NovelToon NovelToon
Jerat Sentuhan Berbahaya

Jerat Sentuhan Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Harem
Popularitas:911
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"

"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."

"Hentikan! Jangan sentuh aku!"

"Jika aku tak mau?"

"Kau tidak waras!"

Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.

Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.

Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Aku merasa bodoh

Malam merambat perlahan di London. Lampu-lampu kota menyala seperti bintang yang jatuh ke bumi—berkilau di kaca toko, menari di genangan air sisa hujan sore. Langit yang tadi berwarna jingga kini berubah kelabu pekat.

Valeria menutup tirai etalase tokonya dengan tangan gemetar. Biasanya, setelah hari yang panjang, ia akan merasa lega ketika kunci berputar di lubang pintu. Tapi malam ini tidak.

Malam ini, kunci itu terdengar seperti bunyi palu yang memekakkan telinga.

Klik.

Valeria menelan ludah. Ia berdiri beberapa detik, mematung di depan pintu toko, menatap jalanan yang mulai sepi. Angin dingin menyusup ke sela-sela mantel, membuat tubuhnya meremang .

"Tidak," bisiknya. "Aku tidak bisa tidur dirumahku sendiri.”

Bukan karena ia lelah. Bukan karena ia ingin suasana baru. Tapi karena ia takut. Takut kalau Rodrigo tiba-tiba muncul seperti kemarin. Seperti bayangan yang tak pernah benar-benar pergi. Seperti badai yang selalu kembali, bahkan saat langit terlihat cerah.

Valeria mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang sedikit bergetar.

Nama “Anne” terpampang di layar. Ia menarik napas, lalu menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Valeria memeluk ponselnya lebih erat, seperti itu satu-satunya benda yang bisa menahannya agar tidak runtuh. Dan akhirnya, suara Anne terdengar.

“Val? Hei, apa kau baik-baik aja?”

Suara Anne terdengar cerah, tapi ada jeda kecil, seolah ia menangkap sesuatu dari napas Valeria.

Valeria menelan ludah lagi.

“Anne, apa kau berada di apartemen?”

“Ya. Aku baru selesai mandi. Kenapa? Kau di mana?”

Valeria memandang jalanan. Lampu merah di ujung jalan berubah hijau, tapi tak ada mobil yang lewat.

“K.....aku baru saja menutup toko.”

“Jam segini? Ya ampun, kamu kerja terus menerus.”

Valeria ingin tertawa, tapi yang keluar hanya napas pendek.

“Anne…”

“Hmm?”

Valeria menutup mata. “Apakah aku boleh menginap di tempatmu malam ini?”

Hening. Hening yang cukup panjang hingga Valeria merasa dadanya sesak.

Lalu suara Anne berubah pelan.

“Valeria.”

Nada itu. Nada yang membuat Valeria tahu Anne sudah sadar ini bukan sekadar permintaan biasa.

“Kau kenapa?” tanya Anne, lebih serius. “Kau baru saja menangis?”

Valeria menggeleng, padahal Anne tak bisa melihat.

“Tidak, hanya saja aku takut.”

“Takut?” Anne mengulang, suaranya mendadak tegang. “Takut dengan siapa?”

Valeria membuka mata. Matanya berair, tapi ia menahannya.

“Rodrigo.”

Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

Seolah menyebutnya saja sudah cukup untuk membuat udara di sekitar Valeria menjadi lebih dingin.

Di seberang, Anne menghela napas pelan.

“Dia datang lagi?”

Valeria menggigit bibirnya. “Dia..... dia datang kemarin.”

“Val…” kata Anne, "Apa dia menyakitimu? Ataukah dia ingin berbicara kepadamu?”

Valeria menutup mulutnya sebentar, mencoba mengendalikan suaranya yang hampir pecah.

“Cara dia menatap aku, seolah aku barang yang bisa dia ambil kapan pun dia mau.”

Anne terdiam beberapa detik. Valeria bisa mendengar suara kain, mungkin Anne sedang mengambil jaket atau bergerak mendekat ke pintu.

“Sekarang kau di mana?” tanya Anne cepat.

“Di depan toko.”

“Kau sendirian?”

Valeria memandang sekeliling lagi. “Ya.”

