NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / One Piece / Fantasi Isekai
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJIAN TERAKHIR

Yamamoto bergerak pertama dengan kecepatan yang hampir tidak terlihat.

Tapi berbeda dengan tiga tahun lalu—sekarang mataku bisa mengikuti dengan sempurna.

Observation Haki aktif maksimal. Future Sight melihat sepuluh detik ke depan. Aku tahu dia akan slash dari kanan, feint ke kiri, lalu thrust ke arah dadaku.

Semua gerakan terlihat jelas seperti gerakan lambat.

Aku sidestep dengan timing sempurna—pedangnya melewati dengan jarak sejengkal. Langsung counter dengan slash diagonal dari bawah.

Hinokami menyala dengan api putih—suhu tiga ribu derajat yang bisa lelehkan baja instant.

CLANG!

Yamamoto block dengan pedangnya yang dilapisi Armament Haki pekat. Tapi untuk pertama kalinya—dia terdorong mundur tiga langkah.

Matanya melebar sedikit. "Kekuatanmu... sudah setara denganku..."

"Bukan setara. Lebih kuat."

Aku tidak kasih waktu bernapas. Maju dengan kombinasi slash cepat yang sudah kulatih ribuan kali. Setiap slash dilapisi Conqueror's Haki—menciptakan tekanan spiritual yang membuat tanah retak.

Yamamoto bertahan dengan susah payah. Dia yang biasanya tenang sekarang harus fokus penuh untuk parry semua serangan.

"Sabo! Sekarang!"

Sabo sudah bergerak—muncul dari blind spot Yamamoto dengan kecepatan luar biasa. Ryuseikon berputar seperti tornado—menciptakan pusaran angin yang dilapisi Haki.

"Ryuujin no Mai!"

Serangan ganda dari dua arah—tidak ada ruang menghindar.

Tapi Yamamoto bukan guru kami tanpa alasan.

"Kamaitachi no Jin!"

Dia spin pedang dengan kecepatan ekstrim—menciptakan barrier angin yang deflect semua serangan kami sekaligus. Lalu counter dengan gelombang slash yang menyebar ke segala arah.

Aku ubah tubuh bagian atas jadi api—Logia intangibility. Slash melewati tanpa damage.

Sabo gunakan Future Sight untuk prediksi jalur slash dan dodge dengan gerakan minimal.

"Bagus! Tapi masih belum cukup!"

Yamamoto melompat ke udara. Aura Haki meledak dari tubuhnya—intensitas naik drastis sampai langit di atas gelap.

"Ini teknik yang belum pernah kutunjukkan! Teknik terkuatku!"

Pedangnya mulai bersinar dengan cahaya hitam pekat. Conqueror's Haki mengalir dengan density yang mengerikan.

"MEIKAI ICHIGEKI!"

Slash raksasa turun dari langit—gelombang energi hitam yang membelah awan dan menghancurkan tanah di jalurnya.

Kekuatan destruktif level bencana alam.

"Ace! Kita harus gabung kekuatan!" Sabo berteriak sambil berlari ke sampingku.

"Aku tahu!"

Kami berdiri berdampingan. Mengumpulkan semua energi spiritual. Semua Haki. Semua tekad.

Hinokami dan Ryuseikon bersentuhan—api dan angin menyatu menciptakan tornado api raksasa.

"GUREN TATSUMAKI!"

Tornado api putih dengan Conqueror's Haki dari kami berdua—berputar naik untuk intercept slash Yamamoto.

BOOOOOMMMMM!

Benturan menciptakan ledakan yang terdengar sampai seluruh pulau. Gelombang shock menyebar—pohon tumbang, tanah retak, bahkan gunung berapi di tengah pulau bereaksi dengan erupsi kecil.

Saat asap dan debu menipis—

Kami masih berdiri. Meskipun napas terengah dan energi terkuras banyak—kami masih berdiri.

Yamamoto landing di depan kami. Pedangnya retak di beberapa bagian. Napasnya juga berat.

"Kalian... benar-benar sudah melampaui ekspektasiku..." dia tersenyum lebar—senyum bangga guru melihat murid sukses.

"Tapi pertarungan belum selesai! Masih dua puluh menit lagi!"

Dia menyerang lagi—tapi kali ini kami bisa lihat semua gerakannya. Bisa prediksi semua serangannya. Bisa counter dengan efektif.

Pertarungan berlangsung intens. Tidak ada yang mau mundur. Tidak ada yang mau kalah.

Lima belas menit berlalu. Kami sudah melukai Yamamoto di beberapa tempat—goresan di lengan, luka bakar ringan di bahu. Dia juga melukai kami—tapi tidak ada yang serius.

"Lima menit lagi! Tunjukkan semua yang kalian pelajari!"

Aku dan Sabo saling menatap. Mengangguk. Sudah waktunya untuk teknik terakhir—teknik yang kami develop khusus dalam satu tahun terakhir.

