Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Ayam Pelangi dan Sandiwara Gila"
Bisa merasakan tali sutra di pergelangan tangannya sesekali tertarik oleh gerakan Yang Chi di bawah sana.
Ibu Suri tersenyum sambil menuangkan teh. "Long Wei, Ibu masih memikirkan ucapanmu tadi. Mengenai organisasi Burung Gagak itu... apakah benar si Xiao Xi Huwan itu begitu berguna sehingga kau harus menjaganya di kamarmu? Ibu rasa itu sangat tidak pantas."
Long Wei berdeham, mencoba tetap tenang. "Dia tahu banyak hal, Ibu. Informasi dari dia bisa menyelamatkan kerajaan kita dari pengkhianatan dalam. Ibu tidak perlu risau."
"Tapi tetap saja, Anakku. Rakyat bisa salah paham. Bahkan Li Xuan merasa kau terlalu lunak padanya. Seharusnya kau—"
Tiba-tiba, percakapan itu terhenti. Di bawah sana, Yang Chi merasa kakinya benar-benar kram karena terlalu lama menekuk. Dalam usahanya mencari posisi nyaman, kakinya yang tertutup jubah putih kebesaran itu meluncur kencang.
Duk!
"Astaga!" pekik Yang Chi tanpa sadar karena terkejut kakinya menabrak sesuatu yang keras.
"Aduhhh!" ringis Ibu Suri sambil memegangi tulang keringnya. Wajahnya berubah kaget dan kesakitan. "Apa itu tadi? Long Wei, apakah kau baru saja menendang Ibumu?"
"Bukan saya, Ibu! Itu mungkin... kucing?" jawab Long Wei asal, keringat dingin mulai muncul di dahinya.
Namun, Ibu Suri bukan orang bodoh. Beliau melihat taplak meja itu bergerak-gerak. Dengan gerakan cepat, Ibu Suri membungkuk dan menyibakkan tirai kolong meja itu dengan tangannya.
"Siapa di bawah sana—"
Yang Chi yang panik karena tertangkap basah, langsung merangkak keluar dengan cepat. Karena ketakutan melihat wajah Ibu Suri yang sangat terkejut, Yang Chi refleks melompat ke arah Long Wei dan memeluk pinggang kaisar itu dengan erat, seolah-olah Long Wei adalah satu-satunya pelindungnya.
"Tolong saya, Baginda! Saya tidak sengaja!" rengek Yang Chi sambil menyembunyikan wajahnya di dada Long Wei.
Ibu Suri mematung, matanya terbelalak lebar melihat seorang wanita—yang sangat kebesaran—muncul dari bawah meja dan memeluk putranya.
"Xi-Xiao Xi Huwan?!" pekik Ibu Suri dengan suara gemetar. "Long Wei! Apa-apaan ini?! Kenapa dia ada di bawah meja makan?!"
Long Wei hanya bisa mematung dengan tangan Yang Chi yang melingkar erat di tubuhnya. Ia menatap ibunya dengan tatapan pasrah, sementara tangannya yang terikat tali merah dengan tangan Yang Chi kini terlihat jelas di depan mata Ibu Suri.
Melihat raut wajah Ibu Suri yang memerah karena marah, Yang Chi langsung memutar otaknya secepat kilat. Ia melepaskan pelukannya pada Long Wei, lalu mulai mengacak-acak rambutnya sendiri hingga berantakan.
"Aaaaahahah! Di mana ibuku?! Siapa kalian?! Kenapa aku ada di hutan beton ini?!" teriak Yang Chi secara histeris sambil menunjuk-nunjuk vas bunga seolah itu adalah makhluk asing.
Sambil terus berakting gila, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Long Wei dan berbisik sangat pelan, "Tuan, ikuti saja sandiwaraku. Aku sedang berpura-pura agar tidak dipancung ibumu!"
Long Wei sempat tertegun melihat perubahan drastis Yang Chi, namun ia segera menangkap maksudnya. Ia memasang wajah prihatin yang dibuat-buat.
"Kenapa dia, Long Wei?!" tanya Ibu Suri dengan nada ngeri, melihat Yang Chi sekarang malah mencoba menggigit ujung taplak meja.
Long Wei menghela napas panjang dan menatap ibunya dengan tatapan sedih. "Maafkan saya, Ibu. Saya lupa memberitahu. Tadi saat diinterogasi, dia mencoba lari dan kepalanya terbentur lantai marmer dengan sangat keras. Sepertinya ingatannya hilang dan jiwanya terguncang."
