NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Api Pembakaran

Matahari terbit di atas horizon, menyinari pemandangan mengerikan di halaman rumah.

Mayat-mayat berserakan. Darah membeku di tanah. Asap tipis masih mengepul dari bekas ledakan. Dan di tengah semua itu, aku masih berlutut di samping Hyun Moo.

Gong Hyerin duduk di dekatku, bahunya berlumuran darah. Lukanya parah, tapi dia masih sadar. Matanya sayu menatapku.

"Oppa..." suaranya lemah. "Kita harus... mengobati luka..."

Aku tidak bergerak.

"Oppa!"

Sentakannya membuatku tersadar. Aku menoleh. Wajahnya pucat kehilangan banyak darah.

"Aku... ya... kau benar..."

Dengan tangan gemetar, aku merobek lengan bajuku, membalut luka di bahunya sebisanya. Bukan pertolongan medis profesional, tapi setidaknya menghentikan pendarahan.

"Hyun Moo..." gumamnya.

Aku menatap Hyun Moo lagi. Matanya tertutup. Wajahnya tenang, seperti tidur.

"Dia mati menyelamatkanku."

"Oppa, ini bukan salahmu."

"Aku yang memintanya ikut. Aku yang memintanya bertarung. Kalau aku tidak pernah datang ke dunia ini, dia mungkin masih hidup."

Gong Hyerin meraih tanganku. Genggamannya lemah, tapi hangat.

"Kalau kau tidak datang, dia mungkin sudah mati lebih cepat. Dibunuh Hojun. Tanpa tujuan. Tanpa makna." Dia menatapku. "Kau memberinya sesuatu untuk diperjuangkan. Itu lebih berarti dari sekadar umur panjang."

Aku tidak tahu apakah itu benar. Tapi kata-katanya sedikit menenangkan.

---

Siang itu, kami memakamkan Hyun Moo.

Tidak ada upacara mewah. Tidak ada tetua yang berpidato. Hanya aku, Gong Hyerin, dan sebuah lubang di bawah pohon besar di belakang rumah—tempat favorit Hyun Moo duduk bermeditasi.

Aku membungkus tubuhnya dengan kain putih, satu-satunya kain bersih yang kumiliki. Lalu dengan hati-hati, aku menurunkannya ke dalam lubang.

Gong Hyerin berdiri di sampingku, tangannya memegang pedang—bukan untuk bertarung, tapi sebagai penghormatan. Di dunia persilatan, menghunus pedang di pemakaman adalah tanda penghormatan tertinggi untuk seorang pendekar.

Aku tidak punya pedang. Tapi aku punya sesuatu yang lain.

Aku mengambil segenggam mesiu dari karung, menuangkannya ke atas pusara.

"Ini pengganti dupa," kataku. "Kau tidak suka bau dupa, kan? Dulu kau bilang lebih suka bau mesiu."

Gong Hyerin menatapku aneh, tapi tidak bertanya.

Aku berlutut di samping pusara.

"Hyun Moo... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak pandai berpidato. Tapi aku ingin kau tahu: kau bukan hanya pengawalku. Kau adalah guruku. Kau mengajariku tentang dunia ini. Tentang kesetiaan. Tentang apa artinya menjadi pria sejati."

Aku berhenti, menahan tangis.

"Aku akan melanjutkan perjuangan ini. Aku akan membangun kembali Klan Jin. Aku akan membuat namamu dikenang. Aku bersumpah."

Diam sejenak. Lalu aku menuangkan tanah pertama ke atas pusara.

Gong Hyerin menyusul. Lalu bersama-sama, kami menimbun lubang itu sampai rata.

Di atas pusara, aku menancapkan sebilah kayu. Tidak ada ukiran nama—tidak punya pahat. Tapi Hyun Moo tidak butuh nama. Aku akan selalu ingat.

---

Malam harinya, aku duduk di beranda sendirian.

Gong Hyerin tidur di dalam—lukanya membutuhkan istirahat. Aku sudah memeriksa, memastikan tidak infeksi. Di dunia tanpa antibiotik, luka terbuka bisa membunuh lebih cepat daripada pedang.

Angin malam berhembus dingin. Aku memandangi langit gelap tanpa bintang. Mendung. Mungkin akan hujan.

Pikiranku melayang pada Hyun Moo.

Empat puluh tahun mengabdi pada Klan Jin. Melihat kejayaan, lalu kehancuran. Dan di akhir hidupnya, dia mati untuk putra majikannya yang lemah.

"Tuan... sudah bisa berdiri sendiri..."

Apa maksudnya? Apa dia benar-benar percaya aku sudah bisa mandiri?