Kombinasi ultimate antara api, angin, dan Conqueror's Haki dari kami berdua.

"Yamamoto-sensei," aku berkata sambil mengumpulkan energi maksimal. "Terima kasih untuk semua yang sudah diajarkan. Dan maaf kalau ini akan menyakitkan."

Api putih menyelimuti seluruh tubuhku. Suhu naik drastis sampai pasir di kakiku meleleh jadi kaca. Mera Mera no Mi Awakening aktif—seluruh area lima puluh meter di sekitarku berubah jadi lautan api.

Sabo melakukan hal sama—tapi dengan angin. Observation Haki maksimal menciptakan pusaran angin yang menyedot semua udara di sekitar.

"Kalian... menciptakan teknik kombinasi..." Yamamoto bergumam kagum sekaligus waspada.

"Namanya—"

Kami bergerak bersamaan. Api dan angin menyatu. Conqueror's Haki dari kami berdua bergabung menciptakan tekanan spiritual yang membuat langit bergemuruh.

"KYUUKYOKU OUGI: SHINIGAMI NO KOKYU!"

Ultimate technique: Napas Dewa Kematian—kombinasi api dan angin yang menciptakan badai api dengan suhu ekstrim dan kecepatan rotasi yang menghancurkan segala di jalurnya.

Tornado api raksasa dengan diameter dua puluh meter bergerak maju—menelan segala yang ada di depan.

Yamamoto tidak bisa menghindar. Terlalu besar. Terlalu cepat.

Dia hanya bisa defend dengan semua Haki yang tersisa—

ROOOAAAARRR!

Tornado menelan dia selama lima detik penuh. Lima detik yang terasa seperti lima menit.

Saat tornado akhirnya berhenti dan api padam—

Yamamoto masih berdiri.

Tapi berlutut. Pedangnya patah. Baju terbakar. Luka di sekujur tubuh.

Tapi dia tersenyum. Tersenyum sangat lebar.

"Kalian... menang..." dia berkata sebelum kolaps ke tanah—pingsan karena kehabisan energi.

Hening.

Lalu kesadaran menghantam kami—kami menang. Kami benar-benar mengalahkan Yamamoto.

"KAMI LULUS!" Sabo berteriak sambil angkat tangan ke langit.

"TIGA TAHUN NERAKA SELESAI!" aku ikut berteriak—melepaskan semua stress dan tekanan tiga tahun dalam satu teriakan.

Kami merayakan dengan berlari-larian di pantai seperti anak kecil—meskipun tubuh kami sudah seperti remaja dewasa.

Setelah puas merayakan, kami kembali untuk rawat Yamamoto. Dia terbangun beberapa jam kemudian dengan perban dimana-mana.

"Kalian berdua monster..." dia mengeluh sambil mencoba duduk. "Teknik terakhir itu... bahkan aku yang sudah puluhan tahun jadi fighter tidak pernah bayangkan bisa menciptakan kombinasi seperti itu."

"Kami belajar dari yang terbaik," aku menjawab sambil tersenyum.

"Sekarang... kalian resmi lulus. Kekuatan kalian sudah setara Vice Admiral level menengah—mungkin bahkan bisa kalahkan Rear Admiral level Doberman dengan strategi yang benar."

Dia berdiri dengan susah payah—dibantu kami.

"Besok kita pulang ke Dawn Island. Kalian sudah tiga tahun tidak ketemu Luffy dan Dadan. Pasti mereka kangen."

"Kami juga kangen mereka."

Perjalanan kembali ke Dawn Island memakan waktu tiga hari dengan kapal kecil.

Sepanjang perjalanan, aku dan Sabo tidak bisa berhenti excited. Sudah tiga tahun tidak lihat keluarga. Tidak tahu bagaimana Luffy sekarang. Apakah dia sudah besar? Apakah dia sudah kuat?

Saat pulau Dawn Island akhirnya terlihat di cakrawala, jantungku berdetak lebih cepat.

Rumah. Kami pulang.

Kapal berlabuh di dermaga Foosha Village. Penduduk yang melihat kami terlihat bingung—tidak mengenali.

Wajar. Tiga tahun lalu kami masih anak kecil. Sekarang aku terlihat seperti remaja lima belas tahun dan Sabo seperti dewasa muda.

"Permisi," aku menghentikan salah satu penduduk. "Apakah Curly Dadan masih tinggal di gubuk gunung?"

"Ya, dia masih disana. Tapi siapa kalian—tunggu..." dia menatap lebih dekat. "Jangan bilang... Ace? Sabo?"

"Ya, kami pulang."

"KALIAN BERDUA SUDAH BESAR SEKALI! Bagaimana bisa—tidak, lupakan! Cepat ke gubuk! Dadan pasti senang sekali!"

Kami berlari ke gubuk—tidak sabar bertemu keluarga.

