NovelToon NovelToon
Rahasia Di Saung Langit

Rahasia Di Saung Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Arroels

Aroel Mahardika kembali ke desa setelah lima tahun pergi, diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun. Tujuannya hanya satu: menenangkan hati yang selalu gelisah. Tapi desa itu menyimpan lebih dari sekadar ketenangan.
Di Saung Langit, tempat yang pernah menjadi saksi masa lalunya, Aroel dipukul secara misterius. Tidak ada saksi, tidak ada jejak, hanya rasa sakit yang nyata. Di tengah sawah, seorang bocah kecil muncul dan menghilang dengan tatapan yang penuh teka-teki. Warga desa terlalu tenang, terlalu diam, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin mereka ungkapkan.
Siapa yang memukulnya?
Apa maksud bocah itu selalu muncul di tempat yang salah?
Dan rahasia apa yang selama ini disembunyikan oleh desa dan Saung Langit?
Setiap langkah Aroel menimbulkan pertanyaan baru, dan setiap jawaban yang ia dapat justru menimbulkan lebih banyak ketegangan. Dalam atmosfer yang menekan, emosinya meledak antara marah, takut, salah tingkah, dan penasaran. Masa lalu yang kelam, rahasia yang tersembunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arroels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Bisa Lari Terus

Rumah kosong itu lembap dan bau kayu lapuk. Dindingnya retak di beberapa bagian, jendelanya cuma tersisa setengah kaca. Aroel berdiri dekat pintu depan. Rahman di belakang, bersandar ke tembok sambil memperhatikan celah ventilasi. Putri duduk di lantai, punggungnya ke dinding, mencoba mengatur napas.

“Kalau mereka nyari, pasti nggak jauh,” kata Rahman pelan.Aroel tidak langsung menjawab. Ia mendekat ke jendela, menggeser sedikit papan yang menutupinya. Di luar gelap sudah turun penuh. Tidak ada lampu jalan. Hanya suara serangga dan sesekali anjing menggonggong jauh.

Putri memperhatikan Aroel. Sejak ia kembali dan memilih bersama mereka, ia belum benar-benar santai. Rasa curiga masih ada. Tapi teror yang ia alami beberapa hari terakhir lebih menakutkan daripada prasangka.Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti tidak jauh dari rumah itu.

Semua langsung diam.Rahman mengangkat tangan, memberi tanda jangan bergerak. Aroel mematikan lampu kecil yang tadi menyala redup di sudut ruangan. Rumah itu langsung tenggelam dalam gelap.

Suara langkah terdengar. Lebih dari satu orang.

Putri menelan ludah.

Langkah itu mendekat ke arah halaman. Tanah kering berderak diinjak.

“Ada orang di dalam!” suara laki-laki terdengar dari luar.

Jantung Putri langsung berdegup keras.

Pintu depan didorong keras. Tidak terbuka. Lalu terdengar suara benda menghantam kayu.

Rahman bergerak cepat ke sisi jendela belakang. “Belakang juga ada,” bisiknya.

Mereka terkepung.Aroel menoleh ke Putri. “Kamu bisa lari?” Putri mengangguk, walau sebenarnya lututnya terasa lemas.“Kalau pintu jebol, kamu ikut Rahman. Jangan nengok ke belakang.”

“Terus kamu?” Aroel hanya menatapnya sebentar. Tidak menjawab.

Pintu depan digedor lagi. Kali ini lebih keras. Kayu mulai retak.Rahman berbisik cepat, “Ada tiga di depan, dua di belakang. Bawa senjata.”

Putri merasakan dingin menjalar di punggungnya.

Pintu akhirnya jebol.Tiga orang masuk. Senter mereka menyapu ruangan. Cahaya menyilaukan memotong gelap.Aroel sudah bergerak lebih dulu.Ia menghantam orang pertama sebelum sempat mengangkat senjata. Terdengar suara tubuh jatuh menghantam lantai. Orang kedua mencoba mengayunkan sesuatu, tapi Aroel menepisnya dan mendorongnya ke dinding.

Putri terpaku sesaat.Rahman menarik tangannya. “Sekarang!” Dari belakang, dua orang lain masuk lewat jendela. Salah satu dari mereka hampir meraih Putri.

Tanpa berpikir panjang, Putri meraih potongan kayu di lantai dan memukulkannya ke tangan pria itu. Tidak keras, tapi cukup membuatnya kaget.

Rahman langsung menyikut pria itu hingga tersungkur.Situasi kacau. Ruangan sempit membuat semuanya terasa lebih dekat, lebih berbahaya.Aroel bergerak cepat, tidak banyak bicara. Gerakannya terukur. Tidak liar. Seolah sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.

Satu orang mencoba mengeluarkan pistol.

Rahman melihat lebih dulu. Ia menendang tangan pria itu sebelum sempat menembak. Pistol terlempar ke sudut ruangan.