“Ya Tuhan, Valeria, kau jangan berdiri di luar sendirian. Masuk dulu.”

Valeria menoleh ke pintu tokonya. “Aku sudah menguncinya.”

“Masuk lagi. Buka, Aku tidak suka kau di luar sendirian.”

Valeria menarik napas, lalu menurunkan tasnya, membuka kunci lagi dengan tangan yang agak kaku.

Klik.

Pintu terbuka.

Ia masuk ke dalam, lalu mengunci kembali dari dalam. Suasana toko gelap, hanya lampu kecil di sudut yang menyala. Aroma gula, roti, dan vanila masih menempel di udara, biasanya aroma yang menenangkan.

Tapi malam ini, aroma itu tidak bisa mengusir rasa takut.

“Aku sudah masuk,” ucap Valeria lirih.

“Oke.” Anne menghela napas. “Kau tenang dulu. Aku akan menjemputmu.”

Valeria membeku.

“Jangan,” katanya cepat. " Aku bisa naik taksi.”

“Valeria, ini malam. Kauu ketakutan. Aku tidak ingin kau sendirian di jalan.”

Valeria memejamkan mata lagi. “Aku hanya, aku tidak ingin merepotkanmu.”

Anne tertawa kecil, tapi tawa yang lebih terdengar seperti rasa kesal. “Repot apla? Kau sahabatku.”

Valeria menggigit bibir. “Aku takut, Anne.”

Suara itu akhirnya keluar dengan jujur. Tanpa lapisan. Tanpa topeng.

Hening sejenak. Lalu Anne berbicara lebih lembut, seperti sedang menenangkan anak kecil yang gemetar karena mimpi buruk.

“Val, dengar aku. Kau aman. Kau tidak sendirian. Oke?”

Valeria mengusap pipinya.

“Aku tidak yakin aku aman,” bisiknya.

Anne terdiam, lalu suaranya berubah pelan tapi tegas. “Dia terlalu mencintaimu Val, dia terobsesi padamu, tetapi caranya salah, karena dia semakin membuatmu ketakutan.”

Valeria menggeleng cepat. “jika dia mencintaiku, dia tidak akan membuatku takut. ”

“justru itu, dia tidak tahu dengan apa yang kau alami selama ini Val.”

Valeria menelan ludah.

“Ya.”

Anne menghela napas panjang. “Oke. Aku akan menjemputmu.”

Valeria ingin membantah, tapi ia tak punya tenaga.

“Anne.”

“Val, jangan keras kepala.” Anne terdengar mengambil kunci mobil. “Aku sudah bilang, aku akan menjemputmu.”

Valeria menggenggam ponsel lebih erat. “Aku, aku takut dia masih di sekitar sini.”

Anne langsung berhenti. “Apa kau melihat dia?”

Valeria menoleh ke jendela toko. Kaca itu gelap, memantulkan bayangannya sendiri. Tapi bayangan itu terlihat pucat. Matanya seperti orang yang sudah tidak tidur berhari-hari.

“Aku tidak, tapi aku merasa.” Anne terdiam beberapa detik.

“Oke. Kauu tetap di dalam. Jangan buka pintu untuk siapa pun. Bahkan kalau ada yang mengetuk dan jangan matikan telpon dariku.”

Valeria mengangguk pelan.

“Iya.”

Anne menghela napas, suaranya melembut lagi.

“Kau bisa. Kau kuat. Kau hanya sedang ketakutan sekarang.”

Valeria memeluk tubuhnya sendiri. “Aku tidak ingin ketemu dia lagi,” katanya lirih.

“Ya. Aku ngerti.”

Valeria menatap lantai.

“Kau tidak marah kan, kalau aku menginap di apartementmu?”

Anne mendengus. “Marah? Val, aku akan marah jika kau tidak tinggal, apalagi kau sedang sendirian.”

Valeria hampir menangis mendengar itu.Anne melanjutkan, lebih pelan. “Valeria kau tidak perlu menghadapi ini sendirian. Kau sudah terlalu lama berusaha kuat sendirian.”

Valeria menutup mata. “Aku hanya ingin hidup tenang, Anne.”

“Aku tahu,” jawab Anne.Ada jeda.

Kemudian suara Anne berubah seperti sedang memikirkan sesuatu yang lebih berat.