Aku mengepal. Tubuh ini masih lemah. Pengetahuanku masih terbatas. Tapi api di dadaku... api itu membara lebih dari sebelumnya.

Hojun masih hidup.

Dia lari. Tapi dia akan kembali. Lain kali, mungkin dengan lebih banyak pendekar. Mungkin dengan sekutu baru.

Aku harus siap.

---

Pagi harinya, aku mulai bekerja.

Pertama: inventarisasi sisa persediaan.

Bom: hampir habis. Tersisa dua buah ukuran kecil. Tidak cukup untuk pertempuran besar.

Mesiu: masih ada setengah karung. Cukup untuk membuat sepuluh bom ukuran sedang.

Belerang: habis. Sendawa: habis. Arang: masih banyak.

Aku butuh bahan baku. Tapi untuk mendapatkannya, aku butuh uang. Atau tenaga. Atau keduanya.

Gong Hyerin keluar dari rumah, berjalan pincang. Bahunya masih dibalut, tapi dia memaksakan diri.

"Oppa, kau tidak tidur?"

"Tidak bisa tidur."

Dia duduk di sampingku, meringis sakit.

"Kau harus istirahat," kataku.

"Kau juga."

Aku tidak menjawab. Hanya menatap karung mesiu yang hampir kosong.

Gong Hyerin mengerti. "Kita butuh persediaan."

"Iya."

"Aku bisa minta dari Klan Gong."

Aku menggeleng. "Tidak. Ini urusanku. Aku tidak mau terus-terusan bergantung pada klanmu."

"Tapi..."

"Aku punya klan sendiri. Klan Jin. Dan mulai sekarang, aku harus bisa berdiri di atas kakiku sendiri."

Gong Hyerin diam. Lalu dia berkata, "Kalau begitu, biar aku bantu carikan sumber di sini."

"Di sini?"

"Wilayah ini punya banyak sumber daya. Aku sudah mempelajarinya selama dua minggu ini. Belerang bisa didapat dari pegunungan timur. Sendawa... aku pernah dengar ada gua kapur di utara, di sana biasanya ada endapan sendawa."

Aku menatapnya. "Kau yakin?"

"Dari bacaanku dulu. Waktu kecil, aku suka membaca buku-buku kuno tentang ramuan dan mineral."

Untuk pertama kalinya sejak Hyun Moo mati, aku tersenyum.

"Kau benar-benar aset berharga."

Dia tersipu. Mungkin karena pujian. Mungkin karena demam. Tapi setidaknya, ada sedikit kehangatan di hari yang kelabu ini.

---

Dua hari kemudian, kami berangkat ke gua kapur.

Gong Hyerin memaksa ikut meskipun lukanya belum sembuh total. Aku sudah melarang, tapi dia keras kepala.

"Kau butuh pemandu," katanya. "Dan kau butuh pelindung. Masih ada sisa pendekar Hojun di luar sana."

Dia benar. Aku tidak bisa membantah.

Perjalanan ke utara memakan waktu setengah hari. Medannya berat—bukit berbatu, jurang, dan hutan lebat. Tapi Gong Hyerin tahu jalannya. Dia memimpin dengan pasti, meskipu sesekali meringis menahan sakit.

Gua kapur itu tersembunyi di balik air terjun kecil. Kami hampir melewatkannya—hanya karena Gong Hyerin ingat detail dari buku, kami menemukan celah di balik percikan air.

Di dalam, gelap gulita.

Aku menyalakan obor dari dahan kering dan kain yang direndam minyak. Cahaya obor menerangi dinding gua yang basah dan berkilau.

Dan di sana, di dinding-dinding itu, endapan putih kekuningan.

Sendawa.

"Kau benar," gumamku takjub. "Ini... ini banyak sekali."

Gong Hyerin tersenyum puas. "Ada yang bisa kubanggakan juga, kan?"

Aku tertawa. Tawa pertama sejak kematian Hyun Moo.

"Iya. Kau hebat."

---

Kami mengumpulkan sendawa sampai karung penuh.

Perjalanan pulang lebih berat karena beban tambahan. Tapi kami bergantian memanggul, dan Gong Hyerin tidak pernah mengeluh.

Saat matahari mulai terbenam, kami sampai di rumah.

Tapi dari kejauhan, aku melihat sesuatu yang membuat jantungku berhenti.

Asap.

Rumahku terbakar.

"TIDAK!"

Aku berlari. Karung sendawa jatuh, tidak kupedulikan. Gong Hyerin mengikutiku, terhuyung-huyung.

Saat sampai, api sudah melalap hampir seluruh rumah. Atap kayu runtuh. Dinding-dinding terbakar. Dan di halaman depan, tertancap sebilah pedang dengan secarik kain putih.