Saat sampai di depan gubuk, pintu terbuka. Dadan keluar dengan keranjang cucian—lalu melihat kami.

Keranjang jatuh. Mulutnya terbuka lebar.

"A... Ace? Sabo?"

"Kami pulang, Dadan-san," aku tersenyum lebar.

"KALIAN PULAAAAAANG!" dia berlari dan langsung peluk kami berdua erat sekali—menangis keras. "Tiga tahun! Tiga tahun kalian pergi! Aku kangen sekali!"

"Kami juga kangen."

Anak buah Dadan keluar—mereka juga shocked melihat kami yang sudah berubah drastis.

"Ace-niichan sudah besar!"

"Sabo juga tinggi sekali!"

"Kalian kelihatan sangat kuat!"

Kami tertawa—menikmati keramaian yang sangat kami rindukan.

"Dimana Luffy?" aku bertanya sambil melihat sekeliling.

"Luffy sedang latihan di hutan dengan—"

Sebelum Dadan selesai bicara, terdengar suara ledakan dari arah hutan.

Lalu suara teriakan familiar.

"GOMU GOMU NO... PISTOL!"

Jantungku berhenti.

Gomu Gomu no Mi. Buah karet.

Luffy sudah makan buah iblisnya.

Dari balik pohon, muncul bocah berusia sembilan tahun dengan topi jerami di kepala. Tubuhnya lebih tinggi dan berotot dibanding tiga tahun lalu. Dan yang paling mencolok—

Tangannya melar seperti karet saat dia pukul pohon besar—menghancurkannya jadi serpihan.

"YES! Akhirnya berhasil!" Luffy berteriak senang.

Lalu dia menoleh—dan melihat kami.

Matanya melebar. Topi jerami hampir jatuh dari kepala.

"Ace... nii? Sabo... nii?"

"Halo Luffy," aku tersenyum. "Kami pulang."

"ACE-NII! SABO-NII!"

Dia berlari—atau lebih tepatnya terbang—ke arah kami dengan kecepatan tinggi.

Memeluk kami berdua dengan erat sekali. Menangis sambil tertawa.

"Kalian pulang! Kalian benar-benar pulang! Luffy tunggu tiga tahun! Luffy pikir kalian lupa sama Luffy!"

"Kami tidak pernah lupa. Bahkan sehari pun," aku mengelus kepalanya—masih dengan topi jerami yang sama.

"Dan Luffy sudah jadi kuat! Lihat! Luffy bisa pukul pohon dengan satu pukulan sekarang!" dia pamer sambil tunjukkan lengan yang bisa melar.

"Kami lihat. Kau sudah jadi sangat kuat," Sabo memuji dengan tulus.

"Tapi Ace-nii dan Sabo-nii pasti lebih kuat kan? Kalian pergi latihan tiga tahun!"

"Mungkin sedikit lebih kuat," aku menjawab sambil tersenyum.

"Maka Luffy harus latihan lebih keras lagi! Supaya bisa sama kuat!"

Semangat yang tidak pernah pudar. Itu Luffy yang kami kenal.

Kami berkumpul di gubuk malam itu. Dadan masak makanan besar untuk rayakan kepulangan kami. Semua orang tertawa, cerita tentang tiga tahun terakhir, dan merayakan reuni keluarga.

"Jadi kalian benar-benar sudah sekuat Vice Admiral sekarang?" Dadan bertanya sambil minum sake.

"Mungkin. Kami belum test melawan Vice Admiral sungguhan," aku menjawab jujur.

"Tapi kalian pasti bisa menang melawan Doberman sekarang kan?"

"Kemungkinan besar ya."

"Bagus. Karena aku dengar Marine belum lupa soal kalian. Bounty kalian naik jadi delapan puluh juta sekarang—dan Sabo juga dapat bounty lima puluh juta."

Bounty naik meskipun kami menghilang tiga tahun. Berarti reputasi dari pertarungan dengan Doberman masih menyebar.

"Tidak masalah. Kami siap menghadapi siapapun sekarang."

Luffy yang sudah mulai mengantuk bersandar di bahuku.

"Ace-nii... jangan pergi lagi ya..."

"Kami tidak akan pergi kemana-mana. Setidaknya tidak dalam waktu dekat."

"Janji?"

"Janji."

Malam itu, aku tertidur dengan perasaan damai untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

Kami pulang.

Kami lebih kuat.

Dan sekarang—kami siap untuk fase berikutnya.

Fase dimana kami akan mulai membangun kru. Mulai bersiap untuk berlayar. Mulai menulis legenda kami sendiri.

Tapi itu cerita untuk hari lain.

Hari ini—kami cukup menikmati reuni dengan keluarga.

Menikmati kehangatan rumah.

Dan menikmati fakta bahwa tidak ada yang bisa pisahkan kami lagi.

Karena api takdir sudah menyatu dengan angin kebebasan.

Menciptakan badai yang akan guncangkan dunia.

1
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!