Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
misi Penyelamatan yang gagal
Long Wei keluar dari kamar dengan langkah kaki yang berat, mengunci pintu dari luar dengan kunci besi yang besar. Suasana kamar menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan Yang Chi yang terduduk lesu dengan kaki digembok pada tiang ranjang.
Namun, di tengah kesunyian malam, tiba-tiba terdengar suara ketukan halus pada jendela rahasia di balik tirai.
"Xiao Xi... Xiao Xi... apakah kau di dalam?" Suara itu berbisik, sangat rendah dan penuh kewaspadaan.
Yang Chi tersentak. Jantungnya berdegup kencang. "Siapa kau?" tanyanya dengan nada takut sekaligus berharap.
"Ini aku, Bai Lang!"
Yang Chi langsung memutar otaknya. Bai Lang. Ia ingat! Dalam novel yang ia tulis, Bai Lang adalah kakak laki-laki Xiao Xi Huwan. Dia adalah seorang jenderal pemberani dari kerajaan tetangga yang sangat menyayangi adiknya, meski adiknya itu sering berbuat onar.
"Aaa... syukurlah!" seru Yang Chi tertahan, air matanya hampir tumpah karena lega. "Iya, tolong aku! Aku ada di sini, kaki dan tanganku dirantai!"
"Tenanglah, Adikku. Aku akan masuk," jawab Bai Lang.
Dengan keahlian bela diri yang tinggi, Bai Lang berhasil mencongkel jendela dan melompat masuk ke dalam kamar. Ia segera mendekati Yang Chi. Begitu melihat adiknya dalam keadaan mengenaskan—terantai di lantai dengan jubah putih kebesaran yang kotor—matanya berkilat marah.
"Berani sekali Long Wei memperlakukan Putri Kerajaan kami seperti ini!" geram Bai Lang sambil mengeluarkan sebuah kawat kecil dan alat pemotong besi dari balik pakaian hitamnya.
Cklek!
Dengan cepat, Bai Lang berhasil membuka gembok di kaki Yang Chi.
"Ayo, kita harus pergi sekarang sebelum Kaisar itu kembali," ajak Bai Lang sambil membantu Yang Chi berdiri.
Namun, Yang Chi mendadak ragu. Jika dia kabur sekarang, dia akan benar-benar dianggap sebagai pengkhianat dan pembunuh selamanya oleh Long Wei. Tapi jika dia tetap di sini, besok pagi kepalanya akan dipenggal.
"Tapi Kak... pintunya dikunci dari luar, dan Long Wei ada di luar sana," bisik Yang Chi panik.
"Aku sudah menyiapkan jalan keluar lewat atap. Ikut aku!" Bai Lang menarik tangan Yang Chi.
Tepat saat mereka hendak melompat ke arah jendela, terdengar suara kunci pintu diputar dari luar. Long Wei kembali lebih cepat dari yang dibayangkan!
"Sial, dia kembali!" desis Bai Lang sambil menghunus pedangnya, bersiap melindungi adiknya.
Tanpa membuang waktu, Bai Lang segera merengkuh pinggang Yang Chi dengan satu tangan dan memegang tangannya erat. Dengan sekali hentakan kaki yang kuat, Bai Lang menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk melompat ke arah plafon yang terhubung dengan jalan rahasia di atap istana.
"Pegang erat, Xiao Xi!" seru Bai Lang.
BRAKK!
Pintu kamar terbuka lebar tepat saat kaki Yang Chi menghilang di balik celah atap. Long Wei masuk dengan napas memburu, wajahnya yang tadi dingin kini dipenuhi amarah yang meledak saat melihat gembok di tiang ranjang sudah hancur berantakan.
"Jangan kabur kau, Xiao Xi Huwan!" teriak Long Wei menggelegar.
Long Wei tidak tinggal diam. Ia melesat, melompat dengan kecepatan luar biasa menyusul mereka ke atas atap. Di bawah sinar bulan purnama, terjadilah kejar-kejaran yang sengit di atas genteng istana yang licin.
Yang Chi menoleh ke belakang dengan panik. Ia melihat Long Wei mengejar mereka dengan pedang yang berkilat tertimpa cahaya bulan. Wajah Kaisar itu terlihat sangat menakutkan, seperti iblis yang sedang berburu mangsa.
"Kak, dia makin dekat! Cepat!" pekik Yang Chi ketakutan.
"Jangan menoleh! Fokus ke depan!" balas Bai Lang sambil terus melompat dari satu atap ke atap lainnya menuju dinding luar istana.
Long Wei berteriak dari belakang, "Jika kau pergi sekarang, kau tidak akan pernah bisa kembali! Aku akan menghancurkan kerajaanmu sampai tidak ada satu pun yang tersisa!"
Mendengar ancaman itu, Yang Chi merasa hatinya mencelos. Di satu sisi, ia ingin selamat, tapi di sisi lain, ia tidak ingin perang besar terjadi hanya karena dirinya.
Sret!
Long Wei melemparkan sebuah pisau kecil yang nyaris mengenai kaki Yang Chi. Pisau itu menancap di genteng tepat di sebelah kaki mereka.
"Hentiikan, Long Wei! Dia adalah adikku!" teriak Bai Lang sambil membalas dengan lemparan bom asap kecil.
BOOM!
