NovelToon NovelToon
Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.

​Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.

Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.

Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Perjamuan Dua Wajah

​Dengungan mesin server di ruang kontrol itu perlahan berubah menjadi keheningan yang menyesakkan. Aruna berdiri mematung, menatap sosok yang baru saja keluar dari kegelapan. Wanita itu bukan sekadar mirip dengannya; dia adalah pantulan cermin yang sempurna, mulai dari tahi lalat kecil di dekat matanya hingga bekas luka goresan di jemarinya akibat terlalu banyak mengetik. Namun, sorot matanya berbeda... Lebih dingin, tajam, dan penuh dengan kebencian yang sudah berkarat.

​"Siapa... siapa kamu?" suara Aruna nyaris tidak terdengar.

​Wanita itu tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang terlihat sangat asing di wajah yang selama ini Aruna kenali sebagai miliknya sendiri. "Aku adalah Aruna yang kau tinggalkan di meja operasi. Aku adalah bagian dari dirimu yang kau buang demi fantasi murahan tentang pahlawan berbaju zirah dan anak ajaib ini."

​Arvand, yang masih bersimbah darah di lantai, mencoba bangkit dengan sisa tenaganya. Ia menatap kedua wanita itu bergantian dengan bingung. "Ratri? Apa maksudnya ini?"

​"Jangan panggil aku dengan nama karakter sampah itu!" bentak Aruna palsu itu. Ia mengibaskan tangannya, dan sebuah gelombang kejut mementalkan Arvand hingga menghantam rak server.

​"Arvand!" Aruna hendak berlari menolong, tapi langkahnya terhenti saat wanita itu mengangkat tangannya.

​"Tetap di sana, Aruna. Atau aku akan menghapus baris kode yang menjaga jantung jenderalmu itu tetap berdetak," ancam si kembaran. Ia menoleh ke arah Arel yang masih berdiri tegak dengan mata emasnya. "Dan kau, bocah kecil... kau pikir kau sudah jadi Tuhan hanya karena bisa mengunduh data? Kau hanyalah virus yang akan segera kukarantina."

​Seraphina, yang sejak tadi terdiam di pojok ruangan, tiba-tiba tertawa kecil. Tawa itu terdengar sinis. "Jadi ini rencana cadanganmu, Bos? Menciptakan replika jiwa dari trauma pasien untuk mengambil kembali kendali?"

​Aruna tersentak. "Jadi dia... dia dikirim oleh Bos?"

​"Dia adalah Bos, dalam bentuk yang paling kau takuti," Seraphina berdiri, membersihkan debu dari jaket kulitnya. "Dia mengambil sisa-sisa ingatanmu yang tertinggal di server rumah sakit saat kau melakukan perpindahan jiwa. Dia adalah Aruna yang tidak pernah pergi ke dunia novel. Aruna yang pahit, yang kesepian, dan yang hanya peduli pada uang dan karier."

​Aruna menatap kembarannya dengan rasa ngeri yang mendalam. Jadi, wanita di depannya adalah personifikasi dari sisi gelapnya sendiri. Sisi yang menganggap Arvand dan Arel hanya sebagai gangguan bagi hidupnya yang "normal".

​"Berikan pena itu padaku," tuntut Aruna palsu. "Kembalilah ke rumah sakit, jalani operasi itu lagi, dan lupakan semua kegilaan ini. Aku akan menghapus mereka berdua, dan kita bisa kembali hidup sebagai penulis sukses di Jakarta tanpa beban."

​Aruna menatap pena bulu di tangannya, lalu menatap Arvand yang sedang menatapnya dengan penuh kepercayaan meski dalam kondisi sekarat. Ia kemudian melihat Arel. Anaknya itu tidak lagi tampak seperti mesin digital; di balik mata emas itu, ada ketakutan seorang anak kecil yang merindukan ibunya.

​"Aku tidak akan memberikan apa pun padamu," ujar Aruna tegas. "Hidupku yang 'normal' dulu memang tenang, tapi itu kosong. Aku lebih memilih dunia yang hancur bersama mereka daripada dunia sempurna tanpanya."

​"Pilihan yang bodoh!" Aruna palsu itu menerjang.

​Pertempuran jiwa pecah di dalam ruang server yang sempit. Aruna palsu bergerak dengan kekuatan digital yang luar biasa; setiap serangannya berupa kilatan cahaya yang bisa menghapus apa pun yang disentuhnya. Aruna hanya bisa menghindar, menggunakan meja-meja kontrol sebagai pelindung.

​"Arel! Bantu Ibu!" teriak Aruna.

​Arel mengangkat tangannya. Energi emas dari tubuhnya membentuk perisai di sekeliling Aruna. "Ibu, aku tidak bisa menghapusnya! Dia punya sidik jari jiwa yang sama denganku!"

​"Tentu saja tidak bisa, Bocah!" Aruna palsu itu tertawa. Ia memanipulasi kabel-kabel serat optik di ruangan itu hingga bergerak seperti ular, melilit kaki Arvand dan Seraphina. "Kalian semua akan menjadi data sampah dalam sejarahku!"

