NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

...«----------------🍀{BUDIMAN}🍀----------------»...

Nama saya Pak RT, maksud saya, nama saya Pak Budiman, tapi semua orang di lantai empat apartemen Grand Residence ini memanggil saya begitu karena saya yang paling lama tinggal di sini. Hidup di apartemen kota besar biasanya membosankan dan penuh dengan wajah-wajah anonim yang hanya saling melempar senyum kecut di dalam lift. Tapi, segalanya berubah sejak unit nomor 404 dihuni oleh pasangan muda sekitar setahun yang lalu.

Pagi ini, saya sedang menyiram tanaman hias di depan koridor saya yang berjarak hanya dua pintu dari unit mereka. Seperti biasa, telinga tua saya menangkap suara-suara yang tidak biasa.

“Aduh, Dimas... pelan-pelan... itu sakit!”

Suara wanita itu melengking tinggi, disusul suara benda jatuh yang cukup keras. Brak!

Saya tersedak air yang sedang saya minum. “Ya Tuhan,” batin ku sambil mengusap dada. “Masih jam tujuh pagi dan mereka sudah melakukan olahraga ekstrim? Anak muda zaman sekarang benar-benar tidak kenal waktu.”

Namun, bukan hanya soal suara gaduh yang membuat unit 404 menjadi buah bibir rahasia di antara ibu-ibu penghuni lantai empat. Fokus utamanya adalah sang istri, Linda.

Wanita itu... dia bukan manusia biasa dalam standar mata saya yang sudah melihat banyak orang. Dia jarang keluar rumah. Kalau pun keluar, dia selalu mengenakan topi lebar atau syal yang menutupi lehernya dengan sangat rapat, bahkan di musim panas sekalipun. Dan kecantikannya? Ya ampun. Pernah sekali aku berpapasan dengannya saat ia membuang sampah. Kulitnya seputih porselen mahal, matanya hijau jernih seperti hutan yang belum terjamah, dan rambut cokelatnya berkilau seolah memancarkan cahayanya sendiri.

Tapi ada yang aneh. Setiap kali dia lewat, hidung saya menangkap aroma melati yang sangat kuat, tapi juga ada bau... liar. Seperti bau hutan setelah hujan, atau bau binatang yang bersih.

Tiba-tiba, pintu 404 terbuka. Saya buru-buru berpura-pura sangat sibuk dengan daun layu tanaman Anthurium saya.

"Dimas, kau melupakan bekal mu lagi!"

Itu suara Linda. Saya melirik dari sudut mata. Dia berdiri di ambang pintu, hanya mengenakan yukata sutra yang tipis. Dan di sinilah letak keganjilannya. Saya berani sumpah demi pensiun saya, saya melihat sesuatu yang besar dan berbulu cokelat bergerak-gerak di balik lipatan kain di bagian belakang punggungnya. Sesuatu yang panjang, seperti ekor binatang, tapi menghilang dalam sekejap saat ia menyadari keberadaan saya.

Dimas keluar dengan terburu-buru, wajahnya merah padam. "Ah, iya, maaf! Aku benar-benar kacau pagi ini. Terima kasih, Sayang."

Dimas mengecup kening istrinya, lalu menoleh ke arah ku dengan senyum kaku. "Pagi, Pak Budiman. Rajin sekali menyiram tanamannya."

"Pagi, Mas Dimas. Iya, ini... biar segar," jawab ku sambil berusaha tidak menatap Linda secara terang-terangan.

Linda menatap ku. Tatapannya bukan tatapan wanita biasa yang ramah. Matanya seolah menembus jiwa ku, sedikit tajam, seolah dia sedang menilai apakah aku ini ancaman atau bukan. Ada kilatan hijau yang tidak wajar di sana.

"Selamat pagi, Pak," sapa Linda pelan. Suaranya merdu, tapi ada nada dominan yang membuat bulu kuduk saya merinding.

"Pagi, Mbak Linda. Jarang terlihat keluar, apa sedang kurang sehat?" tanya ku mencoba berbasa-basi, meski sebenarnya aku sangat penasaran.

