NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Suara yang Terpatahkan

BAB 22: Suara yang Terpatahkan

Pagi di pesisir Jawa Tengah menyapa dengan semburat warna jingga yang tenang. Di dalam Kamar Melati, aroma antiseptik yang tajam kini bercampur dengan wangi bunga kamboja segar yang sengaja diletakkan Rangga di sudut ruangan. Bunyi mesin ventilator yang sebelumnya terdengar seperti lonceng kematian, kini terasa seperti irama harapan yang teratur.

Rangga tidak tidur sedetik pun. Ia duduk di kursi kayu yang keras, menggenggam jemari Arini yang mulai terasa hangat. Matanya yang merah karena kurang tidur terus menatap kelopak mata Arini, menunggu keajaiban itu terulang kembali.

Perlahan, jemari di dalam genggamannya bergerak. Arini membuka matanya. Kali ini, tatapannya lebih fokus. Ia tidak lagi menatap kosong ke langit-langit, melainkan langsung tertuju pada wajah Rangga yang tampak sangat berantakan namun penuh kasih.

"Rin..." bisik Rangga, suaranya parau karena emosi yang tertahan. "Kamu bisa dengar aku?"

Arini mencoba mengangguk, namun otot lehernya terlalu lemah. Ia hanya bisa memberikan respon lewat binar matanya yang mulai basah oleh air mata. Rangga segera memanggil Dokter Bram.

Proses pelepasan selang ventilator adalah momen yang paling menegangkan bagi Rangga. Ia harus melihat Arini tersedak dan berjuang menghirup oksigen secara mandiri untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Tubuh Arini yang kurus tampak terguncang hebat, namun Rangga terus memeluk bahunya, membisikkan kata-kata penyemangat tepat di telinganya.

"Terus, Sayang... ambil napas pelan-pelan. Aku di sini. Kamu kuat," bisik Rangga.

Setelah perjuangan yang melelahkan, masker oksigen biasa dipasangkan ke wajah Arini. Wanita itu tampak sangat letih, namun ia mencoba menggerakkan bibirnya yang pecah-pecah.

"Ga... Rang... ga..."

Suara itu. Suara yang sangat dirindukan Rangga. Meskipun suaranya terdengar pecah, serak, dan hampir menyerupai bisikan angin, bagi Rangga itu adalah melodi paling indah yang pernah ia dengar melampaui musik klasik mana pun di dunia.

"Iya, Rin. Ini aku. Jangan bicara dulu, istirahatlah," ujar Rangga sambil mengecup punggung tangan Arini berkali-kali.

Arini menggeleng lemah. Ia menarik tangan Rangga, mendekatkannya ke dadanya. "Ma... af... kan... aku..."

"Nggak, Rin. Jangan minta maaf. Aku yang salah. Aku yang bodoh karena sempat meragukanmu," potong Rangga cepat. "Sekarang tidak ada lagi rahasia. Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu kenapa kamu melakukan sandiwara itu. Aku sudah tahu tentang ayahmu... dan tentang apa yang dilakukan Mamaku."

Mendengar kata 'Mama', tubuh Arini sedikit menegang. Ketakutan itu masih ada, membekas dalam trauma di saraf-sarafnya. Rangga yang menyadari hal itu segera mendekap wajah Arini dengan kedua tangannya.

"Dia tidak akan menyentuhmu lagi, Rin. Aku sudah memutus semua aksesnya ke sini. Dia sekarang sedang berurusan dengan hukum. Aku sudah bersumpah akan menjadi perisaimu, meskipun aku harus kehilangan seluruh namaku sebagai seorang Adiguna."

Namun, kedamaian itu terusik ketika pintu kamar diketuk dengan keras. Maya, sekretaris setia Rangga, masuk dengan wajah yang sangat cemas. Ia membawa sebuah tablet yang menunjukkan berita utama pagi ini.

"Pak Rangga, maaf mengganggu. Tapi ini darurat," ujar Maya sambil melirik Arini yang tampak bingung.

Rangga berdiri dan melangkah sedikit menjauh dari ranjang agar Arini tidak mendengar terlalu jelas. "Ada apa lagi?"

"Ibu Sarah tidak diam saja setelah konferensi pers semalam, Pak. Beliau merilis dokumen medis palsu yang menyatakan bahwa Anda memiliki kecenderungan skizofrenia sejak remaja. Beliau sedang mencoba meyakinkan dewan komisaris bahwa semua bukti yang Anda rilis adalah hasil delusi orang sakit jiwa. Dan yang lebih buruk..." Maya ragu-ragu sejenak.

"Katakan!" tekan Rangga.

