NovelToon NovelToon
Aku Menyerah!

Aku Menyerah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:50.8k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.

Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyongsong Kebebasan

Liztha baru saja selesai merapikan barang-barangnya. Ini sudah waktunya jam pulang kantor.

Sejak tadi kepala wanita itu terus-menerus menengok ke arah lorong, menanti kemunculan Zavian. Tapi lelaki hot itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Yang ada kini lehernya terasa pegal.

​Tapi beberapa saat kemudian ponsel Liztha bergetar dan di layar ada notifikasi pesan dari Rayyan. Dengan malas-malasan Liztha pun membuka pesan itu.

​"Temui aku di parkiran atau kita benar-benar putus!"

​Pesan bernada ancaman itu sedikit menggoyahkan hati Liztha. Ada perasaan takut juga jika Rayyan benar-benar memutuskan hubungan mereka. Lalu siapa lagi nanti yang akan memanjakannya dengan barang-barang branded? Sementara Zavian pun masih sulit untuk digapai.

Akhirnya Liztha menulis kata "oke," sebagai balasan. Untuk sementara, perburuannya pada Zavian dihentikan dulu.

​Liztha bergegas menuju parkiran. Saat sampai di tujuan, matanya menangkap sosok Rayyan tengah berdiri di sisi mobilnya. Tanpa buang waktu, dia segera menghampirinya dan masuk ke dalam mobil pria itu sebelum ada karyawan lain yang memergokinya.

​Rayyan ikut masuk dan langsung menyalakan mesin mobil, lalu segera melajukannya.

​Tak ada pembicaraan penting selama di perjalanan. Mereka sepakat berbicara nanti setelah tiba di apartemen yang mereka sewa bersama. Tentu saja dengan uangnya Rayyan.

​Hingga akhirnya perjalanan mereka tiba di tujuan.

​"Apa yang ingin kamu bicarakan?"

​Tanya Liztha setelah mendudukkan bokong seksinya di salah satu sofa di ruang tamu mereka. Blazer yang melekat di badannya pun sudah ditanggalkan dan menyisakan kemeja sutra tanpa lengan dengan potongan leher yang cukup rendah.

​"Apa maksud kamu bicara seperti itu tadi?" Rayyan balik bertanya. Aura wajah lelaki itu terlihat tegang dan dingin.

​"Kalau memang kamu ingin putus dariku, ok. It’s not a big deal for me." Lanjutnya, membuat ​Liztha terbungkam. Dia pikir, Rayyan akan merayunya seperti biasa kalau ia sedang ngambek. Tapi kali ini Rayyan malah berlaku di luar kebiasaannya.

​"Astaga sayang, kamu kenapa jadi kekanakan begini sih? Tadi itu aku marah karena kamu asal tuduh saja. Aku gak suka dicurigai. Meskipun banyak yang berusaha menggoda Pak Zavian, tapi aku nggak mungkin menjadi salah satu di antara mereka. Aku sudah punya kamu dan bagiku kamu tetap yang terbaik!" dusta Liztha dengan sangat lancar.

​Perlahan dia bangkit dari duduknya. Dengan langkah gemulai, ia menghampiri Rayyan dan duduk di pangkuannya dengan tubuh menghadap ke dada lelaki itu.

​"Kamu tuh sayang, sangat cemburuan!" Liztha terkekeh manja sambil mencubit ringan hidung Rayyan . Lalu tangan itu mulai bermain di dada sang lelaki, merambat ke leher dan bermain di rahangnya. Jemari lentik Liztha yang berkuku runcing dan berkutek merah, menari lembut di sana.

Tatapan mata Liztha kini berubah menjadi sayu dan menggoda, mencoba meruntuhkan benteng kemarahan Rayyan yang masih nampak di wajahnya. Ia sengaja menempelkan tubuhnya lebih erat, membuat kemeja sutra tipisnya bergesekan langsung dengan dada Rayyan. Napasnya yang hangat mulai berembus di telinga pria itu, membisikkan kata-kata manis yang mematikan.

"Apa kamu masih marah sama aku, sayang?" bisik Liztha seraya mengecup singkat rahang tegas Rayyan.

