Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
"Halah ... Ngarang! Harusnya kita percaya gosip kamu waktu itu yang suka menggoda suami orang di desa ini, pantas aja dulu gak ada yang mau menampung kamu Nisa!"
Gian tak lagi memberontak, pria itu diam seolah setuju untuk melindungi Nisa kali ini.
"Percayalah semuanya! Aku hampir di perkosa oleh kang Emil ... Bahkan dia membawa senjata api untuk mencelakakan aku dan Gian."
Dari banyaknya kerumunan warga, seorang paruh baya yang tak lain adalah Emil muncul di tengah-tengah berjalan ke arah depan.
"Saya yang kamu maksud Nisa?" Ucapnya sambil memegang corong yang berisi tembakau.
"Hah?" Nisa langsung terkejut lalu kali ini memeluk Gian erat, lalu menelusupkan wajahnya pada punggung tegap pria itu, Nisa sangat enggan melihat ke arah Emil yang sedang berbicara padanya saat ini.
"Dia ... Dia orangnya! Dia punya senjata api!" Kata Gian pada seluruh warga yang berkumpul, jari telunjuknya sibuk menunjuk ke arah Emil, tapi sayang ... Tak satupun warga yang mau percaya pada omongannya.
Emil menaikan kedua tangannya, "Ayo ... Periksa tubuhku, apa aku ada menyimpan senjata berbahaya itu? Ayo!!!!" Ucapnya menantang seluruh warga untuk memeriksanya.
Satupun warga tak ada yang menuruti apa yang di katakan Emil, mereka semua hanya bisa diam dan memandang dengan tatapan tajam pada Gian.
"Nikahkan saja mereka! Jangan sampai mereka membawa sial untuk desa kita nanti, kalian ingat kan ... Perbuatan serupa pernah terjadi disini dan perekonomian desa kita ambruk, semua petani mengalami gagal panen! Ya itu semua karena kita ikut terbawa sial karena perbuatan busuk mereka!" Ucap salah seorang warga yang menjadi provokator.
"Ya benar nikahkan sekarang juga."
"Setuju."
"Setuju."
"Jangan sampai kesialan menimpa desa kita lagi."
Teriak para warga yang lainnya.
Sedangkan Emil hanya bisa menelan ludahnya kasar, bukan ini sebenarnya yang dia maksud, dia hanya ingin menyingkirkan Gian dan membiarkan Nisa seorang diri, sehingga dengan mudah Emil untuk melakukan apa yang dia inginkan tanpa gangguan siapapun lagi.
"Cepat ikut kami!"
Gian dan juga Nisa di dorong untuk mengikuti kemana arah mereka pergi, walaupun Gian terus memberontak ... Tapi dia kalah dalam jumlah tenaga, pada akhirnya mereka berdua pasrah pada nasibnya saat ini.
Sambil berjalan, salah seorang warga kemudian memberi sarung untuk menutupi tubuh Nisa dan juga Gian.
Tujuan mereka adalah rumah sesepuh desa yang biasa menikahkan para warga di desa, Pak Suryo namanya.
...
Keadaan Nisa dan juga Gian benar-benar seperti maling yang akan di adili. Sampai pada akhirnya Gian berani mengutarakan keinginannya dengan sedikit menaikan nadanya agar di dengar oleh warga, "STOP! PANGGIL OM KU, GUNTUR. Bawa dia kesini bersama kedua orang tuaku."
"Oh, jadi kamu saudara pak Guntur! Wah ... Wah ... Wah, benar-benar kau merusak citra baik pak guntur di desa ini."
Gian menaikan bola matanya keatas, percuma dia menjelaskan semuanya, toh apapun alasannya ... Orang-orang itu tidak akan mendengarkannya.
Terserah kalian, aku hanya ingin cepat pulang dan menyudahi semua ini, untuk urusan pernikahan ... Wanita ini bisa langsung aku ceraikan jika situasi sudah mereda. Batin Gian.
Setelah menunggu 30 menit lamanya, akhirnya Guntur dan juga kedua orang tua Gian datang menggunakan beberapa motor yang warga tumpangi untuk ke lokasi.
"Sayaaaang!" Panggil Lulu sambil berlari ke arah Gian kemudian memeluknya erat sambil menangis tersedu, rasanya dia tidak percaya saat mendengar semua tuduhan warga pada anak satu-satunya itu.
