"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Dua Wajah dalam Satu Cermin
Langit Jakarta sore itu berwarna jingga pekat, seolah sedang menumpahkan kemarahan yang tertahan. Hana berdiri di depan sebuah bangunan industrial modern di kawasan Kemang. Papan nama kuningan kecil di depan pintu masuk bertuliskan: "Citra & Co. Interior Design Studio". Minimalis, elegan, dan sangat mahal—persis seperti kesan yang Hana tangkap dari foto-foto di Instagram wanita itu.
Hana menarik napas panjang, merapikan blus sutra biru dongker yang ia beli kemarin. Ia memoleskan sedikit bedak padat untuk menutupi jejak kelelahan di bawah matanya. Di dalam tasnya, anting mutiara yang ia temukan tersimpan rapi dalam sebuah kotak kecil. Ia merasa seperti membawa sebuah granat yang siap diledakkan kapan saja.
“Jangan biarkan dia melihat kelemahanmu, Hana. Kamu adalah pemilik sah surga yang dia coba curi,” bisik suara di dalam kepalanya.
Pintu kaca terbuka otomatis saat Hana melangkah masuk. Aroma diffuser kayu cendana dan melati menyambutnya—aroma yang sama dengan parfum yang menempel di jas Aris selama berminggu-minggu ini. Hana mengepalkan tangannya.
Seorang resepsionis muda dengan senyum profesional menyambutnya. "Selamat sore, Ibu Hana? Mbak Citra sudah menunggu di ruangannya. Silakan lewat sini."
Hana mengikuti langkah resepsionis itu menyusuri lorong yang dihiasi lukisan abstrak dan pencahayaan temaram. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar terbuka. Di sana, di balik meja marmer putih yang luas, duduklah seorang wanita yang wajahnya sudah Hana hafal luar kepala dari hasil pengintaiannya.
Citra berdiri. Ia lebih tinggi dari yang Hana bayangkan. Tubuhnya dibalut jumpsuit berwarna krem yang sangat pas, menonjolkan lekuk tubuhnya yang terjaga dengan olahraga rutin. Rambut pirang kecokelatannya dibiarkan tergerai indah, dan di telinganya... sebuah anting mutiara berkilau tertimpa cahaya lampu ruangan.
Hanya satu. Ia hanya memakai satu anting.
"Ibu Hana? Senang sekali bisa bertemu langsung. Saya Citra," ucapnya dengan suara yang renyah dan penuh percaya diri. Ia mengulurkan tangan yang jemarinya dihiasi manikur sempurna.
Hana menyambut uluran tangan itu. Tangan Citra terasa halus dan dingin. "Saya Hana. Terima kasih sudah meluangkan waktu, Mbak Citra."
"Sama-sama, Bu. Silakan duduk. Mau minum apa? Kopi, teh, atau infused water?"
"Teh saja, terima kasih," jawab Hana tenang. Ia duduk di kursi kulit yang sangat empuk, namun ia merasa seperti sedang duduk di atas bara api.
Citra memesankan minuman melalui interkom, lalu kembali menatap Hana dengan binar mata yang ramah—ramah yang terasa sangat palsu bagi Hana. "Jadi, saya dengar Ibu ingin merenovasi rumah? Rumah yang di daerah Jakarta Selatan itu ya, Bu? Saya rasa saya pernah mendengar alamatnya."
Jantung Hana berdegup kencang. Tentu saja kamu tahu alamatnya. Itu rumah pria yang kamu peluk di restoran kemarin.
"Iya, betul. Rumah itu sudah sepuluh tahun kami tempati. Suami saya merasa suasananya sudah terlalu membosankan. Dia bilang, rumah itu butuh 'sentuhan baru' agar dia merasa betah lagi di rumah," Hana menekankan kata 'betah' dengan nada bicara yang sangat halus.
Citra tersenyum simpul, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Sepuluh tahun memang waktu yang lama untuk sebuah desain. Manusia berubah, selera berubah. Terkadang, apa yang dulu kita anggap surga, sekarang terasa seperti penjara kalau tidak ada pembaruan, bukan begitu?"
Hana merasakan sindiran tajam di balik kalimat itu. "Mungkin. Tapi bagi saya, fondasi tetaplah yang terpenting. Dekorasi bisa diganti, tapi kalau strukturnya sudah rapuh karena rayap atau... gangguan luar, rumah itu tidak akan pernah kokoh lagi."
Citra tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting gelas kaca yang beradu. "Ibu Hana ternyata sangat puitis ya. Saya suka klien yang punya filosofi sendiri. Jadi, konsep apa yang Ibu inginkan? Modern minimalist? Atau mungkin sesuatu yang lebih... berani?"