Rayyan sempat terdiam, namun Liztha tahu persis titik lemah pria ini. Kedua lengan Liztha kini melingkar erat di leher Rayyan, menarik wajah pria itu agar lebih dekat ke arah dadanya yang rendah. Dengan sengaja, Liztha menggigit bibir bawahnya sambil menatap lurus ke dalam mata Rayyan, memberikan kode yang sangat jelas.

Tanpa menunggu jawaban, Liztha mulai memberikan lumatan lembut di bibir Rayyan, sebuah ciuman yang awalnya pelan namun perlahan berubah menjadi penuh tuntutan. Tangannya yang bebas kini berpindah ke kancing kemeja Rayyan, membukanya satu per satu dengan gerakan yang sangat terampil hingga kemeja itu tersampir di bahu.

Rayyan yang tadinya terlihat dingin kini mulai terprovokasi. Geraman rendah keluar dari tenggorokannya saat tangannya secara refleks melingkar di pinggang ramping Liztha dan meremasnya kuat. Liztha tersenyum dalam hati, ia tahu kemarahan Rayyan telah berganti menjadi gairah yang membara. Di ruangan yang mulai terasa panas itu, Liztha memastikan bahwa Rayyan tidak akan pernah sanggup untuk benar-benar meninggalkannya malam ini.

***

Sepanjang mereka berc*nta, ponsel Rayan terung bunyi tiada henti. Tapi telinganya sudah tertutup oleh haea napsu dan gairah yang tengah menggelora.

Barulah setelah semua kegiatan itu selesai, Rayyan meraih ponselnya. Ia membaca pesan yang dikirimkan oleh Ayahnya. Herman menyuruh Rayyan pulang ke kampung halamannya untuk menemui dirinya.

"Dari siapa sayang?" Tanya Liztha sambil menyusupkan wajahnya ke dada bidang Rayyan.

"Bapak. Dia minta aku apulang sekarang juga."

"Loh, tapi kan besok kita mau staycation di hotel." Rengek Liztha tak terima. Rayyan membelai punggung polos wanita itu,, lalu mengecup bibirnya sedikit adak lama.

"Maaf sayang, aku harus pergi menemui Bapak. Sekalian akan membicakan tentang perceraianku dengan Ayra pada Bapak, biar semuanya cepat selesai.." Suara Rayyan dibuat sangat pelan, tepat di bibir sensual Liztha.

Wanita itu terdiam. Dia ingin marah tapi Rayyan ada benarnya juga, toh staycation bisa dilakukan kapan saja.

"Biar Rayyan segera menceraikan so Aura yang sombong itu." Pikirnya.

***

​"Rayyan, Bapak sangat kecewa padamu. Kamu sudah menyiksa lahir batin istrimu dan sekarang malah sengaja menggantung status pernikahan kalian. Di mana otak warasmu, Rayyan?" ucap Herman dengan suara bergetar menahan amarah dan kekecewaan yang bergumul di dadanya.

​Apalagi sekarang ia sudah mengetahui penyebab itu semua adalah Liztha, wanita yang sangat dibencinya. Herman juga yakin kalau pelaku teror pada dirinya pun adalah wanita itu.

​"Maksud Bapak, aku boleh mengajukan talak pada Ayra?" Mata Rayyan melotot kaget bercampur senang.

​"Mau bagaimana lagi? Ayra yang memohon pada bapak agar Bapak memberi restu supaya ia bisa melepaskan diri dari kamu."

​"Akhirnya..." batin Rayyan lega. Wajahnya terlihat semringah, seperti anak kecil yang baru saja dibolehkan main ponsel.

​"Bapak harap, kamu tidak terkena karma atas perbuatanmu ini," kata lelaki paruh baya itu. Lalu ia pun pergi ke kamarnya membawa rasa kecewa dan amarah yang menyesakkan dada.

​Sepeninggal Herman, Elly yang juga ada di situ langsung mengangkat jempolnya sambil tersenyum.

​"Iya Ray, cepat-cepat saja kamu ceraikan wanita tak berguna itu biar kamu juga cepat bebas mencari penggantinya. Ibu kan juga kepingin punya menantu yang bisa dibanggakan ke teman-teman arisan Ibu," kekehnya, lalu berdiri dan duduk di samping putranya.