“Val aku tahu, kau masih mencintainya!"

Valeria membuka mata, menatap lurus ke depan.

“Tapi— dia selalu membuatku ketakutan." Jawabannya cepat. Terlalu cepat. Anne tidak langsung menanggapi.

Valeria menggertakkan giginya.

“Tidak, tidak” ulangnya, lebih tegas. “Aku nggak punya perasaan apa-apa selain takut dan benci.”

Anne menghela napas. "Kau selalu saja seperti itu."

Valeria menelan ludah, lalu suaranya melemah.

“Dia selalu membuatku seolah aku tidak punya pilihan.”

Anne diam. Anne terdengar menarik napas panjang. “Itu bukan cinta,” ucap Anne akhirnya, pelan tapi tajam. “Itu kontrol. Mungkin saja dia terlalu marah karena kau meninggalkannya.”

Valeria menggigil. “Aku tahu,” bisiknya.

Anne menambahkan, “Dan kau punya pilihan. Kau selalu punya pilihan. Kau bisa bilang tidak.”

Valeria tertawa kecil, pahit. “Rodrigo tidak pernah dengar kata ‘tidak’.”

Anne terdiam. Lalu ia berkata, “Kalau begitu, kita yang harus membuat dia dengar.”

Valeria menatap ponselnya. “Kita?” suaranya bergetar.

Anne menjawab tanpa ragu, “Iya. Kita. Aku selalu bersamamu."

Valeria menggigit bibir sampai terasa perih. “Aku takut kau akan berada dalam bahaya.”

Anne menghela napas. “Valeria, aku lebih takut kau kenapa-kenapa.”

Suara itu membuat dada Valeria sesak. “Aku tidak ingin menjadi beban.”

“Stop.” Anne memotong tegas. “Kau bukan beban. Kau sahabatku. Dan aku tidak akan meninggalkanmu sendirian malam ini.”

Valeria menunduk, air mata akhirnya jatuh.

“Oke,” bisiknya.

“Bagus.” Suara Anne terdengar lega. “Sekarang, kau duduk. Minum air. Aku sampai mungkin dua puluh menit.”

Valeria mengusap air matanya cepat. “Aku… aku duduk.”

“Dan Val?”

“Hmm?”

Anne menghela napas. “Kauu tidak perlu malu karena takut. Takut itu normal kalau kau berhadapan dengan orang yang membuatmu tidak nyaman.”

Valeria menatap meja kasir. “Aku merasa bodoh.”

“Kau tidak bodoh. Kau manusia.”

Valeria mengangguk kecil, meski Anne tak bisa melihat. “Oke.”

Anne melanjutkan, suaranya lebih ringan, mencoba menenangkan. “Aku akan membawa cokelat panas. Kau suka yang banyak whipped cream kan?”

Valeria tertawa kecil di sela air mata.

“Anne…”

“Apa? Ini keadaan darurat. Cokelat panas itu bagian dari prosedur.”

Valeria menghela napas panjang. “Oke,” katanya pelan. “Terimakasih.”

Anne tersenyum lewat suara. “Sama-sama. Kau tunggu ya.”

Untuk pertama kalinya malam ini, Valeria merasa ada seseorang yang benar-benar berdiri di sisinya.

Ia duduk di kursi kecil dekat kasir, memeluk mantel lebih erat.

Di luar, angin berembus dingin, membawa suara jauh dari jalanan, sirene samar, langkah kaki, suara pintu toko lain ditutup.

Valeria menatap jendela toko. Dan untuk beberapa detik, Ia merasa seolah ada bayangan yang berdiri di seberang jalan.

Jantungnya langsung berhenti. Tapi ketika ia memfokuskan pandangannya, Itu hanya pantulan lampu jalan. Valeria menutup mata, menahan napas.

“Rodrigo…” bisiknya, seperti sebuah doa yang salah.

Malam ini ia tidak akan pulang. Malam ini ia memilih selamat.Dan ia berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan lemah lagi.

1
Agus Tina
mampir thor bagus kayaknya 😍
Lilyyy: halo say silahkan yah jangan lupa nanti rating 😍🙏
total 1 replies
Dewi wijayanti Ryan setiawan
lanjut thor😍
Lilyyy: ih makasih kak komentar kakak semangat aku 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!