Hana membuka tasnya, pura-pura mencari catatan. "Saya ingin sesuatu yang sangat personal. Sesuatu yang membuat suami saya selalu teringat pada rumahnya, bukan pada hal-hal lain di luar sana. Oh, bicara soal selera, saya perhatikan anting yang Mbak pakai sangat cantik. Tapi... sepertinya Mbak hanya memakai satu?"
Ekspresi Citra berubah sekejap. Sangat tipis, namun Hana menangkap kilatan kepanikan di matanya. Citra secara refleks menyentuh telinganya yang kosong.
"Oh, ini..." Citra berdehem, berusaha mengembalikan ketenangannya. "Iya, saya ceroboh sekali. Pasangannya hilang beberapa hari yang lalu. Saya sangat sedih karena ini pemberian dari seseorang yang sangat spesial bagi saya."
Hana mengangguk-angguk penuh simpati yang dibuat-buat. "Duh, sayang sekali ya. Pasti orang itu sangat mencintai Mbak sampai memberikan perhiasan seindah itu. Apakah dia rekan bisnis? Atau mungkin... suami orang?"
Hening mendadak menyergap ruangan itu. Udara terasa begitu berat hingga rasanya sulit untuk bernapas. Citra menatap Hana dengan tatapan yang kini tidak lagi ramah. Matanya menajam, menyelidik.
"Maksud Ibu apa ya?" tanya Citra, suaranya kini terdengar rendah dan penuh peringatan.
Hana tersenyum. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak perhiasan kecil yang sejak tadi ia bawa. Ia meletakkannya di atas meja marmer putih itu, lalu menggesernya perlahan ke arah Citra.
"Kebetulan sekali," ujar Hana, suaranya tenang namun berwibawa. "Saya menemukan ini di saku celana suami saya setelah dia pulang dari proyek kantornya beberapa hari lalu. Karena saya tahu Mbak Citra adalah rekanan proyeknya, saya pikir... mungkin ini milik Mbak? Atau mungkin suami saya salah mengira ini milik saya?"
Citra menatap kotak itu dengan napas yang tertahan. Ia tidak segera membukanya, namun tangannya tampak bergetar di atas meja.
"Suami Ibu... siapa?" tanya Citra parau.
"Aris. Aris Gunawan," jawab Hana dengan mantap. Ia menikmati setiap detik penderitaan yang terlihat di wajah Citra saat ini. "Dia pria yang sangat baik, bukan? Terlalu baik sampai-sampai dia lupa memberikan anting ini secara langsung dan malah menyimpannya di saku celana agar saya yang menemukannya."
Citra akhirnya membuka kotak itu. Di dalamnya, sebuah anting mutiara yang identik dengan yang ia pakai berkilau dengan angkuh. Citra menutup matanya sejenak, lalu ia tertawa sinis. Ia melepaskan topeng profesionalnya.
"Jadi... kamu sudah tahu," ucap Citra, kini ia tidak lagi menggunakan kata 'Ibu' atau 'Ibu Hana'. "Lalu apa? Kamu datang ke sini untuk melabrakku? Untuk menjambakku dan meneriakiku sebagai pelakor seperti di sinetron?"
Hana menggeleng pelan. Ia tetap duduk dengan tenang, bahkan menyesap teh yang baru saja disajikan oleh resepsionis. "Tidak, Citra. Itu terlalu rendah bagi saya. Saya datang ke sini sebagai calon klien. Saya benar-benar ingin kamu mendesain ulang rumah saya."
Citra mengernyit bingung. "Kamu gila? Kamu ingin aku masuk ke rumahmu setelah tahu aku tidur dengan suamimu?"
"Justru itu menariknya," Hana condong ke depan, menatap Citra tepat di matanya. "Saya ingin kamu melihat 'surga' yang sedang kamu coba curi itu dari dekat. Saya ingin kamu melihat setiap sudut kenangan yang saya dan Aris bangun selama sepuluh tahun. Saya ingin kamu merasakan betapa dinginnya rumah itu sekarang karena ulahmu."
Citra mendengus, ia menyandarkan tubuhnya dengan gaya menantang. "Aris tidak mencintaimu lagi, Hana. Dia bosan. Dia butuh wanita yang bisa mengimbangi gaya hidupnya, bukan wanita yang hanya tahu cara memasak gulai dan mencuci baju kotor. Kamu hanya masa lalunya yang dia lupakan karena rasa kasihan."
Hati Hana terasa seperti diiris sembilu mendengar kata-kata itu. Namun, ia tidak membiarkan air mata jatuh.
"Kasihan?" Hana tertawa getir. "Kalau dia hanya kasihan, dia tidak akan pulang setiap malam ke rumah saya. Kalau dia hanya bosan, dia sudah lama menceraikan saya. Kenapa dia masih bertahan? Karena dia tahu, wanita seperti kamu hanya untuk bersenang-senang, Citra. Kamu adalah perhiasan yang bisa dia beli dan dia buang kapan saja. Tapi saya... saya adalah rumah yang dia butuhkan saat dia lelah."