​Arvand berteriak saat kabel-kabel itu mulai menyetrum tubuhnya dengan aliran data murni. "Ratri... serang intinya! Jangan serang wajahnya!"

​Aruna tersadar. Wanita ini adalah manifestasi dari naskah lamanya... naskah yang penuh dengan kesedihan dan kegagalan. Ia harus menulis ulang esensinya.

​Aruna memejamkan mata di tengah hujan serangan cahaya. Ia mencari titik pusat energinya sendiri. Tanda lahir perak di pergelangan tangannya mulai berdenyut sinkron dengan detak jantung Arel.

​"Aku bukan lagi Aruna yang kesepian itu," gumam Aruna. "Aku adalah ibu dari seorang putra yang hebat, dan istri dari pria paling berani di dua dunia."

​Aruna membuka matanya. Ia tidak lagi menggunakan pena untuk menulis di kertas. Ia menusukkan pena itu ke telapak tangannya sendiri, membiarkan darahnya mengalir menyentuh lantai ruang kontrol yang terbuat dari logam.

​Zzzzzttttt!

​Darah Aruna berubah menjadi tinta emas yang merambat cepat di lantai, mengejar kaki kembarannya. Begitu tinta itu menyentuh kaki Aruna palsu, wanita itu menjerit kesakitan.

​"Apa yang kau lakukan? Kau melukai dirimu sendiri?!"

​"Ini bukan luka," ujar Aruna sambil berdiri tegak. "Ini adalah tanda tangan kontrak baru. Aku memberikan hidupku untuk dunia ini, bukan untuk servermu!"

​Lantai ruang server mendadak berubah menjadi transparan. Aruna bisa melihat Jakarta di bawah sana sedang bersatu dengan lembah hijau. Monas berdiri di samping Benteng Utara; Bundaran HI dikelilingi oleh hutan terlarang. Dunia baru sedang terbentuk dari imajinasinya yang meluap.

​Energi emas Arel meledak, menyatu dengan tinta darah Aruna. Aruna palsu itu mulai memudar, tubuhnya pecah menjadi butiran piksel abu-abu.

​"Kau akan menyesal, Aruna..." bisik si kembaran sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya ke dalam sistem. "Dunia yang kau ciptakan ini... tidak akan punya tempat untukmu."

​Begitu musuh mereka hilang, seluruh ruangan itu berguncang hebat. Seraphina berhasil melepaskan diri dari lilitan kabel dan segera berlari ke arah panel utama. "Proses penyatuan sudah mencapai seratus persen! Kita harus keluar dari sini sebelum ruang ini runtuh!"

​Arvand merangkak mendekati Aruna, memegang tangannya yang terluka. "Kita berhasil?"

​Aruna mengangguk, namun wajahnya terlihat cemas. Ia menatap tangannya. Tanda lahir perak itu kini menghilang sepenuhnya, digantikan oleh kulit mulus tanpa bekas. "Tanda itu hilang, Arvand. Aku tidak lagi punya akses ke sistem."

​"Itu artinya kau sudah benar-benar menjadi manusia, Ratri," Arvand tersenyum lemah. "Sama seperti kami."

​Mereka berempat... Aruna, Arvand, Arel, dan Seraphina berlari keluar dari gedung pusat data. Saat mereka melangkah keluar dari pintu utama, pemandangan yang menyambut mereka sangat luar biasa.

​Jakarta yang tadi abu-abu kini penuh warna. Langitnya biru cerah, namun ada dua matahari yang bersinar redup. Mobil-mobil masih ada di jalanan, tapi di sampingnya, kuda-kuda perang berlari kencang. Orang-orang berpakaian modern dan berpakaian kuno saling menatap dengan bingung namun tanpa permusuhan.

​"Selamat datang di Dunia Baru," gumam Seraphina sambil menyalakan rokoknya lagi. "Atau Dunia Campuran. Terserah kalian mau menyebutnya apa."

​Arel memeluk kaki Aruna. "Ibu, kepalaku tidak lagi berisik dengan angka-angka. Aku merasa... normal."

​Aruna menggendong Arel dan bersandar pada bahu Arvand. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa benar-benar pulang. Tidak ada Bos, tidak ada server yang mengancam, hanya keluarga kecilnya di dunia yang mereka bangun sendiri.

​Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa menit.

​Dari arah Monas yang kini berada di puncak bukit Kerajaan Utara, terdengar suara terompet yang menggelegar. Bukan terompet perang, melainkan terompet pengumuman kematian.

​Seorang prajurit berkuda melaju kencang ke arah mereka. Ia mengenakan seragam pengawal istana, tapi di lengannya terikat pita hitam. Prajurit itu turun dari kudanya dan berlutut di depan Arvand.