"Hah? Hilang ingatan?" Ibu Suri tampak ragu, menatap Yang Chi yang sekarang sedang asyik mengajak bicara piring kosong.
"Benar, Ibu. Itulah alasan kenapa saya harus mengikat tangan kami dan menjaganya 24 jam. Saya harus memastikan dia benar-benar pulih untuk mendapatkan informasi tentang Burung Gagak. Jika dia mati dalam keadaan gila, kita tidak akan pernah tahu siapa pengkhianat di istana ini," tambah Long Wei dengan nada yang sangat meyakinkan.
"Aaaaa! Aku lapar! Bawa aku pulang ke rumah awan! Aku mau makan pelangi!" teriak Yang Chi lagi, kali ini ia menarik-narik jubah Long Wei dengan wajah memelas seperti anak kecil.
Ibu Suri memijat pelipisnya, merasa pusing. "Astaga... bagaimana mungkin putri kerajaan yang tadinya begitu angkuh sekarang berubah menjadi... seperti ini?"
"Ini adalah hukuman langit untuknya, Ibu," sahut Long Wei tenang.
Yang Chi diam-diam melirik ke arah makanan lezat di meja. Mumpung lagi akting gila, ia langsung menyambar sebuah paha ayam besar dan menggigitnya dengan rakus. "Nyam nyam! Pelanginya rasa ayam!"
Long Wei hanya bisa menahan tawa melihat tingkah konyol penulis yang terjebak di tubuh musuhnya itu. Setidaknya, untuk malam ini, nyawa Yang Chi aman dari kemarahan Ibu Suri.
Long Wei segera mengangkat tubuh Yang Chi ke dalam gendongannya sebelum gadis itu bertingkah lebih aneh lagi di depan Ibu Suri. Sambil berjalan menjauh, Yang Chi tetap konsisten dengan perannya, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Long Wei sambil sesekali bergumam tidak jelas tentang "ayam pelangi".
Ibu Suri berdiri dari kursinya, menatap kepergian mereka dengan pandangan benci sekaligus ngeri. "Long Wei! Ingat pesanku! Kalau semua urusan ini sudah selesai dan kau mendapatkan informasi yang kau inginkan, segera bunuh dia! Jangan biarkan wanita gila itu mengotori istana kita lebih lama lagi!" teriak Ibu Suri dari kejauhan.
Long Wei menghentikan langkahnya sebentar, ia menjawab tanpa menoleh dengan suara yang berat namun meyakinkan. "Siap, Ibu. Jangan khawatir. Long Wei sendiri yang akan membuangnya ke sungai terdalam begitu dia tidak berguna lagi."
Mendengar kata "membuang ke sungai", Yang Chi yang tadinya merasa nyaman di gendongan Long Wei langsung merinding. Ia berbisik pelan tepat di telinga Long Wei, "Tuan, itu cuma akting kan? Anda tidak beneran mau membuang saya ke sungai kan? Saya nggak bisa berenang, Tuan!"
Long Wei tidak menjawab. Ia terus melangkah masuk ke dalam kamarnya yang sunyi, lalu menutup pintu dengan tendangan kakinya. Begitu pintu terkunci, ia langsung menjatuhkan Yang Chi ke atas ranjang dengan kasar.
"Aduh! Pelan-pelan sedikit dong, Baginda! Saya ini pasien hilang ingatan, lho!" protes Yang Chi sambil mengusap pinggangnya.
Long Wei berdiri di depan ranjang, melipat tangan di dada sambil menatap Yang Chi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aktingmu lumayan juga. Tapi ingat, ibuku tidak mudah ditipu selamanya. Jika kau tidak segera memberikan bukti nyata tentang pengkhianatan Li Xuan besok pagi, aku benar-benar akan melaksanakan janji pada ibuku untuk membuangmu ke sungai."
Yang Chi langsung duduk tegak, merapikan jubah putih kebesaran yang ia pakai. "Tenang saja, Tuan Kaisar. Besok adalah hari di mana Li Xuan akan melakukan pengiriman surat rahasia lewat merpati di taman belakang. Kita bisa menangkapnya basah-basah di sana."
Yang Chi kemudian merebahkan diri lagi dengan santai. "Tapi sekarang, saya mau tidur. Jadi guling yang baik ya, Tuan," ucapnya sambil menarik tali di pergelangan tangan mereka agar Long Wei ikut berbaring.
Long Wei menghela napas, merasa benar-benar tidak berdaya menghadapi kegilaan gadis ini. Ia pun terpaksa berbaring di samping Yang Chi, masih dengan tangan terikat, sambil bertanya-tanya dalam hati: Siapa sebenarnya wanita ini?