Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gimana, Pak Agus?
"Masalahnya ya itu, Pak Agus. Umurnya sudah 29 tahun, tapi belum juga laku. Saya malu sama tetangga, apalagi kemarin baru saja ditolak mentah-mentah sama keponakan Pak Rudi," keluh Ibu Laila dengan nada menggebu-gebu.
Pak Agus terdiam sejenak, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran gelas kopi. "Oalah, jadi ini mau dicarikan jodoh lewat saya?" tanya Pak Agus.
"Iya, Pak. Tapi kalau bisa, carikan yang kaya ya, Pak? Yang punya sawah atau syukur-syukur pegawai kantoran. Biar nasib Shanum berubah, tidak cuma jadi penjaga toko alat tulis terus," pinta Ibu Laila penuh harap.
Mendengar permintaan itu, Pak Agus menghentikan ketukan jarinya dan membetulkan posisi peci hitamnya lalu menatap Ibu Laila dengan tatapan sangsi. "Aduh, Bu Laila... Kalau boleh jujur nih ya, permintaan Ibu ini agak berat," ucap Pak Agus.
"Berat gimana, Pak? Kan Pak Agus koneksinya luas," ucap Ibu Laila tak sabar.
"Masalahnya di umur, Bu," ucap Pak Agus pelan namun tegas.
"Maksudnya, Pak?" tanya Ibu Laila.
"Shanum itu sudah 29 tahun, hampir masuk kepala tiga. Biasanya kenalan-kenalan saya yang kaya itu rata-rata sih cari istri yang masih muda, yang umurnya 20-an awal. Paling mentok ya 23 tahunlah," jawab Pak Agus.
Wajah Ibu Laila sedikit berubah, namun ia tetap memaksa. "Tapi kan Shanum masih kuat kerja, Pak. Orangnya juga penurut dan sopan, dia bukan perempuan nakal kok, saya jamin Shanum bakal kadi istri yang baik dan nurut sama suaminya nanti," ucap Ibu Laila.
Pak Agus menghela napas panjang, wajahnya tampak tidak yakin. "Begini ya, Bu. Laki-laki yang kaya itu biasanya punya standar tinggi, mereka mau yang bibitnya unggul. Kalau perempuan sudah umur segitu belum nikah, biasanya laki-laki bakal mikir dua kali. Ada yang bilang perawan tua lah, ada yang takut susah punya anak lah, susah saya menjualnya kalau speknya begitu," ucap Pak Agus.
"Masa nggak ada satu pun, Pak?" tanya Ibu Laila lemas.
"Saya tidak janji ya, Bu. Tapi saya coba tanya-tanya ke teman saya dulu, mungkin kalau duda yang sudah berumur atau yang ekonominya biasa-biasa saja masih ada yang mau. Tapi kalau minta yang kaya dan berkelas... jujur saja, saya ragu ada yang melirik Shanum. Umur segitu itu ibarat barang di toko, sudah masuk masa diskon besar-besaran tapi tetap sepi peminat," ucap Pak Agus blak-blakan.
Ibu Laila terdiam, hatinya dongkol bukan main. Bukan karena ucapan Pak Agus salah, tapi karena ia merasa harga diri keluarganya benar-benar sudah jatuh ke titik terendah.
Ibu Laila pulang dengan langkah gontai, kemarahannya kepada Shanum semakin membuncah. Baginya, setiap kata-kata Pak Agus tadi adalah tamparan yang membuktikan bahwa putri sulungnya itu benar-benar barang tidak laku.
.
Satu minggu telah berlalu sejak pertemuan Ibu Laila dengan Pak Agus, namun Ibu Laila tak kunjung mendapatkan kabar baik dan harapan yang awalnya membumbung tinggi kini berubah menjadi keresahan yang amat sangat
Setiap kali Ibu Laila melewati rumah Pak Agus, ia hanya mendapati pria itu sedang asyik memberi makan burung tanpa memberikan kode apa pun padanya.
Malam harinya, Ibu Laila memutuskan untuk ke rumah Pak Agus, Ibu Laila tidak sabar ingin mengetahui perkembangannya.
"Gimana, Pak Agus? Sudah ada calon untuk Shanum?" tanya Ibu Laila dengan suara yang ditekan agar tidak didengar orang lain.
