NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Di detik terakhir sebelum kilat emas itu menyentuh tubuhnya, Gatotkaca tidak menghindar. Ia tidak menangkis. Ia menengadahkan wajahnya ke langit Kurusetra yang tertutup asap, dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, persis seperti pose saat ia menahan matahari di atas Celah Sungsang demi melindungi kereta kencana Dewi Pregiwa.

*Jleb.*

Suara itu tidak keras, namun gaungnya menghentikan seluruh pertempuran di Tegal Kurusetra.

Tombak cahaya itu menembus zirah Antakusuma dengan sangat mudah, seolah zirah emas itu hanyalah selembar kain sutra tipis. Konta Wijayadanu menembus kulit kebal Gatotkaca, mencari sarungnya yang tertanam di pusar sang raksasa, dan masuk menancap tepat di pusat jantungnya.

Seketika itu juga, ledakan cahaya keemasan yang luar biasa menyilaukan meledak dari dalam tubuh Gatotkaca, menerangi seluruh daratan Kurusetra hingga menyerupai siang hari yang benderang. Waktu berhenti sepenuhnya bagi sang Senopati.

Rasa sakit yang diakibatkan oleh pusaka dewa itu jauh melampaui siksaan Kawah Candradimuka. Logam dewata itu membakar habis urat kawat dan tulang besinya dalam sekejap mata. Namun, Gatotkaca tidak menjerit. Di tengah pusaran rasa sakit yang menghancurkan wujud fisiknya, pikirannya justru melayang jauh, ribuan mil ke arah utara, melintasi pegunungan bersalju yang dingin.

Pada detik yang sama, di dalam kamar permaisuri Keraton Swantipura yang megah dan terbuat dari batu pualam es, Dewi Pregiwa terbangun dari tidur dangkalnya dengan sebuah sentakan hebat.

Sang ratu baru Swantipura itu terengah-engah, mencengkeram kain sutra di dadanya dengan kedua tangan. Keringat dingin membanjiri dahi dan lehernya. Sebuah rasa sakit yang luar biasa tajam, seolah ada sebilah tombak cahaya yang baru saja menembus jantungnya, membuat ia nyaris tidak bisa bernapas. Ia meluncur turun dari ranjang emasnya, jatuh berlutut di atas lantai pualam yang dingin.

"Kanda..." isak Pregiwa tertahan, air mata langsung mengalir deras dari matanya yang melebar karena teror firasat. "Kanda Gatotkaca!"

Pregiwa merangkak mendekati jendela kamarnya yang dibiarkan sedikit terbuka. Angin malam bersalju dari dataran tinggi berhembus masuk, menerpa wajahnya. Ia mendongak, menatap ke arah langit selatan—ke arah Amarta, ke arah Tegal Kurusetra.

Di kejauhan langit selatan yang biasanya hitam pekat, Pregiwa melihat seberkas cahaya emas yang sangat redup melintas sesaat sebelum akhirnya memudar dan padam seutuhnya. Cahaya itu tidak lebih dari sekadar bintang jatuh bagi orang biasa, namun bagi ikatan batin yang telah dirajut dengan air mata dan darah, cahaya itu adalah sebuah pesan perpisahan yang definitif.

Tali batin yang selama ini ia rasakan berdenyut hangat di sudut hatinya, tiba-tiba terputus, menyisakan sebuah kekosongan raksasa yang tidak akan pernah bisa diisi kembali oleh apa pun di dunia ini.

Pregiwa jatuh tengkurap di ambang jendela. Ia meremas pinggiran batu jendela itu hingga kuku-kukunya berdarah. Ia tidak peduli jika suaminya, Pangeran Jayantaka, terbangun karena tangisannya. Ia menangis meraung-raung, meratapi hilangnya satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya sebagai seorang manusia, bukan sebagai alat politik.

"Kau berjanji tidak akan meninggalkanku ke tempat yang tidak bisa kujangkau, Kanda!" jerit Pregiwa di sela-sela isaknya yang menghancurkan jiwa, mengulang kata-kata yang pernah dibisikkan pria itu di tengah badai salju. "Kau pembohong... Kau meninggalkanku sendirian di sangkar es ini... Kenapa kau tidak membawaku bersamamu?!"

Malam itu, di utara yang dingin, seorang ratu mati secara batin.

Sementara itu, di langit Tegal Kurusetra, tubuh raksasa Gatotkaca mulai kehilangan daya tolak gravitasinya. Ia melayang perlahan ke belakang, cahaya emas masih memancar dari dada bidangnya yang berlubang.

Kesadarannya mulai memudar. Rasa sakitnya telah lenyap, digantikan oleh rasa ringan yang sangat memabukkan. Ia bisa merasakan darah Pringgandani perlahan-lahan meninggalkan nadinya. Ia sekarat. Namun, sebelum ia benar-benar menutup mata, Gatotkaca mengingat satu hal terakhir. Sebuah pengabdian terakhir bagi Amarta.

