NovelToon NovelToon
Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Spiritual
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .

bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

David menghela napas dalam-dalam, matanya menatap jauh ke arah kota yang menerangi malam. "Aku tahu, May... aku benar-benar tahu. Itu sebabnya aku mencoba menjaga jarak, mencoba fokus pada Naina yang selalu ada untukku."

Ia menepuk bahu Mayang dengan lembut. "Terima kasih sudah mengingatkan hal ini padaku. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun lagi, terutama tidak ingin merusak kehidupan yang sudah dibangun Aisyah."

" Kak David....apa aku boleh mengajukan satu pertanyaan?" Lirih Mayang hampir tak terdengar.

" Katakan lah."

" Apakah sampai hari ini kamu masih mencintai Aisyah?"

David terdiam sejenak, jari-jarinya secara tidak sengaja mengerutkan ujung syal yang ada di saku jasnya. Cahaya lampu balkon yang temaram menerpa wajahnya, menyembunyikan ekspresi sebenarnya di balik bayangan yang bergeser-geser.

Ia menoleh perlahan ke arah Mayang, matanya tampak dalam seperti lautan yang sedang menghadapi badai. "May..." suaranya terdengar berat, seperti membawa beban yang tak terkira selama bertahun-tahun. "Kau tahu kan, bagaimana awal mula aku dan Aisyah bersama ? Bagaimana kami selalu ada satu sama lain sebelum semua yang terjadi... semua di luar kehendak ku."

Ia mengambil langkah kecil ke depan, masih menatap jauh ke arah kota yang sibuk. "Cinta itu bukan seperti lampu saja, dinyalakan dan dimatikan sesuka hati. Tapi..." David menghentikan kalimatnya sejenak, tangan kanannya mulai menggenggam erat pagar besi balkon. "Tapi apa yang kamu sebut cinta, May... apakah itu sama dengan apa yang aku rasakan sekarang? Ataukah itu hanya kenangan yang terlalu dalam yang membuatku tak bisa benar-benar melangkah pergi?"

Suara kota malam seolah semakin redup, seolah semua fokus hanya pada jawaban yang akan keluar dari mulut David. Ia menoleh kembali ke Mayang, namun kali ini matanya memancarkan sesuatu yang tak bisa dikenali , adakah kesedihan? Harapan tersembunyi? Atau sesuatu yang jauh lebih besar dari itu semua?

"Kau tahu apa, Mayang... beberapa waktu yang lalu, aku menemukan sesuatu di dalam kotak lama milik ayahku. Sesuatu yang seharusnya sudah hilang bertahun-tahun yang lalu... sesuatu yang berkaitan dengan Aisyah." Ia mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jasnya, namun hanya menunjukkan bagian kecilnya yang tertutup oleh telapak tangannya. "Dan itu membuatku menyadari bahwa semua yang aku pikir sudah aku lupakan... ternyata hanya tertutup rapat di dalam diri ini."

Matanya kembali menatap benda di tangannya, kemudian perlahan menyembunyikannya lagi. "Jawaban atas pertanyaanmu, May... itu lebih rumit dari yang kamu bayangkan. Bahkan aku sendiri belum bisa menjawabnya dengan pasti. Yang aku tahu adalah, pertemuan kami kembali setelah dua tahun bisa mengubah segalanya."

Suara gemuruh kota seolah menjadi dering telinga yang menusuk dalam, sementara angin malam menerbangkan helai rambut Mayang yang mengelilingi wajahnya yang pucat. David melihatnya, dan seketika saja kenangan lama menyambar hatinya dengan tak terduga.

"Kau tidak tahu, May..." ujarnya dengan suara yang hampir hancur, jari-jari yang menggenggam pagar besi mulai memucat karena kekuatan genggamannya. "Dua tahun yang lalu, ketika aku terakhir melihatnya, dia berdiri di taman kota tempat kami menghabiskan waktu bersama ,dia memandangiku dengan wajah yang penuh dengan harapan. Aku ingin mengirim surat untuk memberitahunya bahwa aku harus pergi jauh, bahwa kita tidak bisa lagi seperti dulu. Aku yang memilih untuk menghilang dari kehidupannya tanpa menjelaskan mengapa."

Ia menutup mata sebentar, seolah mencoba menghalangi bayangan yang terus muncul di benaknya , Aisyah yang menangis diam-diam, tangannya yang masih ingin meraih dirinya sebelum mereka berpisah. "Aku berpikir itu adalah cara terbaik untuk melindunginya. Ayahku berkata bahwa dunia kami tidak akan pernah bisa bersatu, bahwa aku harus memilih antara keyakinan ku, masa depan dan cinta yang aku rasakan padanya. Dan aku memilih keyakinan ku... atau setidaknya aku berpikir aku melakukannya."

Ketika David membuka mata kembali, ada percikan air mata yang menempel di sudut matanya sebelum jatuh ke tangannya seperti mutiara yang patah. "Yang kutemukan di kotak ayahku itu bukan sekadar barang lama, May. Itu adalah surat yang pernah aku tulis untuknya sebelum semua keputusan dibuat ,itu adalah surat yang seharusnya aku kirimkan tapi malah aku sembunyikan karena tak punya keberanian untuk mengucapkan yang sebenarnya."

Ia mengeluarkan kertas kecil itu lagi dari saku, kali ini hanya sedikit membuka telapak tangannya agar Mayang bisa melihat sedikit bagiannya , selembar kertas kuning pudar dengan tulisan tangan yang sudah memudar, namun masih bisa dikenali. "Di dalamnya aku menulis bahwa aku akan selalu mencintainya, bahwa aku akan menunggu dia selama apa pun yang diperlukan. Tapi ayahku menemukan surat itu sebelum aku bisa mengirimkannya... dan kemudian dia melakukan sesuatu yang membuat aku berpikir bahwa Aisyah sudah tidak ingin melihatku lagi."