​"Dasar Bapakmu itu main jodoh-jodohin saja. Mending kalau yang dijodohkan sama kamu itu perempuan hebat, punya pekerjaan bagus. Ini malah cuma jadi beban. Bisanya tiap bulan cuma menunggu gaji dari kamu. Cuih!" sungut Elly sebal. Bibirnya yang runcing mencuat ke atas, persis seperti iwapi alias ikatan wanita penyebar isu.

​"Sudah Bu, nggak usah dibahas lagi. Pokoknya sekarang kita harus merayakan ini. Sebentar lagi aku pun bebas dari si Ayra."

Rayyan menyandarkan punggungnya ke sofa dengan perasaan yang begitu ringan. Bayangan tentang kebebasan dan masa depannya bersama Liztha kini terasa begitu nyata di depan mata. Tidak ada lagi tuntutan untuk menjadi suami yang baik bagi wanita yang tidak ia cintai, dan tidak ada lagi beban finansial untuk menghidupi Ayra.

"Besok aku akan langsung mengurus semuanya, Bu," tambah Rayyan dengan nada penuh tekad. "Aku ingin hubungan ini selesai secepat mungkin sebelum Ayra atau Bapak berubah pikiran."

Elly mengangguk setuju sambil mengusap lengan putranya dengan bangga. Baginya, kebahagiaan Rayyan adalah yang utama, apalagi jika itu berarti menyingkirkan Ayra yang selama ini dianggapnya sebagai benalu.

Sementara itu, di dalam kamar yang tertutup rapat, Herman hanya bisa terduduk di tepi ranjang sambil memijat keningnya. Doa-doa tulus untuk kebahagiaan Ayra terus ia rapalkan dalam hati, meski ia tahu, badai besar mungkin akan segera menghantam hidup putranya akibat pilihan gegabah ini. Malam itu, di bawah atap yang sama, dua rencana berbeda tengah beradu: satu merayakan kebebasan semu, dan satu lagi meratapi hancurnya sebuah komitmen suci.

Rayyan tersenyum lebar, menatap langit-langit ruang tamu dengan binar mata yang penuh kemenangan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa roda nasib sedang berputar. Mungkin saja suatu saat ia akan mendapatkan balasan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

***

Pagi-pagi di sebuah rumah mewah, seorang anak kecil baru saja terbangun dari tidurnya. Ia langsung turun dari ranjang dan berlari ke kamar ayahnya. Bocah empat tahun itu khawatir ayahnya akan keburu pergi ke kantor, karena selama beberapa hari ini mereka memang sudah jarang bertemu semenjak Zavian kembali bekerja.

​Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Kenzie langsung membukanya. Kebetulan Zavian memang tak pernah mengunci kamarnya semenjak ia tak memiliki pasangan. Tapi ternyata kamar itu kosong. Ia kecewa, padahal sudah dibela-belain bangun pagi-pagi sekali agar masih bisa bertemu ayahnya.

​Hampir saja anak itu menangis. Tapi saat mendengar suara sang ayah memanggil namanya, cepat-cepat bibirnya yang barusan sudah melebar, kembali dipersempit. Malah kini bibir itu sudah mengukir senyum bahagia. Cepat-cepat ia berlari keluar kamar dan menghambur pada seorang lelaki gagah yang baru saja pulang joging.

​"Papa!" teriaknya.

​Zavian berjongkok lalu mengangkat tubuh sang putra ke atas sambil diputar-putar. Snak itupun tertawa cekakakan.

​"Papa mau kelja?"

Zavian menggeleng. "Ini hari Sabtu nak, kantornya libur."

"Ayo kita ke lumah Tante Ala." Ajaknya setelah tawa itu mereda dan Zavian sudah menurunkannya kembali.

​Seketika kening Zavian mengerut. Dia pikir putranya punya kenalan baru lagi.

​"Tante Ala siapa?"

​"Tante Ala Paaa... Kemalin Kenzie sama Oma main ke lumah Tante Ala. Tapi..." Wajah anak itu berubah murung. Bibirnya mengerucut lucu.