Linda tersenyum kecil, dan aku bersumpah aku melihat taring kecil yang sedikit lebih runcing dari manusia normal di sudut bibirnya. "Saya hanya lebih suka di dalam rumah, Pak. Di luar terlalu... berisik dan baunya tercampur aduk. Saya lebih suka menjaga wilayah saya tetap tenang."

“Menjaga wilayah?” pikir ku. “Istilah yang aneh untuk seorang ibu rumah tangga.”

Dimas segera menarik tas kerjanya. "Ayo masuk, Linda. Udara pagi tidak baik untuk mu. Pak Budiman, saya berangkat dulu!"

Setelah pintu tertutup rapat dan Dimas menghilang ke arah lift, koridor kembali sunyi. Tapi rasa penasaran saya justru meledak. Saya meletakkan alat penyiram dan mendekat ke arah pintu 404, mencoba mendengarkan apa yang terjadi di dalam. Saya tahu ini tidak sopan, tapi rahasia apartemen ini terlalu menggoda.

“Kau terlalu ramah pada orang tua itu, Linda,” terdengar suara Linda dari dalam. Tapi nadanya berbeda. Lebih rendah, lebih... geraman?

“Dia hanya tetangga, Sayang. Jangan terlalu posesif,” itu suara Dimas, eh, tunggu. Bukankah Dimas baru saja pergi?

Aku tertegun. “Tunggu dulu,” batin ku dengan jantung berdegup kencang. “Dimas sudah berangkat ke lift. Lalu siapa yang dia ajak bicara di dalam?”

Aku menempelkan telinga lebih rapat ke pintu.

“Aku tidak suka dia menatap ku begitu. Indra penciuman ku bilang dia sangat penasaran. Jika dia berani mencampuri urusan kita, aku akan memastikan dia lupa jalan pulang ke unitnya sendiri,” desis Linda.

Lalu terdengar suara “Pluk!” seperti suara sesuatu yang empuk jatuh ke lantai.

“Ahhh... ekor mu keluar lagi, Linda. Kau harus menahannya jika ada orang lain,” suara pria itu terdengar lagi. Tapi suaranya... sangat mirip Dimas, namun sedikit lebih berat. Apakah itu rekaman? Atau sihir?

"Ya Tuhan," bisik ku pelan. "Apa yang sebenarnya tinggal di dalam sana?"

Tiba-tiba, gagang pintu bergerak. Aku melompat mundur secepat yang bisa dilakukan oleh pria berusia enam puluh tahun. Aku lari kembali ke unit ku, masuk ke dalam, dan mengunci pintu dengan tangan gemetar.

Aku mengintip dari lubang pengintai (peephole). Linda membuka pintu sedikit, kepalanya melongok keluar. Rambutnya terurai, dan kali ini aku yakin seratus persen, aku melihat telinga runcing berbulu cokelat berdiri tegak di atas kepalanya, berputar-putar seperti radar. Ia mengendus udara dengan gerakan hidung yang sangat cepat.

Dia menatap tepat ke arah pintu ku. Senyumnya melebar. Dia tidak marah, dia terlihat... terhibur. Seolah dia tahu aku sedang mengintip dan dia sedang bermain-main dengan ku.

“Oh, Pak Tua,” aku membayangkan dia berkata begitu di kepalanya. “Rasa penasaran bisa membunuh kucing... atau tetangga yang terlalu ikut campur.”

Dia menutup pintu kembali. Klik.

Aku terduduk lemas di balik pintu ku. “Genre apa ini?” pikir ku linglung. “Slice of life? Horror? Atau misteri supranatural?”

Selama satu jam berikutnya, aku hanya diam di ruang tamu, memikirkan semua keanehan pasangan itu. Suara-suara gaduh di malam hari yang terkadang terdengar seperti cakar yang menggores dinding, bau daging mentah yang terkadang tercium dari ventilasi mereka (padahal Linda bilang dia vegetarian kepada ibu-ibu lain), dan cara Dimas yang selalu terlihat lelah tapi bahagia secara tidak wajar.

“Dimas itu manusia,” batin ku lagi. “Aku yakin dia manusia. Tapi Linda... dia sesuatu yang lain. Sesuatu yang indah tapi berbahaya. Dia seperti rubah yang menyamar jadi manusia, menjaga mangsanya di dalam sarang yang nyaman bernama apartemen nomor 404.”

