NovelToon NovelToon
Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aizu1211

Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Alya kembali ke kantor pada hari keempat.

Meski semua rekan kerja dan atasannya maklum, tapi Alya tidak ingin dianggap mangkir dari tanggungjawabnya terlalu lama, selain itu juga desakan dari papanya, ia berpikir mungkin sudah lebih baik seperti ini, ia akan kembali ke rumah sakit saat jam istirahat.

Tidak ada yang berubah dari gedung itu, lantai yang sama, pendingin ruangan yang terlalu dingin, papan pengumuman dengan agenda yang terus diperbarui. Dunia tetap berjalan dengan ketenangan yang nyaris kejam bagi seseorang yang baru saja belajar bernapas lagi.

Ia datang lebih pagi dari biasanya. Duduk di mejanya, Alya menyalakan komputer dan membiarkan layar menyala tanpa segera menyentuh apa pun. Ada jeda singkat yang ia ambil untuk menata diri, menarik napas, mengatur bahu, mengingatkan dirinya bahwa ia berada di tempat yang menuntutnya terlihat utuh.

Pingkan datang membawa dua gelas kopi dan menyapanya pertama kali. “Kamu sudah balik kerja, Al.”

“Iya,” jawab Alya. “Maaf kemarin-kemarin izin.”

Pingkan menggeleng. “Nggak apa-apa. Orangtua lebih penting.”

Hening, Alya kembali sibuk menatap pesan masuk di emailnya yang lumayan banyak dan belum terbuka.

“Kamu kelihatan lebih kurus,” katanya tanpa basa-basi.

Alya tersenyum tipis. “Mungkin.”

Pingkan tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya meletakkan satu gelas kopi di meja Alya, lalu kembali ke tempatnya. Keheningan kecil itu terasa seperti bentuk perhatian yang paling aman.

Pekerjaan menyambut Alya dengan tumpukan email dan catatan rapat. Ia menanganinya satu per satu, menjawab, mencatat, mengarsipkan dengan ketelitian yang sedikit lebih lambat dari biasanya. Setiap kali matanya terasa berat, ia berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan.

Menjelang siang, ia menemukan email yang sejak kemarin ia tunda. Subjeknya formal, rapi. Ia membacanya dengan saksama.

Tentang rencana kerja sama. Tentang tahapan kajian. Tentang kemungkinan jadwal yang menyesuaikan.

Tidak ada kalimat yang keluar dari batas profesional.

Alya membalas dengan nada yang sama: singkat, jelas, seperlunya. Setelah mengirimkannya, ia menutup laptop dan menatap meja di depannya, seolah menunggu sesuatu terjadi. Tidak ada apa-apa. Dan itu baik-baik saja.

Siang itu Alya tidak ikut makan bersama. Ia memilih duduk di ruang kecil dekat jendela, membuka bekal yang mamanya siapkan. Ia makan perlahan, berhenti di tengah suapan, memikirkan jadwal kontrol berikutnya yang sudah ia catat di kalender.

Ponselnya bergetar. Nama Viko muncul.

Papa nanya kamu pulang jam berapa.

Alya mengetik cepat.

Abis jam kerja. Jangan telat makan ya.

Alya bersyukur karena mulai hari ini, adiknya sudah liburan semester, itulah kenapa Alya bisa masuk kantor.

Ia mengunci ponsel dan menyandarkan kepala ke kursi. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya lelah.

Sore hari, Alya dipanggil ke ruang atasan. Pembicaraan berjalan singkat dan lugas. Tentang pekerjaan yang tertunda, tentang prioritas, tentang pengaturan waktu.

“Kamu fokus keluarga dulu,” kata atasan itu akhirnya. “Urusan kerja sama kampus nanti kita atur ulang.”

Alya mengangguk. “Baik, Pak.”

Keluar dari ruangan, Alya merasakan perasaan yang sulit ia beri nama. Bukan lega, bukan kecewa. Hanya kesadaran bahwa hidupnya sedang diparkir di beberapa bagian dan ia harus menerima itu.

“Everything is ok Alya?” tanya Mbak Pingkan yang ikut penasaran karena muka Alya yang terlampau datar.

Alya menatap semua rekan satu tim yang juga menunggu jawabannya.

“Ok mbak” semua tim lega dan kembali mengerjakan pekerjaan mereka.

Bagi para seniornya, Alya bagaikan adik kecil yang harus selalu dijaga dan diarahkan, entah apa yang sudah Alya perbuat hingga ia mendapat rekan kerja serasa keluarga seperti ini.