​"Tapi apa, Nak?"

​"Dede bayinya udah gak ada. Tante Ala bilang udah pelgi ke Sulga. Sama sepelti Mama, kan?"

​Zavian masih belum memberikan jawaban. Sesaat ia terdiam memikirkan Tante Ala, tapi kemudian ia teringat Ayra.

​"Maksud kamu Tante Ayra?"

​Bocah tampan itu mengangguk cepat.

​"Iya Zav," suara Eugenia menyela obrolan ayah dan anak itu. "Ayra baru saja habis keguguran. Mama juga kasihan, ia tinggal di rumahnya sendirian. Kedua orang tuanya sudah meninggal, sementara suaminya... Mama nggak tahu. Mungkin kerjanya di luar kota."

​Tapi penjelasan dari ibunya itu membuat air muka Zavian berubah. Dia teringat pertemuan mereka di supermarket dan di sanalah Ayra memergoki suaminya sedang bersama wanita lain. Sayang ia tidak bisa melihat wajah bajingan itu dan si wanita pelakornya. Ia hanya bisa melihat mereka dari belakang.

​"Oke Nak, kita ke rumah Tante Ayra, tapi Papa mandi dulu, ya?"

​"Oke Pa, aku juga mau mandi."

​"Mama ikut ya, Zav?"

​Lelaki itu mengangguk sebelum pergi ke kamarnya.

1
Ma Em
Thor jgn sampai Marissa mengganggu ketentraman rumah tangga Zavian dgn Ayra yg baru saja dimulai , jauhkan godaan atau kejahatan orang2 yg iri pada kebahagiaan Ayra .
Dini Yulianti
ooo ternyata hanya anak pungut to
Yul Kin
lanjut kak
Anonymous
ENTAH KENAPA SAYA INGIN MEMBUNUH ORANG INI SI LITZHA
Ummi Rafie
jangan² Monalisa yg maksa masuk di pernikahan ayra
Dini Yulianti
akhirnya sah jg
Cookies
lanjut thor
Dini Yulianti
musuh terberat ayra hanya si sasa marisa, psyco dia, kalo semacam elly sama lizta mah hanya kelas teri
Ramlah Ibrahim
kna sambungan nya kenpa tiba2 kerlur cerita lain
Ma Em
Bu Elly sok soan mau manas2 in Zavian agar TDK jadi menikah dgn Ayra kalau Zavian tdk dengar Rayyan ngancam mau keluar dari perusahaan Zavian lah emang kalian siapa samapi Zavian mau mendengar omongan Rayyan dasar orang tdk tau malu , semoga Ayra bahagia bersama Zavian .
Yul Kin
pecat Rayyan dan lita kak, gedeg aku sama mereka, klg mak Lampir jg
Ma Em
Elly ,Anika dan Serly sombong didepan nyonya Euginia , Elly kamu itu tdk ada apapa nya kalau dibandingkan dgn nyonya Euginia dasar norak pake perhiasan kayak toko emas berjalan , Elly ,Ayra itu bkn jadi pengasuh tapi calon istri orang kaya .
Dini Yulianti
nah gitu ay jangan egois, zavian jadi leluasa lindungin kamu, kuliah masih bisa jalan meski udh nikah, zavian beda sama rayyan
Anonymous
Pantau terus si marissa van.. Gunakan semua aksea yg dikau punya
Anonymous
Please zavian.. Jgn butek2 banget... Gunakan kekuasaan keluarga loe..
Ma Em
Demi keamanan dan perlindungan penuh dari Zavian Ayra tentu hrs mau cepat menikah dgn Zavian jgn ditunda lagi karena Marissa sangat berbahaya .
Ma Em
Zavian seorang pengusaha yg berkuasa masa kalah oleh kelicikan Marissa .
Anonymous
AWOKAWOK dibutuhkan Spy seperti Loid
Ma Em
Rayyan sekarang Ayra berada diatas mu dan sebentar lagi akan menjadi istri bosmu , jgn sampai kamu cari masalah dgn Ayra kalau Elzian tau kamu pasti dipecat Rayyan .
Retno Harningsih
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!