.

Bukan pada bandara.

Bukan pada orang-orang yang lalu-lalang.

Tapi pada masa lalunya.

Wajah Arka seolah muncul di ingatannya—senyumnya yang dulu membuat hatinya tenang, tatapannya yang pernah membuatnya merasa dicintai. Ia teringat canda mereka, tawa yang pecah tanpa alasan, tangisan yang mereka lewati bersama, pertengkaran-pertengkaran kecil yang dulu selalu berakhir dengan pelukan.

Delapan tahun hidupnya… semuanya ada di satu nama.

Air mata kembali jatuh, pelan, tanpa suara.

Namun kali ini Karin cepat menghapusnya. Ia menarik napas panjang, dadanya naik turun, seolah sedang mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ia punya.

“Selamat tinggal, Arka,”

ucapnya dalam hati.

Tangannya terangkat pelan, melambai ke arah kenangan—

seperti melambai pada bayangan yang tak bisa disentuh,

pada masa lalu yang tak bisa dibawa pergi.

Lalu ia membalikkan tubuhnya.

Melangkah masuk ke dalam pesawat.

Meninggalkan satu kota,

satu cerita,

dan satu cinta

yang pernah menjadi seluruh dunianya.

Karin akhirnya tiba di Bandara Incheon setelah menempuh perjalanan panjang di dalam pesawat.

Begitu roda pesawat berhenti sempurna, ia menunggu dengan sabar di antara deretan penumpang lain yang perlahan berdiri. Antrian terasa panjang, tapi anehnya ia tidak tergesa. Seolah tubuhnya masih menyesuaikan diri dengan jarak yang baru saja ia ciptakan dari masa lalunya.

Setelah keluar dari pesawat, Karin melangkah menyusuri lorong bandara dengan membawa tas ransel di punggungnya dan koper putih yang ditarik di sampingnya. Langkahnya pelan, tapi mantap.

Udara Bandara Incheon terasa segar. Dingin tipis menyentuh kulitnya. Asing—ya. Tapi justru karena keasingan itu, Karin merasa sedikit lebih baik. Lebih baik daripada tetap tinggal di Indonesia, di tempat di mana setiap sudut jalan seolah menyimpan wajah Arka, setiap kenangan datang tanpa izin.

“Wah… akhirnya setelah sekian lama aku datang juga ke Korea,”

gumamnya pelan.

Senyum kecil terukir di bibirnya. Senyum yang belum sepenuhnya pulih, tapi cukup jujur untuk mengatakan bahwa ia sedang mencoba. Wajahnya masih terlihat lelah, matanya masih menyimpan bayangan sedih, tapi ada sesuatu yang berbeda—sebuah harapan tipis yang belum pernah ia rasakan selama berbulan-bulan terakhir.

Bandara tampak ramai. Orang-orang berlalu lalang dengan bahasa dan wajah yang berbeda-beda. Ada yang terdengar berbicara Mandarin, Jepang, Inggris, dan tentu saja bahasa Korea yang masih asing di telinganya. Semua terlihat sibuk dengan tujuan masing-masing.

Di tengah keramaian itu, Karin berdiri sendiri—

seorang perempuan dengan luka lama di hati,

namun untuk pertama kalinya,

melangkah ke tempat yang tidak mengenalnya sebagai “mantan Arka”.

Di sinilah perjalanannya dimulai.

Untuk menuju penginapan yang sudah ia pesan, Karin menaiki taksi dari Bandara Incheon.

Hari sudah menjelang pagi. Langit belum sepenuhnya terang, tapi kota Seoul telah hidup. Di dalam taksi, Karin duduk di kursi belakang sambil memandangi pemandangan di balik kaca jendela.

Gedung-gedung tinggi berdiri berjejer, lampu-lampu kota masih menyala, memantulkan cahaya ke jalanan yang basah oleh embun pagi. Di hampir setiap sudut gedung, terpampang iklan besar—wajah-wajah artis papan atas Korea, para idol K-Pop yang selama ini hanya ia lihat di layar ponsel.

Seoul terasa indah. Ramai, modern, dan penuh warna.

Sangat berbeda dari suasana yang ia tinggalkan.

Karin ingin mengabadikan momen itu. Tangannya sempat terangkat, ingin merekam perjalanan dengan kameranya. Namun ia ragu—ia sedang berada di dalam taksi, dan tak ingin bersikap tidak sopan.

Akhirnya, dengan bahasa Inggris yang ia bantu terjemahkan ke bahasa Korea lewat Google, ia memberanikan diri bertanya pada sopir taksi.

“Sir, may I open the window? I want to take a video.”

Sopir itu menoleh sedikit melalui kaca spion, lalu menjawab dengan nada ramah.

“Because we are on a city road, it’s not allowed to put your hand outside. You can record from inside the car.”

Karin membaca terjemahannya di layar ponsel. Senyum kecil langsung muncul di wajahnya.

“Gamsahamnida,”

ucapnya pelan dengan logat yang masih kaku.

Sopir itu tersenyum singkat dan kembali fokus ke jalan.

Karin kembali menatap keluar jendela. Kamera di tangannya merekam kota yang perlahan bergerak—bukan hanya gedung dan lampu, tapi juga awal baru yang diam-diam sedang ia jalani.

Di balik kaca taksi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama,

Karin merasa… sedikit lebih ringan.

Namun, seindah apa pun pemandangan di luar jendela, nama itu tetap muncul di benak Karin.

Arka.

Ia membayangkan seandainya Arka duduk di sampingnya sekarang. Menemaninya merekam, tersenyum kecil, atau sekadar menatapnya sambil berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bayangan itu datang begitu saja, tanpa permisi.

Dada Karin terasa sedikit sesak.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya menggenggam kamera lebih erat, seolah menahan pikirannya agar tidak kembali hanyut.

“Karin, ayo move on,”

katanya pada diri sendiri, lirih tapi tegas.

Bukan sebagai perintah, tapi sebagai permohonan pada hatinya sendiri.

Ia kembali mengarahkan kamera ke luar jendela. Gedung-gedung tinggi, cahaya kota, papan iklan yang berkilau—semuanya terekam pelan-pelan. Setiap detik yang berlalu terasa seperti usaha kecil untuk memilih hidupnya sendiri, bukan terus tinggal di masa lalu.

Tak lama kemudian, taksi itu berhenti di depan penginapan.

Karin mematikan kamera.

Ia turun dari mobil, menarik koper putihnya, dan menatap bangunan di depannya. Tempat asing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!