Pesan.

Aku meraihnya, tangan gemetar. Membaca.

"Ini baru permulaan, sepupu. Lain kali, aku akan ambil nyawamu."

—Hojun.

---

Gong Hyerin tiba di belakangku, terengah-engah.

"Oppa... apa..."

Dia melihat api. Melihat rumah yang hancur. Melihat pesan di tanganku.

"Hojun," bisiknya.

Aku diam. Tanganku mengepal, meremas kain itu.

Semua habis. Persediaan mesiu. Peralatan. Catatan-catatanku. Kenangan-kenangan kecil bersama Hyun Moo.

Tapi justru di saat itulah, api di dadaku berkobar lebih hebat.

Aku berbalik, menatap Gong Hyerin.

"Hyerin-ah."

"Iya, Oppa?"

"Aku butuh bantuanmu."

"Apa saja."

"Aku ingin kau panggil pengawalmu. Dua orang level menengah."

Dia mengerutkan kening. "Tapi kau bilang tidak mau..."

"Sekarang beda." Mataku dingin. "Hojun sudah memilih jalannya. Sekarang giliranku memilih jalanku. Dia ingin perang? Akan kuberi perang."

Gong Hyerin menatapku lama. Lalu dia mengangguk.

"Baik. Aku akan panggil mereka."

---

Dua hari kemudian, dua pendekar Klan Gong tiba.

Satu pria paruh baya dengan jenggot tipis—nama dia Kwon Tak. Satu lagi wanita muda berambut pendek—bernama Seol Ran. Keduanya pendekar level menengah, dengan pengalaman tempur puluhan tahun.

Mereka memandangku dengan rasa ingin tahu.

"Kau yang disebut Jin Tae-kyung?" tanya Kwon Tak.

"Aku."

"Kami dengar kau punya senjata aneh. Bisa meledak-ledak."

"Sudah habis. Rumahku dibakar."

Seol Ran mengerutkan kening. "Jadi kami di sini untuk apa?"

"Untuk menangkap seseorang."

"Jin Hojun?"

"Ya."

Kwon Tak tertawa. "Dengan dua orang? Dia punya sisa pendekar—mungkin lima belas orang."

Aku menatapnya. "Kau takut?"

Tawanya berhenti. "Kau lancang, bocah."

"Mungkin. Tapi aku tidak menyuruh kalian bertarung langsung. Aku hanya butuh kalian menjaga jalur mundurnya. Biarkan aku yang masuk."

Mereka bertukar pandang.

"Kau gila?" Seol Ran angkat bicara. "Kau bahkan bukan pendekar."

"Aku punya cara sendiri."

---

Malam itu, aku menjelaskan rencana pada mereka.

Bukan rencana muluk. Sederhana. Tapi efektif.

Hojun dan anak buahnya bersembunyi di sebuah desa kecil di perbatasan wilayah Jin—bekas markas klan yang ditinggalkan. Informasi ini dari Gong Hyerin, yang mengirim mata-matanya.

Mereka tinggal di sebuah rumah besar bekas kepala desa. Rumah kayu dua lantai dengan halaman luas.

Besok malam, saat mereka tidur, aku akan masuk.

"Sendirian?" tanya Kwon Tak tidak percaya.

"Sendirian."

"Kau yakin tidak bunuh diri?"

Aku tersenyum tipis. "Pernah dengar istilah 'membunuh dalam tidur'?"

Mereka diam.

---

Malam penyerangan.

Bulan gelap. Mendung tebal menutupi bintang. Kondisi sempurna untuk menyusup.

Aku meninggalkan Gong Hyerin di rumah sementara—sebuah gua kecil tak jauh dari lokasi kebakaran. Lukanya belum sembuh, dan aku tidak mau ambil risiko.

Kwon Tak dan Seol Ran sudah berada di posisi masing-masing—di dua jalur keluar desa, siap mencegat jika ada yang kabur.

Aku sendiri, dengan belati di pinggang dan dua bom kecil di saku, merayap di antara bayangan.

Desa itu sunyi. Hanya suara anjing sesekali. Rumah Hojun mudah dikenali—yang paling besar, dengan dua penjaga di depan.

Penjaga.

Aku mengamati mereka dari balik pagar. Dua orang. Mengantuk. Setengah sadar.

Dari saku, kuambil bom kecil—hanya seukuran telur puyuh. Kusulut sumbunya, lalu kulempar ke arah berlawanan.

POP!

Ledakan kecil di kejauhan. Para penjaga terkejut, berlari ke arah suara.

Kesempatan.