Gian memeluk Lulu erat, matanya memerah ... Emosi yang tertahan dan tidak bisa di utarakan, karena para warga akan terus memakinya.
Lulu menangkup kedua pipi Gian, buliran air mata pun akhirnya keluar dan jatuh pada pipi pria itu. "Katakan sama ibu, kamu gak seperti yang mereka tuduhkan? Iya kan? IYA KAN GIAN!" Kata Lulu dengan emosi.
Akbar berusaha menenangkan istrinya dari belakang, sedangkan Guntur berada di samping Nisa yang terus tertunduk.
Gian hanya menggelengkan kepalanya, hanya itu respon yang dia berikan.
"Baiklah, sudah berkumpul semuanya ... Kita mulai saja." Kata pak Suryo, orang yang akan menikahkan Gian dan juga Nisa.
Guntur tidak banyak berbicara dan membela Gian, dia mempunyai penilaian tersendiri pada watak warga di desa ini dan juga Gian, Nisa.
Sebelum akad di ucapkan Guntur berbicara pada Gian, Nisa dan juga kedua Akbar dan Lulu. "Bapak tahu ... Nisa gak salah, Gian juga ... Tapi jika sudah tertangkap dalam keadaan seperti ini, apapun alasan kalian mereka tidak akan mempercayainya. Kejadian seperti ini sudah beberapa kali terjadi." Guntur mengusap lembut pundak Gian. "Gian ... Nisa adalah perempuan baik, berasal dari keluarga baik-baik pula ... Om sangat kagum padanya saat menghadapi semua masalah yang menimpanya."
Guntur kemudian melihat ke arah Nisa. "Dan kamu Nisa .. Guntur juga anak yang baik, Bapak jamin itu .. Dia juga laki-laki pekerja keras dan bertanggung jawab. Intinya ... kalian sama-sama orang baik yang di pertemukan dengan cara seperti ini, Niatkan pernikahan ini untuk tujuan yang baik, makan ke depannya semua akan berjalan indah, jangan di bebankan. Seiring berjalan waktu ... Pasti akan tumbuh perasaan saling mencintai, walaupun saat ini kalian masih sama-sama merasa asing."
Gian dan Nisa kompak mengangguk.
Akad nikah pun di mulai, di saksikan oleh kedua orang tua Gian, pak Guntur dan juga beberapa warga.
Setelah sah menikah, Gian dan Nisa pulang ke kediaman Guntur.
.
.
Di rumah Guntur.
"Kalian bisa menggunakan kamar tamu ini untuk sementara." Kata Guntur mengantar Gian dan juga Nisa masuk ke dalam kamar kosong.
"Ada baju sisa mendiang istri saya di lemari, kamu bisa gunakan Nisa."
"Iya, terimakasih pak."
"Beristirahatlah, malam sudah larut." Ucap Gian.
Di dalam kamar .
Gian sudah selesai mandi, tatapannya dingin dan sulit di artikan.
Sedangkan Nisa dengan wajah di tekuk berjalan ke dalam kamar mandi setelah melihat Gian selesai membersihkan tubuhnya.
Beberapa menit di dalam kamar mandi dan sudah berganti baju daster panjang milik mendiang istri Guntur, Nisa keluar kamar mandi dengan langkah pelan, terlihat Gian yang tengah membersihkan kasur dari debu dengan sapu kasur yang tersedia di dekat sana.
Gian menata dua bantal dan menaruh guling di posisi tengah sebagai pemisah keduanya.
Dengan langkah ragu, Nisa berjalan ke arah sebrang kasur, Gian sama sekali tidak menganggap keberadaannya, dia sibuk dengan posisi tidurnya.
Lutut Nisa menaiki kasur, dia merebahkan kepalanya perlahan. Kasurnya terasa dingin ... Karena sudah lama tidak ada orang yang bermalam di kamar tamu.
"Gian ... "
Gian tak menjawab, dia hanya menengok ke arah Nisa, pandangan Gian pun setengahnya terhalang oleh guling tebal yang dia letakan di tengah.
"Maaf ... Sudah ikut terseret."
"Tidak ada gunanya maaf, waktu tidak akan berputar ke belakang lagi kan?" Ucap Gian sambil memandangi langit-langit kamar.