Siangnya, aku turun ke lobi untuk mengambil paket. Aku bertemu dengan Bu RT, istri pengelola apartemen.

"Pak Budiman! Wajah mu pucat sekali. Ada apa?" tanyanya cemas.

"Bu... soal pasangan di 404. Apa Ibu pernah mengecek data identitas mereka secara detail?" tanya ku berbisik.

Bu RT tertawa kecil. "Oh, pasangan manis itu? Mas Dimas dan Mbak Linda? Tentu saja. Data mereka lengkap. Linda itu putri dari seorang kolektor barang antik dari pedalaman Jawa. Katanya dia punya kondisi kulit yang sensitif, makanya jarang keluar. Kenapa? Apa mereka berisik lagi?"

"Kondisi kulit sensitif?" aku mengernyit. "Apakah kondisi itu juga membuat orang menumbuhkan telinga rubah?"

Tawa Bu RT berhenti. Dia menatap ku seolah aku sudah pikun. "Pak Budiman, kurangi nonton film fantasi di TV kabel. Mana ada hal seperti itu. Mungkin itu bando atau aksesoris rambut. Zaman sekarang kan sedang tren hal-hal berbau Jepang begitu."

Aku terdiam. Mungkin dia benar. Mungkin aku hanya orang tua yang terlalu banyak berimajinasi. Tapi aroma melati dan geraman liar itu... aku tidak mungkin salah dengar.

Sore harinya, aku kembali ke lantai empat. Saat aku melewati unit 404, pintu mereka terbuka sedikit. Ada sebuah kantong plastik kecil digantung di gagang pintu unit ku. Aku mengambilnya. Di dalamnya ada beberapa kue beras (mochi) buatan tangan yang masih hangat dan sebuah kartu kecil.

Tulisannya sangat rapi dan cantik:

"Untuk Pak Budiman yang rajin. Terima kasih sudah menjaga kebersihan koridor. Mohon maaf jika kami terkadang berisik. Linda."

Di bawah nama itu, ada cap stempel kecil bergambar tapak kaki rubah.

Aku menelan ludah. Kue itu baunya sangat enak—manis dan menenangkan. Tapi aku merasa ini adalah pesan terselubung. “Makanlah kuenya, tutup mulut mu, dan jangan cari tahu lebih dalam jika kau ingin tetap aman,” begitulah aku menerjemahkannya.

Aku masuk ke rumah, memakan salah satu kue itu. Rasanya luar biasa enak, bahkan terlalu enak untuk dibuat oleh tangan manusia biasa. Ada rasa magis yang membuat kegelisahan ku hilang seketika.

“Yah,” batin ku sambil mengunyah mochi itu dengan nikmat. “Apa pun rahasia di balik pintu 404, selama mereka membayar iuran sampah tepat waktu dan memberi ku kue enak seperti ini... aku rasa aku bisa berpura-pura tidak melihat ekor atau telinga itu.”

Aku pun memutuskan untuk tidak lagi menguping. Tapi setiap kali aku melewati pintu mereka dan mendengar Linda tertawa atau Dimas mengaduh pelan karena 'hukuman' istrinya, aku hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala.

Apartemen nomor 404 memang punya rahasia. Rahasia tentang seorang istri posesif yang merupakan siluman rubah dan suami manusia yang rela 'dimangsa' setiap hari. Dan bagi ku, sebagai tetangga, itu adalah hiburan paling menarik sekaligus paling menegangkan di seluruh gedung ini.

“Semoga saja mereka segera punya anak,” pikir ku sebelum tidur malam itu. “Aku penasaran apakah bayinya nanti akan mengeong atau menggonggong... atau mungkin, dia akan memiliki ekor sembilan langsung saat lahir.”

Lantai empat kembali sunyi, namun di balik pintu 404, kehidupan "liar" Linda dan Dimas terus berlanjut, tersembunyi dengan rapi di balik topeng kehidupan modern yang membosankan. Dan aku? Aku hanya seorang penonton yang kini lebih memilih untuk menikmati mochi daripada mencari tahu kebenaran.

Rahasia tetaplah rahasia. Dan terkadang, itu lebih baik begitu.

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
@☠️⃝🖌️M⃤Sang Senja♬⃝❤️
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!