*Jika aku jatuh sekarang, wujud asliku akan menimpa pasukan paman Arjuna,* batin Gatotkaca yang kini sangat jernih.

Dengan sisa-sisa napas penghabisan, dengan satu tetes terakhir lahar Candradimuka di tubuhnya, Gatotkaca merapalkan ajian pamungkasnya: Aji Narantaka.

Di udara, tubuh Gatotkaca yang sedang jatuh tiba-tiba membesar dengan kecepatan yang mengerikan. Ia melakukan *tiwikrama*, mengubah wujudnya menjadi raksasa sebesar bukit pualam. Sayap bajanya membentang menutupi separuh langit Kurusetra. Ia memutar arah jatuhnya dengan sisa tenaga yang ada, menjauhi sektor tengah pasukan Amarta, dan mengarahkan tubuh raksasanya tepat ke arah barisan belakang pasukan Astina tempat ratusan kereta perang dan ribuan pasukan gajah Kurawa berkumpul.

Pasukan Astina di bawah sana hanya bisa menatap ngeri, lumpuh oleh kepanikan absolut saat melihat sebuah "gunung hitam" runtuh dari langit menuju kepala mereka.

*BUMMMMMMMMMMM!*

Hantaman itu menyamai kekuatan gempa bumi pemusnah peradaban. Tubuh raksasa Gatotkaca jatuh menimpa bumi, menghancurkan ribuan prajurit Astina, ratusan gajah perang, dan kereta-kereta baja musuh hingga rata dengan tanah dalam sekedipan mata. Darah musuh memuncrat tinggi ke udara layaknya hujan merah. Sang Senopati Pringgandani itu, bahkan dalam kematiannya, masih sanggup memberikan kemenangan taktis yang luar biasa bagi keluarganya.

Bumi Kurusetra berhenti berguncang. Asap debu tebal perlahan tersapu angin malam.

Tubuh Gatotkaca yang luar biasa besar itu perlahan-lahan menyusut kembali ke wujud aslinya saat nyawanya benar-benar terlepas dari raganya. Sang ksatria terbaring telentang di tengah-tengah kawah darah dan kehancuran musuh yang ia ciptakan sendiri. Zirah Antakusumanya telah hancur berserakan. Sayap bajanya yang gagah patah dan terlepas, tergeletak di samping tubuhnya, tak lagi mampu membawa sang penjaga awan terbang ke langit.

Gatotkaca menatap ke atas, ke arah awan gelap Kurusetra yang berarak pelan.

Mata elangnya mulai meredup, kehilangan kilat kemerahannya. Anehnya, ia tidak merasakan panasnya medan pertempuran, maupun bau anyir darah yang menggenang di sekitarnya. Di detik-detik terakhir sebelum pandangannya benar-benar menggelap, halusinasi yang sangat indah menjemput jiwanya.

Ia tidak lagi berada di Kurusetra. Ia merasa kepalanya yang berat dan lelah sedang bersandar pada sesuatu yang sangat lembut, wangi, dan damai. Ia merasa sepasang tangan pualam yang dingin membelai rahang kasarnya dengan penuh cinta. Aroma bunga melati menguar kuat, menggantikan bau belerang.

Dalam sisa penglihatannya yang memudar, wajah Dewi Pregiwa tersenyum menatapnya. Wanita itu mengenakan kemben sutra sederhana, memeluk kepalanya di atas pangkuannya, persis seperti di dasar gua Wanamarta.

*"Tidurlah, Kanda,"* bisik suara halusinasi Pregiwa di telinga Gatotkaca, mengalun seindah kidung surgawi. *"Perangmu telah usai. Kau tidak lagi harus menjadi perisai. Mulai sekarang, biarkan aku yang memeluk rasa lelahmu."*

Satu tetes air mata terakhir lolos dari sudut mata Gatotkaca, jatuh mengalir membasahi tanah berdebu di bawahnya.

Bibirnya yang berlumur darah menyunggingkan senyum yang sangat tipis, namun memancarkan kedamaian yang tak pernah ia temukan di dunia orang hidup. Ia menghembuskan napas panjang, melepaskan seluruh beban kasta, sumpah ksatria, dan kutukan Candradimuka yang selama ini memenjarakannya.

Di tengah padang darah Kurusetra, sang ksatria otot kawat tulang besi akhirnya menutup matanya untuk selamanya, membiarkan sayap-sayapnya yang patah gugur dengan tenang, tertidur pulas dalam pelukan abadi bayangan sang permaisuri yang tak pernah bisa ia miliki di kehidupan ini.

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!