Pak Agus menghentikan langkahnya, ia menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Aduh, Bu Laila. Saya sudah coba tawarkan ke beberapa kenalan saya di luar desa. Ada juragan beras di kecamatan sebelah, tapi begitu dengar umur Shanum yang mau 30, dia langsung mundur. Katanya cari yang di bawah 22 tahun aja," jawab Pak Agus.
"Masa nggak ada yang mau sama sekali, Pak?" suara Ibu Laila mulai meninggi karena frustrasi.
"Ada satu, Bu. Duda cerai mati, usianya sekitar 55 tahun. Tapi ya itu, anaknya sudah lima dan dia cuma kerja serabutan, Ibu mau?" tanya Pak Agus dengan nada sangsi.
Ibu Laila terdiam, marah, kecewa dan malu bercampur menjadi satu. "Gila apa! Masa Shanum dapatnya kakek-kakek! Saya kan minta yang kaya, Pak!" ucap Ibu Laila.
"Ya itu masalahnya, Bu. Barang kalau sudah terlalu lama di rak, peminatnya makin selektif. Jujur ya, saya angkat tangan kalau Ibu minta yang kaya. Belum ada pria kaya yang mau ambil risiko nikah sama perempuan umur segitu di desa ini," ucap Pak Agus jujur dan membuat hati Ibu Laila serasa dihantam palu godam.
"Pak Agus coba lagi ya, saya yakin pasti ada," minta Ibu Laila.
"Saya coba lagi, tapi saya nggak bisa janji ya bakal dapat yang kaya," ucap Pak Agus.
"Iya, Pak. Terima kasih ya," jawab Ibu Laila.
Sesampainya di rumah, suasana sunyi, namun aroma harum mentega dan gula terbakar tercium hingga ke teras. Di dapur, Shanum sedang sibuk.
Shanum baru saja mengeluarkan loyang berisi kue bolu dari oven tangkringnya, keringat membasahi keningnya, namun ada senyum tipis di wajahnya karena pesanan kue kali ini cukup banyak untuk menambah biaya sekolah Pandu.
Shanum sedang telaten mengolesi permukaan kue dengan margarin ketika suara pintu depan dibanting keras.
"Bu? Sudah pulang?" tanya Shanum sedikit berteriak dari dapur tanpa mengalihkan pandangannya dari kue.
Ibu Laila muncul di ambang pintu dapur dengan wajah merah padam, ia menatap tumpukan kue di meja dan mixer kesayangan Shanum dengan tatapan benci.
"Kue... kue terus! Kamu pikir dengan bikin kue begini, ada laki-laki kaya yang tiba-tiba datang melamar?" bentak Ibu Laila tiba-tiba.
Shanum tersentak, tangannya gemetar hingga olesan margarinnya berantakan. "Loh, Ibu kenapa? Shanum kan cuma mau bantu cari uang tambahan buat sekolah Pandu, Bu. Kebetulan ada pesanan dari guru-guru di sekolah Diva," tanya Shanum yang bingung karena Ibu Laila tiba-tiba marah.
"Halah! Uang receh begitu nggak akan bisa nutupin malu Ibu! Kamu itu benar-benar sial, Shanum! Ibu sudah berusaha, tapi gara-gara umurmu yang karatan itu, orang-orang jadi merendahkan Ibu!" teriak Ibu Laila lagi.
Suara Ibu Laila melengking tinggi dan membuat Pandu yang sedang belajar di pojokan langsung lari masuk ke kamar karena takut.
"Maksud Ibu apa? Siapa yang merendahkan Ibu?" tanya Shanum bingung, karena ia tidak tahu tentang pertemuan Ibu Laila dengan Pak Agus.
Bukannya menjawab, Ibu Laila justru menyambar salah satu loyang kue yang masih hangat dan membantingnya ke atas meja hingga kue itu hancur berantakan.
"Dasar anak tidak tahu diuntung! Harusnya kamu itu sadar diri! Umur tua, tapi masih belum nikah!" bentak Ibu Laila.
Setelah meluapkan amarahnya yang tidak masuk akal itu, Ibu Laila berbalik dan masuk ke kamarnya, membanting pintu dengan kekuatan penuh hingga dinding rumah yang sudah retak itu seolah bergetar.
Shanum terpaku di tempat dan menatap kuenya yang hancur di atas meja. Dadanya terasa sesak, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga.
Shanum tidak mengerti apa salahnya, padahal ia sudah bekerja keras, mengurus rumah, membiayai adik-adiknya, namun semua itu seolah menguap hanya karena ia belum menikah.
"Lagi-lagi aku salah," gumam Shanum lirih.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