Aku melompat pagar, berlari ke pintu samping. Tidak terkunci. Orang bodoh.

Di dalam, gelap. Hanya suara dengkuran dari beberapa ruangan.

Aku naik ke lantai dua dengan hati-hati. Setiap anak tangga kuinjak pelan-pelan.

Di kamar paling ujung, suara dengkuran paling keras.

Hojun.

Aku membuka pintu pelan-pelan. Di dalam, Hojun terbaring di tempat tidur besar. Bahunya yang terluka masih dibalut. Dia tidur nyenyak.

Aku mendekat. Belati di tangan.

Satu tusukan. Cukup satu tusukan untuk mengakhiri semua.

Tapi tanganku berhenti.

Ini terlalu mudah. Terlalu cepat. Dia tidak pantas mati mudah.

Aku menarik napas. Lalu—

Bangunkan dia.

Aku mengambil guci air di sudut kamar, menyiramkannya ke wajah Hojun.

Dia tersentak, bangun. Matanya membelalak melihatku berdiri di samping tempat tidurnya.

"SEPUPU?!"

Dia meraih pedang di samping tempat tidur. Tapi aku lebih cepat. Kakiku menendang tangannya, pedang jatuh.

Aku menginjak pedang itu.

"Selamat malam, sepupu."

"Kau... kau gila! Anak buahku! BANTAKAN!"

Tidak ada yang datang.

Aku tersenyum. "Aku sudah menaruh sesuatu di sumur desa tadi sore. Bukan racun mematikan. Hanya... obat tidur. Mereka semua akan bangun besok pagi dengan pusing berat."

Hojun pucat.

"Aku ingin bicara," kataku. "Berhadap-hadapan. Seperti pria."

"Kau bukan pria! Kau pengecut! Menggunakan bubuk hitam, menggunakan tipu muslihat..."

"Seperti kau menggunakan racun?" potongku dingin. "Seperti kau membunuh ayahku? Seperti kau membakar rumahku?"

Dia diam.

"Aku ingin kau tahu sesuatu, Hojun. Aku bukan Jin Tae-kyung yang dulu. Orang itu sudah mati karena racunmu. Yang kau hadapi sekarang... sesuatu yang berbeda."

"Apa maksudmu?"

Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya.

"Kau akan mati di sini malam ini. Tapi sebelum mati, aku ingin kau tahu: klan ini akan bangkit. Tanpamu. Dan namamu akan dilupakan, sementara namaku akan dikenang sebagai orang yang menyelamatkan Klan Jin dari kehancuran."

Hojun menggeram, melompat ke arahku.

Aku mundur selangkah, meraih bom di saku. Sumbu sudah kusulut dari tadi.

"Selamat tinggal, sepupu."

Aku melempar bom ke arahnya, lalu lari keluar kamar.

LEDAKK!

Ledakan itu mengguncang seluruh rumah. Aku terjatuh di tangga, tapi segera bangkit dan berlari.

Di belakang, api berkobar. Jeritan Hojun terdengar sesaat—lalu diam.

---

Aku berdiri di luar rumah, menatap api yang melalap bangunan itu.

Kwon Tak dan Seol Ran muncul dari kegelapan.

"Selesai?" tanya Kwon Tak.

Aku mengangguk.

"Kau tidak ingin memastikan dia mati?"

"Tidak perlu. Api itu akan memastikan."

Seol Ran menatapku dengan ekspresi aneh—campuran antara hormat dan takut.

"Kau benar-benar... berbeda."

Aku tidak menjawab. Hanya berbalik dan berjalan pergi.

Di belakang, rumah itu terus terbakar. Menerangi malam yang gelap.

---

Saat fajar tiba, aku kembali ke gua tempat Gong Hyerin menunggu.

Dia berlari keluar saat melihatku. Wajahnya tegang.

"Oppa! Kau selamat!"

Aku mengangguk. Lalu duduk di tanah, kelelahan.

Dia duduk di sampingku.

"Hojun?"

"Sudah beres."

Diam sejenak.

"Oppa, kau menangis?"

Aku menyentuh wajahku. Basah.

"Aku tidak tahu. Mungkin." Aku menatap langit yang mulai memucat. "Hyun Moo... dendamnya sudah kubayar."

Gong Hyerin meraih tanganku.

"Ini yang dia mau, Oppa. Kau tahu itu."

Aku diam.

Di langit timur, matahari mulai terbit. Menyinari dunia yang baru.

Dunia tanpa Hojun.

Dunia di mana Klan Jin bisa mulai bangkit.

Tapi di dalam hatiku, ada lubang yang tidak bisa diisi.

Lubang bernama Hyun Moo.

---

[Bersambung ke Bab 11]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!