Suaranya kini benar-benar hancur, penuh dengan kesedihan yang telah terkubur selama bertahun-tahun. "Kabar bahwa dia sudah menikah, bahwa dia telah membangun kehidupan baru tanpa aku. Aku merasa seperti orang yang telah kehilangan separuh diriku sendiri, tapi aku berkata pada diriku bahwa itu adalah hukuman yang pantas untuk apa yang kulakukan padanya. Jadi ketika Naina datang dan selalu ada untukku, aku berpikir itu adalah tanda bahwa aku harus melangkah maju."

David menoleh ke arah kota yang menerangi malam, air mata akhirnya menetes deras di pipinya. "Tapi sekarang semua telah berubah itu karena kesalahan ku sendiri. Saat itu aku benar-benar di buat harus memilih oleh Firdaus. Tidak ada jalan lain selain harus meninggalkan nya meski semua itu bukan keinginanku yang sebenarnya. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan nya, atau apa yang harus kukatakan pada Naina. Aku hanya tahu bahwa aku telah menyakiti orang yang paling kusayangi dua kali lipat.dan kesalahan itu mungkin sudah tidak bisa di maafkan lagi."

Mendengar semua isi hati David,Mayang pun ikut terbawa suasana.Ia tak bisa membayangkan bagaimana kedua manusia yang saling mencintai itu harus terpisah karena sebuah keyakinan dan latar belakang yang jauh berbeda.

" Tapi sekarang semua tidak sama lagi, di sisi Aisyah sudah ada pria lain yang lebih berhak atas dirinya dan di sisi mu juga sudah ada wanita lain yang selalu setia mendampingi mu . Lupakan kisah cinta ini itu akan lebih baik untuk semua nya " Ujar Mayang sembari berjalan meninggalkan David yang masih berdiri di tempat nya menatap kota yang semakin malam semakin terlihat ramai .

David tidak bergerak sama sekali ketika mendengar kata-kata Mayang, bahkan tidak menyadari bahwa gadis itu sudah pergi meninggalkannya sendirian di balkon. Kaki nya terasa seperti tertanam di lantai, sementara suara kota yang ramai seolah menjauh semakin jauh, meninggalkannya dengan deru kegelapan yang menusuk hati.

Dia perlahan membuka telapak tangannya, memperhatikan selembar kertas kuning pudar yang sudah lapuk akibat usia. Jari-jarinya gemetar saat menyentuh tulisan yang sudah memudar ,kalimat-kalimat yang dulu ia tulis dengan penuh harapan, kini hanya menjadi saksi bisu dari rasa sakit yang tak kunjung sembuh.

"Sudah lebih baik untuk semua orang..." bisiknya pelan, sambil mengusap air mata yang masih mengalir tak terkendali. "Tapi bagaimana aku bisa melupakannya, May? Bagaimana aku bisa berpura-pura bahwa semua yang aku dan Aisyah lalui hanyalah sekadar mimpi?"

Dia menutup tangannya kembali, menyimpan surat itu dengan hati-hati ke dalam saku jasnya. Saat hendak berbalik untuk masuk ke dalam hotel, matanya tiba-tiba terpaku pada satu titik di kejauhan ,di tengah lautan lampu kota yang berkelap-kelip, ada sosok seorang wanita yang sedang berdiri di sudut jalan, mengenakan baju putih yang mudah dikenali.

Sosok itu tampaknya juga sedang menatap ke arah balkon tempat dia berdiri.

David merasa napasnya terhenti sejenak. Rambut panjang yang tertiup angin, bentuk bahu yang ia kenal seperti bagian dari dirinya sendiri ,apakah itu benar-benar Aisyah? Ataukah hanya khayalan yang muncul akibat kerinduan yang terlalu dalam?

Tanpa sadar, dia melangkah ke arah pagar besi, ingin melihat lebih jelas. Namun sebelum dia bisa memastikan apa yang dilihatnya, sebuah mobil berhenti di depan sosok itu. Seorang pria keluar dengan senyum hangat, membuka pintu mobil untuknya dan kemudian menyandarkan tangan di pundaknya dengan cara yang menunjukkan kedekatan yang dalam.

Sosok wanita itu mengangkat wajahnya, memberikan senyum yang lembut sebelum memasuki mobil. Pada saat terakhir sebelum pintu mobil tertutup, dia seolah-olah melihat ke arah David dan mengangguk perlahan ,seolah menyampaikan pesan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Mobil itu kemudian melaju menjauh, menghilang di antara lautan lampu dan kendaraan yang ramai. David berdiri sendirian di balkon, tangan kanannya masih menggenggam pagar besi dengan erat, sementara rasa sakit yang lebih dalam dari sebelumnya menyelimuti seluruh dirinya.

Kini dia tahu bahwa pertemuan yang akan datang bukan hanya tentang mengubah segalanya ,melainkan tentang menghadapi kenyataan yang telah dia coba lari selama dua tahun terakhir, dan memutuskan apakah cinta yang dia simpan hingga hari ini cukup kuat untuk menghadapi semua konsekuensi yang akan muncul.

Angin malam semakin kencang menerbangkan syalnya yang terpampang di saku jasnya, seolah ingin membawanya pergi jauh dari semua rasa sakit yang ada di dalam hatinya.

1
maya
makasih sudah mampir kk😍
Isabela Devi
waduh ada mata mata yg melapor tiap gerak gerik mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!