Ia pulang lebih awal, langsung menuju rumah sakit. Papanya tertidur ketika ia tiba. Viko sedang melipat pakaian kotor yang akan ia bawa pulang

“Sini kak” pinta papanya saat menyadari kehadiran Alya.

“Kamu capek?” tanya papanya.

“Sedikit,” jawab Alya jujur.

Papanya mengangguk. “Istirahat dulu, biar malam ini adikmu yang jaga.”

Viko yang sadar jadi bahan pembicaraan menoleh, “Iya kak, aku pulang sebentar ambil baju bersih dan keperluan lainnya nanti aku yang jaga papa”

Rasanya tidak tega pada adiknya yang tentu ia juga merasa kelelahan yang sama. Tapi papanya berkali-kali membujuk, Alya tidak punya pilihan.

Setelah adiknya pulang dan hanya berdua dengan papanya, Alya duduk di kursi dekat ranjang. Ia menatap wajah papanya yang lebih tenang hari itu. Dadanya mengendur sedikit. Ia menggenggam tangan papanya, merasakan denyut yang stabil.

Duduk.

Menunggu.

Dan di antara bunyi mesin yang berdetak pelan, Alya membiarkan dirinya percaya bahwa hari-hari yang berjalan pelan pun tetap berarti karena ia berada di tengah keluarg dan teman yang suportif.

Itu sudah seperti privillege bagi Alya, karena tidak semua orang dapat kesempatan itu.

Malam turun pelan. Tak lama Viko datang dengan 1 tas besar, Alya membantu adiknya menata barang yang ia bawa dari rumah, Viko sudah tampak lebih segar dari sebelumnya.

“Pulang kak, istirahat, besok seperti ini saja, gak enak sama atasanmu kalau keseringan ijin” Alya tak langsung mengiyakan, ia menatap Viko sejenak, setelah adiknya menyetujui, Alya hanya bisa pasrah.

“Iya Pa, besok aku akan mampir sebentar, bilang saja kalau Papa butuh sesuatu”

Papanya mengangguk, sejenak membelai rambut putrinya yang kini sudah jadi perempuan dewasa.

“Hati-hati dijalan kak”

“Ok”

Alya berjalan keluar kamar. Ia berdiri sebentar di ujung lorong, menatap lampu-lampu kota yang berpendar jauh di bawah sana.

Di ponselnya, ia menemukan satu email berjudul formal: Koordinasi Lanjutan Kerja Sama. Alya membacanya perlahan. Isinya rapi, jelas, tidak bertele-tele. Di bagian akhir, kalimat penutup yang netral tanpa tambahan apa pun.

Kali ini ia membacanya tanpa ragu. Isinya tetap profesional, tetap berjarak. Di bagian akhir, satu kalimat pendek yang tidak meminta apa pun.

Satu kalimat yang ditulis dengan jarak yang sopan:

Jika jadwal memungkinkan, saya siap menyesuaikan.

Lanjutan email siang tadi, Alya membalasnya singkat. Profesional. Tepat waktu.

Kemudian ia menutup layar, meletakkan handphonenya di dalam tas dan kembali termenung.

Ia mensyukuri sesuatu yang sederhana, ada orang-orang yang hadir dengan cara yang tenang, tidak mendesak, tidak menuntut. Dan mungkin, untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.

Di luar, malam berjalan pelan. Alya masih berdiri di jendela ujung lorong tempat rawat inap papanya, menatap jalan yang mulai lengang. Ia menyadari satu hal kecil, hidupnya tidak kembali seperti semula dan mungkin memang tidak perlu.

Ia akan bekerja.

Ia akan menjaga keluarganya.

Dan untuk perasaan-perasaan yang belum punya tempat, Alya memilih menaruhnya sementara, di ruang yang aman, menunggu waktu yang tepat.

Karena menurut Alya, terlalu dini jika ia menyimpulkan hal yang mungkin hanya kebetulan saja.

TBC

1
Yuni Ngsih
Authooooor ku lg asyik baca dipotong sedih ,karena ceritra ini ada contoh" fakta dlm pek sbg PNS...ok
Elvia Rusdi
Thor. ..Baru Nemu nih karya mu Thor...marathon baca sampui bab trakhir up...baru 4 bab...cerita nya bagus .
Yuni Ngsih
Aùthooor ceritramu kreeeeen banget ,nah itulah seorang PNS yg tanggung jawab terhadap pekerjaan & klwrga hebat peran utamanya Aliya ...mencerminkan anak yg berbakti ,jd bisa menjadi contoh " bg pmbaca kawula muda ....semangat ....& lanjut Thor...ok
Adhiefhaz Fhatim
😍
Adhiefhaz Fhatim
lanjut kk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!