Asap putih pekat seketika menutupi pandangan di atas atap. Bai Lang menggunakan kesempatan itu untuk melompat turun ke arah kuda yang sudah menunggu di luar tembok.
Asap putih yang dilepaskan Bai Lang perlahan menipis, namun sial bagi Yang Chi, jubah putih kebesaran milik Long Wei yang ia kenakan justru menjadi bumerang. Ujung jubah yang terlalu panjang itu tersangkut di kaitan naga pada ujung atap saat ia hendak melompat turun.
"Aaaaa!" Yang Chi kehilangan keseimbangan. Tubuhnya tertarik ke belakang dan ia merosot jatuh dari ketinggian atap istana.
"Xiao Xi!" teriak Bai Lang histeris dari kejauhan. Ia mencoba berbalik untuk menangkap adiknya, namun jarak mereka sudah terlalu jauh.
Hup!
Bukannya menghantam lantai marmer yang keras, tubuh Yang Chi mendarat tepat di pelukan seseorang. Long Wei sudah berdiri di bawah sana, seolah tahu persis di mana Yang Chi akan terjatuh. Ia menangkap tubuh mungil Yang Chi dengan tangan kekarnya, memeluknya dengan sangat erat seolah tak ingin melepaskannya lagi.
Napas Long Wei memburu di dekat telinga Yang Chi. "Kau pikir bisa lari dariku setelah semua yang terjadi?" desisnya dengan suara rendah yang mematikan.
Bai Lang mendarat di atas tembok istana dengan pedang terhunus, wajahnya merah padam melihat adiknya didekap oleh musuhnya. "Lepaskan dia, Long Wei! Dia adikku, dia bukan milikmu!"
Long Wei mendongak, menatap Bai Lang dengan tatapan penuh tantangan. Alih-alih melepaskan, ia justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Yang Chi, memaksa gadis itu menempel pada dadanya.
"Bai Lang, kau terlambat," ucap Long Wei tegas, suaranya menggema di kesunyian malam. "Sekarang dia milikku. Sebagai tahanan, sebagai musuh, atau sebagai apa pun yang aku inginkan. Jika kau berani melangkah satu inci saja ke dalam wilayahku, aku tidak akan segan-segan mengirim kepalanya kembali ke kerajaanmu."
Yang Chi gemetar di dalam pelukan Long Wei. Ia bisa merasakan detak jantung kaisar itu yang sangat kencang. "Tuan... lepaskan... Kakakku tidak salah..." rintih Yang Chi lemas.
"Diam, Xiao Xi! Kau sudah kehilangan hak untuk bicara saat kau mencoba kabur dariku," bentak Long Wei tanpa melepaskan pandangannya dari Bai Lang.
Bai Lang mengepalkan tinjunya hingga bergetar. Ia tahu jika ia menyerang sekarang, Yang Chi akan dalam bahaya. "Jika kau menyakitinya sedikit saja, Long Wei, aku akan meratakan istana ini dengan tanah!"
"Coba saja kalau kau bisa," balas Long Wei dingin. Ia kemudian berbalik sambil tetap menggendong Yang Chi masuk ke dalam istana, mengabaikan teriakan kemarahan Bai Lang yang tertahan di balik tembok.
Long Wei membanting pintu kamar dan menguncinya dengan tiga putaran kunci. Aura kemarahannya membuat udara di ruangan itu terasa membeku. Ia menjatuhkan Yang Chi ke atas ranjang dengan kasar.
"Xiao Xi, kau benar-benar terlalu berani untuk lari dari sini," geram Long Wei sambil menarik kembali rantai besi yang lebih berat.
Ia mengikat kedua tangan Yang Chi ke kepala ranjang, kali ini jauh lebih kencang dari sebelumnya. Yang Chi hanya bisa meringkuk ketakutan, jubah putihnya yang robek tersingkap, memperlihatkan luka lecet akibat tersangkut di atap tadi.
Long Wei berdiri di tepi ranjang, menatap Yang Chi dengan tatapan yang sulit dibaca—antara benci, marah, dan sesuatu yang lain yang ia sendiri tidak pahami.
"Sepertinya aku tidak akan membunuhmu besok, Xiao Xi," ucap Long Wei dengan nada dingin yang misterius.
Yang Chi mendongak, matanya yang sembab menatap Long Wei penuh tanya. "Tuan... maksud Anda?"
Long Wei mendekatkan wajahnya ke wajah Yang Chi, jemarinya mengusap dagu Yang Chi dengan kasar. "Kematian terlalu mudah bagimu. Jika kau mati, aku kehilangan mainanku yang paling menarik. Aku akan membiarkanmu hidup, tapi di dalam penjara yang paling mewah: kamar ini. Kau tidak akan pernah melihat matahari lagi tanpa izinku."
Yang Chi gemetar. "Tuan, Anda tidak bisa melakukan ini! Anda memperlakukanku seperti pajangan!"
"Kau yang memaksa tanganku, Xiao Xi," balas Long Wei sambil berbalik dan mengambil botol minuman keras di atas meja. "Mulai sekarang, kau bukan lagi Putri Kerajaan tetangga. Kau hanyalah bayangan di kamarku yang tidak boleh diketahui siapa pun."
Yang Chi menangis dalam diam. Ia menyadari bahwa takdirnya di dunia novel ini berubah drastis. Ia tidak lagi mengejar eksekusi, tapi mengejar kebebasan dari obsesi gelap sang Kaisar.