"Ibu Sarah telah menyewa pengacara untuk menuntut hak asuh penuh atas Nona Arini. Beliau mengklaim bahwa karena Nona Arini tidak memiliki wali sah yang masih hidup, maka Yayasan Adiguna—yang secara hukum masih di bawah kontrol administratif pusat—adalah wali sahnya. Beliau berniat menjemput Nona Arini sore ini untuk dipindahkan ke 'fasilitas rahasia' miliknya."

Rangga mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di tangannya menonjol. Ibunya benar-benar wanita tanpa hati. Ia menggunakan celah hukum wali sah untuk mencoba mengambil Arini kembali. Jika Arini jatuh ke tangan Sarah di fasilitas rahasia, Rangga tahu ia tidak akan pernah melihat Arini lagi dalam keadaan hidup.

"Dia ingin bermain hukum?" desis Rangga. "Baik. Maya, hubungi catatan sipil sekarang. Siapkan semua dokumen yang diperlukan."

"Dokumen apa, Pak?"

"Pernikahan darurat," jawab Rangga tegas.

Maya terbelalak. "Tapi Pak, Nona Arini baru saja sadar. Kondisinya sangat lemah untuk—"

"Tidak ada cara lain! Jika aku menjadi suaminya yang sah secara hukum, hak wali sepenuhnya jatuh ke tanganku. Ibuku tidak akan bisa menyentuhnya lagi meskipun dia membawa seluruh pasukan pengacara di negeri ini. Cari penghulu, cari petugas catatan sipil, bawa mereka ke sini sekarang juga! Aku tidak peduli berapa pun biayanya!"

Rangga kembali ke samping ranjang Arini. Ia melihat Arini menatapnya dengan penuh tanya. Rangga berlutut di lantai, menatap mata Arini dengan intensitas yang luar biasa.

"Rin, aku tahu ini bukan momen yang romantis. Aku tahu kamu masih sangat sakit. Tapi aku harus melakukan ini untuk melindungimu," Rangga mengambil sebuah cincin emas sederhana yang selalu ia simpan di dompetnya—cincin yang seharusnya ia berikan di hari pertunangan mereka yang gagal dulu.

"Maukah kamu menikah denganku? Di sini, sekarang juga? Bukan karena aku ingin memaksamu, tapi karena ini satu-satunya cara agar tidak ada satu orang pun yang bisa memisahkan kita lagi. Aku ingin menjadi pelindungmu secara sah di mata Tuhan dan hukum."

Arini terdiam. Air mata mengalir deras dari sudut matanya. Ia melihat kesungguhan, ketakutan akan kehilangan, dan cinta yang begitu besar di mata Rangga. Di tengah tubuhnya yang digerogoti kanker, di tengah suaranya yang hilang, ia merasa menjadi wanita paling beruntung.

"I... ya... Ga..." bisiknya lirih.

Sore itu, di dalam Kamar Melati yang sakral, sebuah prosesi sederhana dilaksanakan. Tanpa pesta mewah, tanpa gaun desainer, dan tanpa restu dari seorang ibu. Hanya ada Rangga, Arini, dua orang saksi, dan seorang petugas yang menikahkan mereka di antara bunyi mesin medis.

Saat Rangga mengucapkan ijab kabul dengan suara yang bergetar namun tegas, ia merasa seolah-olah sedang menandatangani kontrak nyawa. Ia bukan lagi sekadar kekasih; ia adalah suami.

"Sah," ucap para saksi.

Rangga mengecup kening Arini lama sekali. "Sekarang kamu adalah Arini Adiguna. Tidak ada yang bisa membawamu pergi dariku lagi. Tidak Mamaku, tidak juga maut."

Tepat saat doa penutup selesai dibacakan, pintu lobi Sanatorium kembali digedor oleh rombongan pengacara Ibu Sarah yang membawa surat perintah penjemputan paksa. Namun, kali ini Rangga menyambut mereka di pintu koridor dengan senyum yang sangat tenang.

Ia mengangkat akta pernikahan darurat yang masih basah dengan tinta.

"Maaf, Tuan-tuan. Anda terlambat satu langkah. Istri saya tidak akan pergi ke mana pun tanpa izin dariku," ujar Rangga dengan nada kemenangan yang mutlak.

Wajah para utusan Ibu Sarah berubah pucat. Mereka tahu, secara hukum, posisi Rangga kini tak tergoyahkan. Perang besar baru saja dimulai, namun kali ini Rangga memiliki status hukum yang akan menghancurkan setiap rencana licik ibunya.

Namun, di balik kemenangan itu, Rangga melihat Arini kembali memejamkan mata karena kelelahan yang luar biasa. Ia tahu, perjuangan medis Arini masih sangat panjang, dan kini beban itu sepenuhnya ada di pundaknya sebagai seorang suami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!