​"Lapor, Yang Mulia Putra Mahkota! Kaisar tua... beliau telah menghembuskan napas terakhirnya tepat saat penyatuan dunia selesai."

​Arvand membeku. Wajahnya yang tadi lega seketika berubah menjadi duka yang mendalam. Kaisar tua, ayahnya, telah pergi saat dunia baru ini lahir.

​"Tapi itu bukan satu-satunya kabar buruk," lanjut prajurit itu dengan suara gemetar. "Di tangan beliau, ditemukan sebuah surat yang ditulis dengan tinta darah. Surat itu ditujukan untuk Lady Ratri."

​Aruna menerima surat itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya hanya tertulis satu kalimat pendek:

​"Ratri, maafkan ayahmu. Aku tidak memberitahumu bahwa satu jiwa harus tetap tinggal di 'Antara Dua Dunia' agar keseimbangan ini tidak hancur. Dan orang itu bukan aku."

​Tiba-tiba, tubuh Seraphina mulai bercahaya kebiruan. Wanita itu menatap tangannya dengan terkejut, lalu menatap Aruna dengan tatapan yang sangat sedih.

​"Sera? Apa yang terjadi?" Aruna mencoba menggapai tangan Seraphina, tapi tangannya menembus tubuh wanita itu.

​"Ternyata ini alasannya aku bisa sampai ke sini lebih dulu," bisik Seraphina. "Aku bukan bug, Aruna. Aku adalah jangkar. Dan sekarang, lautannya sudah tenang, aku harus kembali ke dasar."

​Seraphina mulai terbang ke atas, terhisap oleh kekosongan udara yang muncul di tengah jalan raya. Namun, saat Seraphina hampir menghilang, ia melemparkan kipas besinya ke arah Aruna.

​"Jaga dunia ini, Aruna! Karena kau tidak tahu siapa yang baru saja masuk lewat celah yang kutinggalkan!"

​Aruna menangkap kipas itu, namun perhatiannya teralih oleh sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Di ujung jalan Sudirman, di bawah bayangan gedung pencakar langit yang menyatu dengan istana, muncul sesosok pria raksasa yang mengenakan baju zirah dari baja modern. Di tangannya, ia memegang pedang cahaya yang besarnya sepuluh kali lipat dari milik Arvand.

​Pria itu melepaskan helm bajanya, memperlihatkan wajah yang sangat familiar.

​Itu adalah wajah mendiang ayah kandung Aruna di dunia nyata, yang seharusnya sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Dan dia tidak datang sendirian. Di belakangnya, jutaan "Arwah Penulis" yang gagal mulai merangkak keluar dari aspal yang retak.

​Kenapa ayah kandung Aruna bisa muncul sebagai panglima pasukan arwah? Rahasia apa yang disembunyikan Kaisar tua dalam suratnya mengenai nasib Seraphina? Dan mampukah Aruna melawan bayangan masa lalunya sendiri di dunia yang baru saja stabil ini?

1
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
apakah ini berry atau yg mulia summer /Facepalm//Facepalm/
Linda pransiska manalu: hhhhhhh
total 3 replies
vj'z tri
hadeuhhhh gak bisa liat orang senyum dikit ni mahluk 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ semoga bisa bersama kalian
Erchapram
LUAR BIAS!
Travel Diaryska
utk yg suka cerita intens perang ya mgkn bagus aja ceritanya.
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Travel Diaryska
mc nya ga OP, sistemnya cuma jd notif doang, ga kasih hadiah obat bagus apa gitu biar mc fit. ga ada waktu buat mc heal dlu.
vj'z tri
kelennnnn lahhhh pokoke oyeeee🎉🎉🎉🎉
Erchapram
Sudah bab 18, teman-teman yang sudah baca tapi belum lanjut. Diharap segera melanjutkan karena sebentar lagi akan masuk bab 20.

Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.

Terima kasih.
XZR-1ERLAND
Sungguh plotwits nyaa
vj'z tri
hadeuhhh olah raga jantung terus ini /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
vj'z tri
OMG pilihan apa lagi ini/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kasihan jendral
vj'z tri
eeedodoeeee wes keracunan masih tenggak racun lagi /CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
XZR-1ERLAND
duh thorr gw gak sabar liat ending nya , semoga happy ending ya thorrr, semangat trs thorr 💪
XZR-1ERLAND: iya kak Sama-sama, kakak juga jgn lupa mampir baca novel ku ya,btw aku masih jadi athour pemula, mohon dukungannya, kritik atau saran Kakak 👍
total 2 replies
vj'z tri
tahan diset loh ngobrol nya mau meledak ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
oalahhhh ini biang Lala nya ternyata 🤧🤧🤧
vj'z tri: sabarrrrr tunggu up /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ siapa lagi itulah sabar sabar
vj'z tri
kerennnnn 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
sabar sabar tunggu kelanjutan /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
bener bener ni ya kelakuan pangeran kaleng /Shame//Shame//Shame//Shame/
vj'z tri
benar benar konspirasi /Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!