Putri refleks mengambilnya.Tangannya gemetar.Ia tidak pernah memegang benda seperti itu sebelumnya.“Arahkan ke bawah!” teriak Rahman.Putri mengangguk cepat.

Beberapa detik berikutnya terasa panjang. Akhirnya dua orang kabur keluar rumah. Satu tertinggal dalam keadaan terjatuh dan kesakitan.

Aroel berdiri di tengah ruangan, napasnya berat tapi stabil.Sunyi sejenak,Hanya suara napas mereka bertiga yang terdengar.

Putri masih memegang pistol itu. Tangannya bergetar.

Aroel mendekat perlahan. “Turunkan.”

Putri menurut.

Rahman mengikat tangan pria yang tertinggal menggunakan tali dari tasnya.

“Siapa yang kirim kalian?” tanya Rahman tegas.

Pria itu tidak menjawab. Hanya meludah ke lantai.Aroel berdiri di depannya. Tidak marah. Tidak berteriak. Hanya menatap.

“Kalau kamu nggak jawab, mereka bakal ninggalin kamu sendiri di sini,” kata Aroel pelan.

Pria itu akhirnya bicara, suaranya pelan dan terengah, “Perintahnya cuma satu… cari dia.”

Dia mengangguk ke arah Aroel.

Putri menatap Aroel.“Kenapa?” tanya Rahman.

Pria itu menggeleng. “Kami cuma dibayar.”

Rahman mendesah kesal.

Aroel berjongkok, sejajar dengan pria itu. “Siapa yang bayar?”Pria itu terdiam lama. Lalu pelan-pelan menyebut satu nama yang asing bagi Putri.

Aroel tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Tapi Rahman terlihat berubah wajahnya.

“Kita harus pindah,” kata Rahman cepat.

Putri berdiri, masih mencoba memahami semuanya. Ia menatap Aroel.

“Kamu bilang ini cuma kesalahpahaman,” katanya pelan, tapi tegas.Aroel menatapnya balik. “Aku nggak pernah bilang itu cuma kesalahpahaman.”

Putri terdiam.Ia ingat bagaimana ia mengusir Aroel dari Saung Langit karena yakin dia bos penjahat. Sekarang orang-orang bersenjata benar-benar datang mencarinya.

“Jadi kamu memang orang yang mereka kejar,” ucap Putri.“Iya.” Jawaban itu sederhana. Tidak dibantah. “Dan kamu nggak mau jelasin apa-apa?”

Aroel menarik napas. “Kalau kamu mau pergi sekarang, ini waktunya.”

Rahman menoleh cepat. “Serius?”

Aroel tetap menatap Putri. “Kamu nggak harus ada di sini.”

Putri diam beberapa detik. Ia bisa pergi. Ia tidak terikat apa pun. Tapi teror yang ia alami sebelumnya, ancaman yang muncul sejak Aroel diusir, semua itu bukan kebetulan.

“Kalau aku pergi, mereka bakal berhenti?” tanya Putri.Aroel tidak menjawab.

Itu sudah cukup.Putri mendesah. “Kita pindah sekarang.”Rahman tersenyum tipis. “Nah, itu baru masuk akal.”

Mereka meninggalkan rumah itu lewat belakang. Malam semakin gelap. Udara terasa lebih dingin.

Putri berjalan di antara mereka, tapi kali ini bukan sebagai orang yang dilindungi sepenuhnya. Ia lebih waspada. Matanya aktif. Telinganya peka.

Di tengah jalan kecil yang gelap, Putri akhirnya bicara lagi.

“Aku masih nggak percaya kamu.”

Aroel mengangguk. “Wajar.”

“Tapi aku juga nggak percaya orang-orang yang nyari kamu.”

Rahman terkekeh kecil. “Itu perkembangan bagus.”

Putri menatap lurus ke depan. “Jangan kira aku di sini karena percaya. Aku di sini karena kalau mereka berani datang segini nekatnya, berarti masalahnya lebih besar dari yang aku kira.”

Aroel menoleh sedikit. Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu di wajahnya yang hampir seperti rasa hormat.

“Kamu belajar cepat,” katanya.

Putri tidak tersenyum. “Aku cuma nggak mau jadi korban lagi.”Mereka terus berjalan menyusuri jalan desa yang gelap. Di kejauhan, suara motor terdengar lagi. Mungkin kelompok yang kabur tadi sudah memberi kabar.Rahman mempercepat langkah. “Mereka nggak bakal berhenti.”

Aroel mengangguk. “Aku tahu.”

Putri merasakan sesuatu berubah malam itu.

Bersambung......

1
anggita
like👍iklan👍, moga novelnya lancar.
Axelari
Alur cerita nya keren
Arroels: Thanks
total 1 replies
Axelari
Wow🔥🔥
Axelari
Yoww novel yang kerenn, btw mampir
Arroels: ok,bentar aku mampir,baru selesai bab 8
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!