"Kita lihat saja nanti," tantang Citra, wajahnya memerah karena marah. "Aris akan memilihku. Dia sudah menjanjikan banyak hal padaku."
"Janji seorang pria yang sedang berselingkuh itu seperti debu, Citra. Sekali ditiup, hilang," balas Hana telak. "Oh ya, soal renovasi itu... saya batalkan. Saya rasa selera Mbak terlalu... murahan untuk standar rumah saya. Anting ini, silakan ambil. Anggap saja ini sedekah dari saya untuk wanita yang tidak mampu membeli harga diri sendiri."
Hana berdiri. Ia merapikan tasnya dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh.
"Satu lagi, Citra. Aris sangat suka gulai daging buatanku. Mungkin karena aromanya lebih tulus daripada aroma parfum mahalmu yang menyesakkan dada. Selamat sore."
Hana keluar dari studio itu dengan langkah yang sangat ringan. Begitu ia sampai di dalam mobilnya, barulah seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia memegang kemudi dengan erat, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Ia baru saja melakukan hal yang paling berani dalam hidupnya, namun ia juga baru saja mengonfirmasi kebenaran yang paling menyakitkan.
Suaminya benar-benar berselingkuh. Dan selingkuhannya tahu persis siapa Hana.
Hana menyeka air matanya dengan tisu. Ia menyalakan mesin mobil. Pukul 19.30 nanti, Aris akan pulang. Dan kali ini, Hana tidak akan menyiapkan makan malam yang hangat.
Sesampainya di rumah, Hana masuk dan langsung menuju kamar mandi. Ia mandi dengan air yang sangat panas, seolah-olah ingin melunturkan sisa-sisa pertemuan dengan Citra dari kulitnya. Setelah itu, ia memakai gaun tidur sutra berwarna hitam yang belum pernah ia pakai sebelumnya.
Ia duduk di ruang tamu yang gelap, hanya ditemani cahaya lampu teras yang remang-remang. Ia menunggu suara mobil Aris.
Satu jam berlalu. Dua jam. Akhirnya, pukul 20.30, mobil Aris masuk ke halaman.
Aris masuk ke dalam rumah, ia tampak terkejut melihat Hana duduk di kegelapan tanpa menyalakan lampu ruang tamu.
"Na? Kenapa gelap-gelapan begini? Kamu belum makan?" tanya Aris sambil menyalakan lampu utama.
Hana tidak menjawab. Ia hanya menatap Aris dengan tatapan yang kosong namun menghujam. Aris tampak gelisah. Ia mendekat, hendak menyentuh bahu Hana.
"Kamu kenapa, Na? Ada masalah?"
Hana berdiri, ia mengeluarkan ponselnya dan membantingnya ke atas meja kopi di depan Aris. Layarnya menyala, menunjukkan foto-foto Aris dan Citra di restoran Italia kemarin, serta foto Citra yang memakai anting mutiara pemberiannya.
"Aku baru saja pulang dari studio Citra, Mas," ucap Hana dengan suara yang sangat tenang namun dingin seperti es. "Dia sangat cantik. Jauh lebih cantik daripada aku yang hanya tahu cara memasak gulai daging, kan?"
Wajah Aris berubah pucat pasi. Ia menatap ponsel itu, lalu menatap Hana dengan mulut yang ternganga. "Na... ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa jelaskan..."
"Jelaskan apa, Mas? Jelaskan bagian mana yang paling kamu sukai saat bersamanya? Atau jelaskan kenapa anting mutiara itu lebih penting daripada sepuluh tahun hidupku?" Hana memotong kalimat Aris dengan tajam.
"Na, tolong... dengarkan dulu..." Aris mencoba meraih tangan Hana, namun Hana menepisnya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku dengan tangan yang baru saja membelai dia, Mas! Jangan kotori rumah ini dengan kebohonganmu lagi!" teriak Hana. Ini adalah pertama kalinya Hana berteriak selama sepuluh tahun pernikahan mereka.
Aris terdiam. Ia menunduk, tidak sanggup menatap mata istrinya yang penuh dengan luka dan amarah.
"Aku sudah memberikan seluruh hidupku untukmu, Mas. Aku membangun surga ini dari nol bersamamu. Tapi kamu... kamu menghancurkannya hanya demi wanita yang bahkan tidak tahu cara menghargai anting yang kamu berikan," Hana terisak, namun suaranya tetap kuat. "Surga ini sudah mati, Mas. Dan kamu sendiri yang membunuhnya."
Hana berjalan menaiki tangga tanpa menoleh lagi. Ia masuk ke kamar tamu dan menguncinya dari dalam. Aris berdiri terpaku di ruang tamu, di bawah cahaya lampu yang kini terasa terlalu terang, menelanjangi semua dosa dan kesalahannya.