Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. Bagaimana kalau ia memilih untuk menyerah?
"Dokter!" Lucas berteriak nyaring sambil menggendong tubuh lemah adiknya. Pria yang biasanya rapi dan tenang itu kini terlihat berantakan. Beberapa orang yang kebetulan berlalu lalang di tempat itu tak bisa menyembunyikan raut penasarannya.
"Bukankah itu tuan muda keluarga Moses? Tidak biasanya dia sepanik itu. Siapa perempuan yang digendongnya itu?" Seorang wanita paruh baya mengerutkan keningnya pertanda sedang kebingungan. Lucas terengah-engah ketika tubuh adiknya diletakkan di atas brankar rumah sakit itu. Pria itu menghapus peluh di dahinya dengan gerakan terburu-buru. Rasa paniknya menyeruak ke udara, bercampur dengan aroma rumah sakit dan aroma ketegangan sore itu. Ema yang melihat ketegangan di wajah Lucas tentu saja gemetar ketakutan. Pria berkuasa di depannya ini tak lebih dari seorang diktator yang siap menghabisinya.
"Tuan Lucas, Nona Ervana pasti baik-baik saja". Ucap Ema sambil meremas tangannya pertanda sangat ketakutan. Wajah mulusnya terlihat sedikit berkilau karena peluh.
"DIAM". Suara bentakan Lucas bergema di udara sebelum hilang terbawa angin. Wajah tampannya terlihat memerah. Amarah menguasainya dalam sekejap dan ia begitu ingin menghabisi nyawa wanita di depannya ini.
"Ini semua karena kelalaian kalian. Bagaimana mungkin kalian sangat bodoh dan tidak sadar diri? Adikku baru saja menenggak racun. Demi Tuhan aku tidak paham dengan itu sama sekali, tapi busa yang keluar dari bibirnya membuatku nyaris kehilangan akal sehat. Ema, wanita sialan! Siapa dirimu sebenarnya sampai kau seberani itu menentangku?" Urat lehernya menonjol, tanda amarahnya sedang tinggi. Saat itu juga, Ema ingin sekali berlari dari tempat penuh tekanan itu, menghindari pria berkuasa yang sedang tadi menatapnya dengan nyalang.
"Tu-tuan, aku tidak tau apa maksudmu". Ema menunduk takut. Kata-kata yang ingin diucapkannya tertahan di tenggorokan.
"Kauu tidak paham apa maksudku? Karena kau bodoh atau bagaimana?" Lucas meraup wajahnya dengan penuh perasaan. Bayang-bayang sang adik berhiasan di kepalanya. Dulu, ia bahkan tak rela jika gadis manja itu terluka sedikit saja. Sekarang, Ervana sedang bertarung dengan maut di dalam sana. Ah, andai ia tidak datang tepat waktu mungkin ia akan menjadi manusia paling bersedih hari ini. Adiknya, adik yang dulu begitu disayanginya nyaris meregang nyawa di kamar gelap bernomor 14 itu. Rasa takut pelan-pelan merayap ke dasar hatinya.
Ia memang membenci adiknya, namun membayangkan wajah kesakitan gadis itu membuatnya seperti kehilangan separuh kewarasannya.
"Tuan Lucas". Bian datang dengan terengah-engah. Kemeja putihnya sedikit basah karena keringat. Suaranya terdengar bergetar, pria itu sudah payah menguasai dirinya sekarang.
"Bagaimana keadaan Nona Muda?" Tanya pria itu sedikit terburu-buru.
"Masih ditangani dokter. Kita doakan saja yang terbaik". Lucas mendudukkan tubuhnya di bangku, pria itu menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. Pikirannya kalut sekali.
Bagaimana kalau ia memilih untuk menyerah? Batin pria berkuasa itu. Ingin sekali ia menerobos ruangan berpintu putih itu demi melihat langsung tubuh lemah adiknya. Ini terlalu menyakitkan!
Pintu putih itu terbuka dari arah dalam. Seorang pria berjas putih kini mendekat ke arah Lucas yang kini menatapnya dengan intens.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" Lucas bahkan menggenggam tangan sang dokter.
"Maaf Tuan Muda. Racunnya bekerja dengan cepat. Kami sudah melakukan yang terbaik tapi pasien memilih menyerah. Ini semua di luar kuasa kami".
"Tidak! Ini tidak mungkin". Ujar Lucas nyaris berbisik. Isi pikirannya kosong. Ini terlalu mengejutkan sekaligus menyakitkan. Adiknya meninggal. Ya Tuhan, ini seperti sebuah kekalahan paling menyakitkan baginya. Tuhan menghukumnya dengan cara yang paling ia benci. Tubuh Lucas limbung bahkan nyaris jatuh jika Bian tak menahan tubuh jangkung itu. Ini adalah kehilangan paling menyakitkan setelah seumur hidupnya.
"Tuan-"..
"Aku memang sangat bodoh, Bian". Ucapnya dengan pelan. Di luar sana, hujan mengguyur deras membasahi kota. Hujan hari ini seperti sebuah pertanda bahwa bumi sedang berkabung. Ervana Moses, namanya mungkin kini tinggal kenangan yang paling menyesakkan.
"Adikku meninggal, Bian! Ah, ini semua karena salahku. Aku terlalu menyayangi gadis bodoh tak tau asal-usul itu sampai tega menyakiti adikku. Aku buruk dan bodoh. Aku tidak pantas hidup, lebih baik aku saja yang bertarung dengan maut bukan adikku. Bian, adikku terlalu lama menyimpan luka. A-aku bodoh sekali, Bian". Sedetik kemudian isakan pilu lolos dari bibir pria itu. Bian mendesah putus asa. Sejujurnya, ia begitu marah pada Lucas Moses namun melihat wajah kacau pria itu membuat hatinya sedikit perih.
"Tuan, mungkin ini sudah menjadi kehendak Tuhan".
"Tidak Bian! Aku kakak yang buruk. Aku seperti menggali kuburan untuk adikku. Aku yang mengantarnya ke neraka. Bodoh bodoh bodoh". Pria itu memukul kepalanya beberapa kali.
"Tuan, jangan menyakiti diri sendiri". Beberapa saat kemudian, tempat itu menjadi saksi kehancuran seorang Lucas Moses. Wajahnya basah karena air mata kesedihan dan penyesalan.
Bian, pengawal yang baru saja dipecat oleh keluarga Moses baru saja dihubungi oleh Lucas. Ketika mendengar nama Ervana disebut, Bian berlari bak orang kesetanan lalu mengendarai mobil dengan kecepatan yang begitu membahayakan. Tak sekali dua kali pria itu mendapatkan makian dan umpatan dari pengguna jalan, namun ia tak peduli. Bayang-bayang wajah sang nona muda berkeliaran di kepalanya. Kakinya bergetar dan jantungnya berdegup kencang ketika ia berlari di koridor rumah sakit itu. Melihat wajah ketakutan Lucas membuatnya mengambil sebuah kesimpulan baru, kondisi Ervana mungkin buruk!
"Ya Tuhan, Vana". Suara serak itu membuyarkan lamunan Bian. Ujung matanya basah karena air mata, membuat pandangannya sedikit kabur.
Kau bahkan menyerah sebelum aku membantumu untuk membalas dendam, Nona.
Hujan dan petir terdengar bersahut-sahutan, seperti sebuah tanda perpisahan. Di pojok sana, Ema meremas kedua tangannya dengan ketakutan yang susah payah ia tutupi.
Renita sialan, setan kecil itu harus diberi pelajaran. Bagaimana mungkin ia memberiku beban dan ketakutan sebesar ini?
"Tuan Lucas, aku turut berdukacita". Ucap Ema dengan suara tersendat. Kakinya bergerak ke arah Lucas dan Bian yang sejak tadi menganggapnya seperti sebuah bayangan tak kasat mata yang tak penting.
"Pergilah sebelum aku membunuhmu". Ujar Lucas dengan suara tertahan. Bian mengerutkan keningnya melihat wajah ketakutan Ema. Ancaman Lucas barusan seperti menambah daftar rasa penasarannya.
Ada apa?